
Ciuman hangat itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Karena Arumi harus menghabiskan buahnya, konsekuensi setelah meminta di potongkan buah langsung oleh suaminya.
"Aku benar-benar kenyang..." Arum menolak potongan apel yang terarah padanya. Sementara di piring masih tersisa kurang lebih lima potong.
Arga menoleh ke arah jam. "Sudah larut, tidurlah." Ia menyetujui untuk berhenti, walau masih ada sisa di piring yang ia pegang. Namun, tak masalah Arum sudah makan banyak.
Sejenak meletakkan piring ke atas meja, Arga meminta sang istri untuk minum air mineral lebih dulu sebelum merebahkan tubuhnya.
Beberapa menit setelah mendapat posisi nyaman. Mendadak keisengan Arum mulai muncul manakala melihat kertas yang tergeletak di atas meja sebelah Arga. Ia juga melihat suaminya sudah memejamkan mata sembari lengan kanannya memeluk tubuhnya.
Sebenarnya aku kasihan melihatnya yang sampai tergores pisau. Tapi, aku kok belum puas ya. Kan mumpung masih fase ngidam. Hehehe...
"Sayang?"
"Hemmm?" Menyaut tanpa membuka mata.
"Aku merasa tidak nyaman, nih."
"Apanya?"
"Tubuhku."
"Kenapa, apa kau kekenyangan?"
"Bukan..."
"Lalu?"
"Kipasi aku dengan kertas itu, sepertinya aku agak gerah..."
"Jangan bercanda, kamar ini ber-AC. Mana mungkin kau kegerahan? tinggal turunkan suhunya."
Arum terdiam sejenak sambil menekan-nekan dada bidang di hadapannya.
Maaf ya, Tuan Muda. Seperti saat tangan kanan mu mengalami luka bakar. Aku lebih menderita loh dari pada ini.
"Sayang, kau benar-benar tidak perhatian padaku, ya? Padahal aku hanya ingin mendapatkan angin tambahan."
Angin tambahan apanya. Yang ada itu konyol... Arga mengeram gusar. Menutup wajahnya dengan lengan.
"Ya sudah aku mau telfon Denna saja. Mungkin lebih enak aku tinggal di Dieng," ancamnya.
"Baiklah sayang. Tunjukkan bagaimana caranya membuat angin dengan kertas?"
"Seperti tukang sate mengipasi dagangannya."
"Aku tidak pernah melihat tukang sate ngipasin." Menjawab dengan jujur dengan nada sedikit jengkel.
"Cepat sayang. Kipasi aku seperti ini..." Arum mempraktekkannya.
"Ya, ya... tidurlah biar ku kipasi."
"Jangan berhenti sampai aku tidur."
"Iya, istriku." Hiks, aku mau tidur Arumi. Saat ini posisi Arga duduk bersila di samping Arumi sementara tangannya bekerja mengipasi tubuh istrinya dengan mata yang berat menahan kantuk.
πππ
__ADS_1
Hari berganti...
Arum sudah bersiap dengan penampilan sederhananya di pagi hari ini. Sementara itu, laki-laki dengan tubuh sedikit loyo duduk di sofa kamar, baru bangun tidur.
"Sayang, ayo semangat. Kita harus jalan-jalan pagi."
"Hoaaaaaa...." Menguap sebab kantuk yang masih terasa. "Jalan-jalan dipukul empat pagi. Apa kau sedang menyiksaku?"
"Udara pagi di saat matahari belum keluar adalah waktu yang tepat untuk menyuplai oksigen sehat ke tubuh."
"Kau dapat teori seperti itu dari mana, sih?" Menggerutu. Arga pun beranjak dan berpindah ke ranjangnya lagi.
"Sayang kau mau kemana?"
"Aku harus istirahat Arum. Jam tujuh pagi ada rapat penting. Kau tahu aku baru tidur pukul satu dini hari, kan? Sebab kau yang meminta ku mengipasi tubuhmu dengan kertas padahal kamar sudah dingin kena AC." Arga sendiri masih merasa sebal atas apa yang ia kerjakan tadi malam. Dan bodohnya aku mau saja, meruntuk kemudian.
"Maaf aku membuatmu susah. Aku memang istri yang hanya menyusahkanmu." Pura-pura merajuk. Arum menunjukkan mimik wajah sedihnya.
