Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Menjemput Arumi 6


__ADS_3

Kebekuan masih terasa, bersama dengan kedua netra yang saling bertatapan. Arga tidak menduga akan sedalam itu luka yang ia tanam pada wanita yang bahkan tidak pernah ada dalam pikirannya, akan menjadi sosok wanita paling spesial di dalam hatinya saat ini.


"Tuaaaaan... Nonaaaaaaa...." sayup-sayup terdengar suara Sekretaris Tomi, yang semakin lama semakin terdengat jelas. Memecah kebekuan.


Sraaakkk... Tomi sudah berada lebih dekat. Menghentikan langkahnya dengan nafas terengah-engah.


"Ya Tuhan, syukurlah..." Terdengar helaan nafas panjang pertanda kelegaan saat melihat Arga dan Arumi di depan matanya dalam keadaan baik-baik saja.


"Sekretaris Tomi..." gumamnya saat melihat Pria dengan jaket berwarna abu-abu. Membuat Arum menyeka cepat air matanya.


"Tuan, Nona. Kalian tidak apa-apa, 'kan?" tanya Sekretaris Tomi yang tak mengharapkan respon dari keduanya setelah mengetahui situasi yang terjadi.


Arumi masih duduk di atas batu itu dengan kaki memijak tanah. Sementara Arga masih bertahan pada posisinya berjongkok.


"Tuan–" Arum memanggil suaminya dengan sebutan Tuan membuat Arga kembali tertunduk berderai air mata.


"Katakan padaku, apa yang harus kulakukan?" Tidak peduli adanya Sekretaris Tomi diantara mereka berdua. Arga kembali menyambung pembicaraan tadi.


"Tidak ada yang perlu Anda lakukan. Aku hanya menginginkan kebebasanku."


"Istriku..." desisnya terdengar dramatis. "Tolonglah, ayo kembali padaku. Akan kulakukan apapun asalkan kau kembali. Terserah! jika kau menganggap aku telah menjilat ludahku sendiri. Aku tidak bisa membantah fakta ini. Kalau aku amat mencintaimu."


"Beri aku waktu untuk sendiri, Tuan. Sampai aku bisa berdamai dengan semuanya. Aku hanya butuh ketenangan..."


"Aku akan memberimu ketenangan itu. Aku berjanji, setelah ini akan menjadi lebih baik lagi. Marilah pulang bersamaku dan berhenti memanggilku, Tuan! Aku bukan Tuanmu, Arumi ... aku pasanganmu."

__ADS_1


Arum bergeming untuk sesaat, mengabaikan tangan Arga yang menengadah.


"Aku belum bisa pulang bersamamu. Biarlah aku tetap di sini, untuk sementara waktu."


"Tempat ini terlalu jauh dari pantauan ku. Janganlah seperti ini. Kita pulang saja."


"Tidak mau!" Arum mendorong tangan Arga yang terus terulur padanya.


Pria itu menghela nafas panjang. Ia pun memutar tubuhnya membelakangi Arum. Sebaiknya menghentikan perdebatan ini, karena mereka harus segera keluar dari hutan Pinus.


"Sudahlah, naik saja ke punggungku. Kita harus keluar dari sini."


"Aku bisa jalan sendiri. Kakiku masih bisa melangkah."


"Naik!" Tegasnya.


Di sana ada Denna, paman, dan beberapa orang pekerja lahan yang sedang berunding untuk berpencar. Semuanya nampak lega saat melihat tiga orang kota itu berjalan keluar.


Arum yang merasa malu beberapa kali minta di turunkan, sementara yang menggendongnya tidak ada niatan sedikit pun untuk menurutinya. Ia terus saja berjalan tanpa bersuara hingga tiba di mobil yang terparkir di pinggir jalan.


πŸ‚


πŸ‚


πŸ‚

__ADS_1


Arga termenung cukup lama di luar setelah menerima untaian kalimat menohok dari Arumi. Sekilas rasa bersalahnya semakin menumpuk seperti gundukan awan pekat yang menutupi cerahnya langit. Membuatnya kehilangan ketertarikan untuk berbicara panjang lagi.


Pria itu menghela nafas, udara di Dieng masih terasa dingin terkesan sejuk walau waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Namun tidak sedingin di malam hari.


Sopir tadi terlihat sibuk menggulir layar ponselnya di teras rumah. Sementara Nenek pemilik rumah sedang tidur siang setelah mengobrol cukup banyak dengan sopir mereka.


Arga sudah kehilangan cara untuk membujuknya pulang ke Jakarta siang ini juga tanpa harus menginap lagi.


Namun, Arum tetap keukeuh untuk berada disini. Mengabaikan apapun yang di ucapkan Arga demi membawanya kembali.


Tak lama sekretaris Tomi mendekat setelah menerima telepon dari seseorang.


"Tuan, maaf saya menganggu. Hari ini saya dapat kabar penangkapan Nona Veronica. Kita harus ke Jakarta."


"Veronica?" Arga menaikkan satu alisnya tidak mengerti.


"Saya tidak mungkin menjelaskan disini, Tuan. Namun ini ada kaitannya juga dengan meninggalnya Nona Alicia."


Arga tertegun. Mendengar nama Alicia mengingatkannya pada luka menganga yang kini telah tertutup cinta Arumi.


"Arumi belum mau pulang. Aku tidak bisa meninggalkannya."


Tomi bergeming. Menunggu respon selanjutnya. Walaupun dalam hati sudah mulai lelah. Karena untuk mengurus ini semua, ia harus kehilangan banyak waktu dan mengesampingkan pekerjaan.


Belum lagi menghindari pertanyaan Tuan Arman Sanjaya tentang keluhan-keluhan para customer yang telah sampai kepadanya setelah merasa di rugikan akibat pembatalan mendadak.

__ADS_1


Ia benar-benar ingin berteriak kencang saat ini juga dan menyeret dua orang penuh drama ini kembali ke Jakarta. Ya, se-stress itu Sekretaris Tomi mem-back up semuanya. Sementara yang di depan hanya diam saja berlakon seperti kucing polos tak tahu apa-apa.


__ADS_2