
Beberapa jam berlalu, Arum berdiri di sisi Arga yang hendak masuk kedalam mobilnya.
Terdengar suara datarnya meminta buket bunga pada Tomi. Pria itu pun menyerahkan bunga tersebut pada Tuannya.
"Untukmu, terimalah..."
Arum nampak terkejut saat melihat buket bunga yang lumayan besar itu di sodorkan kepadanya.
"Ini untukku?" tanyanya ragu-ragu.
"Ya, ambilah..."
Wanita itu pun meraihnya, hingga bunga itu berpindah tangan. Ini adalah kali pertama Arum menerima bunga dari Arga. Bibirnya mengulas senyum tipis.
"Terima kasih, Sayang." Arum sedikit terharu, hingga sejenak melupakan yang terjadi tadi malam padanya.
"Hemmm..." jawabnya kaku. Pandangannya masih tertuju pada bunga yang berada di tangan Arumi.
Sejatinya, semalam ia beli bunga itu untuk Alicia. Hanya saja, saat melihat Arumi dengan kondisi seperti tadi pagi. Hatinya merasa tidak nyaman, ketika harus melakukan perjalanan jauh. Meninggalkannya sendirian di sini untuk beberapa hari.
"Oh, ya! Lima hari ini, adalah hari bebas mu. Kau bisa melakukan apapun selama itu..." tuturnya. Membuat kening Arumi berkerut.
Sekarang suasana hatinya sudah sedikit membaik. Berkat bantuan Arga yang mengoleskan sedikit obat di area yang terluka, di tambah buket bunga ini.
"Apa Anda akan melakukan perjalanan ke luar Negeri, Sayang?" tanya Arumi.
"Ya, tapi bukan karena pekerjaan. Ada sesuatu yang ingin ku lakukan sendirian disana."
Mentari di hati Arumi yang baru saja bersinar kembali meredup. Arumi paham, karena ia baru ingat jika ini adalah tanggal spesial Tuan Arga dengan Nona Alicia. Sementara Alicia sendiri di makamkan di Jerman, bersandingan dengan makam ibunya.
Mungkin Dia mau ke Jerman saat ini. Biarlah, biar dia mencurahkan emosinya di sana. Walaupun sejatinya aku ingin menemaninya. Tapi aku tidak bisa memaksa ikut sekarang.
Cupp... Arga mengecup keningnya, saat wanita itu sedang melamun. Tak lupa pula mencium pipi kanannya.
"Maaf..." bisiknya sangat lirih dan singkat. Sebelum Arga melangkahkan kaki mendekati mobil yang sudah terbuka. Pria itu tak menoleh sedikitpun hingga mobil melaju pergi.
Arum tersenyum tipis. Ia mencium bunganya. "Harum..." gumamnya kemudian. Sebelum kembali melangkah masuk kedalam rumah.
💐
💐
💐
Arga dalam perjalanan menuju landasan pribadinya.
"Tomi?"
"Ya, Tuan?"
"Kapan jet-ku siap?"
__ADS_1
"Sekitar satu jam lagi. Waktu kita akan cukup, Tuan, hingga tiba di sana," jawabnya.
"Perintahkan untuk di tunda lagi beberapa jam kedepan."
Eh... Tomi sedikit heran. Bergeming di tempatnya.
"Aku ingin bertemu dengan Dokter Aska, sekarang."
"Tapi, kita belum atur jadwal dengan Beliau. Sepertinya Dokter Aska sedang cuti."
"Kita datangi saja ke tempat tinggalnya."
Ya ampun, Anda sekarang semakin sembarangan saja, Tuan? (Tomi)
"Kau tahu alamatnya, kan?"
"Tahu, Tuan. Tapi, saya tidak yakin Beliau akan menerima tamu jika di rumahnya."
"Tidak peduli. Kalau aku yang datang, dia pasti akan membukakan pintu." Pintanya sedikit memaksa. Tidak peduli yang di depan sedang mengerucutkan bibirnya tak habis pikir.
–––
Setibanya di sebuah apartemen...
"Kita mau ke rumah Dokter Aska, kan? Kenapa kau bawa aku ke sini?"
"Beliau tinggal di apartemen, Tuan. Bersama istrinya..."
Anda yang tidak suka apartemen memang akan selalu berpikir hunian itu sempit. Ckckck!
Tomi menggerutu dalam hati mengikuti saja langkah Bosnya itu.
––
Sementara di dalam salah satu unitnya. Seorang Dokter tengah bermain dokter-dokteran dengan istrinya. Ia yang bertingkah manja terus saja memegangi pergelangan tangan sang istri yang sudah lelah meladeni kemauan konyolnya itu.
