
Sepanjang perjalanan, Arga termenung. Sesak di dadanya benar-benar tak bisa ia keluarkan. Kebahagiaan yang saat ini ia rasakan pula semu. Tidak ada yang membuatnya lepas seperti saat masih adanya Alicia.
Bahkan, Arumi...?
Wanita itu hanya semakin membuatnya tak bisa terlepas dari bayang-bayang Alicia. Tapi, hatinya tak sinkron dengan mata yang memandang itu sebagai cintanya.
"Tomi, belokan mobil ini ke Hexa club!"
"Ma–maf, Tuan. Sebaiknya kita jangan kesana."
"Kau menolaknya?" Hunus Arga dingin.
Ya Tuhan. Benar, besok adalah hari anniversary Beliau dengan Nona Alicia. Pasti saat ini hatinya menjadi kacau akibat cerita masalalu dari wanita penjual bunga itu.(Tomi)
"Begini saja, Tuan. Bagaimana kalau Anda ke apartemen saya. Seperti biasa, saya akan menyiapkan wine kesukaan, Tuan."
"Aku ingin Hexa club!"
"Tapi?"
"Kalau begitu keluar saja, biar aku membawa mobil ini sendiri...!" ancamnya kemudian.
"Ba–baiklah Tuan." Tak ada pilihan lain selain menurutinya. Arga pun menghela nafas kasar, menggeser pandangannya ke sisi samping kaca mobilnya. Memandangi langit malam yang nampak mendung dengan rintik gerimis kecil.
Tiba di club ternama itu. Seorang manajer tentunya langsung menyiapkan ruangan VVIP untuk Arga dan Sekretarisnya.
"Apa Anda butuh beberapa gadis untuk menemani, Tuan?" tanyanya menawarkan.
"Tidak! Aku hanya ingin sendirian. Termasuk Kau, Tomi. Kemarikan kunci mobilnya..."
"Tuan?"
"Kau pulang saja, ini sudah malam. Jam kerjamu sudah selesai."
"Tidak, Tuan. Saya akan menunggu Anda di dalam."
"Kau menolak perintahku?!"
"Saya tidak bermaksud menolak perintah Anda. Justru saya khawatir, Tuan." Sekretaris Tomi masih bertahan di hadapannya. Menolak kakinya untuk melangkah keluar.
"Kunci mobilnya!" Pinta Arga sekali lagi dengan nada yang lebih di tekankan, namun Tomi tetap bergeming di tempatnya. "TOMI...!!" gaungnya kemudian. Hingga pria itu mengeluarkan kunci mobil dari sakunya, lantas menyerahkan pada Arga yang langsung meraihnya. Kemudian mendorong dada Tomi sebelum masuk keruangan VVIP itu sendirian.
__ADS_1
Tomi menghela nafas, ia masih bertahan di sana. Menunggu Arga yang ada di dalam. Tak lama dua orang waitress mendekati pintu dengan membawa troli berisi minuman.
Tentunya Tomi langsung memeriksa ID mereka, juga KTP sebelum mengizinkan keduanya untuk masuk. Hingga beberapa saat mereka keluar lagi karena Arga benar-benar ingin sendirian.
Di dalam...
Arga menuang minumannya sendiri kedalam gelas. Sebelum menenggaknya. Ia tak mengerti, kenapa tiba-tiba suasana hati yang sudah baik-baik saja kini malah justru kembali bergejolak.
Tak bisa di pungkiri. Alicia memang satu-satunya gadis dari keluarga kaya raya yang masuk dalam kriteria Arga. Tentunya Arga sangat mencintainya lebih dari apapun.
Gadis yang cantik, berpendidikan, dan juga berkelas namun tetap rendah hati.
Arga sudah mengagumi gadisnya sejak Alicia masih SMP. Dulu mereka bertemu dalam acara penting keluarga yang di hadiri beberapa konglomerat tersohor di Negaranya.
Flashback on...
Pria tampan yang pada saat itu sudah duduk di bangku kuliah berniat untuk menghindari keramaian di ruangan pesta, dengan mendatangi area basemen sendirian.
Namun, di sana ia justru melihat seorang gadis muda yang tengah asik berjongkok sendirian di belakang mobilnya sembari memberi makan kucing-kucing liar.
Bibirnya yang manis nampak tersungging senang melihat kucing-kucing liar itu melahap makanan kucing yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Aku? Kakak bertanya padaku?"
"Emmm...!" jawabnya sembari menyalakan puntung rokok, lalu menghembuskan asapnya ke udara. "Memang di sini ada siapa lagi selain Kau, dan kucing-kucing kotor itu?"
"Hei, jangan merokok di depan gadis muda! Kakak pikir itu gagah?" Celetuknya membuat alis Arga terangkat satu.
"Memangnya kau gadis?"
"Tentu aku gadis! Lagipula, merokok itu tidak baik–" Alicia beranjak sebelum melompat demi merebut rokok ditangannya lantas membuang itu kelantai.
"Beraninya, bocah ini! Apa kau tidak tahu siapa aku?" Sergahnya sembari menunjuk kening gadis di depannya.
