Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Situasi yang belum di sadari Arumi


__ADS_3

Pagi ini semua berkumpul. Kakek ada janji dengan seseorang untuk bermain golf di taman pribadi rumah utama itu. Mama Nessie pula tengah bersiap sebelum perjalanan menuju Nederland.


Wanita paruh baya itu menyentuh beberapa kali rambut Curly yang baru saja di blow. Matanya sendiri tertuju pada layar ponsel yang tengah live di salah satu akun sosial media miliknya.


"Dimana Arga?" Tanya Kakek pada Arum yang sudah duduk di kursinya. Terlihat sangat Aneh ketika wanita itu hanya datang sendirian.


"Suamiku masih di dalam kamarnya."


"Kenapa tidak kau tunggu dia dan turun bersama?"


"Itu?"


Tak lama Arga terlihat. Komisaris Arman pun bergeming. Tanpa ekspresi, pria itu langsung duduk di sebelah Arumi. Ada hal yang tidak beres tertangkap oleh pria sepuh itu, namun ia memilih untuk diam saja mengambil sendoknya.


"Nessie, matikan ponselnya. Kita mulai sarapan paginya."


"Baiklah..." Nessie melambaikan tangannya pada para penonton yang memang suka melihat live Beliau. Setelah itu mematikan ponsel tersebut.


Suasana sarapan pagi terkesan lebih tenang dari biasa. Semua orang yang ada di kursi masing-masing tak sama sekali bersuara.


Arum melirik sesekali sembari memasukkan sup ke dalam mulutnya. Berharap walau cuma sebentar laki-laki di sampingnya mau menoleh kepadanya seperti biasa.


Aku benar-benar merasakan keasingan di rumah ini. Jauh dari pada saat pertama kali hadir. –Kembali wanita itu menunduk.


Taaakk...


sebuah pisau makan di letakan dengan sedikit menghentak, hingga beberapa pasang mata terarah padanya. Pria yang menjadi sorotan kini sedang mengusap bibirnya dengan serbet makan.


"Aku sudah selesai," ucapnya sembari bangkit. Pak Ragil pun bersiap dengan jas di tangannya, mengikuti langkah Arga yang panjang itu keluar dari ruangan makan yang menimbulkan tanda tanya pada dua orang anggota keluarga yang lain.


"Ada apa dengannya?" gumam Kakek Arman. Kepalanya masih terarah pada jalan keluar yang tadi di lalui Arga, dan kembali kedepan saat mendengar suara kursi yang terdorong.


"Maaf, saya juga sudah selesai." Arum membungkuk sedikit untuk mereka berdua sebelum melenggang pergi.


"Papa, apa mereka sedang marahan?"


"Entahlah bukan urusan kita. Makan saja sarapanmu. Biar mereka menyelesaikan masalahnya sendiri."


"Hemmm... aku kan hanya ingin peduli."


"Tidak usah ikut campur dalam urusan rumah tangga anakmu. Lebih baik fokus pada pekerjaan. Kau harus segera take-off."


"Iya, iya..." Nessie menyiduk krim zuppa soupnya.


–––


Sementara itu di luar...

__ADS_1


Arum buru-buru menghampiri Arga yang sudah mau masuk ke dalam mobil.


"Suamiku tunggu dulu–" ia menahannya sebelum Sekretaris Tomi menutup pintu mobil tersebut. "aku ingin bicara padamu."


"Aku ada pertemuan penting, jadi kita bicarakan saja nanti."


"Tapi sayang?"


"Tom, tutup pintunya!" Titahnya yang di indahkan langsung oleh Tomi. Ia menutup pelan pintu mobil tersebut lalu mengangguk sekali.


Arum berdiri dengan raut wajah penuh kesedihan. Hingga tanpa sadar air matanya kembali menetes.


Ada apa denganmu? –batinnya menjerit. Hingga mobil itu menjauh, Arum masih dihinggapi rasa yang tak nyaman. Ia bahkan mengusap perutnya berkali-kali ketika nyeri terasa berdenyut.


"Nona, Tuan Arga menyampaikan pesan untuk Anda," ucap Pak Ragil tiba-tiba. Arum pun menoleh, menunggu pesan apa yang akan di sampaikan padanya.


"Mulai hari ini Anda di larang pergi kemanapun hingga batas waktu yang tak beliau tentukan,"


"Apa? Kenapa demikian?"


"Entahlah saya tidak tahu jelas alasannya, Nona. Yang pasti, ada larangan untuk Nona keluar dari rumah ini apapun itu alasannya. Dan lagi, sekarang Pak Rizal sudah tidak bekerja sebagai bodyguard Anda."


"Me–memang kenapa?"


"Kemarin, Tuan Muda memecatnya. Karena kesalahan Beliau yang tak profesional dalam bekerja."


"Ya Tuhan..." Arum menutup mulutnya tidak bisa menahan kesedihan dan sesak yang datang secara bersamaan.


