
Setelah permainan penuh kasih itu berakhir. Arga menaikan selimutnya sebatas leher. Menutupi seluruh tubuh Arumi yang sudah berbalut busana tidur.
Tangan kiri Arga menopang kepala. Tangan satunya mengusap lembut pipi Arum. Wanita yang sudah terlelap beberapa menit yang lalu itu, kini menjadi pusat perhatiannya.
Berjanjilah untuk tetap di sini... berjanjilah untuk tidak meninggalkanku. Jangan jadi wanita kedua yang lantas ku lepaskan. Jangan siksa diriku...
Terdengar nafas halus berhembus di bibir Arumi yang tipis dan mengilat akibat bias lampu.
Senyum pria itu tersungging. Arga kembali menciumnya, lagi dan lagi. Ah, seperti belum puas dengan yang tadi. Arga memang merasa candu, ketika sejak pertama meniduri istrinya apalagi beberapa bulan belakangan ini. Kegiatan yang belum pernah ia lakukan bersama gadis manapun termasuk Alicia sendiri.
Mungkin, itu yang menjadikan alasan. Kenapa ia bisa meminta hampir setiap hari walaupun terus memanggil Arum dengan nama Alicia.
Dulu Arga memang pernah hampir meniduri Alicia beberapa kali. Itupun tak pernah ia rencanakan. Beberapa moment tertentulah yang memberikan mereka kesempatan.
Walaupun ujung-ujungnya wanita itu selalu menolak, dengan dalih ingin merasakan bercinta setelah pernikahan.
Tentunya penolakan Alicia di atas ranjang sempat membuatnya jengkel dan menganggap Alicia tidak mencintainya, namun ia bisa merasakan sekarang. Kenikmatan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, walaupun semua ia lakukan dengan wanita lain.
Arga memeluk lingkar perut Arum, merebahkan kepala di sisi ceruk leher istrinya. Matanya mulai terpejam, hingga perlahan memasuki alam mimpi.
***
Mentari menggeliat, menyapa penduduk bantala yang masih terlelap di bawah selimut mereka.
Arga sudah siap, berdiri di depan cermin. Melirik sekilas ke arah istrinya yang berdiri di dekatnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arga, tangannya menggerakkan dasi. Memantapkan diri di depan cermin.
"Aku baik, Suamiku," jawabnya terkesan letih. Ia juga kedapatan menguap di belakang. Terlihat dari gerakan tangannya menutupi mulut. Arga pun membalik badan, meraih dagu kemudian. Tatapannya menyelidiki garis wajah Arumi
"Kau tak terlihat baik-baik saja." Arga menyentuh kening istrinya. "Kau sakit?"
"Aku tidak sakit, sayang. Hanya letih," jawabnya malu-malu. Hingga menerbitkan seulas senyum di bibir Arga.
"Letih? Memang kau habis apa?" tanyanya jahil penuh kesengajaan.
"Emmm...?" Belum Arumi menjawab. Arga sudah membungkamnya dengan bibir.
__ADS_1
Rasa gemas ketika melihat Arumi menggigit ujung bawah bibirnya, membuat Arga tak tahan untuk kembali merasakan kenyalnya daging merah jambu itu. Beradu beberapa menit, hingga Arumi mulai sesak. Barulah Arga melepaskannya.
Haaaah, aku bisa mati kalau seperti ini. –Arum meruntuk dalam hati. Jantungnya seperti hendak meledak.
Belum lagi saat melihat wajah Arga yang miring ke samping, bergerak pelan melepaskan bibirnya dengan sedikit tarikan. Ia bisa melihat dengan jelas, garis rahang yang tegas dan berkarisma itu.
Kalau di pikir-pikir, sosoknya benar-benar sempurna. Pantas saja, dia jadi idola banyak wanita. Aku memang beruntung, tapi khawatir juga.
Tanpa sadar, punggungnya sudah menempel Kedinding. Dorongan pelan tadi membuatnya berada dalam kungkungan Arga sekarang. Bahkan, seperti hendak meminta lagi.
Apa yang akan dia lakukan?
