Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
mata yang mulai terbuka


__ADS_3

(Teman-teman maaf, ya. kalau aku update siang. biasanya karena masalah review yang nyangkut 🥺. kadang-kadang bikin kesel dan sia-sia ketika sudah begadang tapi tetap ke update siang. Tapi nggak papa lah, yang penting hari ini tetap update. happy reading teman-teman.)


Di rumah sakit...


Arum masuk ke salah satu ruangan VVIP, ia pula sudah melihat suaminya duduk di salah satu sofa tunggal.


"Silahkan duduk, Nona." Seorang perawat memintanya untuk duduk di kursi lain, tepat bersebelahan dengan Arga.


"Terima kasih," jawabnya lirih sembari duduk. Wanita itu menoleh ke samping. Sosok pria yang duduk menyandar di sebelahnya nampak fokus dengan tab di tangan.


"Baiklah, karena Nona sudah hadir. Apa bisa saya lakukan pemeriksaan sekarang, Tuan?"


"Hemmm..." jawabnya tanpa menggeser sedikitpun pandangannya.


"Baik, Nona sudah pernah memeriksakan kandungan Anda, sebelumnya?"


"Sudah, Dok," jawabnya jujur.


"Baiklah, kapan terakhir kali menstruasinya?"


"Aku tidak ingat betul. Yang pasti, lebih dari dua bulan yang lalu."


"Baiklah... kita USG sekarang, ya. Mari ke ranjang pemeriksaan."


Jadi ia menyuruh sopir datang untuk memeriksa kandunganku?


Arumi mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Pria di sebelah melirik sekilas dengan menaikkan manik matanya.


Seorang perawat bersiap di sisi ranjang. Dan setelah Arumi merebahkan tubuhnya, kedua tangannya sigap menutupi sebagian tubuh Arumi dengan selimut. Ada perawat lain yang bertugas menyiapkan ultrasonic gel sebagai pelumas serta Dopplernya.


"Kita lihat disini. Janin dalam keadaan sehat, detak jantungnya juga normal."


Arum bernafas lega, ia tersenyum tipis yang bisa di lihat Arga dari kejauhan. Pria itu menunduk, ia seperti tersihir oleh senyum Arumi yang dirindukannya.


"Sebelum ini, ada keluhan?" Tanya sang Dokter.


"Hanya mual dan beberapa hari ini, saya mengalami demam Dokter."


"Kalau mual itu kondisi normal, ya. Nanti saya akan kasih obat pereda mual dan demamnya."


"Iya, terima kasih Dokter–"


"Sama-sama, Nona."


......


Pemeriksaan telah selesai. Arumi kini sudah duduk kembali di kursinya. Matanya masih sesekali menoleh kearah Sang suami yang terkesan tidak peduli.


Arga pun menutup tabletnya. Dan meletakkan itu di atas pangkuan.


"Kita langsung ke tujuan awal saja Dokter. Apakah tes DNA bisa di lakukan saat bayi masih dalam bentuk janin?"


Arumi tertunduk. Rupanya dia masih penasaran. Namun, apa yang akan kau lakukan saat tahu bahwa ini memang anakmu?

__ADS_1


"Baik, Tuan. Untuk penentuan profil DNA dalam kandungan tentunya sangat bisa di lakukan. Yaitu dengan cara mengambil sampel cairan amnion atau dari villi chorialis," jelasnya.


"Berati, istri saya bisa langsung masuk prosedur pengambilan sampel untuk cek DNA?"


Aku benar-benar tak habis pikir. Kau seperti tengah meruntuhkan harga diri istrimu sendiri di depan Dokter, hanya karena keraguanmu ini. –Arum mengepalkan kedua tangan di atas pangkuannya.


"Mohon maaf Tuan, tapi tes DNA hanya bisa di lakukan saat usia kandungan masuk 10-12 minggu. Sementara istri Anda masih di bawah sembilan Minggu. Jadi harus menunggu beberapa Minggu lagi.