Arum mencerna keinginan laki-laki itu kemarin, juga menggabungkan dengan hilangnya suplemen ibu hamil yang di berikan Dokter Kasih. Pasti Arga telah menemukannya lebih dulu.


"Pak, boleh saya tanya?"


"Silahkan, Nona."


"Sebenernya kemarin apakah Tuan Arga melakukan sesuatu di kamar? Maksudku, alasan dia memintaku pindah kamar? Apa Dia menggeledah?"


Pak Ragil tak menjawab, Beliau hanya membenahi kacamatanya.


"Pak?" Arum benar-benar ingin berteriak sekarang. Tidak bisakah Anda menjawabnya? Aku butuh penjelasan tentang penyebab kemarahannya!


"Sebaiknya Nona istirahat saja..." Pak Ragil mengalihkan. Hingga seorang pelayan wanita datang menghampiri


"Pak Ragil, maaf! Seluruh barang Nona Arumi sudah selesai kami pindahkan ke kamar bawah...."


"Apa? Kenapa di pindahkan, Pak?" Tanya Arum semakin merasakan sayatan sembilu di dadanya.


"Maaf, Nona. Saya sendiri tidak tahu... karena Tuan Muda hanya memberi perintah untuk memindahkan seluruh barang-barang Nona Arumi ke kamar bawah."

__ADS_1


Arum sampai tak bisa berkata-kata, ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya itu. Kini tangannya tengah mengusap air mata. Sebelum melenggang pergi, menuju taman.


Pak Ragil menatap iba wanita yang kini telah menjauh. Ia kasihan, namun mau bagaimana lagi. Mungkin sedang ada masalah antara Dia dan suaminya.


Ya, urusan rumah tangga. Bumbu yang pasti akan selalu ada di tengah-tengah hubungan suami-isteri. Dan ia tidak perlu ikut campur dalam hal ini. Begitu benaknya berbicara.


🍂


🍂


🍂


Langit terang berganti gelap yang penuh dengan gemerlap lampu di antara gedung-gedung tinggi di sekitarnya.


Sudah pukul sebelas malam, Arga masih saja betah berdiam diri di kursi kantornya. Duduk menyandar sembari menatap pendar cahaya dari dinding kaca.


Sementara itu sekretaris Tomi berkali-kali melirik jam tangan. Ia harus pulang sebenarnya, karena ada urusan penting.


Bukan soal Ayahnya yang ada di rumah, karena ia sudah memanggil jasa pengirim makanan untuk sang Ayah di apartemen. Melainkan dirinya yang harus menepati janji untuk makan malam bersama seseorang.


Ya, sebenarnya Beliau harus menjalani kencan buta dengan seorang wanita. Karena Ayahnya ingin dia membawa seorang gadis kehadapannya sesegera mungkin.


Sekarang jangankan untuk datang, mengeluarkan ponsel hanya untuk membatalkan janji saja tidak bisa.


Hari ini sudah berapa orang kena semprot tanpa alasan. Bahkan tak satu, dua karyawan baru, pindahan dari beberapa anak perusahaan di pecatnya tanpa pesangon.


Tomi benar-benar bekerja keras untuk dua hari ini. Di samping tentang pekerjaan yang jadi tak karu-karuan, ia juga harus berusaha mencari tahu kebenaran dari kabar yang di berikan Veronica.


Benar! Kegaduhan ini disebabkan oleh Veronika. Kalau saja dia bisa segera menemukan kebenarannya. Maka habislah sudah gadis itu di tangannya.


"Tom!" Setelah sekian jam diam saja, akhirnya Tuan Arga bersuara.


"Iya, Tuan?"


"Carikan aku seorang wanita sekarang."


"Apa?" Terkejut.


"Carikan aku wanita yang bisa di bayar untuk ku bawa pulang malam ini." Pria berkarisma itu melepaskan vest rompi yang di kenakannya.


Tuan, apakah Anda sudah benar-benar tidak waras?


"Tapi, untuk apa Tuan? Apakah Anda ingin membalas Nona Arumi?"


"Tidak usah banyak bertanya, cepat carikan saja!!" sarkasnya penuh penekanan. "Aku ingin melihat responya, apa dia pikir aku tidak bisa bersenang-senang dengan wanita lain? Mungkinkah aku harus menikahi beberapa wanita juga dan tinggal dalam satu atap. Pasti ini bisa menjadi pembalasan luar biasa untuknya."


Menatap bayangannya sendiri di depan dinding kaca. Tomi pun menghela nafas pelan yang tak di sadari Arga.

__ADS_1


Sungguh aku tidak mengerti jalan pikirannya. Kenapa Anda tidak bicara terus terang, dan tanyakan semuanya langsung pada istri Anda. Bukan malah seperti ini...! Anda justru menambahkan masalah.


Tomi memaki dalam hati, walaupun tangannya tetap mengetik sesuatu dalam telefon genggamnya itu sebelum menempelkan ke-telinga, menelfon seseorang.


__ADS_2