Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
menjalankan rencana 2


__ADS_3

Di sana Maura langsung memintanya untuk duduk di meja yang lain. Jujur saja, akibat inside tadi. Selera makan Arum menghilang. Ia tak ingin makan apa-apa lagi sekarang. Selain keinginannya untuk keluar mencari pakaian lain.


Berkali-kali Arum menurunkan roknya yang terus terangkat saat dirinya duduk. Ini benar-benar memalukan. Begitu pikirnya.


Ia pun meraih gelasnya, memilih untuk minum saja. Dan disitulah seulas senyum tersungging dari bibir Maura. Tangan kanannya turun kebawah, sama halnya dengan Mama Linda yang juga menurunkan tangan kirinya. Mereka melakukan tos tanpa suara di bawah meja. Benar-benar rencana yang berjalan lancar.


"Ehemmm... Rum. Sepertinya kau benar-benar tidak nyaman. Jika kau sudah ingin pulang, mungkin tidak apa-apa?"


"Benarkah?" Tanya Arum merasa lega.


"Tentu..." jawab Mama Linda, tersenyum sembari mengangkat satu alisnya. Kedua tangannya bertaut di atas meja, menopang dagunya.


Arum pun mengangkat satu tangannya memanggil pelayan. "Bill..!"


Buru-buru pelayan itu mendekati sembari membawa bill milik meja nomor 12.


"Silahkan, Nona." Menyerahkan buku tersebut kepada Arum yang lantas membukanya. Arum membaca sekilas. Sejenak ia merasakan adanya keanehan.


Tiba-tiba saja pandangannya kabur. Buru-buru ia mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya. Sebuah kartu kredit tanpa limit.


"Pakai ini, tolong cepat lakukan transaksinya..." desisnya sembari menopang kepala. Pelayan itu pun mengangguk.


"Nak, kenapa?"


"Entahlah. Mendadak kepalaku berat, Ma," jawabnya.


"Ya ampun, apa kau mau kami pesankan kamar saja? tidak jauh dari sini ada hotel. Sepertinya kau kelelahan."


"Tidak usah, aku mau pulang saja." Arum masih bisa mengontrol kesadarannya. Karena efek obat yang diam-diam di bubuhi Maura tadi belum begitu bekerja.


Ya ampun, kenapa mendadak seperti ini. Apa yang terjadi? Batin Arum, pandangannya semakin kabur dan sejenak kembali. Ia menggerakkan kepalanya berusaha untuk tetap tersadar.


"Ini Nona, kartu Anda dan struk pembayarannya."


"Terima kasih, Mas."


"Sama-sama, Nona. Terima kasih telah datang dan semoga datang kembali."


Arum hanya tersenyum tipis, kepalanya benar-benar berat. Seperti habis minum alkohol beberapa botol.

__ADS_1


"Mama, Maura... aku permisi pulang."


"Iya, Nak. Mama ucapakan terima kasih karena hari ini kami sudah di traktir makan."


"Iya," jawabnya sembari tersenyum. Arum buru-buru bangkit dari kursinya, meranggai tas lalu berjalan dengan sedikit limbung. Dengan berusaha keras untuk tetap tersadar ia masih bisa melangkahkan kakinya. Maura dan Mama Linda pun mengikuti dari belakang.


"Ma, yakin mau sama Boni?" Bisiknya merasa tidak ikhlas.


"Sssstt, diam saja. Kekasihmu itu tidak akan macam-macam, kita kan turut mengantarnya nanti sampai ke dalam hotel."


"Iiissshhh..." Maura menghentak kakinya. Saat sang kekasih sudah berjalan mendekati tubuh Arumi didepan.


Arum semakin limbung ke kanan membuatnya bertopang pada tiang besar di dekatnya.


"Ah, ya ampun. Aku ini kenapa? Kenapa semuanya bergoyang tak karuan. Aku jadi mual–" rancaunya. Hingga seorang pria dengan topi berwarna hitam mendekati. Boni meraih tangannya. "Hei, siapa kau?"


"Aku yang akan membantumu untuk sampai kamar."


"Apa?" Lirihnya. Tubuhnya ingin menolak. Namun rasanya tidak ada daya. Sehingga membuatnya menurut saja. Ketika laki-laki yang ia sendiri tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya, membawanya keluar dari restoran itu menuju mobilnya terparkir.


Soni mulai bersiap, mengambil foto Arumi dengan pria itu. Tepat saat tubuh Arum sedang diminta masuk kedalam mobil tersebut.


"Yuuuppp, tahap selanjutnya .... hotel!"


"hei, kita bisa lakukan itu setelah Arumi tunduk lagi pada Mama."


"Cih! janji belikan aku tas yang lebih mahal dari yang di pakai Arum."


"anak ini, ya..." protes Mama sembari geleng-geleng kepala.