"Ck! Terlalu lama–" gerutunya.


"Maaf Dok, apakah pemeriksaan ini telah selesai?" Arumi menyela


"Iya, Nona. Sudah..."


"Kalau begitu saya permisi dulu." Arum pun beranjak tanpa menegur Arga lebih dulu.


Terlihat tatapan penuh tanda tanya dari Dokter wanita di hadapan mereka tertuju pada pasutri tersebut. Lebih-lebih ketika Arga turut bangkit dan menyusul sang istri keluar.


Di luar ruangan VVIP Arga meraih pergelangan tangan Arum, menahan wanita itu.


"Kenapa kau keluar begitu saja? Apa kau takut untuk menjalani tes DNA?"


"Aku, takut? Untuk apa? Tidak ada yang perlu ku takutkan, Tuan. Dokter bilang harus menunggu 'kan? Pemeriksaan juga sudah selesai, jadi apa lagi yang ku tunggu?" Arum menarik tangannya, berusaha melepaskan diri. Sementara tangan Arga semakin kuat mencengkramnya.


"Pulanglah dan jelaskan padaku tentang bayi dalam kandunganmu ini. Aku akan mendengarkannya..." terdengar suara Arga melemah. Ia benar-benar tidak bisa melepaskan Arumi. Lebih-lebih jika sampai jatuh ke tangan laki-laki lain. "Apapun kenyataannya, aku akan berdamai sekarang. Dan menerima anak itu..." Sambungnya kemudian.


Arum mendesah, pelupuk matanya sudah berkabut. Laki-laki itu benar-benar membuatnya terluka sekali.


"Lepaskan saya, Tuan."


"Tidak, aku tidak mau! Untuk apa aku menjelaskan pada laki-laki yang bahkan tidak bisa mempercayaiku sejak awal? Kau bahkan tidak memberikan ku kesempatan untuk mengatakan semua hal sebagai pembelaanku. Sekarang biarkanlah kebenaran menguap dengan sendirinya. Aku tidak mau lagi menanamkan toxic pada anak yang sedang ku kandung ini, dengan kesedihan dan kesakitan yang ku rasakan di rumah besar Anda!" Arum melepaskan tangannya sebelum melenggang pergi.


Pria itu pun mengeram gusar. Manakala sang istri tak bisa di ajak berdamai sekarang.


🥀


🥀


🥀


Tiga hari berlalu...


Sekertaris Tomi datang menghampiri Arga yang tengah berolahraga di ruangan Gym pribadinya.


"Kau datang sepagi ini?" tanya Beliau di atas mesin treadmill elektrik.


"Ada yang ingin saya tunjukkan pada Anda, Tuan."


"Apa? Soal pekerjaan? Aku sedang tidak ingin membahas itu."


"Ini masalah penting yang mungkin akan membuat Anda menyadari satu hal. Ayo, Tuan. Ikutlah dengan saya ke ruang kerja. Ada dua orang yang harus Tuan temui. Karena ini menyangkut tentang Nona Arum."


Arga membisu. Ia mematikan laju mesinnya. Lalu turun dari treadmill tersebut. Sebuah botol minum di sodorkan seorang pelayan. Arga meraihnya sebelum menengguk airnya hingga tandas.

__ADS_1


"Tunggu aku beberapa menit lagi," ucapnya setelah selesai minum.


"Baik Tuan." Tomi mengangguk sekali, sebelum meninggalkan ruangan olahraga. Arga bergeming mengusap keringat yang basah di wajahnya.


–––


Empat puluh lima menit kemudian...


Pria yang menggunakan setelan kasual itu memasuki ruangan kerja. Yang langsung di suguhkan dua orang wanita beda generasi. Dengan tatapan penuh keheranan, Arga terus melangkah dan duduk di kursinya.


"Siapa mereka? Kenapa kau bawa ke sini?"


