
Mobil yang membawa Arum sudah tiba di salah satu kafe...
Jujur, sesungguhnya hati Arumi amat berpacu pada Mama Linda dan Anak-anaknya saat ini. Bagaimana nasibnya sekarang? Tentunya ia sadar, apa yang di lakukan mereka amatlah fatal. Arga pasti tidak akan semudah itu memaafkan kesalahan kemarin.
Ia memikirkan lagi mereka saat sekilas mendengar percakapan Antara Arga dan Sekretarisnya ketika hendak masuk ke mobil. Walaupun singkat namun ia paham 'mereka' yang di tanyakan Arga pasti Mama Linda dan anak-anaknya.
Haaaah... ku harap Tuan Arga tidak memberikan hukuman berat bagi mereka. Ya, walaupun aku sangat ingin Tuan Arga memberikan hukuman berupa siksaan pedih. Namun aku masih punya hati untuk memaafkan tiga orang itu dan membiarkan mereka bebas saja.
Masih bergumam dalam hati dengan langkahnya yang santai memasuki area lantai dua.
"Arumiiiii....!" Seru Denna, wanita yang di panggil seketika melebarkan senyum cerianya. Ia melambaikan tangan, buru-buru menghampiri gadis yang sudah menunggunya sejak dua puluh menit yang lalu. Keduanya pun langsung berpelukan melepas rindu. "Kyaaaaaa, Arumi... aku rindu sekali padamu."
"Sama, Denna. Aku juga–" mengusap-usap punggungnya sebelum melepaskan.
"Duduklah, aku akan pesankan makanan untukmu. Hari ini aku akan mentraktirmu," ucapnya sembari menghempaskan bokong ke kursi.
"Tidak usah, biar aku saja. Kan, Kau yang ulang tahun..."
"Aiiiiiiihhh ... sungguh royalnya dirimu wahai Yang mulia Ratu Andara. Sampai-sampai mau mentraktirku segala," ledeknya sembari tertawa.
"Apa sih, berlebihan deh. Aku hanya ingin membalas sedikit dari banyaknya kebaikan yang sudah kau berikan kepadaku selama ini, Denna "
"Huhuhu, padahal aku tidak memerlukannya, loh."
"Tapi kan aku mau melakukannya," balas Arum. Mereka pun tertawa. Tak lama Arum mengingat sesuatu, ia lantas menyerahkannya untuk gadis di depan. "Hadiah untukmu, yang ku beli dadakan. Maaf, ya. Jadi belum di bungkus."
"Apa ini?" Denna buru-buru mengintip. Walau sejurus kemudian di larang oleh Arum.
"Jangan di buka sekarang!"
"Kenapa?"
"Tentu saja aku ingin kau membukanya saat sudah di rumah. Kalau disini, kan? Jadi tidak surprise," jawab Arumi. Denna mengangguk-angguk ceria. Benar juga...
"Uuuunnchhh, senangnya. Terima kasih sahabat terbaikku."
"Sama-sama, Dennara..."
Kembali lagi mereka bercerita ke sana kemari. Membahas dari A sampai Z, sembari menunggu makanan mereka tiba. Hingga hampir tiga puluh menit, satu orang pelayan mendekati mejanya. Meletakkan pesanan mereka satu persatu.
"Silahkan, Nona–" ucapnya sebelum pergi. Tak lupa keduanya mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Denna meraih gelasnya, sementara tangan kanannya langsung mengaduk-aduk minum dengan sedotan. Hal yang sama di lakukan juga oleh Arumi.
"jujur, kau membuatku iri. Kisah mu bak cerita dalam novel romantis, Arum... gadis biasa yang menikah dengan konglomerat muda." Denna bertepuk tangan menggunakan ujung jari-jarinya. Sehingga suara yang di keluarkan tak begitu keras. "Kisah mu wajib ku angkat ke dalam Novel, hehehe..."
Arum hanya tersenyum tipis. "kau iri padaku? Padahal sejatinya aku yang iri pada kehidupan mu."
"Eh... kenapa?" gerakan konstan tangannya seketika terhenti.
Arum kembali tersenyum, sembari menyedot minumannya sopan. Matanya tertuju pada seorang bodyguard yang duduk di kursi lain. Membuat Denna menoleh kebelakang, lalu kembali menghadap Arum sembari menggenggam tangannya.
"Aaaah... jangan bilang, ada sesuatu di rumah besar itu? Kau di siksa oleh suami, atau mertua? Atau jangan-jangan semuanya menyiksamu? Katakanlah..." bisiknya yang tiba-tiba cemas. Arum pun terkekeh ia menumpuk tangannya di atas.
