
Keduanya terdiam cukup lama saling tatap selama beberapa saat di tengah guyuran hujan yang bercampur terik matahari.
"Sepertinya hanya Anda orang dewasa yang hanya berdiam diri ketika hujan ini turun." Sekretaris Tomi memecah keheningan di antara keduanya. Denna yang masih bengong kontan tersadar.
"Apa yang Tuan lakukan disini?"
"Hanya tak sengaja lewat." Sekertaris Tomi menjawab dengan mulus walaupun sejatinya ia berbohong. Ia bahkan melihat semuanya yang di lakukan Denna pada pria tadi.
Wanita brutal yang keren. Begitulah kira-kira yang ada di pikirannya tadi sembari tersenyum puas melihat pria itu di pukuli.
"Ehmmm..." Denna menoleh ke sisi samping. Tepatnya pelataran kafe tadi. "Mungkin aku akan masuk dan meneduh di kafe ini. Terima kasih payungnya."
"Aku juga ingin masuk ke kafe itu. Mungkin tidak masalah jika kita duduk di satu meja yang sama," Tomi memalingkan wajahnya, menghindari tatapan penuh tandatanya dari gadis di depannya.
Sebenarnya perutku kembung jika harus minum kopi lagi. (Tomi)
Eh...pria ini mengajakku untuk duduk satu meja? Tidak mungkin pasti aku salah dengar. (Denna)
"Mari, sebelum pakaian kita basah."
"Emmm, maaf Tuan. Saya sudah sejak tadi di sini. Lagipula, aku sedang menunggu taksi online. Aku sudah mau pulang."
"Begitu, ya? Baiklah, karena aku searah dengan tempat tinggalmu. Mungkin tidak masalah jika kita pulang sama-sama."
"Ya... tunggu! APAAAA!!" Orang ini sakit atau bagaimana, sih? Dia juga terlihat gugup. Atau jangan-jangan... Denna terus menyelidiki ekspresi wajah Tomi. Pria itu pun kembali menggeser pandangannya pada gadis di depan hingga membuat Denna gelagapan sendiri karena kepergok.
"Kenapa kau terkejut sekali?"
"Tentu aku terkejut, Anda 'kan?" Menghentikan ucapannya. Wanita itu masih tak habis pikir. "Ah, sudahlah... terima kasih atas tawarannya. Saya bisa pulang sendiri."
Denna memilih untuk kembali ke pelataran kafe. Sementara sekretaris Tomi menyadari sesuatu yang tak di ketahui Denna. Buru-buru ia mendekati gadis itu. Menjatuhkan payungnya begitu saja demi bisa melepaskan jas yang ia pakai kemudian mengikat lengan jas tersebut, melingkar di pinggang Denna.
"Apa yang Anda lakukan?" Denna nampak terkejut bukan kepalang saat mendapati perlakuan seperti itu.
Tomi belum menjawab setelah selesai ia pun mengangkat wajahnya. "Apa sekarang siklus bulananmu?"
"A-apa?"
"Ada noda darah di bagian belakang celana mu. Cukup banyak."
"Haaaaah!" Denna setengah tak percaya ia pun memastikan dengan cara mengintip ke belakang. Ya Tuhan, memalukan sekali. Batinnya kemudian.
"Kau bawa pembalut?"
Gila ya, laki-laki ini bisa-bisanya bertanya hal seperti itu dengan lempengnya. Denna menggeleng pelan. Terlihat wajahnya memerah karena malu.
"Kalau begitu ayo kita beli."
__ADS_1
"Ti-dak perlu. Saya bisa kok..." Apa-apaan sih dia ini?
"Dari sini agak jauh untuk menjangkau minimarket. Kau tidak mungkin jalan kaki. Sementara warung kelontong juga seperti tidak ada."
Denna nampak berpikir cukup lama di dalam diamnya. Jas yang mungkin sudah terkena noda darah bukanlah jas murahan yang biasa di pakai para Engkong. Sudah pasti ini akan menjadi tanggungjawabnya lagi untuk mencuci seperti pada saat itu. Tapi jika dia melepaskan jaket itu, akan malulah dia sepanjang jalan menuju ke rumah.
Sialan!
"Ayo. Aku tidak akan menawarkan bantuan berkali-kali."
"Okay. Tapi kali ini berapa harganya?" Ragu-ragu namun Denna tetap berhasil untuk to the points.
"Maksudmu?" Kening Tomi berkerut.
"Selama ini Anda selalu menghargai pertolonganmu ini dengan materi, 'kan? Jadi saya hanya berjaga-jaga saja."
Tomi menghela nafas. Pikiran dia cetek sekali. Tapi tidak apa-apa. Kau yang menawarkan harga. Sekalian saja ku manfaatkan ini.
"Sepertinya Kau sudah bisa membacanya?"
Benar, 'kan? Apa ku bilang...! (Denna)
"Dinner... malam ini di apartemen ku," jawabnya langsung di tengah kebisuan Denna. Gadis itu pun semakin tertegun di buatnya. "Bagaimana?"
"An-Anda bilang apa? Di-dinner?"