"Suamiku–" Arum menahan tangan Arga yang sedang melepaskan kancing jas. "Sudah siang, kau harus bekerja."
"Aku bisa menunda perjalananku sekitar satu jam lagi..."
"Ja–jangan. Nanti kalau sekretaris Tomi kesal bagaimana?"
"Memang siapa yang menggaji dia?"
Ah... benar juga. Tentu saja Kau.
"Ck!" Arga mengecak geram. "Apa aku tidak bisa jadi pengangguran saja?" gerutunya lirih, sementara bibirnya kembali menempel di bibir Arum. Menggigit lembut.
Apa katanya? Pengangguran? Hei, kau mau di bunuh Kakekmu?
Arum melepaskan diri. Itupun sangat hati-hati sekali. Tangannya mengusap dada suaminya kemudian.
"Sayang, kita bisa sambung nanti, kan?" Sana keluar... sanaaaa...
"Hari ini aku keluar kota dan akan kembali lusa." Menunduk lesu.
"Jadi?"
"Apa aku tidak boleh meminta sesuatu, sebagai amunisi?"
"Emmm..." Arum menelan saliva-nya. Matanya bergerak-gerak saat wajah itu kembali mendekat.
__ADS_1
Tok... tok...
Arga menghentikan gerakannya. Tepat berjarak satu senti dari bibir Arumi.
"Apakah Anda di ruang ganti, Tuan?" Seru Pak Ragil di luar. Pria itu pun menghela nafas.
"Ya, bisakah bapak keluar dulu! Saya masih punya urusan. Bilang pada Sekretaris Tomi untuk memundurkan jadwal sampai beberapa jam."
"Anu– masalahnya bukan itu. Tuan besar, ada di bawah."
Mata Arga melebar, buru-buru ia melepaskan Arumi yang sejak tadi dikungkungnya. Setelah itu berjalan menuju pintu dan keluar.
"Oh... ya ampun! Sebenarnya apa yang ada di pikiran laki-laki itu, sih?" Arum menyentuh dadanya. "Astaga detak jantungku cepat sekali. Huuuft!" Mengipasi diri dengan telapak tangannya.
–––
Di luar...
Seorang pria sepuh sudah duduk di meja makan. Sedang menikmati semangkuk bubur yang terbuat dari biji gandum. Bersama dengan putrinya yang duduk di sisi kanan.
"Selamat pagi, Kakek, Mama." Sapa Arga sembari menggandeng tangan Arumi dan duduk di sisi kiri, depan Kakeknya.
Kedua mata sepuh berbalut kacamata minus itu menekuri kedua tangan cucuk-nya yang saling bertaut.
"Apa kalian akan makan dengan bergandengan tangan seperti itu?!" Hunus Kakek bernada ketus seperti biasa. Arum pun menunduk, berbeda dengan Arga yang menunjukkan kesan bahagia.
"Papa ini sedang apa sih, biarlah mereka seperti itu. Terlihat manis sekali, tahu?" Mama Nessie nampak meleleh melihat perubahan keduanya yang terlihat lebih baik. Lebih-lebih Arumi. Jujur Mama Nessie amat suka penampilannya yang sekarang.
"Apanya yang manis?! Bagaimana istrinya bisa makan jika tangan kanannya dipegangi? Dasar berlebihan!!"
Arga pun melepaskannya pelan sementara bibirnya masih tersenyum. "Kakek kapan pulang?" tanyanya kemudian.
"Baru saja!" jawab Kakek Arman singkat. Tangannya kembali menyuapi sesendok bubur ke dalam mulutnya. Kunyah-kunyah. "Ku dengar beberapa bulan ini kau banyak memecat orang?"
"Aku punya alasan, untuk mengeluarkan sampah-sampah di kantor," jawab Arga tegas.
"Ya, aku percaya. Kau bisa melakukannya. Tapi harus hati-hati juga, mafia dalam bisnis itu amat tersembunyi dan juga berkelompok. Jadi Kakek ingin kau untuk berjaga-jaga, jangan sampai lemah."
__ADS_1
"iya, Kek." Arga mengangguk. Makam pagi bersama itu pun berlanjut dengan ketenangan.