"Tuan, Dia adalah seorang petugas kebersihan rumah sakit X tempat Dokter Kasih praktek. Seorang ibu berusia lima puluh tujuh tahun." Menujuk wanita berambut cepak. "Sementara satunya, adalah pelayan rumah ini. Seorang gadis lajang berusia dua puluh lima tahun." Menujuk gadis berambut panjang yang di kuncir kuda.


Arga membidik satu persatu wajah yang tertunduk itu.


"Apa yang mereka lakukan, hingga harus di bawa kehadapku?"


"Dua wanita ini adalah kunci awal dari sebuah kebenaran. Bahwa tidak adanya perselingkuhan yang terjadi, Antara Rayyan dan Nona Arumi."


"Maksudmu?"


"tempo hari, pelayan ini kedapatan tengah menelfon seorang wanita. Dia Bahkan membeberkan apapun yang ada di rumah ini. Termasuk, data surat kontrak Nona Arumi."


"Surat kontrak itu selalu ada di kamar."


"Ya, jadi gadis inilah yang beberapa kali menyelinap masuk secara diam-diam kekamar Anda dan Nona Arumi."


"Berani sekali, kau?!"


"Gadis ini di bayar senilai sepuluh juta untuk satu informasi di rumah ini. Dan yang membayarnya adalah Nona Veronica."


Arga bergeming. Batinnya menangkap wajah ceria sekaligus manjanya sosok adik kandung dari Alicia.


Gadis ular itu... –Tangannya terkepal kuat.


"Wanita satunya adalah mata-mata dari pihak rumah sakit. Dari Dialah informasi program penunda kehamilan Anda diterima Nona Vero. Hingga sebuah kabar kehamilan yang di ketahui olehnya lebih dulu, pun dari ibu ini."


Sekertaris Tomi memutar bukti rekaman sebuah percakapan antara Dokter Kasih dan Arumi yang di ambil diam-diam oleh petugas kebersihan tersebut.


Dari sanalah sorot mata Arga mengarah tajam pada wanita paruh baya di depannya. Sebelah tangannya menerima ponsel yang di sodorkan Sekretaris Tomi.


Pria itu mendekatkan ponsel tersebut ke telinga. Sebuah rekaman di putar, terdengar suara bahagia Arumi yang di beritahu jika Dokter Kasih telah menukar cairan injeksi mereka. Hingga saat itu Arum di nyatakan hamil.


Arga membeku, sorot matanya kosong mengarah kedepan.


"Be–benarkah seperti ini yang terjadi?" Tangannya gemetar, rasa bersalah pun mulai muncul dalam hatinya.


"Sudah saya periksa. rekaman itu asli. Ada beberapa chat pula yang di tunjukkan pada Nona Veronica, Tuan," kata sekretaris Tomi menanggapi. Arga pun menggeser biji matanya pada Sekretarisnya. "Nona Veronica telah merencanakan semuanya. Selebihnya, Anda mungkan lebih tercengang lagi. Karena, kematian Dokter Kasih bukan murni kecelakaan. Melainkan faktor kesengajaan."


Deg!


"Semua masih dalam penyelidikan tim khusus. Mungkin akan lama Tuan. Pelaku pemotongan selang minyak rem pun baru berhasil kami identifikasi. Hanya tinggal penjemputan saja. Yang pasti Dokter Kasih sengaja dilenyapkan karena ini. Bahkan ibu petugas kebersihan ini pun, mengaku. Jika beberapa kali hampir terbunuh oleh orang-orang yang tidak di kenal." sambungnya kemudian.

__ADS_1


Arga mencengkeram kuat keningnya. Untuk saat ini ia akan menyerahkan seluruhnya pada Sekretaris Tomi demi mengusut kasus ini hingga tuntas. Sekarang yang ia pikirkan adalah bagaimana dengan Arumi?


Pria itu pun langsung bergegas keluar dari ruang kerja tersebut.


__ADS_2