
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalan ibukota. Pikiran Arga saat ini tengah dirayapi rasa bersalah. Setelah terbelenggu dalam kebodohannya sendiri. Ia mulai menyadari apa yang ia lakukan terhadap Arumi adalah sebuah perbuatan jahat.
Andai saja dia bisa mengedepankan logika ketimbang emosinya. Mungkin semua tidak akan seperti ini. Seharusnya dia juga tak buru-buru mempercayai segala omongan dan bukti-bukti yang ia dapatkan sekilas. Namun, semua telah terjadi.
Mau menyesalinya sekalipun. Dia telah menoreh luka cukup dalam bagi istrinya. Harapannya hanya satu, ia ingin bertemu Arumi dan meminta maaf kepadanya.
Arga ingin memulai kembali, ia ingin istrinya pulang bersamanya saat ini juga. Walau harus bersusah payah membujuknya. Ia akan melakukan apapun demi Arum bisa kembali.
***
Sementara itu, Arumi yang berada di dalam kereta tertegun menatap pemandangan sawah yang membentang dari kaca jendela.
Sawah-sawah yang berwarna hijau segar. Terseok-seok angin yang menerpa mereka. Seperti tarian cantik dari alam. Memberikan kesan kesejukan dalam benak wanita berambut hitam itu.
Arum saat ini tengah berada dalam perjalanan jauh dengan Denna. Sebuah perjalanan yang pernah direncanakan saat keduanya masih duduk di bangku SMA.
Bayangan candi Arjuna dan kawah Sikidang di salah satu kompleks dataran tinggi Dieng. Membuat Arum penasaran dan ingin berkunjung saat mendengar betapa indah dan dinginnya tempat itu.
Ya, siapa di sangka. Hari ini keinginan sederhana mereka terwujud. Melakukan perjalanan berdua dengan transportasi umum. Walaupun dengan situasi yang tidak pernah di inginkan.
Derik roda-roda kereta terdengar. Hentakan-hentakan kecil pun terasa. Perjalanan kereta selama beberapa jam ini sudah membawa mereka yang sebentar lagi akan tiba di stasiun Purwokerto Jawa tengah.
Perlahan, tangannya menyentuh bandul kalung di dadanya. Menggenggam kuat benda yang terbuat dari berlian murni. Kedua matanya mengerjap hingga bulir-bulir bening mengalir di pipinya kala mengingat suaminya.
Tak bisa di pungkiri, hatinya menjerit rindu pada sosok laki-laki berwajah angkuh itu. Hal wajar yang pasti akan dirasakan beberapa wanita dengan nasib yang sama.
Tangan kiri Denna mengusapnya, menghapus jejak kesedihan di wajah Arum. Sementara tangan kanan menyodorkan roti boy rasa kopi yang baru saja ia beli.
Arum merasakan roti yang masih hangat di tangannya setelah menerima itu.
"Aromanya harum sekali, padahal aku masih kenyang dengan camilan tadi, loh."
"Rum, kau harus ingat. Kalau ibuku sudah wanti-wanti saat mau berangkat. Kau harus banyak makan camilan yang mengenyangkan."
Seulas senyum tersungging. "Terima kasih."
"Sama-sama." Denna menggigit ujung roti miliknya. "Naik kereta, memang paling enak makan roti boy. Hehehe."
Arum mengendus lagi aroma kopi yang nikmat dari rotinya. Ia pun menggigit sedikit.
"Bagaimana, enak?" Tanya Denna.
"Enak, jujur aku baru pertama kali makan ini."
__ADS_1
"Uh, benarkah?"
"Iya. Dan aku suka..."
"Kalau begitu makan yang banyak. Kalau perlu kita beli lagi yang banyak."
"Hahaha, tidak usah. Ini saja sudah cukup."
Denna nyengir dengan mulut penuh roti. "Ayo habiskan."
"Iya–" terkekeh. Arum kembali menggigit rotinya, mengunyah dengan gerakan pelan sembari menoleh lagi ke kaca.
"Kita sudah hampir sampai."
"Iya, kah?" Menoleh lagi.
"Iya." Mengangguk sebelum menggigit roti di tangannya yang tinggal separuh.
"Apa dari stasiun ke tempat tinggal nenekmu itu dekat?"
"Jauh, Arum. Kita harus naik mobil lagi. Nanti paman ku yang akan jemput, kok."
