Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
hari pernikahan


__ADS_3

Yang di katakan Sekretaris Tomi benar, seorang dokter wanita datang kerumahnya pagi ini hanya untuk melakukan pemeriksaan fisik Arum.


Sejenak wanita yang berdiri di sisi sofa itu di buat ketar-ketir, saat sang dokter mendapati adanya sedikit memar di pergelangan tangannya, dan juga bahu.


"Ini kenapa?" tanya sang Dokter. Arum menoleh sekilas ke arah ibu tirinya, pias sudah membalut wajah yang mulai menua itu. Arum pula kembali menatap wanita di depannya.


"Aku terbiasa seperti ini jika kelelahan, suka timbul memar dengan sendirinya." Arum menutupi. Bukan karena takut, lebih ke perasaan tidak tega saja melihatnya nampak panik.


Karena jelas itu perbuatan Mama Linda semalam, yang sudah mencengkeram kuat hingga menimbulkan kemerahan di pergelangannya. Belum lagi ancaman Sekretaris Tomi yang sepertinya bukan main-main ketika melarang adanya lecet sedikitpun pada Arumi.


Lihat Dia yang nampak mengusap dada... harusnya kau berterima kasih padaku, Ma. (Arumi)


"Baiklah walaupun agak sedikit aneh, namun tidak apa-apa ... " Sang Dokter menata kembali peralatannya. "Pemeriksaan telah selesai, kita bertemu lagi besok di jam yang sama, Nona."


"Iya Dok, terima kasih ... " jawab Arumi. Mama Linda pun merangkul bahunya dengan senyum akrab yang tak biasa. Ya, aktingnya dulu di depan Ayah tengah ia lakoni lagi. Bahkan sejak pagi tadi wanita itu tidak membiarkan Arum untuk masak dan bersih-bersih seperti biasa.


Mobil telah menjauh, Mama Linda meraih kedua pergelangan tangan Arum.


"Sekarang istirahatlah, tidak perlu memikirkan apapun."


Arum sangat ingin tertawa saking lucunya melihat ekspresi wajah Mama yang amat manis itu terhadapnya, padahal sebelumnya tidak pernah. Terlebih kalung yang semalam di berikan oleh keluarga Sanjaya telah melingkar cantik di lehernya. Seolah tidak tahu malu, ibu dan anak itu langsung berebut untuk menghaki benda mahal tersebut setelah sekretaris Tomi pergi.


***


Tanggal pernikahan sudah tinggal hitungan hari. Denna yang baru mendengar kabar itu seketika mengajak Arum untuk menghabiskan waktu bersama.


"Kau itu benar-benar keterlaluan, Arum! Apa selama ini Kau tidak menganggap ku sebagai teman?" Bibirnya mengerucut, matanya menatap penuh selidik. Denna kesal, kenapa dirinya baru di beritahu itupun dari Ibunya.


"Aku minta maaf, karena ini memang mendadak sekali. Jadi aku lupa untuk memberitahukanmu ... "


"Benar sih ini terlalu mendadak? Tapi tidak ada masalah apapun kan sebelumnya? Atau?" Denna menjedanya, memandangi perut Arumi. "Kau sedikit lebih berisi, jangan-jangan kau sudah hamil duluan, ya!!" Denna menebak asal dengan suaranya yang keras, sehingga tangan mulus Arumi buru-buru membungkam mulutnya.


"Kau ini kalau bicara jangan sembarang!"


"Hehe, maaf aku hanya asal tebak."


"Iiissshhh..." Arum meraih gelasnya lalu menyeruput minuman di dalamnya. Denna melirik dari atas sampai bawah. Mau dilihat seperti apapun, gadis itu benar-benar berubah jadi bukan Arumi yang ia kenal. Auranya jadi nampak lebih berani, tidak sederhana seperti sebelumnya.


"Rum, aku benar-benar tidak habis pikir..."

__ADS_1


Arum tersenyum tipis, "jangankan dirimu. Pun aku merasa demikian ... "


"Huuummm... " Denna menggenggam tangan Arum, "apa kita akan sulit bertemu setelah ini?"


"Entahlah, aku tidak tahu."


"Aaaaa, teganya ... "


Arum terkekeh, walau matanya nampak menganak sungai. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir di masa kebebasannya dengan Denna. Dan setelah pernikahan di langsungkan, ia tidak tahu apa yang akan terjadi.


Aku berharap semua akan baik-baik saja... (Arumi)


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


Malam ini adalah pesta resepsinya, setelah acara inti penyatuan mereka sebagai seorang suami-isteri tadi pagi berjalan dengan baik.


Arum menggunakan busana malam yang indah, membuat tamu terpukau dengan penampilannya.


Semuanya memuji, namun hanya segelintir orang yang benar-benar tulus. Sisanya saling berbisik entah apa.