"Ya!" Dengan tegas menjawab sekali lagi. Kembali gadis itu di buat membisu. Tomi pun meraih payungnya lagi. "Ayo jalan. Sebelum semakin tidak nyaman." Tangannya terulur pada gadis itu.
🌦️🌦️🌦️
Di depan minimarket.
Sepasang mata milik gadis yang sedikit tomboy itu terus saja terarah pada minimarket yang ada di depannya. Terlihat juga Sekretaris Tomi sedang berdiri di depan meja kasir. Membayar barang yang beliau beli.
Apa dia memang sebaik ini pada siapapun? Atau hanya karena aku teman istri bosnya? Tapi, buang-buang waktu, 'kan? Atau apa sih maksudnya ini...
Denna masih tidak mengerti dengan apa yang di lakukan pria itu. Hingga Tomi keluar, dan kembali berjalan ke arah mobilnya.
Braaakk...! Suara pintu tertutup setelah pria itu masuk.
"Hujan semakin deras... ini punyamu." Pria itu mengulurkan satu plastik berukuran cukup besar kepada Denna.
Gadis yang masih terpaku itu pelan-pelan meraihnya. Lalu mengintip isi dari kantong tersebut. Ada beberapa merek pembalut wanita di dalamnya.
"Aku lupa menanyakan apa merek yang kau biasa pakai. Dan jenis apa, jadi ku ambil saja semua tipenya." Tomi menjelaskan lebih dulu sebelum gadis itu bertanya. Sementara Denna hanya diam saja lalu menoleh ke arah pria yang sedang mengeringkan wajahnya yang sedikit basah akibat cipratan air hujan.
Mungkinkah ini hanya perlakuan yang tak berarti apapun? Denna terus saja memandangi wajah pria tampan dan tegas di sebelahnya. Sebelum akhirnya menggeleng cepat. Hei... kau berpikir apa, sih?
__ADS_1
"Tuan, terima kasih," ucapnya lirih. Tomi yang sejak tadi fokus mengeringkan sebagian tubuhnya dengan handuk kecil pun menoleh.
"Rupanya kau bisa mengucapkan terima kasih juga, ya. Nona lumpur?"
"Ya, bukankah itu memang harus ku ucapkan? Atau seharusnya aku tak mengatakannya? Dasar aneh!" Denna membuang muka. Tomi sendiri tersenyum tipis.
"Mau ganti di mana? Di sini tidak ada toilet umum." Pria itu mengalihkan.
"Cari saja pom bensin atau apapun," jawabnya seraya memandangi hujan di luar. Moodnya mulai hancur.
"Okay..." Tomi mulai menyalakan mesin mobilnya. Mobil pun melaju, menjauh dari kawasan minimarket, menuju tempat yang di inginkan gadis di sebelahnya.
Beberapa saat kemudian...
Setelah memakainya di dalam kamar mandi. Gadis itu kembali keluar menghampiri Sekretaris Tomi yang berdiri dengan sedikit menyandar di kap mobilnya. Pria dengan kemeja putih itu menutup ponselnya yang menyala.
"Sudah selesai?"
"Ya..." Aneh rasanya. Ketika aku memakai pembalut yang di belikan seorang pria. Apalagi laki-laki seperti ini.
"Baiklah. Biar ku antar pulang sekarang... tapi sebelum itu. Apa kau ingin makan sesuatu?"
Ya! Bakso, mie ayam, seblak, atau apa gitu... Batinnya merespon dengan cepat. "Tidak, aku masih kenyang."
Tomi masih memplototi gerak-gerik Denna. "Oh... ku pikir mungkin bisa kita beli sesuatu."
Jajan-jajan-jajan... Isi kepala Denna memikirkan banyaknya makanan pedas dan berkuah.
"Yakin?" Tanyanya sekali lagi.
"Emmm..." Menjawab sembari memalingkan wajahnya. Ayolah, akui saja kau ingin makan, Denna. Kenapa mendadak sejaim ini di depan seorang pria? Lagipula dia kan bukan pacarmu.
"Sepertinya kau benar-benar tidak mau. Maaf, soalnya aku hanya menerka saja. Karena biasanya wanita yang sedang PMS suka makan."
Denna tersenyum remeh. "Tidak semua wanita sih. Hanya anak-anak gadis yang tidak dewasa saja yang seperti itu. Lagipula berlebihan sekali sih."
Ayolah, jangan menawarkan, langsung saja ajak aku ke warung seblak jeletet! (Denna)
"Baiklah kalau begitu..." Tomi kembali melangkahkan kakinya mendekati pintu mobil. Gadis itu pula lantas bengong memandangi bahu lebar milik pria yang sudah berada beberapa langkah di depannya.
"Apa? Hanya begitu saja dia? bahkan tanpa membujuk lebih keras?" Menggerutu dengan suara yang amat lirih. Kini emosinya membuat ia beranggapan bahwa Tomi adalah pasangannya yang tidak peka.
Tomi menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, tidak sama sekali."
__ADS_1
"Kalau begitu ayolah." Kembali melenggang pergi.
Pantas saja dia belum menikah di usia yang hampir menginjak kepala empat. Kedua tangan Denna mengepal kuat. Mengambil arah berlawanan untuk masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Sekretaris Tomi.