Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Tuan yang mengurung diri


__ADS_3

Silau cahaya lampu di langit-langit kamar ketika kelopak mata itu terangkat berat. Pusing dan juga haus pun ia rasakan saat setelah kesadarannya mulai kembali.


Awalan ia terjaga. Arum merasa asing dengan tempat yang sejuk dan nyaman itu. Suasana ruangan yang hening ia rasakan, sebab tak ada satupun orang di sana selain dirinya.


Arum memegang kepala, pelan-pelan mencoba untuk duduk. otaknya terasa kosong, tak mengingat apapun yang sudah ia alami sejak siang tadi. Ia bahkan tidak tahu, jam berapa sekarang?


Berpaling kemudian memandang ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 19:00. Kembali ia bergeser ke pigura yang tergantung tidak jauh dari posisi jam tersebut. Dan tertangkaplah sebuah foto pernikahan dirinya dengan seorang pria yang memiliki aura kuat. Membuatnya kembali tersadar jika Arum sudah berada di kamar Suaminya.


"Ya ampun, kepalaku sakit. Berapa lama aku tertidur?" rintihnya serak.


Tangannya menyibak selimut pelan, mencoba untuk bangkit dari posisi duduknya. Berjalan sedikit sempoyongan menuju kamar mandi. Setidaknya Arum ingin merasakan tubuhnya sedikit segar dengan cara mandi.


Selesai mandi dan berganti busana. Seorang kepala pelayan sudah ada di dalam menata makan malam untuk dirinya.


"Nona," sapanya sopan sembari menundukkan kepalanya dengan sopan, yang diikuti dua wanita berpakaian pelayanan di belakangnya. "Maaf kami masuk, karena tiga kali mengetuk kamar tidak ada sahutan dari dalam. Kami hanya ingin meletakkan santapan malam Anda."


"Tidak apa. Terima kasih, pak Ragil." jawab Arumi. Langkahnya mendekati sofa yang di hadapannya sudah terhidang makanan yang menurutnya amat menggugah selera. Pak Ragil mengangguk kemudian.


Seorang pelayan wanita mendekatkan segelas air kearah Arumi. "Silahkan, Nona..."


"Terima kasih," ucapnya lirih. Tatapan Arum masih tertuju pada makanan di atas meja. "Santapan malam di kamar? Kenapa aku hanya sendirian, tumben sekali..."


"Iya, Nona. Ini atas perintah Tuan Arga sendiri, bahkan Beliau pun menyantap makanannya di ruang kerja. Malam ini, sepertinya Tuan ingin menyendiri di sana."


"Begitu ya?" gumamnya. Aneh sekali, tumben ia menyendiri. Ada apa, ya?


Tangan Arumi mengambil gelas yang terisi air mineral lalu meminumnya hingga isinya tandas. Karena sejak tadi ia sudah menahan haus, jadilah air itu menjadi pilihan pertama.


"Apakah masih ada yang Nona butuhkan lagi?" tanya Pak Ragil.


"Tidak pak, terima kasih," jawabnya ramah. Mereka pun mengangguk dan berpamitan keluar.


Suasana kamar kembali dilingkupi sepi. Arum terpekur cukup lama, mencoba menata ulang roll film dalam kepalanya. Demi mampu memutar kembali kejadian yang telah ia alami sebelumnya. Pasalnya seingat Arum, tadi sedang berada di luar.


Kembali Arum menengguk airnya. Gleeek... tegukan terakhir lolos dengan usaha yang sedikit lebih berat dari yang sebelumnya.


Sebab teringat kejadian siang tadi, tentang dirinya yang kabur dari lima bodyguard penjaga, makanan laut yang tumpah, lalu mengganti busana seksi.

__ADS_1


Ahh itu?...


Arum memang merasa nyaman ketika pakaian seksi tadi sudah berubah menjadi Dress tidur yang biasa ia kenakan saat terjaga tadi. Namun sejurus kemudian ia penasaran, tentang dirinya yang sudah di sini. Apa Arga tahu semuanya?


Arum meremas gelas dalam genggaman kedua tangannya. Khawatir ketika tiba-tiba sudah di sini. Kemungkinan besar suaminya tahu jika ia melarikan diri lalu ke tempat lain dengan Maura dan Mama Linda? Terakhir tentang seorang pria yang membawanya keluar dari area restoran.


Ah, tunggu?


Samar-samar ia mengingat sosok laki-laki asing yang berada dekat di atas tubuhnya juga. Kepala Arum buru-buru menggeleng. Walau ia tidak mengingat hal selanjutnya. Namun berusaha keras, memperjelas wajah yang nampak blur dalam bayangannya.


"Aku ingat, laki-laki itu mendengarkanku mengoceh. Tapi, setelah itu apa, ya?"


Arum semakin panik. Bagaimana jika dirinya dan laki-laki itu sudah melakukan hal yang tidak-tidak lalu kepergok Arga. Seketika mata Arumi membulat sempurna.


