Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Perjalanan di Jerman


__ADS_3

Baru saja dua jam yang lalu jet pribadi yang di tunggangi Arga mendarat. Sebentar pula Beliau istirahat, kini langkahnya telah sampai pada sebuah tanah yang berisikan banyaknya makam.


Arga tercenung sejenak, sebelum membungkuk demi meletakkan buket bunga yang Ia bawa, ke atas salah satu makam dengan nisan bertuliskan Alicia.


"Aku datang, Sayang. Aku menepati janjiku..." gumamnya. Kedua matanya tak nampak kesedihan seperti sebelumnya. Ia pun heran, seolah ketegaran kini sudah ia rasakan. Tidak lagi meratapi kepergian wanita yang dua tahun lalu memenuhi hati dan pikirannya.


Sejatinya ia menyadari Efek terapi yang ia jalani bisa ia rasakan. Hanya ego tinggilah yang membuat Dia selalu menepis semuanya.


Aku tidak bermaksud untuk melupakanmu... tapi, maaf Sayang. Aku mulai?


Arga menggelengkan kepalanya cepat. "Apa yang ku pikirkan?"


Buru-buru ia memutar tubuhnya keluar dari area pemakaman ini. Rencana selanjutnya adalah, menemui Arsene Narendra. Ayah kandung dari Alicia. Mereka sudah mengatur janji sebelumnya, jika akan bertemu di rumah Beliau yang memang kembali menetap di Jerman sejak sepuluh tahun belakangan.


***


Seorang laki-laki paruh baya menyapanya. Tawa renyah bisa ia dengar dari bibirnya yang sedikit keriput.


"Apa Kabar, Tuan Arsene?" sapa Arga menggunakan bahasa Jerman. Karena Laki-laki itu memang tidak begitu fasih menggunakan bahasa Indonesia.


"Tentunya kabarku baik-baik saja. Walaupun sudah tak seperti dulu," jawabnya sembari terkekeh. "Suatu kehormatan, dan kebahagiaan. Ketika melihatmu datang kemari setelah kepergian putriku."


Arga hanya tersenyum tipis. Mereka pun melangkah masuk bersama. Dengan di ikuti Sekretaris Tomi di belakangnya.


Di rumah besar itu, rupanya masih banyak foto-foto keluarga mereka. Walaupun Tuan Arsene sudah menikah lagi sejak kepergian istrinya. Nyatanya foto permaisuri pertama di rumah itu tidak sama sekali di turunkan oleh Beliau. Entah apa alasannya, namun Arga kini mulai paham. Karena sebanyak apapun wanita yang akan hadir mengisi hari-harinya. Tetap cinta sejatilah yang akan bertahta.


"Silahkan Duduk, Tuan..." titahnya mempersilahkan Arga lebih dulu untuk duduk baru Beliau. Setelahnya, seorang pelayan datang sembari membawa teko kecil berisi Teh bunga chamomile. "Sudah lama tidak berjumpa dengan Beliau. Bagaimana kabar Komisaris Arman Sanjaya?"


"Baik. Kakekku sekarang justru lebih betah menyendiri di salah satu vila kami... berkali-kali aku memintanya untuk pulang. Beliau justru tidak mau. Hari-harinya sekarang di sibukkan dengan memancing dan bermain golf," jawabnya sembari memegangi cangkir teh miliknya.


"Hohoho... lansia memang menyukai ketenangan yang seperti itu. Sekarang saja, andaikata memiliki anak laki-laki? Saya sangat ingin menikmati ketenangan seperti yang di lakukan Komisaris Arman."


Arga terkekeh pelan, sembari meletakkan lagi cangkirnya.

__ADS_1


"Ya, Kakek sudah lelah bekerja, lebih-lebih saat Ayahku meninggal dunia. Pekerjaannya jadi lebih banyak lagi. Jadi, semua pantas Kakek dapatkan. Menikmati masa-masa senja dengan ketenangan."


"Benar Tuan. Beliau pantas menikmati masa senjanya saat ini. Apalagi yang Beliau khawatirkan sekarang? cucuk-nya sudah dewasa. Bahkan termasuk laki-laki hebat. Darah Komisaris Arman dan mendiang Tuan Mikail benar-benar mengalir di darah Anda."


"Anda terlalu berlebihan, Tuan Arsene." Tertawa santai.


