Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
keinginan Arumi


__ADS_3

Di rumah utama...


Langit sudah menjadi gelap. Beberapa pelayan tengah menyiapkan makan malam di atas meja sesuai request Arga.


Pak Ragil terlihat sibuk memberikan arahan pada anak buahnya. Hingga seorang gadis yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah mendekati.


"Permisi..." ucapnya pada Pak Ragil, pria itupun menoleh.


"Nona Veronica..." Beliau langsung mengangguk sopan.


"Apa Kak Arga sudah di rumah?"


"Emmm, Beliau sedang di ruang kerjanya saat ini bersama Sekretarisnya," jawab Pak Ragil.


"Okay!" tanpa berbicara lagi, gadis itu langsung melangkahkan kakinya menuju tempat yang di sebutkan Pak Ragil tadi.


Nona Vero akhir-akhir ini jadi sering datang... batin Pak Ragil geleng-geleng kepala. Beliau lantas mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan untuk sekretaris Tomi. Setelah itu kembali melanjutkan pekerjaannya.


–––


Belum sampai pada tujuan, gadis itu sudah berpapasan dengan Arumi. Yang tentunya langsung memberikan senyum kekeluargaan. Tanpa mengingat kejadian tempo hari.


"Nona? Kau kapan datang?" tanya Arum,. matanya nampak berbinar menyambut gadis itu.


"Tidak usah sok akrab denganku! Bercerminlah, agar kau paham posisimu itu di mataku!" sergahnya sebelum melanjutkan langkahnya menjauh. Arum pun hanya mampu tertegun, saat tanpa permisi gadis itu langsung menyelonong masuk ke ruangan kerja suaminya.


"Sebebas itukah, Dia? Hanya karena statusnya sebagai adik kandung dari Nona Alicia? Seperti tidak ada batasan dengan Suamiku. Aku saja bahkan tidak berani walau hanya mengetuk pintu itu saat Tuan Arga sedang bersama Sekretarisnya." Arum nampak lesu, memilih untuk berjalan ke luar, mencari angin sembari menunggu waktu makan malam siap.

__ADS_1


Di luar...


Arumi menikmati hembusan angin malam. Rasanya sejuk, dan menyenangkan. Menghilangkan sedikit suasana hati yang seperti bergemuruh.


Saking asiknya di luar, ia sampai tidak ingin masuk. Hingga Sekretaris Tomi keluar dari pintu utama, berdiri sejenak menunggu mobilnya.


Arum mendekati... "Anda sudah mau pulang, Tuan Sekretaris?"


"Iya, Nona."


"Emmm, aku mau tanya. Apa Nona Veronica masih di dalam?" tanyanya. Nampak Tomi terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Kenapa Anda tidak menunggu mereka di dalam?"


"Saya tidak bisa terus berada di sana, sementara Tuan muda sudah memerintahkan saya untuk pulang."


"Begitu, ya? Tuan Arga, nampak perhatian sekali padanya," gumamnya lirih namun masih didengar oleh Tomi.


"Tuan Arga perhatian dengan Nona Vero itu ada alasannya. Jadi, Nona Veronica adalah adik yang selisih umurnya hanya satu tahu dengan Almarhumah. Keduanya sangat dekat, makanya saat Nona Alicia berpulang Tuan seperti berjanji pada dirinya sendiri. Bahwa Beliau akan menjadi Kakak penggantinya."


"Saya harap Anda tidak berpikir buruk tentang Tuan Arga," ucap Tomi saat mobilnya telah di tiba di depannya. "Saya permisi Nona. Dan berusahalah untuk mengambil hati Tuan Muda," pesannya kemudian sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Tentunya aku ingin menggaet hati Suamiku sendiri. Jujur, jika aku boleh egois aku ingin hidup selayaknya wanita normal lainnya. Tidak seperti boneka saja... Arum membatin. Seiring laju mobil sekretaris Tomi yang semakin menjauh, menuju Gerbang utama.


***


Tiba pada masa suntik berikutnya. Arum sengaja datang lebih awal agar ia bisa melakukan percakapan pribadi dengan Dokter Kasih.


Ia tahu, ini sangat beresiko. Namun setelah dipikir matang-matang ia pun mantap. Karena semalam ia juga sempat menyatakan keinginannya sekali lagi pada sang Suami.

__ADS_1


Dengan jawaban yang sama. Ia masih menolak keras keinginan Arum yang menginginkan untuk berhenti melakukan suntik tersebut. Sehingga muncul niatan untuk membujuk Dokter Kasih saja.


"Saya senang melihat Anda datang lebih awal, Nona."


"Saya sengaja, Dok. Karena ada yang ingin ku sampaikan," jawabnya ragu-ragu.


Wanita itu tersenyum. "Boleh... memangnya apa yang ingin Anda sampaikan?"


"Begini dokter... jika boleh, saya ingin meminta Dokter membatu saya. Bagaimana caranya agar suntik ini tidak berlanjut."


"Maksud, Nona?"


"Aku ingin punya anak, Dok," jawabnya membuat sang Dokter tertegun. "Dokter pasti paham, usia pernikahanku dengan Suamiku sudah hampir satu tahun, tapi Dia masih tidak mau menghentikan ini."


Arum pun bercerita panjang lebar, bahkan sampai keprihal surat kontraknya. Membuat kening Dokter Kasih berkerut.


"Saya mengatakan ini karena percaya dengan Dokter yang notabene adalah Bibi dari Denna. Dok, bantu saya. Tolong hentikan suntikan penunda kehamilan ini... aku ingin, menunjukkan perasaanku hanya dengan menumbuhkan bibit darinya."


Dokter itu melepaskan kacamatanya. "Sebenarnya saya sendiri bingung ingin bagaimana. Karena, jika saya menolaknya pasti Tuan Arga tidak akan memakai saya lagi sebagai Dokter SPOG pribadinya. Tentunya amat mudah bagi Tuan Arga untuk mendapatkan pengganti saya. Semua tidak akan pengaruh apa-apa."


"Anda bisa menyuntikkan vitamin atau apapun pada kami?"


"Nona, ada bagian lain yang mengecek obat saya sebelum di suntikkan pada Nona dan Tuan Arga. Jadi itu tidak akan mudah..."


"Tolonglah, Dok. Bantu saya... tolong batu bagaimanapun caranya." Arumi meraih tangan Dokter Kasih, lantas menggenggamnya erat.


Tok... tok...

__ADS_1


Di sela-sela keheningan ketika Dokter wanita itu tengah berpikir. Pintu ruang prakteknya di ketuk dua kali oleh seorang Kaki-tangan dari Andara Group. Tentunya dengan Arga juga di sana.


"Ku mohon, tolong pertimbangkan keinginanku, Dokter," bisiknya hampir tak terdengar sama sekali. Sebelum beranjak menghampiri suaminya memberikan pelukan seperti biasanya.


__ADS_2