Matilah aku. (Arumi)


Buru-buru meletakkan gelas di tangannya ke atas meja. Mendadak selera makannya sirna. Hanya satu hal, ia ingin bertemu Arga dan memastikan semua. Bisa jadi alasan pria itu menyendiri di ruang kerja adalah ini.


Arum berlari menyusuri tangga menuju lantai dasar. Beberapa pelayan yang di laluinya menunduk pada Arum. Tak lama, kakinya terhenti tepat di dekat pintu. Melihat sekretaris Tomi hanya berdiri di luar tanpa melakukan apapun. Ia yakin jika suaminya sedang marah besar.


"Apa suamiku di dalam?"


"Iya, Nona."


"Boleh saya masuk?" tanyanya sembari menyentuh handle pintu. Sekretaris Tomi buru-buru menahannya.


"Biarkan Tuan muda sendiri dulu. Beliau sedang tidak bisa di temui siapapun."


"Kenapa?"


"Sebaliknya Anda tanya pada diri Anda sendiri, Nona."


Gleeek... Arum menelan saliva-nya. Sudah jelas yang di dalam benar-benar sedang marah besar padanya. Sorot mata sekretaris Tomi pun seolah memantapkan tebakan hatinya.


"Tuan sekretaris. Ku mohon, aku ingin masuk dan menjelaskan semuanya pada suamiku."


"Nona, Anda tahu peraturannya, kan? Kemanapun Anda pergi, harus dengan ajudan."

__ADS_1


"Iya saya tahu," menjawab lirih.


"Kalau begitu kenapa Anda lakukan ini? Perlu Anda ketahui, hal fatal hampir saja terjadi pada diri Anda karena kecerobohan Anda sendiri...!" hardiknya walau dengan nada yang tertahan.


"Maafkan Aku Tuan Sekretaris," jawabnya merasa bersalah. "Tapi, aku pikir. Aku hanya bertemu dengan ibu dan saudara tiriku apakah itu salah?"


"Tentu saja itu salah, Nona!" sergahnya pada wanita yang hanya menunduk diam dihadapannya. Ya, setelah Arga, yang paling di segani Arumi adalah Sekretarisnya. "Bukankah Nona sendiri sudah paham, seperti apa sikap mereka pada Anda sebelumnya? Lalu kenapa Nona masih percaya untuk bertemu dengan mereka lagi tanpa pendamping? Setelahnya, Anda harus bisa mencerna kejadian janggal yang terjadi ketika mereka merencanakan untuk menjebak Anda dalam kamar hotel bersama seorang pria."


Deg!


"Astaga!" Arum benar-benar tidak menyadarinya semua itu. Jika Sekretaris Tomi tidak membabarkannya.


"Ada dua pria di dalam kamar hotel itu sebelum kami datang, satunya si pelaku. Dan yang kedua adalah pria asing yang sepertinya mengenal Anda."


"Me–mengenalku?" tanya Arum. Sekretaris Tomi pun mengangguk. "Siapa?"


"Saya tidak bisa memberitahukan namanya pada Anda."


"Kenapa?" tanyanya penasaran. Namun Tomi memilih untuk diam. Setelah tahu pria itu ada dalam daftar orang-orang yang pernah dekat dengan Arumi, Ia justru tak melanjutkan. "Baiklah jika kau tidak mau menjawabnya. Sekarang aku mau tanya, Suamiku di dalam seperti ini apakah ada hal lain? Apa dia marah besar padaku?"


"Saya tidak tahu, Nona," jawabnya. Karena memang sejatinya Tomi memang tidak mengerti apa yang terjadi di dalam kamar hotel itu. Sebab Arga hanya keluar meninggalkan Arumi di sana. Bahkan sepanjang jalan, ia hanya termenung tanpa suara hingga detik ini.


"Isssshhh..." menyentuh lagi handle pintu tersebut. Tomi pun menahannya seperti tadi, bergeser sedikit memasang badan.


"Kembalilah ke kamar Nona. Jangan ganggu Tuan muda untuk malam ini."


"Aku hanya ingin memastikan, ia baik-baik saja."


"Saya sudah memastikannya. Beliau baik-baik saja!"


"Tolonglah, jangan halangi aku Tuan Sekretaris! Aku mohon. Aku janji, hanya masuk dan melihat situasinya. Jika moodnya semakin hancur maka aku akan langsung keluar."


Tomi bergeming, masih memasang badan di depan pintu. Tidak mau bergeser sedikitpun.


"Tuan Sekretaris–" Arum menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. "Ku mohon–" sambungnya kemudian. Pria itu menghela nafas, lalu bergeser pelan memberikannya jalan.


"Hanya satu kesempatan, Nona. Jangan buat mood Tuan Muda semakin hancur," salaknya dengan nada sedikit menekan. Dan sebelum Sekretaris Tomi berubah pikiran, ia buru-buru membuka pintu tersebut lalu masuk.

__ADS_1


__ADS_2