"Apa kau menyamakan lagi hidupku dengan kisah fiktif Novel?"
"Bisa jadi seperti itu, kan?"
"Tidak, Denna semua menerima ku dengan baik," jawabnya masih dengan tawanya.
"Bohong–"
Arum mengangguk. Memang tidak ada yang menyiksaku secara fisik seperti Mama Linda dan anak-anaknya. Namun aku tak di anggap sebagai diriku sendiri oleh Suamiku Denna.
"Arumiiiii..."
"Kyaaaaa, benar juga." Mereka cekikikan sebelum akhirnya melanjutkan makan siangnya.
Setelah selesai makan, mereka berdua berjalan-jalan seperti saat masih remaja dulu. Seperti menonton, karaoke di wahana bermain dan lain sebagainya.
Hanya yang membedakan, posisi Arumi yang kini jauh lebih berkelas. Denna saja sampai merasa minder saat melangkah bersamanya.
Namun, sikap rendah hati Arum yang masih sama membuat Denna merasa enjoy dengan kegiatan hari ini.
Hingga senja telah tiba, merekapun mengakhiri jalan-jalannya. Denna sendiri minta di turunkan di depan gedung X. Karena ia ada janji dengan bibinya untuk pulang bersama. Sembari menunggu, mereka berdiri di depan kap mobil sembari menikmati gorengan di tepi jalan.
"Enaaaaak..." gumam Denna dengan mulut yang merasakan panas juga pedas dari cabe rawit yang ia gigit.
"Benar, enak sekali. Aku sudah lama tidak makan ini."
"Hahaha–" Denna menelan makanan dalam mulutnya. "Omong-omong, Rum. Apa kau sudah ada tanda-tanda?"
"Tanda-tanda apa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Hamil...!"
Mendengar itu Arum langsung tertegun. Mulut yang terbuka saat hendak menggigit lumpia bihun itu kembali terkatup.
"Hei?" Denna menyenggol lengannya, Arum pun terkesiap. "Bengong?"
"Hehehe, tidak...tidak..." terkekeh.
"Aku tahu jawabnya, pasti belum, ya?" tebak gadis itu. Dimana Arum hanya menunduk sembari tersenyum kecut. "Tenang saja, kalian belum genap setahun. Masih ada banyak waktu."
Waktu memang masih banyak. Namun harapan untukku hamil itu tidak ada, Denna. Karena suamiku sendirilah yang tidak menginginkan adanya anak dari hasil pernikahan ini. Pun aku sendiri sudah bisa memprediksi, jika aku sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang j*nda.
Denna tak menyadari, ke-dua netra yang nampak berkaca-kaca itu. Sebab asiknya melanjutkan obrolan, mengulik kisah masa SMA.
Tak lama sebuah mobil mendekat. Nampak Denna antusias melihatnya.
"Oh, itu Bibi ku," serunya menunjuk mobil tersebut. Arum pun tersenyum manis.
Braaakk! Seorang wanita menutup kembali pintu mobilnya setelah keluar.
"Hallo, sungguh awalnya saya tidak percaya saat melihat Nyonya Sanjaya disini," ucap wanita itu sopan.
"Dokter Kasih?" Arum berbinar. Ia menjabat tangan wanita itu yang sudah terulur lebih dulu.
"Bagaimana kabar, Nyonya?"
"Saya baik, Dok."
"Kalian saling kenal?" Tanya Denna terheran-heran.
"Tentu saja. Saya Dokter pribadi Tuan dan Nyonya Sanjaya," jawabnya.
"Wah, wah... apa mereka melakukan promil dengan Bibi?"
"Emmmm?" Arum bergeming.
"Iya, Denna," jawab Dokter Kasih langsung. Arum pun menoleh kearahnya.
Benar, Dokter ini harus berbohong karena program penunda kehamilan ini dirahasiakan.
"Waaaah, jadi tidak sabar menunggu hasilnya. Semoga Kau cepat hamil, ya Arum." Denna memegangi ke-dua pergelangan tangan Arumi.
__ADS_1
Wanita itu pun hanya mengangguk saja dengan bibirnya yang masih mampu mengulas senyum walaupun getir terasah menyesakan dada. Nampak pula tatapan prihatin yang di tunjukkan oleh wanita paruh baya di belakang Denna, menjurus pada Arum.
Sebagai sesama wanita, tentunya ia paham. Amatlah berat pastinya, ketika ia harus menerima keputusan pasangan yang tak mengharapkan adanya anak dalam pernikahan yang di jalani.