Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Arumi, isteriku


__ADS_3

Langit terang sudah berganti malam. Padatnya jalanan ibukota karena ini adalah jamnya orang-orang pulang dari kantor membuatnya sedikit jenuh.


Ya, tidak terasa Arum telah menghabiskan separuh harinya di dalam salon. Perawatan rambut dan kulit memang memakan waktu tak sebentar. Itulah kenapa ia paling malas melakukannya jika bukan karena jadwal tetap yang sudah di atur oleh sekretaris Tomi.


Terkadang sih, orang salon yang datang kerumah utama. Namun, karena ia ingin sekalian keluar mencari angin, dipilihlah keputusan untuk melakukan treatment di salon saja.


Ia menoleh kearah kanan. Tempatnya duduk sembari bertopang dagu. Dari kaca tempatnya memandang jalan, terlihat orang-orang ramai di kawasan yang penuh dengan tenda-tenda juga nyala lampu yang terang.


"Pak supir itu apa, ramai sekali. Bahkan sampai macet seperti ini?" tanya Arumi pada supirnya.


"Oh, itu sepertinya ada festival kuliner di ujung sana, Nona."


"Festival kuliner?"


"Iya, Nona."


Wah, mungkinkah di sana banyak jajan. Sudah lama aku tidak makan jajanan pinggir jalan yang penuh dengan bumbu MSG.


"Pak, boleh saya mampir? Saya sangat ingin makan Takoyaki." Pinta Arum pada bodyguardnya.


"Tapi Nona, Sekretaris Tomi bilang. Tuan Muda sudah dalam perjalanan pulang."


"Aku hanya ingin jalan sebentar. Ambil makanan yang ku mau, setelah itu pulang."


"Tetap akan memakan waktu lama, Nona."


"Kalau begitu izinkan aku beli, dan memakannya di mobil."


"Baiklah biar saya yang turun."


"Ayolah, Pak. Izinkan saya saja yang turun. Anda tidak akan tahu apa yang saya inginkan."


"Nona bisa kasih tahu saya, apa saja. Saya pasti akan mengingatnya."


"Saya hanya mau jajan, yang saya lihat sendiri pilihannya!" Sarkas Arumi sedikit jengkel.


Pria yang duduk di sebelah supir pun memerintahkan supir tersebut untuk mencari tempat parkir. Di sanalah senyum kemenangan terbit di bibir Arum.


Yeeees! Jajan...


Beberapa menit kemudian.


Wanita yang di ikuti seorang bodyguard di belakangnya berjalan senang. Matanya menyisir satu-persatu gerobak penjual makan yang menggugah selera. Ada salah satu yang membuat langkahnya kontan terhenti.

__ADS_1


Sebuah antrian di depan gerobak warna merah. Aroma gurih berminyak pun ia cium, amat menggugah selera. Ada kilatan api yang sesekali terlihat di atas wajan berisi banyaknya cekungan kecil cukup dalam, sedang di isi sang koki dengan adonan yang terbuat dari tepung dan telur.


Takoyaki memang jajanan favorit ala Jepang yang banyak di sukai orang. Tekstur yang lembut dan gurih walau amat berminyak, berpadu dengan isian seafood dan tiga jenis saus sesuai selera. Membuat Arum langsung berdiri di antriannya, bergantian maju dengan yang di depannya.


"Aku mau satu lusin Takoyaki," Arum memesan, ketika sudah sampai pada gilirannya.


"Isinya apa saja, Kak?" Tanya penjual itu.


"Kasih semua varian isinya, dan...tolong dikasih agak banyak Katsuobushi* sebagai topingnya."


*(merupakan produk olahan ikan cakalang yg diasap kemudian diserut tipis.)


"Baiklah, Kak. Atas nama siapa?"


"putri Arumi..." jawabnya. Pria itu menuliskan nama.


"Baik silahkan di tunggu sebelah sana. Jika makanan sudah siap, akan kami panggil."


"Baiklah..." Arum berjalan menjauhi grobag. Matanya masih memicing. Mencari makanan lain.


"Potato spiral! Corndog...! Teokbokki..." Arum mendekati tenda Korean street food, tentunya sang bodyguard kembali mengikuti langka kecil Arumi yang tak terlihat lelah.


Di sana Antrian tak sepanjang jajanan ala Jepang itu, karena memang pegawainya banyak sehingga mereka yang membeli tak terlalu lama nunggu pesanan mereka siap.


"Aku ingin... apa lagi, ya?"


