Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Rasa yang menjadi hambar


__ADS_3

"Silahkan tandatangani ini, Nona," ucap Tomi. Arum pun menoleh, kembali mengarahkan pena di atas kolom tanda tangan yang tersedia.


Ku harap ini bukanlah pilihan yang salah. Ku mohon, semoga hidupku tidak menjadi lebih buruk.


Arum mengguratkan tanda tangannya tanpa berpikir lagi. Bersamaan dengan air mata yang menetes dari salah satu sudut matanya.


"Terima kasih, Nona. Kita akan bertemu lagi besok pagi. Seorang supir akan menjemput Anda di sini. Pukul sembilan pagi..."


"Baik," jawab Arum lirih. Bersamaan dengan Sekretaris Tomi yang keluar. Arum menoleh kearah laki-laki yang sudah duduk di mobilnya sedari tadi. Dan setelah Sekretaris Tomi masuk, mobil pun melaju pergi dari tempatnya.


Bruuukkk... Tubuh Arum terhempas lunglai ke lantai.


Sekarang apa lagi?


Kini dirinya benar-benar menjual jiwa dan raganya untuk pria asing itu. Walaupun dia sempat berpikir, kedatangannya bak Pangeran dari negeri dongeng yang hadir untuk menolong sang Upik Abu. Nyatanya tidak demikian. Dia hanya menolong untuk kembali menjebloskannya ke neraka yang lain.


Arum memeluk lututnya, sembari membenamkan wajahnya. Ia menangis meratapi semua yang terjadi. Kenapa kehidupan begitu pelik ia rasakan.


Walaupun ia pernah mendengar, ketika seorang bayi hendak dilahirkan. Ada sedikit dialog antara dirinya dan Tuhan. Dimana Tuhan akan menunjukan sekilas hidup yang akan di jalani si bayi selama di dunia hingga tiba waktu kematiannya. Seperti kebahagiaan atau penderitaannya. Setelahnya ia akan di tanya, sanggupkah untuk tetap memijakkan kaki di dunia?


Arum berpikir, jika saja ia tahu akan sesulit ini. Seharusnya ia memilih untuk tidak terlahir saja. Namun, kembali ia teringat akan sebuah kata-kata. Bahwa ujian akan di terima bagi dia yang sanggup. Sudah pasti, Arum adalah orang terpilih yang mampu untuk menjalani ini semua dengan baik. Ia mengangkat kepalanya, lalu mengusap air matanya pelan.


"Tidak apa-apa, Rum. Kau pasti bisa... semua akan baik-baik saja. Pasti! Pasti, Arum." Arum kembali menangis. Sebab sekuat apapun Dia tetaplah manusia biasa yang bisa mengeluarkan air mata.


***


Sudah tiba waktu petang...


Sebab keributan yang terjadi tadi siang. Para pembeli jadi berkurang, mereka yang menjadi langganan mendadak tidak berani masuk ke toko itu. Jadilah ia pulang lebih cepat. Namun tidak langsung ke rumah melainkan memilih untuk mencari hiburan ke taman kota.


Arum melangkah pelan menuju salah satu ayunan yang kosong setelahnya duduk di sana. Mengamati beberapa orang yang berlalu lalang didepannya.


Ada yang bersama keluarga, ada pula yang hanya dengan pasangannya. Mereka semua nampak bahagia, hidup dalam lingkungan normal yang seolah-olah membuat hatinya iri.

__ADS_1


"Andai aku bisa seperti mereka, memiliki pasangan yang ku cintai lalu aku pun di cintainya, lantas menikah dan memiliki anak. Pasti hidupku akan bahagia, tidak seperti sekarang..." Arum mengayun pelan, menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya dengan mata terpejam..


"Arumi!" Seorang pria mengejutkannya. Ia membuka mata hanya untuk mengetahui siapa yang memanggil namanya.


"Ya ampun, Rayyan?"


"Hei– aku tidak menyangka melihatmu disini." Rayyan nampak sumringah. Ia pun duduk di ayunan yang lain. Di sisi Arumi. "Aku sempat berpikir itu bukan Kau. Namun setelah ku dekati rupanya beneran Kau."


Arum tersenyum tipis. "Aku baru pulang dari toko, lalu mampir sebentar untuk mencari angin segar disini."


"Ooo..." Rayyan manggut-manggut, lalu melirik kearah kantong plastik yang ia tenteng. Bibirnya tersenyum. Tadinya ia membeli dua eskrim cone ini untuk keponakannya yang kebetulan tinggal tidak jauh dari taman ini. Namun?


"Ini untukmu..." Rayyan akhirnya menyerahkan es krim itu untuk Arum, satu. Wanita itu tertegun sejenak, lalu menggeleng pelan dengan isyarat tangannya untuk menolak.


"Tidak usah, terima kasih."


