
"Kau merasa selama ini aku tidak adil padamu?"
"Ya, kau tidak adil padaku! Karena hanya aku yang selalu kena marah. Tidak seperti Kak Alicia yang selalu dapat pujian."
"Oh, ya? Kau hanya tidak tahu apa yang ku lakukan pada Alicia juga. Aku mengerasimu sama halnya dengan putri pertamaku. Hanya saja, dia tidak sepertimu yang menyimpan dendam. Alicia selalu berusaha untuk memperbaiki diri hingga dia bisa sukses daripada Kau!"
Vero terdiam sejenak ia mengingat kesepuluh punggung jari-jari kakaknya yang membiru setiap kali habis mengikuti les piano. Ia pun tak jarang melihat betis Alicia yang terluka setiap habis les violin.
"Mungkinkah, luka-luka itu?" Vero bergumam.
"Aku ingin anak-anak ku terdidik dengan keras. Karena dunia ini tidaklah berlaku untuk anak-anak manja. Jika aku ingin penerus yang berkompeten maka aku harus mendisiplinkan kalian. Walaupun kalian bukanlah anak laki-laki."
Veronica: Kak Alice kenapa? Mimisan lagi?
Alicia: Tidak apa-apa? (Mengusap darah di hidung.) Hidup ini keras. Kita harus berusaha belajar untuk bisa bersaing di masa depan, Vero.
Veronica: Aku tidak suka belajar. Lebih baik main bersama teman-teman dan menghabiskan banyak uang. Aku itu tak sepintar dirimu. (Melenggang pergi begitu saja.)
Vero mengingat betapa kerasnya usaha yang di lakukan Alicia semasa hidupnya. Ia bahkan tak sekali dua kali membantunya untuk belajar walau gadis itu selalu menolak karena tabiatnya yang lebih suka foya-foya.
Mungkinkah aku salah sangka selama ini? βgadis itu membungkam mulutnya sendiri.
"Aku hanya menuntutmu untuk menguasai mata pelajaran. Karena aku tahu kau sangat kurang di bidang itu. Apa aku pernah melarang mu menghabiskan uangku. Walaupun pengeluaran mu lebih banyak daripada Alicia? Lalu sekarang aku mengetahui fakta kau membunuhnya hanya karena menganggapku tidak adil?" Pria paruh baya itu menyentuh keningnya. "Ya Tuhan..."
Bruuuukk... tubuh Vero terhempas ke lantai. Terduduk lemas membayangkan wajah cantik kakaknya yang selalu membatu dia dalam segala hal. Termasuk membelanya ketika sang Ayah marah besar.
__ADS_1
"Andai kau tahu, aku tidak pernah memperlakukanmu seperti itu. Tidak ada yang ku bedakan antara Kau dan Alicia. Aku menghukumu saat kau tidak bisa mendapatkan nilai bagus, semua karena aku ingin kau menjadi orang yang bisa ku percaya memegang perusahaan ku yang lain."
"Bohong. Kau bohong! Kau bahkan tak mencatat namaku dalam hak warismu."
Sekertaris pribadi Tuan Arsene pun angkat bicara. Beliau membuka surat wasiat yang baru.
"Untuk kedua putriku sebagai penerima hak waris yang sah. Maka aku Arsene Narendra menyerahkan masing-masing 25% dari harta kekayaan ku. Termasuk didalamnya beberapa anak perusahaan di bidang kecantikan dan fashion," tutur sang Sekretaris.
"Tidak mungkin! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat SMP!!" Vero menepuk-nepuk dadanya.
"Surat wasiat yang Kau temukan di atas meja kerjaku dulu adalah surat yang belum ku ubah sejak saat aku hanya memiliki satu anak. Dan aku baru mengubahnya sepuluh tahun terakhir ini. Bagiku, dulu kalian masih ABG jadi ku putuskan untuk di ubah setelah kalian masuk kuliah."
Vero benar-benar tidak bisa bicara lagi selain sesenggukan dalam tangisnya. Ketika Tuan Arsene menunjukkan surat wasiatnya yang baru.
"Tidak... Tidak! Tidak mungkin! Tidak mungkin aku salah...! KALIAN YANG JAHAT PADAKU. BUKAN AKUUUU!!" Vero mulai histeris meremas kepalanya sendiri. Dua orang wanita dari pihak kepolisian pun langsung mengangkat tubuhnya. Membawa gadis itu keluar dari ruangan.
Terlihat tatapan Tuan Arsene yang nanar mengarah pada gadis yang terus saja meronta-ronta saat di bawa keluar oleh mereka.
Pria paruh baya itu merasa lemas saat mendengar semua pengakuan Veronica saat ini. Terhuyung sembari memijat keningnya.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?"
"Ya, aku tidak apa-apa."
"Maafkan saya Tuan Arsene. Anda harus mendapatkan fakta ini." Arga tertunduk. Pria paruh baya itu pun menepuk dua kali bahu Arga.
__ADS_1
"Ya... tidak masalah. Dengan ini, aku jadi tahu semuanya. Selama ini aku berprasangka dia adalah anak baik-baik. Aku tidak menyangka dialah yang justru menjadi batu penghancurnya. Alicia..." Arsene Narendra mencondongkan tubuh kedepan. Ke-dua tangannya bertumpu pada meja di dekatnya. Bahunya berguncang hebat. Merasakan sakit bercampur kekecewaan yang dalam.
.
.
.
# Author berbicara...
yuppp, maaf ya kalau empat bab ini membosankan. lebih banyak menceritakan flashback.
sebenarnya aku nggak pengen nulis flashback sih. dan pengenya si Vero di penjara udah kelar urusan dia tinggal manis2nya si Arga dan Arumi. Tapi... aku kenal kalian para reader kuh yang pasti minta cerita detail. "kemana nih si Vero kok cuma gitu aja nggak ada hukuman dan lain sebagainya."
iya kan? iya dong pasti... Hehehe.
jadilah ku tulis detailnya. karena aku tahu sih kalian pasti butuh jawaban; kenapa bisa Alicia mati oleh adiknya sendiri. sebenarnya peran dua wanita itu nggak begitu penting, tapi sebuah konflik cerita harus punya bumbu kan? sumber konflik pun harus jelas biar nggak cacat logika.
Kalau lempeng2 aja ya nggak menarik walaupun tetep aja sih kadang penyampaiannya nggak sebagus yang di harapkan.
jujur nih, banyak outline yang akhirnya nggak masuk karena aku belok alur. Beneran loh... next aku kasih tahu di ending cerita nanti. π₯΄
Untuk sekarang, ku harap kalian bisa terima 4 bab membosankan ini πππ dan support selalu picisan Imut agar tetap melanjutkan sampai tamat. Jujur aja kalau melihat data pembaca itu hiks hiks... tapi aku tetap akan tamatkan bagaimanapun caranya. karena prinsip ku satu, setiap sesuatu yang sudah ku mulai maka aku harus menyelesaikannya. Sama halnya novel. kalau sudah di buat ya aku harus tamatkan.
Untuk yang menunggu Dokter Aska sabar ya π itu agak berat konfliknya. salah ku sih terlalu berani ambil resiko. Jadi harus mikir keras untuk riset sana sini. Dan akhirnya buntu gaes ππ tapi tenang aku tetap tulis pelan2 kok. pokoknya rame ataupun sepi picisan Imut bakal tetap tamatkan setiap cerita yang udah di buat. okay! terimakasih atas setiap dukungannya teman-teman. πππ
__ADS_1