Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
acar hari ini


__ADS_3

Waktu cepat sekali berjalan. Rupanya bulan sudah jauh bergeser sembari menanti sang mentari yang sedang mempersiapkan diri untuk keluar dari peraduannya.


Arum mengerjapkan mata, merasakan ruangan kamar yang dingin itu mendadak hangat.


Ia juga merasakan berat di bagian punggungnya. Seperti tertimpa benda besar yang berotot. Setengah sadar dia berusaha untuk menormalkan kembali kesadaran setelah berjam-jam tidur di ranjang luas nan empuk. Kamar yang wangi, juga udara yang sejuk dari AC-nya.


Perasaan posisi tidurku luas semalam, kenapa jadi sesempit ini. Dan berat sekali seperti tertimpa sebuah lemari. –keluhnya dalam hati.


Matanya menatap lurus ke depan, di lihat bias kebiruan menembus gorden putih di kamar itu. Perlahan netra jelitanya turun, memastikan bahwa dirinya memang tengah tidur dalam posisi di peluk seseorang.


Buru-buru dia membungkam mulutnya sendiri, berusaha untuk tidak berteriak saat sebuah tangan yang besar dan berat itu menimpa pinggangnya. Belum lagi kaki panjangnya itu yang juga menimpanya.


Pantas saja Hangat dan berat. Rupanya Tuan muda ini tidur dengan menjadikanku gulingnya?


Arumi kesulitan bergerak, sebab wajah polos laki-laki itu tengah nyaman menjadikan punggung Arumi seperti bantal. Tidak ada pilihan, ia harus menunggu sampai pria bertubuh besar itu mengganti posisinya. Walau sangat ingin dia mendorongnya menjauh, namun nyalinya tak cukup berani melakukan itu.


Beruntung jika dia hanya bergerak sedikit, jika sampai terbangun? Entahlah apa yang akan terjadi, Arum tak ingin membayangkan itu.


***


Setelah hampir dua jam terkunci dalam pelukan pria itu. Arum bisa terbebas sekarang. Mereka bahkan sudah keluar kamar, menghampiri anggota keluarga lain yang sudah menunggu di meja makan.


Senyum ibunda Arga nampak ceria menyambut pria yang berjalan di depan Arumi.


"Sayang, bagaimana tidurmu?" Tanya sang ibu.


"Cukup nyaman, Ma," jawabnya sembari duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh pak Ragil.

__ADS_1


"Lantas dirimu?" Tanya Nyonya Nessie kemudian pada menantunya.


"Ehemmm... nyaman, Ma." Arumi mengangguk sembari tersenyum. Walaupun punggungku sakit karena di timpa tubuh Anak Mama yang beratnya mengalahkan lemari kayu di kamarku sebelumnya.


"Syukurlah, sekarang nikmati sarapan pagi ini dengan santai. Jangan terlalu tegang, okay!" Kata sang ibu mertua yang nampak ramah. Arum pun berterima kasih. Sesaat ia melirik kearah Pria tua yang tanpa sekalipun berkedip menjuruskan tatapan dingin itu pada Arumi.


Ibunya terlihat ramah, namun kakeknya seperti tidak suka Aku. Atau memang muka laki-laki dari keluarga Sanjaya kaku seperti ini semua? –batinnya


"Hari ini kau kan mulai cuti. Apakah ada schedule untuk berbulan madu?" tanya Mama nampak antusias. "Mama sudah pesankan tiket untuk liburan ke Paris, loh..." imbuhnya.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktuku hari ini berdua dengan Aliee, karena besok aku sudah mulai aktif bekerja."


Menghabiskan waktu hari ini, berdua? Kencan kah? –batin Arum sembari menoleh. Namun kembali menunduk saat Arga menoleh juga ke arahnya.


"Kok hanya hari ini? kenapa sebentar sekali?"


