Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
belum ingin kembali.


__ADS_3

Saat Arumi ada di dalam, Denna mendekati Sang Sekertaris yang sedang menikmati teh hangat yang di suguhkan oleh Bu Ratih tadi. Sedikit lirikan di tunjukkan oleh pria berpostur tegap tersebut.


Apa? Tergambar jelas pertanya itu sedang bersarang di otaknya.


"Anda akan menepati janji, kan?"


Oh, soal itu... Tomi menurunkan gelasnya dan meletakkan lagi di atas lambar.


"Saya bukan tipe orang yang gemar membatalkan janji."


Yes! Denna nampak aura kegembiraan walaupun dengan keras menahan senyum, sementara tangannya mengepal kuat. Maafkan aku yang telah mengorbankanmu Arumi hehehe...


"Tapi?"


Eh... ada tapinya? –Denna mengerutkan keningnya.


"Bukankah semuanya belum selesai?"


"Belum selesai apanya? Perjanjian hanya sampai Arumi pulang, kan?"


"Tapi Nona belum mau pulang ke rumah utama."


"Aku tak mendengar hal itu. Yang ku tahu hanya sampai Arumi pulang ke Jakarta."


"Tidak, Anda hanya kurang menangkap maksud saya. Yang di maksud pulang itu bukan kerumah ini. Tapi rumah Tuan Arga."


Cih! Dasar tirani...!! kau ingin bermain licik denganku? Mengumpat dalam hati.


"Aku akan memberikannya. Padamu, jika saja nanti malam Nona Arumi mau pulang kerumah utama. Tenang saja."


"Apa saya bisa mempercayai Anda?"


"Terserah, Anda mau mempercayainya atau tidak. Yang jelas, segala sesuatu yang di dapatkan secara cuma-cuma. Tentunya butuh perjuangan... dan Anda harus menempuhnya. Suka, tidak suka."


"Hadeeeh..." Menggaruk kepalanya kasar. Hingga kuncir rambutnya menjadi semakin tak beraturan.


Pria itu menarik separuh bibirnya sebelum beranjak saat melihat Arga turun dari lantai dua. Ada kelegaan di hati Tomi setelah hampir satu jam menunggu Tuannya di dalam kamar.


"Tomi, kita keluar sekarang. Selesaikan seluruh pekerjaan hari ini."


"Baik, Tuan." Tomi mengangguk sekali saat Tuannya keluar dari pintu tersebut. "Saya permisi Nona..."


"Ingat, Tuan sekretaris. Aku bisa lebih menyeramkan dari sesosok hantu jika Anda tak menepati janji."


"Oh, ya... ada satu pengalaman yang perlu Anda tahu. Saya pernah melihat sesosok tinggi besar di gunung. Apa yang saya lakukan? Saya justru mengikutinya hingga menghilang di Curug... ancaman Anda tidak akan mempan."

__ADS_1


Denna tak menjawab lagi selain tatapan kesal terarah pada Sekretaris Tomi. Pria itu menunduk sekali sebelum akhirnya keluar juga menyusul Tuannya.


Satu tangan Denna terangkat seolah ingin menghantam kepala pria itu dari belakang namun tidak ia lakukan dan memilih untuk menurunkannya lagi sembari mengeram.


"Lihatlah, jika Anda tidak menepati janji. Akan ku cari jasa santet paling ampuh di seluruh penjuru Negeri. Lihat saja nanti...!" Denna menghentakkan kakinya berjalan kedalam sebelum menaiki anak tangga.


🌸


🌸


🌸


Di dalam kamar...


Arumi terdiam, duduk di pinggir ranjang sembari menatap kearah langit yang bisa di lihat dari jendela kaca kamar tersebut. Tangan kanannya mengusap perutnya yang masih rata walau sudah jalan hampir tiga bulan.


Aku hanya takut terjadi apa-apa padamu jika kau melahirkan. Makanya aku melarangmu hamil.


Percayalah, ada banyak kisah seorang ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya. Aku takut kau menjadi salah satunya.


Arumi menyematkan kata-kata itu dalam pikirannya. Ia sangat ingin memaafkan Arga namun ia juga masih merasakan kehinaan itu.


Wanita itu menghela nafas panjang saat mendengar pintu kamar di pembuka. Kepalanya menoleh kearah sumber suara dan tersenyum tipis saat melihat Denna.


"Aku tidak tahu..."


"Loh, kok?"


"Satu sisi hatiku memang merindukan Dia. Namu sisi yang lain, masih enggan untuk kembali kerumah utama."


Denna menggaruk dagunya dengan jari telunjuk.


