
Arum dan Arga terdiam. Saat Dokter kasih memberikan suntikan-nya. Hingga proses itu telah selesai, mereka pun lanjut meninggalkan tempat itu.
Dalam langkah pelan mereka, Arumi termenung. Memikirkan keinginan yang di tolak begitu saja oleh Arga. Seperti semua pintu harapan telah pupus, sebagimana yang di ucapkan oleh Pria itu.
Rasanya tidak adil! Apa salahnya punya anak? Ku pikir, perhatian yang semakin kesini semakin manis karena ia sudah mulai memanusiakan-ku. Rupanya semua belum berakhir. Cinta belumlah tumbuh walau aku berusaha tulus melayaninya. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha membujuknya lagi...
Ya, Arum harus bersabar. Karena mau memaksa seperti apapun, ia harus sadar posisinya saat ini. Mungkin seiring berjalannya waktu, semua akan menjadi seperti apa yang diharapkan. Walaupun entah kapan. Tapi, di sisi lain ... Arumi juga harus menyiapkan hati, jika akhirnya Arga meninggalkannya.
"Kau ingin ke suatu tempat?" tanya Arga tiba-tiba. Mungkin ia menyadari, diamnya Arumi sejak tadi. Wanita yang ada di sebelahnya pun terkesiap sebelum akhirnya menggeleng.
"Tidak Suamiku. Aku ingin pulang saja," jawabnya lesu. Tangannya masih bertaut di lengan Arga. Berjalan bersisian menyusuri lorong rumah sakit.
"Aku tidak suka, wanita yang bermuka masam... karena Alicia-ku, tidak pernah seperti itu."
Arumi semakin berkaca-kaca. Lagi-lagi, Arga membandingkan dirinya dengan mendiang kekasihnya itu. Hingga bibir Arum terpaksa harus mengulas senyum lebih lebar, seraya mendongakkan kepala.
"Aku tidak bermuka masam, Sayang," ucapnya berusaha untuk terlihat ceria. Sesungguhnya Arga menyadari jika senyum itu tak tulus dari hati Arumi, namun pria itu tetap menanggapi dengan senyum tipisnya. Tidak peduli...
"Kalau begitu, sekarang kita makan di luar," balasannya langsung.
"Iya sayang..." jawab Arum lagi, sebelum kembali menatap lurus kedepan. Bersamaan dengan senyuman yang kini meredup.
Ya, tentunya Kau tidak akan pernah peduli dengan perasaanku. (Arum)
π
π
π
Sudah terlewat satu Minggu setelah pertemuannya dengan Dokter Kasih. Arum kembali beraktivitas normal, mendatangi gedung simfoni untuk melakukan les Biola. Ia berdiri di depan lobby gedung tersebut menunggu sopirnya datang, bersama dengan bodyguard yang tengah sibuk menelfon seseorang.
"Maaf Nona. Driver bilang, ia kejebak macet karena adanya pemberlakuan satu jalur di kawasan X. Kemungkinan baru akan tiba sekitar setengah jam lagi," tuturnya.
"Oh, ya sudah. Tidak apa," jawab Arumi menanggapi.
"Kalau begitu, sebaiknya Nona kembali masuk dan menunggu saja di dalam. Hujannya lebat sekali. Nona bisa kedinginan."
"Iya, Pak..."
"Silahkan, Nona..." Pria bertubuh tinggi besar itu menunjuk kearah pintu menggunakan telapak tangannya, meminta Arum masuk lebih dulu kedalam.
π Didalam....
Arum duduk di sofa lobby, sembari membaca majalah yang ada di dekat tempatnya duduk. Sementara sang bodyguard tetap berdiri di sisinya. Beberapa menit berlalu, Arum meletakkan majalahnya, ia pun beranjak.
"Nona mau kemana?"
"Aku ingin minum sesuatu yang hangat."
"Emmm, Nona mau teh?"
"Tidak, jangan itu."
__ADS_1
"Kopi?"
"Aku tak suka kopi... kalau bisa wedang jahe."
"Emmm, sepertinya sulit mencari itu di sekitar sini."
"Sudah, Pak. Biar aku cari sendiri saja."
"Tidak, Nona. Biar saya yang mencarikannya. Maaf, Saya tinggal sejenak..." ucapnya sebelum mengangguk sopan sekali dan pergi.
Sementara Arum sendirian, ia kembali membaca majalah itu. Walau hanya membuka-buka saja, yang penting bisa menghilangkan jenuhnya akibat menunggu. Hingga seseorang menghampiri dan berdiri di dekatnya.
"Anda sudah kembali, Pak?" Arum menoleh sejenak, dan tertegun setelahnya. "Rayyan?"
"Hai, apa kabar?"
"Eemmm ... kabarku baik. Bagaimana dengan dirimu?"
"Aku baik juga." Rayyan melihat sofa itu kosong. Dan kembali melirik kearah Arumi. "Aku boleh duduk?"
"Ya, ini tempat umum. Semuanya boleh duduk di sini..." jawab Arumi.
"Terima kasih." Tanpa berpikir lagi, Rayyan langsung duduk di hadapannya. Lalu fokus pada aksesoris yang ada di rambut Arumi, ia pun tersenyum. Karena itulah yang mengundangnya untuk berani mendekati Arum sekarang. "Jepit rambut yang bagus..." komennya kemudian.