"Hahaha... aku tidak berlebihan. Justru aku menyesali kepergian putriku. Andai saja Alicia tidak pergi dan kalian benar-benar berjodoh? Pasti Andara Group dan G-Star group akan benar-benar menguasai kerajaan bisnis di Nusantara," pungkasnya. Dan akibat kata-kata itu, hati Arga kembali tercubit. Perasaan bersalahnya muncul.


"Maafkan saya, Tuan Arsene..."


Kening Beliau berkerut, sejurus kemudian menggeleng dengan kedua telapak tangan mengarah ke Arga.


"Tidak, tidak... bukan maksud untuk kembali menyinggung kejadian itu. Tidak perlu menyesalinya, Tuan Arga."


"Tetap saja, aku yang bersalah. Truk makanan itu, aku yang memesannya," gumam Arga sembari tertunduk.


"Tidak, Tuan. Sudah jangan di sesali lagi. Semuanya sudah berlalu. Saya juga sudah mengikhlaskan kepergiannya. Maafkan saya. Sungguh, saya tak bermaksud mengungkitnya. Sebaiknya kita bahas yang lain saja."


Tuan Arsene terlihat tidak enak hati saat mendapati raut wajah penuh kesedihan yang di tunjukkan Arga. Walaupun, sebelumnya ia sempat kecewa karena Arga menikahi gadis lain sebagai pengganti putrinya. Namun kini ia sudah berdamai dengan itu.


"Sayang, kenapa kau tak memberi kabar pada Daddy sebelumnya, kalau kau akan ke Jerman," bisiknya setelah memeluk putri bungsunya itu.


"Emmm, aku pun tidak sengaja Daddy. Ada pekerjaan dadakan disini."


"Oh, ya?"


"Y-ya, Daddy..." jawab Veronica sambil tertawa aneh. Matanya melirik kearah pria yang tengah duduk santai sembari menyeruput tehnya. Untunglah aku tepat waktu. Batinnya kemudian merasa senang sekaligus lega. "Oh, Kakak?"


"Hai–" sapanya balik dengan suara datar. Sebelum bangkit dari posisi duduknya.


Arga sebenarnya sudah menyadari kehadiran Vero namun ia sengaja tidak menoleh gara-gara pernyataan cinta dadakannya di ruang kerja. Membuat Dia kini justru menghindari Veronica.


"Tuan, Anda mau kemana?"

__ADS_1


"Saya harus kembali ke Indonesia, Tuan Arsene."


"Loh, buru-buru sekali. Anda bukannya?"


"Kakak, benar kata Ayahku kenapa buru-buru sekali. Kakak bukankah baru saja tiba, ya?" potong Vero yang langsung menggelayut di lengan Arga. Jujur saja ada tatapan tidak suka yang ditunjukkan Arsene Narendra saat putri bungsunya bertingkah seperti itu pada pria yang sudah beristri. Baginya, itu tidak baik.


"Aku banyak pekerjaan, Vero." Pelan tangan Arga bergerak menyingkirkan tangan Vero. Dengan perilakunya sekarang ia, jadi sedikit risih.


"Kakak, tapi kita belum ngobrol."


"Sungguh aku banyak kerjaan." Pria itu mengambil beberapa langkah, menjauhi Veronica. "Tuan, saya permisi."


"Terima kasih telah sudi berkunjung kesini. Walaupun sejatinya, saya sangat ingin Anda lebih lama lagi di sini."


"Jika ada kesempatan. Saya pasti datang lagi..."


"Baiklah... sampaikan salam ku untuk Tuan komisaris."


"Pasti akan saya sampaikan." Arga melenggang pergi meninggalkan rumah besar itu.


Di sisi lain Veronica justru amat kecewa. Jauh-jauh ia menyempatkan diri untuk ke Jerman. Sesampainya di sini hanya bertemu beberapa detik saja.


Huuuh, susah sekali untuk bertemu dengannya semenjak kejadian itu. Tapi kan ini sudah lama, masa Kakak masih marah padaku!


Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, sebelum meninggalkan ayahnya yang seketika bingung akibat suasana hati anak gadisnya itu.


...


Di dalam mobil...


"Anda yakin. Kita mau kembali ke Indonesia, Tuan?"


"Entahlah... ada Veronica disini. Aku jadi malas."

__ADS_1


"..." Tomi terdiam. Agak sedikit heran juga. Padahal sebelum ini Arga amat perhatian. Namun kenapa beberapa bulan terakhir ini nampak menghindari gadis itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Tomi bertanya-tanya, sementara tatapannya kembali fokus kedepan.


__ADS_2