"Kau tahu saat aku keluar dari rumah itu, dan tiba disini? seperti apa kondisinya?" Arum bertanya, Denna pun manggut-manggut. "Aku masih mengingat ekspresi wajahnya yang tidak mempercayaiku. Entahlah Denna... aku masih bimbang."


"Aku tahu perasaanmu. Aku memahaminya, Arum. Jika kau masih enggan untuk kembali." Denna menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Yaaaah... mau bagaimana lagi walaupun aku harus batal mendapatkan benda kesayangan dari sekretaris brengsek itu. Tapi kalau diingat-ingat, ketika aku melihat kondisinya secara langsung kau yang bahkan sedang sakit keluar rumah di tengah malam kasian juga. Oh, Arumi... andai kau tahu, antara iba dan ingin mengkhianatimu. Semua bertarung dalam sanubariku. Bagaimana ini? iPad, hiks!


"Denna, apa aku harus kembali ke rumah ku yang dulu?"


"Heh...?" Denna terhenyak. "Apa kau sudah gila, menukar surgamu dengan neraka? Ah, tidak... tidak! Jangan gila, ya?!"


"Bukan begitu. Bagaimanapun juga. Aku seperti berambisi untuk mendapatkan rumah ayahku kembali, dan menempatinya."


"Ah, tunggu. Ngomong-ngomong soal rumahmu. Aku lama sekali loh belum melihat mereka. Bahkan ibuku bilang saat secara sengaja lewat rumah mu. Rumah itu sepi."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Ya..." Mengangguk-angguk.


"Apa mungkin mereka masih liburan di luar Negeri?" bergumam.


"Liburan?"


"Emmm, aku ingat ada kejadian saat Mama Linda mengajakku ketemuan. Aku langsung merasa aneh. Karena seperti kehilangan kesadaran saat hendak pulang. Beberapa hari setelah kejadian itu, aku mencoba mendatangi rumah Mama Linda untuk menanyakan. Dan di sana hanya ada seorang ART dan tukang kebun. Yang mengatakan padaku kalau mereka sedang liburan ke LN."


"Waaah, kau dulu pernah bilang, saat toserba ayahmu masih buka semua. Tante Linda enggan menyewa pembantu dan tukang kebun karena ia lebih memilihmu untukku mengerjakan semuanya. Lantas sekarang, Dia punya ART dan tukang kebun?" Denna terkekeh konyol. "Di luar logika sih, apalagi liburan selama ini. Uang dari mana, bisnis ayahmu yang di ambil paksa kan bangkrut."


"Benar juga, ya. Jadi kemana mereka sebenarnya?" Arum berpikir. Mungkinkah Suamiku tahu semuanya? Aku jadi ingin menanyakan langsung.


"Hoaaaaaammm..." Denna terlihat mengantuk. Ia bahkan menguap tanpa menutup mulutnya. Hingga sebuah pukulan ringan mendarat di bahunya.


"Tutup mulutmu kalau menguap!"


"Maaf, aku lelah sekali. Karena baru kali ini aku merasakan kerumah Uti tanpa menginap lama. Jadi seperti mimpi, saja." Denna beranjak dari kursinya. Ia tidak berniat tidur namun lebih memilih mengambil handuk dan mandi agar tubuhnya menjadi segar.


Arum tersenyum. Mengawasi kegiatan Denna hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Ya, Mama Linda, Maura, Sonny. Kalian dimana?" Bergumam lirih.


.


.


Epilog.


Di apartemen tempat Mama Linda dan anak-anaknya di sekap.


Sraaaaaakkk... Mama Linda membuat garis miring di tengah-tengah empat garis vertikal yang ia buat setiap harinya. Wajah frustasi wanita paruh baya itu menatap ke dinding kaca. Sembari tangannya memeluk buku catatan berisi garis-garis itu.


"Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang ku lepaskan... sungai tampak berliku, sawah hijau terbentang. Wahai permadani di kaki langit."


Haaaah...! Mama nyanyi lagi. Sonny yang dengan tampilan awut-awuta menggerutu. Jenggot dan kumis yang mulai gondrong tak beraturan di wajahnya menujukkan sisi suramnya yang semakin frustasi.


"Hiks... gunung menjulang, berpayung awan. Ooooh indah pemandangan. Huhuhuhu..." Maura menyahut, walaupun tangannya sedang menggosok daun maple hias dengan lap satu persatu.


"Haiiiisssh..." Tangan Sonny yang kini sedang bekerja, menggosok sepatu sang penjaga menghela nafas saat mendengar ibunya menyanyi dengan suara seraknya.


"Hei...! gosok yang benar. Jangan kasar seperti itu sialan!!"


"Ma–maaf, Tuan." Kembali memelankan gerakannya. Hiks... aku juga jadi ingin bernyanyi bersama Mama dan Maura.

__ADS_1


__ADS_2