"Iiissshhh, aku benci Arumi!" umpatnya dengan suara lirihnya.


"Semua juga gara-gara kau yang menolaknya!" bisik Mama Linda masih berusaha menebar senyum.


"Aku? Tapi bukankah mereka juga maunya Arumi."


"Walaupun demikian, jika kau bisa berusaha sedikit. Tuan tajir itu pasti akan lebih memilihmu!"


"Ck...!"


"Sudahlah, yang penting kita masih dalam posisi aman di sini."


"Huuuh..." Maura menghentakkan kakinya kesal.


Di samping pesona Arumi malam itu, cukup banyak yang menganggap Dia benar-benar mirip mendiang Alicia. Namun tak sedikit pula yang membantah itu.

__ADS_1


Namun mau bagaimana lagi, semua sudah menjadi pilihan Sang pewaris tunggal Andara Group. Bahkan ibu dan Kakek Arga pun tidak bisa menahannya.


"Ayah, apakah mungkin jika sebenarnya Alicia itu punya kembaran yang terpisah?" Mata Nyonya Nessie masih menatap tak percaya.


"Itu tidak mungkin, Nessie ... " jawab Tuan Arman.


"Bisa saja, kan? Saat Alicia dan kembarannya itu dilahirkan, ada salah satu perawat yang diam-diam menculiknya untuk di buang ke keluarga sederhana. Lalu nasibnya tidak bagus? Oh... kenapa aku jadi melow begini." Mengusap sudut matanya dengan tissue. Sementara komisaris Arman menatapnya dengan tatapan aneh.


"Alicia lahir di Jerman! tidak mungkin kan, Dia di culik lantas tetap di bawa ke Indonesia. Kau ini terlalu banyak menonton Drama televisi..."


Nyonya Nessie berdeham, tak berniat untuk menjawabnya lagi. Karena apa yang di ucapkan Ayahnya benar juga. Itu tidak mungkin terjadi.


Di depan...


Pria yang mengenakan setelan jas, senada dengan istrinya berdiri dengan sorot mata angkuh penuh arogansi, menjurus pada wanita yang tengah berjalan di depannya.


Dalam hati ia tetap menangkap itu adalah sosok Alicia. Bukan gadis penjaga Toserba lagi. Arga mengulurkan tangannya, saat wanita itu sudah berdiri di hadapannya.


Bagian WO bilang, setelah ini adalah acara ku untuk berdansa dengannya. Tapi, apa aku bisa maksimal? Sementara kakiku gemetaran parah. โ€“Arum membatin, pelan-pelan meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Arga.


Pria itu menarik separuh bibirnya, memegangi bagian pinggang setelahnya. Dimana lantunan musik menggema indah di gedung mewah tersebut.


"Tersenyumlah ... mana kesan bahagia mu, Aliee." Titahnya, ketika tubuh mereka mulai menari indah. Arumi pun menyunggingkan senyum terbaiknya. Walaupun tatapannya nampak jelas ia amatlah gugup. Arum tetap berusaha semaksimal mungkin melakukan apapun yang telah di tuliskan.


Kedua tangannya kini melingkar di leher Arga. Mencoba untuk mengimbangi permainan Arga di lantai dansa.


Ya Tuhan, kenapa Dia bisa menatapku sebegitu tegasnya. Aku benar-benar gugup saat ini...


"Lihat mataku!" Titahnya pada Arum yang sejurus kemudian menggeser pandangannya. "Kau harus tahu, hidupku hancur saat kau pergi meninggalkanku, Alieee. Dan mulai detik ini, Aku akan memastikan bahwa kau tidak akan lagi pergi dari sisiku."


Glekkk... Arum menelan saliva-nya.


Tuan, apakah kau mengatakan ini dalam posisi sadar? Apa kau tidak melihat ku sebagai orang lain?


Mendadak jantungnya berdegup kencang karena takut, saat Arga mendekati wajahnya.


Dโ€“Dia mau apa?


Sebuah ciuman pertama mendarat di bibirnya. Mata Arumi terbelalak. Bersamaan dengan riuh para tamu undangan yang merasa baper dengan ciuman mereka di sana. Bertepuk tangan sembari bersorak gembira melihat itu.

__ADS_1


Sayangnya, Arumi tidak bisa merasakan itu sebagai hal yang romantis. Namun, kesakitan yang akan di mulai dari sini. Ia tidak bisa membantahnya, tentang perasaan rendah yang ia rasakan.


Di cium laki-laki yang sama sekali tak memandangnya sebagai dirinya sendiri. Tangan Arum mencengkeram kuat jas Arga. Mencoba untuk tidak melawan walaupun ia sangat ingin melepaskannya. Air matanya pun menetes senada dengan gerak lambat bibir Arga, bermain dengan lembut di bibirnya.


__ADS_2