"Begitu, ya?"
"Benarkah?" Tanya Arum antusias semakin penasaran.
"Benar, Arum. Aku saja jarang mandi kalau di sana... lantainya pun dingin apalagi ini masuk musim kemarau. Suhu bisa masuk minus enam derajat Celcius di malam hari."
"Wah, apa sampai sedingin itu...?"
"Iya, Rum! makanya di rumah nenekku, seluruh lantai di lapisi karpet. Kita harus pakai kaos kaki dan sandal rumah."
"Seperti di luar negeri, ya?"
"Kurang lebih. Hehehe, desa itu di juluki negeri atas awan. Pamanku bilang, bulan-bulan inilah sering terjadi fenomena embun es. Kawasan Dieng akan seperti tertutup salju tipis. Pokoknya asik, deh."
"Denna, aku tidak sabar ingin melihatnya." Arum menggenggam kedua tangan sahabatnya itu.
"Hihihi, mudah-mudahan besok kita beruntung. Bisa melihat fenomena alam itu ya?" tuturnya semangat yang di balas dengan anggukan kepala tak kalah semangat dari Arumi.
Ya, sejenak Arum melupakan keluh kesahnya. Dan memang seharusnya demikian. Merefresh pikiran dengan jalan-jalan menikmati alam, dengan harapan? Ia bisa memberikan manfaat positif untuk calon anaknya. Dengan cara menghilangkan segala duka lara.
Kereta telah berhenti beberapa menit yang lalu. Di stasiun Purwokerto. Kedua wanita yang hanya membawa barang sekedarnya memilih untuk duduk sebentar sembari menunggu Paman Afif tiba.
__ADS_1
"Kau lelah? Ada keluhan, tidak?" Denna menyentuh perut Arum.
"Tidak, Denna. Justru aku merasa bersemangat sekali."
"Iya kah? Syukurlah kalau begitu... soalnya aku membawa wanita yang sedang hamil muda. Jadi agak takut." Denna dan Arum terkekeh bersamaan dengan itu seorang pria paruh baya menghampiri.
"Denna, sudah lama menunggu?" Sapanya dengan bahasa ngapak khas Banjarnegara yang bercampur dengan bahasa Wonosobo.
"Tidak Paman. Paman apa kabar?" Mencium tangan pamannya dengan takzim, berganti dengan Arum setelahnya.
"Kabar paman baik. Ya sudah, ayo jalan langsung."
"Iya, paman."
Mereka berjalan keluar dari stasiun menuju salah satu mobil berjenis Terios. Yang terparkir di antara banyaknya mobil-mobil lain.
Setelah semuanya masuk, mobil pun melaju keluar dari area stasiun. Perjalanan dari Purwokerto menuju Batur Banjarnegara memang tak memakan waktu lama. Mungkin sekitar tiga sampai empat jam. Tergantung kecepatannya, dan kondisi jalan.
Arum melihat jalanan Purwokerto yang nampak ramai tak kalah dari ibukota Jakarta. Membuatnya senang, tak henti-hentinya paman bercerita ini dan itu demi menghangatkan suasana dalam mobil.
Setelah tiba di salah satu desa yang bisa di bilang pedalaman. Arum mulai merasakan tubuhnya menggigil.
"Seperti di puncak."
"Cuma lebih dingin," jawab Denna menimpali.
"Iya, benar." Arum tersenyum.
"Ini masih siang, belum terlalu dingin karena ada matahari."
"iya, Denna. Siang saja sudah dingin begini. Anginnya juga cukup kencang."
"Tapi, aku lihat banyak sekali tanaman yang daunnya lebar-lebar."
"Itu tembakau. Mayoritas warga di sini adalah petani kentang dan tembakau. Besok kita jalan-jalan sambil panen kentang, ya Arum."
Arumi mengangguk semangat. "Aku tidak sabar..."
"Hihihi, aku juga."
"Cah ayu, sini pada masuk. Kok di luar saja–" seseorang wanita renta dengan tubuh yang kurus dengan pakaian khas Mbah-mbah berseru.
"Uti, ku. Ayo masuk..." Denna menggandeng tangan sahabatnya menemui Mbah Putri Mirah atau Uti sapaan akrab yang di juluki Denna untuk neneknya itu.
__ADS_1