"Tolong periksa lagi di sini, Sayang. Jangan dulu pergi..." Aska menempelkan tangan istrinya di dada.
"Kakak, kenapa kau kekanak-kanakan sekali, sih! Aku harus mencuci. Karena ibu asisten rumah tangga kan tidak datang saat Kau di rumah."
"Mencuci bisa nanti malam. Aku yang akan melakukannya. Sekarang rawat aku dulu. Ayo rawat aku, sayang..." rengeknya manja, hingga sebuah bel pintu terdengar.
"Ada tamu di luar, Kak!"
"Alaaah... paling kakakmu yang sedang menghindari kejaran polisi wanita itu. Sudah biarkan saja!"
Ting-tong...
"Kakak, kalau tamu penting bagaimana?"
"Tidak ada yang lebih penting daripada hubungan kau dan aku. Jadi, demi lancarnya proses pembuahan ini. Kita harus tuli dengan semua suara yang ada..."
__ADS_1
Ting-tong...
"Iiissshhh!! Akan ku tendang bokongnya jika itu kakakmu!" Aska terpaksa bangkit dari posisinya yang hanya menggunakan kolor saja.
"Kak, bajunyaaaaaa–" teriak sang istri namun tak di gubris pria itu. "Duuuuh..."
Di depan pintu, Aska tercengang ketika melihat dua laki-laki berdiri di depan pintu. Nampak tatapan tajam Arga terhunus pada kameranya. Seolah tengah menatap kearahnya langsung.
"Astaga, kenapa mereka ada disini?!" Panik, ia menyentuh tubuhnya yang tak memakai atasan. "Ck!" Kembali ia berlari masuk, namun sudah di susul istrinya.
"Pakai kaos mu ini, Kak."
"Aaah, terima kasih sayang. Muaaachh... sekarang kau masuk sana. Tamu diluar adalah pasien ku yang seharusnya di karantina tapi justru malah berkeliaran."
"Apa?" Wanita yang kita sebut saja Akirra itu terkekeh, ketika sang suami kembali bergegas menuju pintu untuk membukanya. Ia pula menuruti dan memilih untuk masuk kedalam kamar mereka.
Cklaaakkk...
"An–Anda datang, Tuan?" Nafasnya terdengar sesak. Sementara dua laki-laki di depannya menghunuskan pandangan pada seorang Dokter pria di depannya. Lebih-lebih Arga.
"Penampilan Anda nampak santai sekali di depanku?" ucap Arga bernada datar.
"Hahaha... maaf, Tuan." Kau pikir saat aku dirumah, aku akan memakai pakaian resmi ku sebagai seorang Dokter? Yang benar saja... "Silahkan masuk, Tuan."
Aska mempersilahkan tamunya untuk masuk. Yang di indahkan Arga dan Sekretarisnya. Terlihat apartemen itu lebih luas dari pada yang di huni Tomi. Tempatnya pun lebih terkesan mewah. Ya, kesan apartemen yang sempit kini seolah terbantahkan setelah melihat apartemen milik Dokter SpKJ itu.
"Silahkan duduk, Tuan. Saya akan menyiapkan suguhan untuk kalian."
"Hemmm..." jawabnya yang duduk lebih dulu. Lantas di ikuti sekretaris Tomi yang juga duduk dengan jarak dari Tuannya.
Tak berselang lama Dokter Aska kembali. Dengan membawa dua cangkir kopi dan juga camilannya.
"Jujur saya tidak tahu ingin menyuguhkan apa, semoga Anda tetap berkenan dengan apa yang saya suguhkan ini," ucapnya sembari meletakkan cangkir itu, satu-persatu. Setelah semuanya berpindah keatas meja, Aska duduk dengan canggung. Wibawanya di rumah sakit tiba-tiba menghilang sekarang.
"Maaf jika kedatangan saya membuatmu tidak nyaman. Karena ada sesuatu yang ingin Saya katakan. Mengenai kondisi yang terjadi pada saya."
Oh... Beliau ingin konsultasi rupanya?
"Bukan saya tidak nyaman. Hanya terkejut saat Tuan Arga datang kemari. Lebih ke tidak menyangka..."
Arga mengulas senyum tipisnya. "Jadi bagaimana? Apa Anda bisa melakukan hipnoterapi pada saya, sekarang?"
"Emmmm, tentu. Izinkan saya mempersiapkan ruangannya dulu. Dan mengganti pakaian..."
"Silahkan..."
"Terima kasih, Tuan." Aska beranjak berjalan cepat menuju kamarnya sendiri demi mengganti pakaian.
Arga sendiri menoleh kearah dinding kaca di sisinya. Di mana ia bisa melihat pemandangan kota dari sana.
"Hunian yang nyaman..." gumamnya kemudian.
__ADS_1