Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Masih di Labuan Bajo lagi, ya.


__ADS_3

"Tuan– Nona!!!" Tomi menghampiri mereka dengan speed boat. Arga pun menoleh, tanpa berbicara apapun. Ia langsung mengangkat tubuh Arumi agar naik lebih dulu setelah itu dia sendiri.


Setelah sampai di dermaga. Arga langsung menggendong tubuh Arumi, dan membawanya tanpa ekspresi. Tujuannya saat ini, adalah membawanya ke Resort dengan segera dan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaannya.


Tentu kepanikan itu tak terlihat pada Arum, yang justru tengah fokus memandangi pria berwajah tegas di atas.


Suara Arga yang biasa memanggilnya dengan nama Alieee itu baru saja menyebutkan nama Arumi. ia berusaha meyakinkan Isi kepalanya saat ini yang masih saja meracuni bawah itu tidaklah mungkin. Bisa jadi Dia berhalusinasi.


Suamiku! Aku yakin, aku tidak salah dengar. Walaupun rasa panik ku mendominasi. Tapi aku yakin, kau menyebut nama Arumi, dan Arum.


Bibirnya bergetar. Arum menggigit ujungnya, dan terisak-isak membuat langkah Arga terhenti.


"Kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanyanya kembali panik.


"Tidak..." jawabnya, bukannya menjadi diam tapi justru semakin memeluk erat lingkar leher sang suami.


"Tenanglah jangan takut. Aku yakin kau pasti trauma karena ini."


Arga mencium keningnya lalu kembali melangkahkan kaki menuju resort mereka.


Tidak Suamiku. Aku menangis bukan karena habis tercebur ke laut. Melainkan terharu dan bahagia saat Kau menyebut namaku. Tapi lidah ini Kelu mengakuinya.


***


Malam pun datang...


Arum duduk di sisi ranjang, memandang sang suami yang tengah memasangkan sesuatu di kakinya.


"Cantik sekali," puji Arumi pada gelang kaki yang di pasang Arga. laki-laki itu mengangkat wajahnya, menghadap Arum.


"Benarkah, kau suka barang murah yang ku beli di toko sovenir biasa?"


Mana ada sih? toko sovenir yang menjual gelang kaki dengan batu safir dan ruby seperti ini?


"Tapi aku suka, apapun yang Anda belikan untukku. Aku akan menghargainya."


Arga meraih tangan istrinya, mengecup lembut. Jujur saja, saat ini Ia kembali mengingat kejadian tadi. Yang membuatnya merasa bersalah.


Arum bergeming saat mendapati tangan itu masih di kecup amat lembut oleh sang suami. Pelan-pelan Arga kembali melepaskan. Bangkit dari posisi jongkoknya, lantas memberikannya kecupan di bibir.

__ADS_1


"Maaf, aku sudah membuatmu ketakutan tadi," katanya sembari mengusap pipi sang istri. Arum tersenyum.


"Jujur, memang aku sangat takut karena tidak bisa berenang. Tapi aku senang, karena Anda menolongku."


Arga terdiam sejenak. "kenapa kau masih saja formal memanggilku dengan sebutan Anda?"


"Emmmm, aku hanya terbiasa memanggil itu."


"Kalau begitu biasakan dirimu untuk memanggilku dengan sebutan yang tak terlalu formal." Arga mengangkat tubuh sang istri tiba-tiba hingga membuatnya terkejut namun sejurus kemudian tertawa.


"Aku bisa melakukan itu. Tapi, aku ingin mendengarnya lagi."


"Mendengar apa?" Tanya Arga.


"Kau menyebut namaku seperti tadi."


Arga tersenyum. Ia tak menjawab, sembari melangkah keluar.


"Sayang? Aku ingin mendengarnya lagi," rengeknya saat tubuh mungil itu sudah di atas kursi lounger di tepi kolam.


"Mendengar apa?" Arga bertanya sembari tersenyum.


"Kau menyebut namaku seperti tadi..."


"Aku akan menyebutkannya lagi setelah ini."


"Emmmm?" Arum mengerutkan keningnya. Sementara Arga melirik arloji di tangan.


"Sudah saatnya." Ia melepaskan tangan Arumi yang masih melingkar di lehernya. Lalu menunjuk ke langit. "Lihat di sana..." ucapnya yang langsung di ikuti sorot mata Arumi yang bergeser ke langit.


Siiiiiiinggg! doooor!


Riuh suara bunga api menggema di langit. Arum pun bangkit dari posisinya. Ia duduk sekarang, menatap kagum kearah langit.


"Itu?"


"Ya, suasana hatiku sekarang... aku mencintaimu, Arumi," ucap Sang Presdir Andara Group di dekat telinga Arumi saat ini.


Wanita itu pun menoleh pelan kearahnya. Laki-laki itu sekarang tengah menjuruskan pandangan mata penuh ketulusan pada sang istri sembari tersenyum.

__ADS_1


"kau dengar itu, 'kan? aku mengucapkannya lagi, bahkan lebih dari yang tadi kau dengar."


"Iya, aku benar-benar tidak salah dengar." Setengah tak percaya Arumi kini terlihat bengong di depan suaminya.


Pria itu tertawa, dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Ini tidaklah bernilai lebih tinggi dari kesabaranmu selama ini, saat menghadapi kegilaanku. Tapi, terimalah kalung berlian dariku. Walaupun, cintaku jauh lebih tinggi daripada nominal harga kalung ini."


"Hiks..." Arum menutup mulutnya merasa terharu. Sementara bunga api di langit masih saja bersahutan membentuk love dan sebagainya.


"Mau pakai?"


Arum mengangguk. Karena sungguh, ia tidak bisa berkata apapun lagi saat ini saking terharunya.


Arga pun mengeluarkan kalung berlian itu lalu memasangkannya di leher sang istri. Pelan-pelan, kalung itu sudah bertengger manis di leher Arumi.


"Kau suka?" tanyanya saat Arum menyentuh bandul kalungnya.


"Suka sekali..." Mengangguk cepat. "Adakah kata-kata yang lebih dari sekedar terima kasih?"


"Tidak ada. Kecuali kau janji satu hal!"


"Apa?"


"Berjanjilah untuk mencintaiku tanpa adanya pengkhianatan. Karena sekali itu kau lakukan, aku tidak akan mentolerirnya."


Arum mengangguk. "Aku berjanji, sayang. Dan jika aku ingkar. Kau boleh membunuhku."


Pria itu meraih pinggang sang istri, menariknya lebih mendekat. "Pegang janjimu! Karena aku akan melakukan itu jika kau mengkhianati ku."


tanpa banyak bicara lagi Arga langsung memangkas jarak, melekatkan bibir guna meledakkan hasrat didalamnya. Arum membuka bibir, memberikan akses bagi lidah Arga untuk masuk dan bertemu dengan lidahnya sendiri.


tentunya hal itu diterima Arga untuk bermain jerat lidah, bertukar saliva tanpa ragu. selagi bibirnya aktif ******* bibir Arumi tangan Arga tak tinggal diam. Jemarinya kemudian bergerilya menyusuri tubuh, merasakan halusnya kulit sang istri di area dada.


ciuman itu terlepas dan berganti ******* lembut ketika bibir Arga berpindah ke lehernya, lantas turun ke dada hingga meninggalkan jejak-jejak merah yang tak sedikit.


kini hawa panas sudah memenuhi kepala mereka. senyum manis Arumi seolah membuka permainan cinta keduanya. Sebelum Arga mencium bibirnya lagi.


"kita sambung di dalam..." Arga mengangkat tubuh Arumi. Membawanya kembali ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2