
Karena hari ini ia harus bergegas ke Toko Arum memutuskan untuk mengurus semuanya esok hari. Namun sebelum itu, ia harus bertanya pada ibu tirinya tentang biaya sewa makam yang sudah nunggak itu. Sekarang tidak lagi ada alasan untuknya takut pada mereka. Ia harus berani melawan ketidakadilan ini.
–––
Malamnya...
Arumi melangkah lunglai memasuki area pagar. Ia melihat Boni, kekasih Maura yang sedang duduk di teras rumah sembari mengisap rokoknya.
Dalam posisi kaki di naikan pria itu nampak menikmati sekali setiap hisapan rokoknya.
"Eh... Arumi," godanya sok akrab. Arum yang tidak peduli terus melangkahkan kakinya. "Hei, jangan sombong dong. Sini duduk dulu, mumpung Maura lagi ke warung."
"Maaf aku cukup lelah untuk bersantai ria di depan rumah," jawabnya ketus sembari melepaskan sepatunya.
"Juteknya? Jadi perempuan cantik itu harusnya jangan jutek- jutek lah... nanti yang suka tambah gemes, loh." Boni menyentuh tangan Arum. Gadis itu sontak mendelik kearahnya.
"Tidak usah macam-macam, ya? Aku tidak takut untuk menghajarmu."
Pria itu tertawa meremehkan. "Seperti apa si ditonjok cewek cantik?"
"ARUMI!!" lengkingan suara Maura terdengar dari jarak jauh. Tepatnya di depan pagar. Gadis itu sama sekali tak bergeming, lain halnya dengan Boni yang buru-buru melepaskan tangannya. Maura mendekat dengan tatapan tajam mengarah ke-keduanya. "Apa-apaan, nih?"
"Tenang Sayang. ini tidak seperti yang kamu lihat, kok!" Boni mencoba menjelaskan, namun Maura sudah terlanjur geram.
Sementara Arum sendiri memilih tidak peduli. Ia kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Namun belum sempat melewati pintu, Maura menarik bahunya membawanya berbalik badan.
PLAAAAK!!!
sebuah tamparan keras mengenai pipinya. Seketika bau amis terasa akibat darah yang sedikit keluar dari ujung bibirnya.
"Dasar ****** tidak tahu diri...! Beraninya menggoda kekasihku!"
Arum menghembuskan nafasnya kasar sembari mengusap bibirnya itu. Ia lantas membalas tamparan tadi tak kalah kencangnya.
PLAAAAK!!!
Terdengar nyaring suara tamparan Arum tadi ketika menyentuh pipi mulus Maura.
"kita impas!" Arum pun tersenyum puas.
__ADS_1
"Brengsek!! BERANI SEKALI KAU MENAMPAR KU BALIK?" Maura mendorong dada Arumi. Tentunya gadis yang di perlakukan seperti itu melawan dengan cara yang sama. Bahkan lebih kencang hingga gadis di depannya tersungkur ke lantai.
"Hei...! Apa yang kau lakukan?" Boni berseru, mencoba menolongnya namun Arum tidak peduli ia kembali berbalik badan melenggang pergi.
"Iiissshhh!!" Maura buru-buru bangkit kemudian menarik keras kebelakang bagian kuncir kuda itu. Hingga tubuh Arum terhempas ke lantai. Maura yang melihat itu langsung menindih tubuh Arum menjambaknya, tentunya hal itu di lakukan juga oleh Arum. Hingga timbul lah aksi saling Jambak dan pukul antar keduanya.
Boni yang berdiri di sana tidak bisa berbuat apapun. Lebih panik lagi saat mobil Ibunya Maura memasuki pelataran. Tentunya aksi brutal keduanya belum usai.
Buru-buru wanita itu keluar, menarik paksa tubuh Arum yang sekarang sudah berada di atas Maura. Lalu menghempaskan-nya kasar ke sisi lain.
***
Beberapa menit kemudian setelah Boni pulang, Maura menangis sesenggukan mengadukan semuanya. Tentang sang kekasih yang di goda Arumi, juga pukulan yang keras hingga memar di beberapa bagian tubuhnya.
"Aku hanya bicara baik-baik, namun dia malah menyerang ku, Ma."
"Cih!" Arum merasa muak dengan rengeknya itu. Ia memilih untuk tidak menjelaskan apapun. Karena percuma saja, bagi wanita itu? Sudah pasti kesalahan ada pada diri Arumi.
"Kau sudah benar-benar kelewatan! APA KARENA AKU TERLALU BAIK PADAMU, HAH!!" pekiknya di depan wajah Arumi.
"Aku hanya membela diri, hal itu wajar aku lakukan."
"Aku anak pemilik rumah ini," jawabnya tegap. Ia sudah benar-benar geram dengan semua caranya.