"sudah jangan banyak bicara. Ayo cepat kita ke mobil," ucap Soni buru-buru mengajak sang ibu dan adiknya menuju mobil mereka.


––


Sementara itu di tempat Arumi...


Dengan senyum liciknya Boni terus membawa laju mobil yang ia kendarai. Menuju tempat yang tak terlalu jauh dari lokasi awal mereka.


"Hmmmm, mau dibawa kemanaaaa– kepalaku pusing sekali," gumamnya setengah sadar.

__ADS_1


Bibir merah jambunya yang bergerak sedari tadi sudah sangat menggodanya. Berkali-kali ia menelan ludah. Menahan hasrat lain yang keluar dari dirinya. Sesuatu yang tak sama sekali masuk dalam daftar rencana mereka. Sebab bagian rok yang terangkat naik. Memunculkan ilustrasi tubuh Arum jika tanpa busana.


Body-nya mulus sekali...


Berkali-kali melirik kearah Arumi, tangan satunya pun pelan-pelan turun. Hendak menyentuh bagian tersebut. Lalu menariknya cepat.


"Brengsek! Aku tergoda beneran..." Boni mengusap keringatnya. Kembali ia fokus ke jalan membawa laju mobil dengan kecepatan tinggi, berharap ia bisa sampai lebih dulu dari pada Maura dan yang lain.


Di hotel...


Boni membuka kunci kamar dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menahan tubuh Arumi yang hampir tak sadarkan diri.


"Tahan sebentar. Kau akan menyentuh ranjangmu–" seringai tipis terbit di bibir Boni saat pintu terbuka. Dan tanpa menunggu lagi, Arumi langsung di bawa masuk ke dalam kamar tersebut.


Perlahan tubuhnya dihempaskan. Rambutnya yang pirang sedikit menutupi wajah yang miring ke kiri.


Tanpa berkedip, Boni nampak memandangi tubuh sempurna berbalut pakaian minim itu dari atas ke bawah. Seolah tersihir, ia lupa dengan tujuannya yang hanya tidur di sebelah Arumi untuk di ambil gambarnya saja.


Satu kakinya terangkat, ia mulai naik keatas ranjang itu dengan hati-hati. Tubuh Arumi masih nampak bergerak, sesekali. Rintihan kecil pun terdengar dari bibirnya.


Gila! ternyata tubuh Arumi sebagus ini... pantas saja pimpinan Andara Group menjadikannya istri. Di bandingkan Maura yang pendek dan berkulit sedikit gelap, sih? tentu Arumi jauh lebih sempurna. Ckckck...


Ia mengusap area mulut hingga ke dagu. Hawa panas sudah menyergap kepalanya hingga ke kaki. Tidak ada lagi akal sehat ataupun ketakutan yang menghalaunya.


Ia merasa, tidak bisa jika hanya melihat saja. Barang mulus yang menggoyahkan iman seperti ini. Setan pula seakan ikut andil membutakan akalnya. Yang dipikirkan hanya tentang nafsunya yang ingin merasakan sedikit walaupun tak sampai melakukan hal yang paling intim sebelum mereka bertiga datang.


"Aku tahu, batasannya hanya untuk tidur di sisinya sembari mengambil foto. Habis itu keluar. Tapi, kenapa aku merasa sayang, ya?" Boni menyibak sedikit rambut itu hingga terlihat separuh wajah hingga ke leher yang mulus. "Sial!! Arumi cantik sekali, sepertinya kalau aku hanya mencium dia tidak masalah. Toh Maura tidak melihatnya."


Buru-buru Boni melepaskan atasannya ia pun sedikit merebahkan tubuhnya di sebelah Arumi.


"Arumi, kau benar-benar bidadari yang entah datang dari mana. Kecantikan mu benar-benar lebih dari kata sempurna." Mengusap kulit wajah itu dengan punggung jarinya. "Aku ingin melihatnya sedikit, hanya sedikit saja Maura. Kau jangan marah ya..."


Tertawa tanpa suara, dengan nafas yang memburu. Boni menurunkan resleting di bagian dada. Nampak bagian tubuh yang kenyal itu sedikit menyumbul membuat telinganya memerah.


"Tidak bisa jika hanya melihat saja, aku harus mencicipinya sedikit..." Nafas Boni memburu, hawa nafsu sudah membuncah. Tanpa berpikir panjang ia langsung menurunkan wajahnya.


BRAAAAAAAAAAAKKKK...


"Berhenti di situ!" Suara pintu yang di dobrak bersamaan dengan munculnya seorang pria dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


Sontak, Boni terkejut bukan kepalang. Mendadak sekujur tubuhnya gemetar, ketika langkah panjangnya berjalan mendekatinya


Di–Dia, disini?


__ADS_2