"Aku banyak kerjaan yang lebih penting dari pada hanya sekedar bulan madu," jawabnya dengan tatapan hampa. Walaupun visual gadis di depannya persis Alicia, entah mengapa ia tidak sama sekali berdebar. Padahal sudah mencoba untuk melakukan sesuatu yang seharusnya mampu untuk membangkitkan suasana hatinya yang kosong.


"Apanya yang sayang sekali?" Potong Kakek membuat Nessie menoleh kearah sang Ayah. "Bukankah itu sudah benar! Untuk apa menghabiskan waktu sia-sia, pakai segala bulan madu keluar Negeri. Dia itu pemimpin Andara Group. Wajib! jika dia lebih mementingkan pekerjaan ketimbang istrinya–" Tuan Arman masih menatap dingin kearah Arumi. Gadis itu pun menunduk sembari memasukkan suapan sup ke dalam mulutnya sendiri. Jujur saja makanan itu teras hambar dan dingin juga.


"Dasar Papa ini. Kenapa harus menyetir anakku demi Andara? Seharusnya Papa memahami posisinya yang baru saja menikah. Lagi pula dia cucu Papa sendiri, kan?"


"Justru karena cucukku. Dia wajib mendedikasikan hidupnya untuk perusahaan. Kalau perlu, yang dia nikahi adalah jabatannya sendiri, bukan seorang gadis!" Tegasnya sembari menggebrak meja.


"Pffftt..." Arum tak tahan untuk tidak tertawa, saat mendengar suara renta itu berbicara dengan nada menggebu-gebu, lebih-lebih di bagian akhirnya.


Menikahi jabatannya sendiri katanya? Cocoklah, sosok arogansi yang menurun ke cucuknya... –batin Arum masih menertawakan itu.

__ADS_1


Menyadari seluruh pasang mata di ruangan itu menjurus padanya. Buru-buru ia mengangguk sopan, mengucapakan maaf pada Tuan besar yang duduk di kursi utama.


"Hei– kau menertawakan apa?" Sarkas Kakek sembari menunjuk ke arah Arumi.


"Ah... tidak. Tidak, Tuan."


"Kau pikir aku tidak tahu kau menertawakan ucapan ku?"


"Sungguh, Tuan. Saya hanya mengingat sebuah lelucon. Dan itu membuat saya tertawa. Hanya moment-nya pas saat Anda sedang berbicara. Maafkan saya, Tuan," jawab Arumi menunduk.


"Kau...?"


"Papa, hentikan. Kita sedang makan..."


"Kau ingat ini, urusan kita belum selesai... " pungkasnya dengan tatapan tajam. Arumi sendiri merasa tercekak dengan itu. Sementara Arga tak merespon sama sekali selain fokus pada makanannya sendiri.


"Arga, kalau boleh tahu Kau mau kemana?" tanya sang ibu sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.


"Vila pribadi milik keluarga Narendra," jawabnya datar tanpa menoleh sedikitpun.


"A–apa?" Nyonya Nessie tertegun memandangi wajah sang anak dengan tatapan sedih. –Untuk apa lagi kau kesana? Mama tidak mau melihatmu menangis di tepi danau itu lagi.


Di samping itu, Arum bergeming. Dengan sopan memasukkan suapan-demisuapan makan di mangkuknya kedalam mulut. Pelan-pelan menghabiskan makanannya sembari berpikir.


Vila pribadi keluarga Narendra?


Aaaah... kalau tidak salah itu adalah tempat pertama kali Tuan Muda mengenal Nona Alicia yang asli. Juga tempat Nona Alicia meregang nyawa di danau yang terletak di kawasan itu juga. Aku ingat, itu tertulis jelas di profil Nona Alicia pada lembar ke lima.

__ADS_1


Apa yang hendak ia lakukan di sana? Apakah Tuan ingin mengulangi waktu pertemuannya itu? Dan aku harus berakting demikian...


Arum sedikit frustasi, belum apa-apa ia sudah memikirkan lelahnya. Namun mau bagaimana lagi, tentunya ia tidak akan bisa menolak.


__ADS_2