"Kita sudah harus pulang, Nona. Tuan sudah di rumah." Tukas sang bodyguard, khawatir Nona Mudanya akan kembali mencari jajanan lain yang akan membuat waktu pulang semakin lama tertunda.


"Oh, baiklah Pak." Mengalah, ia lantas buru-buru masuk kedalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Arumi memakan semua jajanan yang ia beli satu-persatu. Bahkan ia sampai tidak menawarkan satupun dari semua jajan yang ia beli pada dua laki-laki di depan.


Sluuuuuurrppppp... sedotan terakhir dari minumannya sudah habis. Arum mengusap perutnya yang merasa kenyang. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia agak suka jajan. Bahkan camilan di dalam kamar pun cepat habis.


Satu jam kemudian. Arum telah tiba di rumah utama. Pak Ragil pun mendekatinya. Terlihat perubahan Arumi membuat pria paruh baya itu sedikit pangling, tapi Beliau justru menyukainya. Tampilan yang lebih sederhana dengan riasan tipis dan rambut yang hitam lurus, tergerai se-bawah bahu.


Menggunakan setelan rok se-bawah lutut dengan atasan rajut berlengan panjang. Arumi terlihat beraura dari sebelumnya.


"Selamat malam, Nona." Pak Ragil menyapa Arum. "Anda kenapa baru pulang?"


"Maaf Pak Ragil. Tadi saya jajan dulu..." jawabnya jujur.


"Ya sudah, lebih baik Nona ke kamar sekarang. Tuan Muda sudah menunggu."

__ADS_1


"Baiklah." Arum melangkahkan kakinya. Menyusuri lantai marmer ke dalam.


Aku harus bersiap, sekarang aku Arumi bukan lagi Nona Alicia. Dan semoga dia tidak menyalahkanku lagi.


Sedikit dadanya berdebar. Mengkhawatirkan respon Arga nantinya. Tapi dia harus siap menghadapi.


Di dalam kamar, ruangan itu nampak gelap. Arum menggeragapi dinding, mencari saklar lampu.


Tiiik... Tiiik...


Arum tertegun di dekat ranjang. Melihat Tuannya tengah duduk di sofa panjang menatap kaca.


Pria itu menyadari kehadiran Arum, sehingga membuatnya terpaku. Menjuruskan pandangan kebayangkan istrinya bukan lagi ke langit.


"Telat sekali pulangnya?" tanya Arga tanpa menoleh. "Kau ku suruh ke satu tempat, bukan untuk yang lain-lainnya!"


"A–aku tahu, Sayang. Maaf, aku yang salah."


"Lupakan..." Arga menoleh. Tangannya bergerak, memintanya untuk maju dan duduk di sampingnya. Arumi langsung menuruti.


"Apa seperti ini penampilanmu di depanku?" Arga menarik kerah sweater rajut milik Arumi.


"Aku hanya mengikuti apa yang Anda inginkan suamiku. Merubah penampilan ku seperti saat bertemu," jawabnya.


"Tapi aku tak ingin kau memakai pakaian seperti ini."


"Emmmm..."


Arga menyentuh ujung bawah sweater Arumi kemudian mengangkatnya naik. Tentunya hal itu membuat Arum tak berkutik. Ia membiarkan Suaminya melepaskan luarannya hingga tersisa kaos dalam dengan tali di kedua bahunya.


Dia sudah tak terlihat seperti Alicia. Walaupun garis wajahnya masih memperlihatkan kemiripan.


Jari telunjuknya berjalan turun, dari kening, hidung dan mendarat di bibir. Mengusap pelan bibir Arumi dengan ibu jari.


Arga nampak tersenyum, merasakan debaran yang semakin kuat walau Arumi sudah tak berpenampilan seperti Alicia lagi.


Ya, Dia Arumi... Istriku!


Arga mencium leher sisi samping Arumi. Sementara tangan kirinya meraih tangan kanan sang istri, menakutkannya.


Terasa jelas Arum meremas tangan itu saat kecupan berjalan kebagian yang lain. Memberikan hetakan satu demi satu yang meninggal jejak stempel cinta di sekitar dada.


Lirih bibirnya mulai mendesah, Arga lantas tersenyum sebelum menggendongnya. Memindahkan tubuh Arumi keatas ranjang.

__ADS_1


malam panjang berlalu begitu saja. membersamai ikatan hati yang semakin kuat dalam hubungan keduanya.


__ADS_2