
Malam harinya di belakang rumah...
Arum terperangah di sana. Melihat tenda mewah plus peralatan lengkap untuk melakukan pesta barbeque. Sebelumnya, sekretaris Tomi sudah bertanya. Apa-apa saja yang ada saat acara camping di rumah itu berlangsung. Dan kini semuanya sudah tersedia.
Hanya bedanya, jika keluarga Denna hanya memasang tenda kecil sebagai hiasan saja. Sementara ada matras lebar di gelar di depannya untuk mereka makan bersama.
Yang ia lihat di depan mata sekarang adalah tenda besar dan mewah, lengkap dengan peralatan berkemah ala sultan. Ada AC berdiri, meja makan dan juga dua kursi di dalamnya.
Tak lupa alat panggang barbeque yang tentunya berbeda dengan yang ada di rumah Pak Helmi. Arum masih tertegun, karena beberapa pelayan nampak standby tengah mempersiapkan perapian.
"Kau lihat. Inilah caraku mempersiapkannya. Bahkan lebih baik dari yang ada di rumah temanmu itu..." tuturnya di sebelah Arumi terkesan menyombongkan diri. "Sekarang, apa saja yang di lakukan pria itu?" tanyanya.
"Sayang, kenapa harus melakukan ini? Tidak usah saja, ya. Karena tugasnya adalah membuat perapian untuk membakar ikan nila dan jagungnya."
"Perapian? Jadi laki-laki itu tidak hanya duduk saja?"
"Tentunya tidak. Kami semua bekerja untuk acara sederhana malam itu."
"Cih, kalau begitu akan ku lakukan." Mengusap sisi samping rambutnya kebelakang.
"Ja–jajangan. Anda tidak akan bisa, Suamiku."
"Berani sekali kau meremehkan ku?"
"A–aku tidak meremehkan mu. Aku hanya khawatir..."
"Ck! Tutup mulutmu dan lihat saja. Semua akan mudah ku lakukan!" Akan ku buat kau terkesan. Gumamnya dalam hati kemudian.
Langkahnya sudah terayun dan berhenti di dekat alat pemanggang. Kedua tangannya menyilang didepan dada bingung ingin melakukan apa. Jadi dia hanya menonton lebih dulu.
Tentu hal itu justru membuat pelayan yang sedang bekerja merasa gugup. Hingga api yang tengah dinyalakan seolah tak kunjung menyala.
"Sebenarnya kau bisa atau tidak, sih?"
"Emmm, bi–bisa, Tuan." Semakin gugup lah dia. Arga pun menghela nafas.
"Berikan padaku pematik apinya," pinta Arga sembari mengulurkan tangannya. Pelayan itu pun langsung menyerahkannya dengan sopan. Berbicara pelan, memberikan petunjuk penggunaannya.
Arum sendiri hanya berdiri saja, menonton keinginan aneh Tuan Arga yang tiba-tiba saja ingin melakukan reka ulang acara semalam di rumah Denna.
"Aaaarhh..." mengibaskan tangannya yang sedikit terkena api. Pria itu mengerang.
"Tuan Anda tidak apa-apa?" pelayan di sebelah Arga langsung memeriksanya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa..."
"Sayang, sudah jangan di lanjutkan. Biar mereka saja yang mengerjakannya."
"Aku bilang, 'kan, akan melakukan hal yang sama dengan laki-laki itu."
"Tapi?"
"Mana jagungnya–" pinta Arga pada pelayanan pria di sebelah, tanpa menggubris perkataan Arumi.
"Emmm, maaf Tuan. Jagung akan di letakkan ketika arang sudah menjadi bara."
"Cih, kau kira aku ini bodoh? aku menanyakan jagung hanya untuk persiapan!!" elaknya yang merasa bodoh.
"Maaf, Tuan."
"Biar aku bantu, ya," Arum menawarkan.
Arga mendelik. "Apa seperti ini kronologinya?"
"ya?" Arum bingung.
"Jadi sepanjang cecunguk itu menyalakan apinya, kau berdiri di sisinya seperti ini. Dan menawarkan bantuan?"
"Kalau begitu lakukan tugasmu saja sana! jangan membuatku kesal karena aku sedang berperan sebagai laki-laki itu. Jangan pula memperlakukanku seperti kau memperlakukan ku sebagai Arga. Intinya, aku ingin reka ulang yang sebenar-benarnya. Jangan sedikitpun kau kurangi. Mengerti!!"