"Ahh..." Arum menyentuhnya, sebelum teringat sesuatu. Jika jepitan itu adalah pemberian seseorang, dulu.
"Kau masih menyimpannya?"
"Iniβ aku bisa menjelaskan..."
Arum tersenyum tipis. Tangannya yang tadi hendak melepaskan jepit rambutnya perlahan-lahan turun. Tidak enak juga jika langsung melepaskannya di depan Rayyan.
Walaupun sejatinya, ia hanya asal pakai saja. "Ini sudah ke dua kalinya aku melihatmu, disini Rayyan?"
Sebenarnya bukan hanya dua kali. Namun sudah lebih dari Sepuluh kali, Rum. Hanya kamu saja yang tak memperhatikan sekitar. (Rayyan)
"Mungkin karena kebetulan. Karena aku, magang disini."
"Oh, sebagai apa?"
"Guru saksofon."
"Ooo..." Arum manggut-manggut. Ya, Rayyan memang suka alat musik itu. "Maaf, bukankah jurusan kuliahmu bukan musik, ya?" Tanyanya kemudian.
"Memang bukan..." terkekeh.
"Kenapa Kau tidak magang yang sesuai dengan jurusan kuliahmu?"
"Jadi yang menunjukku itu adalah saudara ku sendiri. Sebab adanya aula baru khusus saksofon. Jadilah aku di tempatkan disini sementara. Kau ingat pertemuan pertama kita di tempat ini, kan? Lobby depan?" tanya Rayyan antusias, yang di tanggapi dengan anggukan kepala. "Bisa dibilang, itu awal aku masuk juga, Rum."
"Emmm, begitu..." Arum tersenyum, menanggapi kata demi kata yang di keluarkan Rayyan dengan ekspresi yang ceria.
Kau tidak pernah berubah, Rayyan... (Arumi)
__ADS_1
"Ya," jawab Rayyan kemudian, yang merasa Arumi seolah nampak biasa saja. Cenderung tidak nyaman. "Emmm, Rum? Maaf mungkinkah kau tidak nyaman dengan adanya aku?"
"Tβtidak, kok. Jangan berpikir aneh-aneh, Ray. Kau tahu, aku orangnya tidak mudah berekspresi."
"Ya, Kau benar..." Rayyan kembali menghapus pikiran buruknya. "Oh, iya. Jujur aku senang bisa mengobrol denganmu. Walaupun, tidak se-leluasa dulu."
Arum hanya menanggapi dengan senyum. "Maafβ"
"Kenapa mesti minta maaf... kau tidak salah, kok." Tertawa pelan.
Sedang asyik-asyiknya mengobrol, sepasang mata milik Rayyan bergeser, menangkap seseorang yang tengah mendekati mereka.
Drap! Drap! Drap!
Arum baru menyadari orang itu, setelah Ia melintasinya. Dimana pakaian Rayyan langsung di cengkramnya kasar. Menariknya keluar dari kursi itu lantas sekonyong-konyong dihempasan ke lantai kemudian.
Beberapa orang terkejut, lebih-lebih Arumi. Ia langsung berdiri.
"Apa yang Anda lakukan, Pak Rizal? Dia teman saya!!"
"Maaf, Nona. Saya hanya melakukan tugas sesuai perintah. Jika tidak ada satupun laki-laki yang boleh berinteraksi dengan Nona."
"Tapi Dia teman, Saya!"
"Tidak peduli teman atau bukan. Tuan tetap melarangnya. Sekarang, Anda terima minuman Anda. Dan mari kita pulang, Nona. Karena mobil yang menjemput sudah terparkir di luar."
Arum menatap Rayyan dengan perasaan tidak enak hati. Namun karena pria itu tersenyum. Arum pun turut tersenyum kecut.
"Maaf, Rayyan."
"Tidak apa, pulanglah..." jawab Rayyan.
"baiklah, aku pulang dulu. sekali lagi aku minta maaf." Arum pun berjalan melewati pemuda yang masih tersungkur duduk di lantai dengan perasaan bersalah.
.
.
.
## Hallo, teman-teman.
hanya mau menginformasikan sedikit. Karena cerita ini masuk kompetisi, jadi alurnya agak sedikit lambat. Konfliknya pun lumayan panjang, ya.
Intinya aku mau kalian bersabar, apabila sebagian menganggap cerita ini bertele-tele.
Pahamilah. kadang aku suka terburu-buru hingga banyak outline yang nggak masuk ke cerita. Tapi untuk sekarang aku berusaha sabar, menyusun dengan baik sesuai kerangka cerita yang ku buat.
inshaAllah, aku selalu berusaha untuk membuatnya menarik di setiap Bab. Berharap kalian tidak jenuh sampai pada akhir ceritanya. karena cerita ini belum masuk separuhnya. Otomatis konflik belum benar-benar ada. hehehe...
Dukung terus Novel ini sampai tamat. Aku berharap bisa menyuguhkan cerita yang menarik dan berbobot. setidaknya, aku tak mau mengecewakan kalian... πππ
oh, untuk pembaca novelnya Dokter Aska (Suamiku Dokter jiwaku.) mohon bersabar, aku juga mipil nih, nabung bab buat update yang di sana.
__ADS_1
Intinya segitu aja. Terima kasih bagi yang masih setia membaca hingga sampai di bab ini π