Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
kebusukan yang mulai terendus


__ADS_3

Di tempat lain...


Laki-laki itu menghentikan laju mobilnya. Tepat di depan rumah Denna. Dan di saat yang bersamaan, motor Rayyan melewatinya kemudian berhenti tepat di depan kap mobil milik Arga.


Sebuah adu pandang terjadi untuk beberapa saat. Arga sendiri langsung keluar dari dalam mobilnya.


Braaakk... suara gebrakan pintu mobil terdengar kencang. Laki-laki yang kini menggunakan setelan kasual mendekati dia yang masih duduk di atas motornya. Lengkap dengan helm Cakil berwarna hitam.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Aku? Tentunya mengunjungi rumah Bibiku. Anda sendiri, untuk apa kemari?"


"Apalagi kalau bukan karena ingin menjemput istriku."


"Istri? Anda masih menganggap Arumi sebagai istri? Bukankah Anda telah membuangnya?"


Greeeepp... Arga mencengkeram kaos oblong Rayyan di bagian dada.


"Aku tidak pernah membuangnya. Asal kau tahu itu."


"Ya, Anda mungkin tidak merasa telah membuangnya. Namun tuduhan perselingkuhan itu apa namanya...?"


Arga tidak ingin meladeni bedebah tengik itu lebih lama. Kerinduannya pada Arum sudah tak terbendung lagi. Pun, ia langsung melepaskan cengkeramannya dan memilih masuk ke dalam gerbang rumah yang terbuka sedikit.


"Tuan! Saya rasa kedatangan Anda akan sia-sia. Karena Arumi tidak ada di rumah ini."


Kontan saja Arga langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh sedikit.


"Bohong! Kau pasti sedang menipuku?"


Pemuda yang masih duduk di atas motornya menyunggingkan separuh bibirnya.


"Jika tidak percaya, silahkan cek sendiri." Mempersilahkan Arga dengan satu tangannya.


Pria bernetra emerald itu langsung mengambil langkah panjang untuk memastikannya langsung. Di depan pintu berwarna putih, pria itu mengetuknya beberapa kali. Dan keluarlah seorang remaja laki-laki.


"Om cari siapa?" Tanya Dia polos. Setelah menelusuri dari atas ke bawah laki-laki di depannya.


"Kau siapa?" Arga balik bertanya pada si remaja yang sedang berdiri di depan pintu. Alisnya pun terangkat separuh.


"Ini rumah orang tua saya, tentu saja saya adalah salah satu penghuni rumah di sini," jawabnya tengil. Arga mengusap rambutnya kebelakang.


"Dimana Arumi."


"Kak Arum?" Bertanya, sorot matanya mengarah pada Rayyan di depan pagar. Pria itu hanya diam saja sih sebenarnya hingga remaja bernama Senna itu kembali menggeser pandangannya pada Arga. "Tidak ada di sini."


Seulas senyum tersungging di bibir Rayyan dari kejauhan.


"Tidak ada? Lalu di mana?"


"Entahlah, Kak..." Menggedikan kedua bahunya. "Saya tidak tahu," jawabnya kemudian.


"Hei, mana mungkin kau tidak tahu? Katakan dengan jujur. Dimana Arumi?"


"Saya bilang tidak tahu, Paman?"


"Pffftt..." Rayyan menutup mulutnya. Pun Arga menoleh sinis kearahnya yang kembali bersikap sempurna.

__ADS_1


"Ck!" Arga mengecak geram.


"Ada lagi yang ingin di tanyakan? Saya sedang push rank, Bang. Jadi harus buru-buru masuk."


"Kau sangat tidak konsisten menjuluki orang lain, ya?"


"Habisnya saya bingung. Ingin menjuluki Anda dengan Om, Bang, Kak, atau Paman," jawabnya santai. Arga menghela nafas, sementara Rayyan kembali terkekeh tanpa suara.


"Terserah kau saja. Apa Arum benar-benar tidak di sini? Dia hanya pergi sebentar kan, atau mungkin lama?"


"Tidak tahu. Tidak bilang tuh!" Ketus menjawab.


Remaja jaman sekarang seperti ini semua kah, jika di tanya? Menyebalkan sekali... –Arga menggerutu dalam hati.


Tak lama, motor metic warna merah memasuki rumah tersebut.


"Itu ibuku. Tanya saja padanya..." Pria dengan kantung mata menghitam akibat kurang tidur itu kembali masuk ke dalam kamarnya. Masa libur selepas ujian Nasional memang momen paling pas untuk menghabiskan waktunya sebagai seorang gamer.


Ya, Senna adalah beban kedua keluarga ini setelah Denna yang kerjanya hanya duduk di depan layar komputernya. Bermain game online.


Kembali pada sosok wanita bertubuh tambun yang sedang memarkirkan motornya. Wanita itu sedikit tidak percaya, sosok tegas yang terkesan berkarisma seorang Arga Sanjaya kini terlihat di hadapannya dengan penampilan santai, celana jeans warna hitam, kaos putih di dalam yang di tutup dengan cardigan putih tulang, beraksen dua garis hitam di area lengan kiri. Satu lagi, plus sandal rumahnya.


