Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Kebahagiaan yang di harapkan


__ADS_3

Setelah puas menelusuri taman yang merangkap kawasan kuliner di tengah-tengah kota. Arga mengajak Arum untuk kembali ke rumah, karena ia juga harus memeriksa laporan para CEO, pimpinan anak perusahaan yang sudah di rangkap Sekretaris Tomi.


Sepanjang perjalanan yang sunyi ini. Arum memandangi beberapa toko pinggir jalan yang terlihat terang dengan lampu-lampunya. Sembari tangannya mengelus perut, Arum seolah merasakan sesuatu.


"Oh...!" Ia menunduk. Menoleh ke perutnya sendiri.


"Ada apa? Terjadi sesuatukah? Perutmu sakit?" Arga bertanya ketika mendadak istrinya seperti merasakan sesuatu.


"Tidak sayang, aku seperti merasakan denyutan kecil di perutku." Arum terdiam beberapa saat, sedang menunggu denyutan di perut itu kembali ia rasakan.


"Iya kah? Mungkinkah itu dari janin yang mulai bergerak?" Senyum tipis mengulas di bibir pria itu. Dia langsung menurunkan satu tangannya yang sedang memegangi setir demi merasakannya juga dengan cara menempelkan telapak tangan diperut istrinya. "Aku tak merasakan apapun..."


"Wajar kau tak merasakan apapun karena yang kurasakan adalah sebuah denyutan satu kali. Aku sendiri saja tidak yakin ini gerakan dari janin yang ada di kandungan ku? Lantas sekarang sudah kembali tak terasa apapun lagi."


"Mungkin aku harus membelokan mobilnya ke rumah sakit."


Arum menoleh ke arah suaminya. "Tidak usah sayang. Tidak akan terjadi apa-apa."


"Tadi katanya seperti ada gerakan kecil lalu tidak terasa apa-apa lagi. Kita harus memeriksakannya, kan?"


"Itu hal wajar. Karena kandungan ku belum masuk empat bulan. Santai saja... lagipun baru tadi siang menjelang sore kita melakukan USG."


"Benarkah tidak perlu?"


"Iya. Tidak perlu..." Arumi tersenyum ia menggenggam tangan suaminya. "Aku senang melihatmu begitu berusaha untuk menjadi suami yang siaga."


"Tentu aku harus seperti ini. Karena dosaku pada dia dan Kau."


Arum merasa meleleh ia pun mencondongkan kepalanya menyandar di bahu Arga.


"Terima kasih Suamiku."


"Katakan itu nanti di rumah saja. Di kamar."


"Hei, kenapa apa-apa di kamar sih?" Protesnya manja.


"Karena aku lebih suka menerima tanda terima kasih itu dengan perbuatan bukan hanya sekedar ucapan."


"Heeeeeh... itu sih maunya kamu."


"Hahaha!" Mencium kepala istrinya dengan pandangan masih fokus ke jalan.

__ADS_1


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang membawa tubuh mereka yang lelah itu kembali ke rumah utama. Sementara suasana hening berlanjut di temani lampu-lampu jalan yang sesekali menyoroti mereka.


Arga berpikir dalam hati. Ia tidak menyangka, akan kembali memiliki aura warna-warni setelah kelabu cukup lama melingkupi kehidupannya sejak Alicia berpulang. Kesedihan yang menyeruak pekat dalam jiwanya kini telah berganti bunga-bunga kebahagiaan yang mulai bermekaran.


Arumi yang terlihat tenang walaupun dalam tekanannya selama ini membuat ia merasa kalah setelah menjadikannya tawanan. Kini seolah hatinya sendirilah yang tertawan untuk Arumi.


Arga membenarkan satu hal, satu-satunya obat patah hati yaitu dengan mengganti hati yang baru. Asal bukan mengkhianati, karena terpisah dalam dimensi yang berbeda semua itu bukanlah kehendak masing-masing.


Ya, Arumi lah yang tercatat dalam ruang takdirnya untuk menemani Arga dalam sebuah ikatan pernikahan.


Sekarang, sudah tidak ada lagi Alicia. Karena fase bersamanya telah usai. Dialah masalalu, sementara yang di sebelah adalah masa kini yang harus ia jaga baik-baik.


Andai di kasih pilihan... mungkin diantara kalian tidak akan ada yang bisa ku pilih. Karena kalian telah berhasil memenuhi isi kepalaku dengan caranya masing-masing.