Mama Linda tersenyum sinis. Ia tidak menyangka bisa mendapatkan jawaban itu dari Arum.
"Kucing nakal yang mulai kurang ajar. Kau mau aku menghentikan pembayaran makam orang tuamu?"
"Tidak tahu malu, masih saja kau mengancam ku dengan itu. Padahal, kau memang sudah tidak melakukan pembayaran itu selama tiga tahun, kan?" Arum menghentak. Wanita di hadapannya itu mengangkat satu alisnya. Kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Tega sekali... TEGA SEKALI KAU MELAKUKAN ITU PADAKU!!" Air mata mengalir di pipi mulus Arumi. "Kau tahu, Ma? Aku rela melakukan apapun, agar makam itu tetap ada. Nyatanya kau malah justru tidak membayarnya!"
"Baru kali ini aku tidak membayarnya. Itupun karena keuangan sedang sulit," jawabnya enteng.
"Sulit katamu? Semuanya tidak akan sulit kalau kalian tidak foya-foya seenaknya dengan uang Ayahku!!"
Plaaaak!!! Plaaaak!!! PLAAAAK!!!
Tiga tamparan mendarat di pipi Arumi hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Gadis itu menangis sebab sakit yang merejam jiwanya. Tak lama rambutnya pun di tarik kencang kebelakang. Arum mengerang cukup keras.
__ADS_1
"Dengarkan aku anak tidak tahu diri. Aku melakukan itu sebagai balasan atas dirimu juga yang selama ini mulai sering membangkang ku."
"Mama tidak bisa menjadikan itu alasan, sementara aku sudah bekerja layaknya budak di sini... APAKAH ITU TIDAKLAH CUKUP?!"
Mama Linda melepaskan cengkraman di rambutnya. "Baiklah, jadi kau mau apa sekarang? Pergi dari sini...? silahkan! Aku tidak akan melarangmu."
Arum mengepalkan tangannya kuat. Ia memang tidak tahan tinggal di rumah ini. Namun jika ia pergi dari sini, hatinya akan semakin hancur. Sebab seluruh peninggalan Ayahnya telah berpindah tangan. Hatinya belumlah rela jika rumah masa kecilnya ini seutuhnya jatuh ke tangan Mama Linda dan anak-anaknya.
Arum masih sangat menyesalinya. ketika Maura mencampuri sesuatu dalam minumnya. Hingga setengah sadar, ia melakukan tanda tangan dalam surat resmi pemindahan nama kepemilikan, hingga seluruh aset peninggalan sang ayah menjadi milik Mama Linda seluruhnya.
"Kenapa Kau hanya diam saja? Sana angkat kaki...!" Mama Linda mendorong pelan tubuhnya itu dengan kaki. Arum sendiri masih bergeming. Dalam situasi seperti ini, ia memang terpaksa harus mengalah lagi dengan ibu tirinya itu.
***
Esok harinya...
Pagi yang cerah, tak secerah suasana hati Arumi setelah keluar dari salah satu kantor yang mengurus penyewaan blok makam tersebut.
Setelah mendengar harganya, ia baru sadar rupanya kompleks pemakaman itu memang tidak murah. Wajar lah... dulunya mereka berasal dari keluarga yang cukup berada. Tentunya Ibu dan Ayah di makamkan di kompleks yang terawat dan rapi.
Arum menghela nafas, ia berdiri di pinggir jalan. Menunggu lampu berubah merah sehingga ia bisa menyeberang di zebra cross dengan aman.
Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu bulan?
Batinnya mendesis, seolah sangat mustahil baginya yang tidak punya pekerjaan. Uang tabungannya pun masih jauh dari kata cukup.
Di depan lampu yang di khususkan untuk para penyebrang sudah hijau, dimana para mobil dan motor berhenti di belakang garis.
Langkah lunglainya terayun. Saat baru sampai di ujung, seseorang yang nampak tengah terburu-buru menabrak bahunya. Sontak, tas kecil tanpa resleting yang menggantung di bahunya terjatuh hingga sebagian isinya tercecer di jalan trotoar.
"Maaf, Mbak! Buru-buru..." Seru pria paruh baya itu sembari berlari sebelum lampunya berubah.
Arum menghela nafas, ia berjongkok memunguti barang-barangnya. Memasukan kembali satu-persatu kedalam tas. Sekilas pandangannya tertuju pada sebuah kartu nama.
"Sekretaris Tomi Mahesa? Andara Group?" Arum membaca tulisan tersebut.
Anda bisa menghubungi saya kapanpun. Barangkali Nona berubah pikiran.... (Sekretaris Tomi)
Arum mengingat kata-kata itu membuatnya berpikir cukup lama di sana. Seolah-olah kebingungannya sekarang terjawab saat itu juga.
__ADS_1