"Tentu aku tahu, dan aku tidak takut padamu, Tuan Muda. Ku harap kau menjadi laki-laki yang baik dan sehat, agar kelak bisa hidup lebih lama dengan isterimu!" Alicia menggeser tangan itu menjauh.
"Cih, bicaramu seperti orang dewasa. Lagi pula apa peduli mu? Kita tidak akan mungkin bersama tuh!" Arga mengeluarkan lagi rokoknya. Pria itu memang sedikit bandel juga susah untuk di atur. Dan perkataan Alicia tadi, di anggapnya sebagai ucapan anak ABG yang suka berkhayal tentang menjadi dewasa.
"Iiissshhh, siapa tahu di masa depan nanti kau akan menjadi kekasihku? Dan aku tidak suka laki-laki perokok seperti dirimu." Alicia menepis rokok itu lagi hingga terjatuh. Tentunya Arga langsung melotot kearahnya. Lebih-lebih saat gadis muda itu berlari menjauh sembari menginjak rokoknya.
"HEIIII, KAU TIDAK AKAN MENJADI GADIS KU. DENGAR ITU!!!" Arga berseru hingga suaranya menggaung di basemen tersebut. "Cih! Dasar anak ingusan, sok berpikir dewasa! Kenapa anak jaman sekarang mudah dewasa sebelum waktunya, sih?" menggerutu, mood merokoknya pun jadi hilang sebab anak itu. Sehingga membuatnya memilih untuk pergi saja dari gedung tersebut, lalu menikmati masa mudanya di club malam.
__ADS_1
Flashback off...
***
Pukul satu dini hari, Arumi terjaga. Ketika mendengar suara pintu yang terbuka, bersamaan dengan Pak Ragil juga Sekretaris Tomi tengah memapah tubuh Arga.
Di–dia mabuk? –Arumi terkejut. Selama ini dia tidak pernah tahu suaminya bisa minum hingga mabuk berat seperti ini.
Langkah Arga terhenti di depan pintu. Bibirnya tersenyum lebar.
"Alicia-ku!" Serunya dengan suara yang serak. "Kemarilah... kemari sayang!"
"Sayang, kau kenapa seperti ini?" Arumi mendekatinya. Saat itulah Arga melepaskan pegangan Tomi dan juga pak Ragil di kedua lengannya.
"Kalian pergi, aku ingin bersama Alicia-ku yang cantik. Kami akan merayakan, anniversary kami... pergi! PERGIIII...!" Arga mendorong keduanya keluar kamar, lalu menutupnya rapat.
Mereka yang di luar pintu saling tatap. Tidak ada yang bisa di lakukan selain berdiam diri di depan pintu kamar Arga.
Kembali kedalam...
Arga melepaskan jas-nya. Melempar itu asal, juga melepaskan dasinya, juga beberapa kancing kemejanya. Nampak Arumi melangkah mundur karena takut melihatnya yang terus menatap kearahnya dengan pandangan lain.
Belum lagi saat Arga menyergap tubuhnya langsung.
"Kyaaaa, mmmpp..." Sebuah ciuman brutal ia dapatkan di bibir. Tanpa aba-aba, apalagi pembukaan yang manis ia langsung melecuti pakaian Arumi. Membawa wanita itu keatas ranjangnya. "Sa–sayang?"
"Sssstt..." Arga membungkam bibir manis Arumi. "Kau tahu! Kau terlalu jahat karena meninggalkanku. Sekarang aku akan menghukummu, yang telah pergi tanpa berpamitan. Sehingga aku harus menikahi gadis kampung itu!!!"
A–apa? –seketika dada Arumi menjadi sakit. Seperti dihimpit dua batu besar. Dimana Arga kini sudah berada di atasnya mengungkung tubuhnya.
"Aku akan mencabik-cabik dirimu yang sudah memenjarakan ku dalam ruang rindu yang gelap! Aku akan menghabisimu, bahkan saat kau meminta ampun sekalipun, aku tidak akan melepaskanmu!"
"Sa–sayang..." Arumi sudah pasrah saja ketika tubuhnya di pakai laki-laki itu untuk mencurahkan nafsu birahinya. Seperti ada kemarahan di setiap gerakan konstannya. Arum bahkan sampai meremas kain seprai itu lebih kuat dari biasanya.
Air mata mengalir deras tanpa bisa ia bendung lagi. Malam ini benar-benar tindakan paling brutal yang ia terima dari suaminya. Seolah menit-menit berlalu lebih lama dan menyakitkan.
Arum memang tak pernah menikmati permainan di atas ranjang dengan sepenuh hati. Selain keterpaksaan karena tuntutan kontrak yang ia tandatangani sendiri. Namun ia tak pernah sesakit sekarang. Yang tidak hanya hati, namun tubuhnya juga.
Kini Arga telah selesai, ia lantas menjatuhkan tubuhnya dengan nafas tersengal-sengal di sisi wanita yang tengah merasakan gemetar di kedua kakinya.
Ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ketika bercinta dengan laki-laki yang seolah tengah dirasuki sesosok iblis yang kejam. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan badannya, walau hanya miring ke sisi kanan demi membelakangi sang suami.
__ADS_1