"Ambilah..." Rayyan meraih tangan Arum lalu meletakkan itu di telapak tangannya.


"T–terima kasih, Rayyan," lirihnya merasakan getaran di hatinya.


Bibir Arum tersenyum manis. Memandangi wajah tampan Rayyan dari samping. Sedang merobek kertas pembungkus es krimnya di bagian atas. Pria itu menoleh, merasa sedang di perhatikan. Terlihat Arum yang buru-buru memalingkan wajahnya ke bawah. Membuka bungkusan kertas itu dengan gugup. Rayyan pun tersenyum saat melihatnya.


"Rum?"


"Heeem?" Arum menoleh sesaat setelah menggigit ujung es krim miliknya.


"Lama kita tidak bertemu, kau tidak berubah ya..."


"Tidak berubah apanya?"


"Kesederhanaan-mu..." Rayyan memuji kecantikan alami Arumi dalam hati. Benar-benar tak melunturkan kekagumannya pada gadis itu, walaupun banyak gadis cantik yang berusaha mendekatinya di kampus. Arumi tetap menjadi primadona dalam hatinya sejak SMA tingkat awal.


"Aku memang selalu seperti ini, tidak seperti kau yang semakin meningkat..."

__ADS_1


"Apanya yang meningkat?" Rayyan terkekeh, merasa semakin nyaman dengan obrolan ini. Pandangannya tak terlepas dari wajah yang selalu menyejukkan hatinya.


"Penampilanmu, Rayyan."


"Oh, ya?" Rayyan menggigit cone es krimnya.


"Iya, Kau bahkan membuatku sejenak tidak mengenali pria yang duduk tepat di belakang bangku ku waktu SMA. Saat pertemuan di halte bus waktu itu," pungkasnya penuh kejujuran. Karena Rayyan memang terlihat lebih keren, kulitnya pun terlihat lebih bersih dan putih. Lebih-lebih dengan model rambut yang sekarang.


Rayyan tertawa. Ia merasa itu adalah sebuah pujian manis dari sosok pujaan hatinya. Angin masih berhembus, menggoyangkan rambut keduanya yang kembali terdiam menikmati es krim di tangan mereka masing-masing.


"Oh... omong-omong, Rum. Aku sudah tidak punya nomor mu. Boleh minta, tidak? Setidaknya, kita jadi bisa kembali dekat."


Arum terdiam sejenak. Belum mau menanggapi.


"Kau tidak mau memberikannya, ya?" tanya Rayyan balik.


"Emmm, bukan seperti itu. Hanya saja ponselku sedang rusak," jawab Arum asal saat mengingat aturan pernikahan untuk tidak banyak berdialog dengan lawan jenis. Lagipun kalau Dia bertukar nomor lagi dengan Rayyan? Arum khawatir akan kembali merasa sakit karena tidak bisa bersama cinta pertamanya itu.


"Sedang di servis, kah? Tidak apa aku akan menunggu." Buru-buru Rayyan mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkan itu pada Arum. "Ayo tulis nomormu..."


Arum mengalihkan itu dengan melirik jam murah di tangannya. "Aaah... sudah semakin malam. Rayyan, aku minta maaf ya karena harus buru-buru pulang."


"Eh tapi, tulis dulu ini, Rum..." Rayyan mencoba menahannya namun Arum malah justru mengalihkan dengan yang lain lagi. Pura-pura tak mendengarkan.


"Haduh... Denna mengajakku pergi, kok aku bisa lupa ya? Emmm, Rayyan. Terima kasih sekali lagi atas es krim ini. Daaaa, sampai bertemu lagi." Arum pun ngacir sebelum kembali di tahan oleh Rayyan yang menatapnya heran.


Pria itu menggeserkan pandangannya pada ponsel yang masih terarah pada Arumi. Membuatnya terpekur.


Kau masih tidak menyukaiku, ya? Padahal aku benar-benar tulus ingin bersama.


Rayyan sedikit kecewa. Ia menghembuskan nafasnya lalu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku jaket. Setelahnya melirik kearah es krim yang tinggal sedikit di tangan.


"Maaf Es, aku harus membuang-mu. Tiba-tiba kau menjadi hambar di lidah ku." Rayyan beranjak ia lantas membuang sisa Es krimnya ke dalam tong sampah sebelum melenggang pergi.

__ADS_1


Di sisi lain, Arum mengintipnya dari balik pohon yang cukup jauh. Memandangi tubuh jangkung yang sedikit berisi itu dari kegelapan malam.


"Maaf Rayyan, aku harus menghindarimu lagi. Sebab, masalah yang ku hadapi saat ini jauh lebih rumit. Seolah semakin menyeretku untuk semakin menjauh darimu." Arum menunduk memandangi es krim yang sedikit meleleh. Air matanya menetes begitu saja, ia pun melakukan hal yang sama membuang sisanya ke dalam tong sampah.


__ADS_2