Entah dirimu Arumi atau Kau Alicia. Dua nama yang ku anggap mampu meluluh lantakkan hati ini. Jika saja waktu mempertemukan kalian secara bersamaan di hadapanku. Mungkin akulah yang akan memilih untuk bunuh diri saja. Itu lebih baik, karena di antara kalian tidak ada yang pantas untuk tersakiti.


🌸


🌸


🌸


Doooooor! Sebuah suara mengejutkan terdengar, bersamaan dengan beberapa kertas yang bertaburan di depan Arumi.


Arga sendiri nampak tidak kaget dengan kejutan party popper yang di bunyikan Mama Nessie saat mereka baru masuk.


"Kejutaaaaaaaaaaannn!!!" Mama Nessie berseru penuh keceriaan. Kedua matanya nampak berbinar saat melihat anak dan menantunya kembali.


Si– sapa yang ulang tahun? Arumi membatin ia bahkan sampai mengingat kembali catatan yang isinya menyangkut data pribadi Arga Sanjaya. Ia pun menggeleng cepat.


Aku yakin ulang tahunnya masih lama, kok. gumamnya kemudian setelah mengingat-ingat.


"Sini sayang. Biar Mama peluk kamu..." Merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Arumi yang hanya tersenyum bingung. "Ooooh, menantu kesayangan."


"Hehehe..." tertawa garing, karena pelukan kuat yang di berikan Mama Nessie membuatnya sedikit pengap.


"Mama kapan kembali?" Tanya Arga datar.


"Baru saja, dan Mama langsung menyiapkan ini semua untuk wanita yang sedang mengandung cucuku."


Oh... jadi Mama sudah tahu. Arum tersanjung.

__ADS_1


Melepaskan pelukannya dan memegangi kedua bahu sang menantu. Matanya terlihat berkaca-kaca, sementara bibir yang mulai terlihat kerutan halus itu mengulas senyum.


"Akhirnya, hari yang ku tunggu tiba. Aku akan punya cucu. Hiks... tolong lahirkan anak perempuan untukku, ya."


"A–anak perempuan."


"Iya, anak perempuan yang manis dan lucu... oh, baru membayangkan saja sudah gemas."


"Hehehe, ya ampun..." Arum tak bisa menjawab apapun.


"Mana ada perempuan. Kau jangan mengada-ada! Tentu aku ingin cucu buyut ku laki-laki." Kakek berseru dari kejauhan.


Terlihat Arum semakin merasa terharu saat semua sudah tahu kabar kehamilannya bahkan sepertinya mereka menerima dengan antusias.


"Papa! Aku mau cucu perempuan, Papa sudah punya cucu laki-laki. Nih... si balok es!" Menujuk anak laki-lakinya.


"Aku balok es?" Gumam Arga.


"Tidak! Pokoknya aku ingin penerus Arga, ya laki-laki..." Kakek bersikukuh.


"Sudahlah... laki-laki atau perempuan. Semuanya sama. Dia calon anaku. Jadi tidak ada yang boleh menentukan." Arga merangkul lingkar pundak istrinya.


"Kau benar." Mama menautkan kesepuluh jari-jarinya di depan dada merasa senang. "Kau jangan stress, jangan banyak melakukan kegiatan. Katakan apapun yang kau inginkan ya? Dan lagi, jika anak Mama menyakitimu laporkan saja! Mama yang akan menendangnya."


Arum tersenyum. Dia bahkan sempat membuatku melangkahkan kaki keluar rumah ini, Ma. Jika saja Anda tahu, kira-kira apa yang akan Anda lakukan, ya? Jadi pengen bocorin apa yang sudah anak laki-lakinya perbuat. Tapi tidak lah, kasihan Suamiku.


"Arga bawa istrimu istirahat. Kau juga jangan terlalu sering melakukan perjalanan ke luar negeri."


"Tumben Papa mentolerir Arga?" cibir Mama Nessie.


"Karena Dia sedang hamil saja. Wanita hamil itu butuh sosok suami di sampingnya, asal kau tahu itu."


"Iya... Iya..." Mama Nessie cekikikan.


"Kau sendiri yang akan menghandle pekerjaan di LN."


"Eh, sudah ku duga..." Merengut.


Arumi tersenyum senang melihat semua kehangatan ini. Ya, inilah keluarga. Seperti ini rasanya. Tidak ada main dorong, main pukul, main jambak, dan segala perbudakan lainnya yang pernah ia rasakan saat masih tinggal bersama Mama Linda dan anak-anaknya.


Inilah hidup yang ia harapkan. Penuh cinta dan kasih sayang. Terima kasih Tuhan. Arum masih mengedarkan pandangannya pada Kakek dan Mama Nessie di ruang tamu yang amat luas itu.

__ADS_1


__ADS_2