Arum langsung mengangguk. "Emmm, baiklah..." mengalah, dan menjauh kemudian, masuk kedalam tenda lantas duduk di sana. Membantu pelayan wanita yang mulai membaluri ikan Nilanya dengan bumbu.
Beberapa menit kemudian, api itu berhasil menyala. Arga mengusap keningnya yang berkeringat. Membolak-balikkan jagung yang hampir matang seluruhnya.
"Jangan terus di bolak-balik, Tuan. Jagungnya akan semakin lama matangnya."
"Jangan mengajariku terus!! Mau mati, ya?" Sergah Arga yang sudah panas ketika pelayan itu terus berbicara.
"Ma–maafkan saya, Tuan."
"Ck!" Arga berdecak kesal.
Sesungguhnya aku merasa bodoh karena melakukan ini. Tapi aku harus tahu hal apa saja yang di lakukan bedebah itu.
Melihat Dia tadi, rupanya dugaan ku benar. Dia pemuda yang ku temui di hotel. Sepertinya Dia bukan pria yang bisa ku anggap remeh. Jelas-jelas dari tatapannya, ia mengincar istriku.
Bedebah tengik. kau pikir aku akan membiarkan mu?
__ADS_1
Saking geramnya, Arga sampai tidak sadar bahwa ada alat pemanggang di depannya. Yang sekonyong-konyong ia gebrak tanpa ancang-ancang.
BRAAAAAAAAAAAKKKK... Grataaak! Klaaaaaang!
Alat itu langsung terjungkal ke rerumputan. Semua yang berada di atasnya pun tumpah termasuk beberapa bongkol jagung dan bara api yang masih menyala.
Arum yang mendengar erangan Arga juga suara keras itu buru-buru keluar dan berlari menghampiri suaminya.
"Sayang, apa yang terjadi?" Tanyanya panik, melihat sang suami tengah memegangi pergelangan tangannya sendiri.
Pelayan lain dan juga Pak Ragil pun bergegas mendekati. Membawa beberapa benda yang di butuhkan untuk melakukan pertolongan pertama.
"Mari sirami dulu dengan air mengalir, Tuan. Guna mengurangi efek melepuhnya." Pinta pak Ragil yang di turuti Arga.
"Sayang, aku sudah bilang jangan lakukan ini. Lihat tanganmu." Arum turut meringis melihatnya. Ia sendiri heran sebenarnya apa yang di lakukan Arga hingga alat pemanggang itu bisa terjatuh seperti ini.
"Sudah cukup. Bawakan obat itu ke kamarku." Arga meraih pergelangan tangan Arumi dengan tangan kirinya yang tak terluka lalu menarik wanitanya ke dalam rumah. Acara bakar-bakar itu ia batalkan begitu saja, sebab inside tak terduga ini.
***
Di dalam kamar, Arum memandang ngeri luka bakar yang nampak di bagian telapak tangan. Walaupun tidak parah, tapi itu pasti panas sekali.
"Anda yakin tidak ingin memanggil Dokter saja, Tuan?" tanya pak Ragil, sembari mengoleskan salep luka bakar ke tangan Tuannya.
"Tidak perlu. Semua akan baik-baik saja."
"Tapi, luka ini lumayan."
Arga menghela nafas, menggeser pandangan pada Arum. "Semuanya gara-gara, Kau!" Tudingnya kemudian.
A–aku? Arum terhenyak, namun seketika tertunduk.
"Sekarang aku tidak bisa menggunakan tangan kananku seperti biasanya."
"Maafkan aku, Suamiku."
"Haaah, apa dengan maaf saja semuanya akan selesai?"
Maksudmu?
"Sekarang kau harus bertanggung jawab atas semua ini... jadilah pengganti tangan kananku. Aku tidak mau tahu!"
Wanita itu menelan saliva-nya. Jerit hatinya seolah ingin memberontak, andaikan saja ia lebih berani. Namun, hatinya yang lain merasa itu hal wajar untuk ia lakukan. Karena kekhawatirannya lebih dari akal sehatnya sekarang.
__ADS_1
"Baiklah, akan ku lakukan. Apapun yang kau mau sayang. Aku akan membantumu. Sebagaimana tangan kananmu melakukan itu," jawab Arumi. Seulas senyum pun tersungging di bibir Arga. Ia akan menyiapkan apapun, sebagai balasan rasa kesalnya karena acara malam itu.