Sepertinya, Beliau keluar dengan terburu-buru. Rambutnya yang turun menutupi sedikit bagian matanya terlihat seperti bukan Beliau.


"Tuan Arga Sanjaya?" Sapanya sopan. Arga pun mengangguk sekali.


"Anda, ibu dari teman istri saya?"


"Ah, iya Tuan..." Wanita itu bergegas mendekat, setelah melepaskan helmnya. "Silahkan masuk..." ucapnya mempersilahkan.


"Saya hanya ingin tahu, dimana Arum. Dia di sini, kan?" Tanyanya, yang belum mengambil langkah barang satu senti pun.


"Banjarnegara, dimana itu? Nama kota atau desa?"


"Itu adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa tengah, Tuan."


Arga tercengang. "Istriku sedang hamil muda, pergi ke Jawa tengah?"


"Emmm, sebenarnya. Saya sempat melarang dia ikut. Tapi, Arum bilang, ingin menikmati ketenangan di sana."


"Berikan saya alamat ibu, Anda." Pintanya.


"Emmm... sebenarnya, Arum tidak ingin siapapun menyusulnya."


"Tapi saya suaminya. Saya berhak untuk menyusul Dia."


"Hei– Tuan? Tidakkah Anda dengar tadi, bahwa Arum sedang menginginkan ketenangan. Untuk apa Anda meminta alamat? Apa Anda ingin mengusiknya lagi?"


"Hei– kau jangan ikut campur dalam urusanku. Jika kau tidak tahu apa-apa, lebih baik diam saja!"


"Akankah kau ingin menjilat ludahmu sendiri? Kau sudah melepaskannya. Sekarang mau mengejar dia lagi?"


"Bedebah sialan!"


"Anu– Rayyan, sudah hentikan. Jangan memperkeruh suasana."


Rayyan membisu saat Bu Ratih menegurnya.

__ADS_1


"Tuan, jika Anda menginginkan alamatnya mohon di tunggu sebentar. Biar saya tulis lebih dulu."


"Terima kasih, Bu."


"Mari masuklah dulu–"


"Saya di sini saja..."


"Baiklah kalau begitu. Mohon tunggu sebentar."


Arga mengangguk, ia melirik kearah kursi teras sebelum menyentuhnya. Ujung jari-jarinya saling menggesek saat merasakan adanya debu yang menempel.


"Saya rasa saat anda duduk seperti ini, celana Anda tidak akan menjadi kotor, Tuan." Rayyan duduk di salah satu kursi lain. Sementara pria itu memilih tetap berdiri. Hingga Bu Ratih keluar sembari membawa sesuatu yang lebih berarti dari apapun, setelah itu pergi.


....


Di rumah utama. Tomi masih mengurus dua orang tadi yang akhirnya mendapatkan perlindungan selama masih mengumpulkan bukti-bukti yang lain.


Ia tidak mungkin membebaskan begitu saja mereka. Sebab, tak menutup kemungkinan. Mereka akan di binasakan juga.


Sebuah panggilan masuk. Tomi menerimanya. "Iya Tuan. Ini saya..."


📞 "Tom, cepatlah bersiap. Kita ke Banjarnegara sekarang juga."


"Apa? Ba–Banjarnegara?"


📞 "Iya!"


"Tapi, untuk apa tiba-tiba Tuan?"


📞 "Kau tidak usah banyak bertanya. Jalani saja perintahku. Aku hanya ingin menjemput istriku." Pik...


Pria itu langsung mematikan telfonnya, dan meninggalkan jejak kebingungan di kepala Tomi. Ia mau heran namun Arga... jadi ya sudah. Ikuti saja. Begitu pikirnya.


Selain itu ia juga lega mendengar suara Arga yang terkesan baik-baik saja. Padahal ia sempat khawatir sebelumnya...


*


*


*


Epilog...


Di sisi lain. Veronica yang mencium hal-hal tidak baik. langsung bergerak cepat, tanpa berpikir lagi ia langsung mengemasi barang-barangnya sebelum mendatangi landasan pribadi. Ya, Dia harus keluar dari negara ini secepatnya.


Setelah tiba dilandasan...


Sebelum naik pesawat. Ia kedatangan lima pria berpakaian rapi. Lengkap dengan setelan jas hitam dan earphone di salah satu telinganya.


"Nona Veronica. Hari ini Anda tidak bisa lagi melakukan perjalanan ke luar negeri."


"Eh, a–apa alasannya?"


Salah satu dari pria ber-jas hitam itu menunjukan selembar kertas berisi catatan penangkapan padanya. Sontak wanita bermata biru itu melebar membaca sekilas tulisan dikertas itu.


"Ikut kami dengan terhormat. Atau kami tarik paksa."

__ADS_1


Veronica bergeming. Tak mampu mengeluarkan suaranya. Bahkan ada keinginan yang melintas bahwa harus kabur dari sini.


__ADS_2