"Bukan seperti itu. Aku jadi kurang tidur sayang..." Pria itu kembali melunak.
"Sama saja, intinya wanita hamil itu merepotkan. Iya, kan?"
Arga garuk-garuk kepala. "Baiklah, kita jalan sehat. Kau mau aku ambilkan sepatu?"
Woaaah, sebuah tawaran yang membuat ku jadi ingat kasus jam tangan. Akan ku lakukan sama persis. βArum cekikikan dalam hati sementara di luar masih menunjukkan ekspresi cemberutnya.
"Tidak usah aku sudah tidak bernafsu lagi. Tidurlah lagi sana," Arum mendorong lengan suaminya. Namun pria itu justru mengangkat tubuh Arum, membawanya ke ruang ganti.
"Katakan, kau mau sepatu yang mana?" Tanyanya setelah meletakkan tubuh Arumi di kursi. Pria itu menujuk lemari kaca berisi sepatu.
"Aku bilang kan tidak usah. Aku sudah tidak mau lagi, biar aku jalan-jalan sendiri saja. Dan jika aku hilang hingga ke Dieng lagi jangan cari aku, ya."
"Tidak mau yang itu, aku bosan."
"Baiklah kau mau yang mana?"
"Yang paling atas dari kanan nomor tiga."
"Okay, akan ku ambilkan." Pria itu mengambilnya dengan susah payah sementara Arum menutup mulutnya menahan tawa sebelum kembali bersikap biasa saat suaminya mendekati sambil membawa sepatu. "Ini?"
"Sepertinya aku kurang suka. Yang lain saja."
"Yang lain?"
"Ya."
Menghela nafas. "Baiklah yang mana?"
"Terserah," jawab Arum singkat.
"Jangan terserah, tunjuk saja mana yang kau mau."
"Ku bilang terserah, sayang!"
Ck! Kenapa kau mendadak menyebalkan, sih? Walau sebal namun Arga tetap melangkahkan kakinya.
"Bagaimana dengan yang itu." Menunjuk yang paling dekat."
__ADS_1
"Kurang suka warna hijau seperti itu."
"Kalau yang ini?" Menujuk yang lain.
"Yang atas sisi kiri paling pojok saja."
Arga berkacak pinggang. "Bisakah menujuk yang paling dekat?"
"Aku mau yang itu. Jika tidak mau ya sudah. Aku bisa ambil sendiri."
"Duduk!" Sergahnya kesal. Sebelum menggeser tangga sebagai pijakannya. Kau pikir aku tidak bisa apa membuatmu senang? Akan ku ambil sepatumu walau ke Antartika sekalipun.
Tangan panjangnya meraih spatu tersebut lantas kembali turun dan menghampiri Arumi. "Sini ku pakaikan..."
Arga berjongkok di hadapan Arum memasangkan sepatu olahraganya di kaki kanan.
"Sayang, kenapa jadi abu-abu?"
"Apanya?"
"Warnanya."
"Memang sejak kau menunjuk juga abu-abu."
"Tapi aku tidak suka abu-abu."
"Kalau tidak suka kenapa minta yang ini?" Sedikit meninggikan suara.
"Kau membentak istrimu yang sedang hamil?"
"Aiiiiissshhhh!" Menggaruk kepalanya kasar. "Tidak sayang, maafkan aku. Sekarang, tunjuk sepatu yang kau mau."
"Tidak usah, kau saja sudah marah seperti itu."
"Aku tidak marah."
"Kamu marah tadi."
Arga memegangi kedua tangan Istrinya sebelum mencium lembut. Setelah itu mengangkat wajahnya yang terlihat frustasi.
"Maafkan aku..."
Ya ampun, aku tidak tega melihat wajahnya. Tapi asik. Hehehe.
"Aku mau sepatu yang tadi saja. Yang perpaduan pink dan putih."
"Apa, tadi katanya bosan?"
"Ya tadi, sekarang tidak."
"Lalu kenapa kau memintaku untuk?"
"Kau marah?"
"Tentu saja tidak. Demi istriku dan anak ini." Arga merebahkan kepalanya di pangkuan Arumi sementara kedua tangannya melingkar di pinggang.
Mengalah saja, namanya juga ibu hamil. Ya, apapun demi kau dan janin di rahimmu. (Arga)
__ADS_1
maaf sayang, walaupun tidak tega. Tapi aku menikmati ekspresi kesalmu itu. (Arum)