Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
mengantarkan Denna


__ADS_3

Seperti tak mendapatkan kelancaran saat pulang. Keduanya kini harus terjebak dalam kemacetan cukup panjang. Riuh suara klakson pun sudah memekik keras dari mobil-mobil yang turut tidak bisa bergerak.


"Kenapa mendadak macet parah begini?" Denna menggerakkan kepalanya memeriksa situasi di luar.


"Yang ku tahu, hari ini ada tamu presiden dari berbagai Negara."


Aaaah... benar juga. Denna manggut-manggut. Hari ini berita di tv sedang ramai membicarakan para delegasi dari negara-negara sahabat yang datang untuk suatu acara.


Gadis itu mulai gelisah. Jujur saja, dia sudah tidak nyaman di dalam mobil Sekretaris Tomi. Bukan karena mobilnya, lebih tepatnya orang yang ada bersamanya saat ini.


Sekretaris Tomi melirik jam tangannya. "Sepertinya akan lama macetnya."


"Lagian kenapa Anda harus lewat jalan ini? Padahal tahu kalau sedang ada tamu penting negara."


"Siapa yang menyarankan jalan ini? Apakah saya?" Tomi melempar balik perkataan Denna, hingga gadis itu pun terdiam. "Bersabarlah, jika lelah tidur saja."


Bagaimana mungkin aku bisa tidur? Denna mendengus. Ia pun pasrah saya, menyandarkan kepalanya di kaca samping sembari terus memandang ke depan.


Beberapa jam kemudian...


Denna membuka matanya. Ia terkejut, karena terlalu lama memandangi lampu belakang mobil yang ada di depannya ia sampai benar-benar ketiduran.


Sial! Bisa-bisanya aku ketiduran. Aku ngiler atau tidak, ya? –mengusap bibirnya sendiri yang kering sebelum akhirnya menghela nafas lega. Syukurlah. Tapi apa mulutku terbuka sepanjang tidur? Atau justru mendengkur? Ah... kenapa bisa sampai ketiduran, sih?


Denna masih saja over thinking dengan posisi tidurnya yang biasanya sangat tak beradab.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tomi mengamati gadis di sebelahnya yang sejak tadi belingsatan sendiri.


"Berapa lama aku tertidur?"


"Sekitar hampir dua jam."


"Hah! Serius?!"


"Kau bisa memeriksa kondisi langit, dan jam tanganmu."


Denna baru sadar, jika langit di luar sudah lumayan gelap. Ia memeriksa jam tangan, sudah pukul enam petang.


Hampir satu jam mereka terjebak macet hanya di ruas jalan yang sejatinya tidak sampai tiga kilometer untuk keluar dari zona tersebut. Lalu setelah keluar, Tomi justru memilih untuk menepikan mobilnya dan menunggu gadis itu sampai bangun tanpa melakukan apapun.


"Ini di mana?"


"Kawasan X."


"Ya Tuhan, kan sudah dekat. Kenapa malah tidak?" Denna menghentikan perkataannya sebab melihat ekspresi wajah Sekretaris Tomi yang misterius. Kenapa dia melihatku seperti itu. Dia bukan laki-laki cabul, kan? Jangan-jangan.

__ADS_1


Denna membayangkan tubuhnya yang sudah di gerayangi pria di hadapannya itu, kontan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kau sedang berpikir kotor?"


"Entahlah. Tapi, aku wajib waspada terhadap Anda, bukan?"


Tomi menghela nafas panjang sembari geleng-geleng kepala, pria itu pun kembali menyalakan mesin mobilnya.


Hei, kenapa diam saja? Katakan apa yang sudah kau lakukan padaku selama aku tidur!!


Sampai saat ini gadis itu hanya bisa mengumpat dalam hati. Tidak berani mengatakan apapun.


🌸🌸🌸


Mobil telah tiba di pelataran rumah. Sesegera mungkin Denna melepaskan seat belt yang masih terpasang pada pengaitnya.


"Besok Akhir pekan... ku tunggu ke datanganmu untuk menepati janji. Jangan sampai terlambat, kau mengerti 'kan?"


"Iyaaaaaa..." Lebih baik mengiyakan agar kau tak banyak bicara.


Braaakk! Suara pintu yang di tutup.


Kenapa dia ikut keluar, sih? Aneh... aaaah! Aku belum mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih tumpangannya, Tuan. Juga terima kasih atas kebaikan mu yang lain."


"A–aku masuk dulu." Denna terlihat ragu-ragu ketika hendak masuk ke dalam pagar rumahnya sementara pria itu terus saja berdiri di depan mobilnya.


Kenapa tidak masuk ke mobil, sih. Sana pergi...


"An–Anda tidak pergi."


"Kenapa harus suruh saya pergi. Kalau mau masuk, ya masuk saja."


"Tapi, Anda kan tamu sudah seharusnya saya menunggu Anda sampai jalan, 'kan?"


Cklaaakkk...!


Keduanya menoleh ke arah pintu utama rumah Denna yang terbuka. Sebelum sekretaris Tomi menjawab kata-kata Denna.


"Denna? Kenapa di luar saja?" Seorang ibu paruh baya tergopoh-gopoh mendekati mereka berdua. Menyapa sekretaris Tomi dengan ramah. "Tuan, Anda di sini?"


"Selamat malam, Bu." Mengangguk sekali dengan amat sopan.


Formal sekali... tapi memang seperti itu sih pembawaannya. (Denna)

__ADS_1


"Selamat malam, Tuan Sekretaris. Apakah Anda datang dengan Arumi?"


"Tidak, Bu. Saya kesini karena mengantarkan putri Anda." Terlihat bangga sekali pada dirinya sendiri saat mengatakan itu di depan ibunya Denna. Sementara gadis di sebelahnya memajukan bibirnya, mencibir.


"Oh?" Ibu Ratih tertegun sejenak sebelum beralih pandang pada putrinya. Ia melirik dari atas ke bawah, lalu kembali pada Sekretaris Tomi yang hanya menggunakan kemeja. Dan dengan cepat bergeser sekali lagi pada Denna. Lebih tepatnya jas yang melingkar di pinggangnya. Warnanya senada dengan celana sekretaris Tomi. Beliau pun menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terkejut.


"Apapun yang ibu pikirkan sekarang, semuanya tidak benar. Jadi jangan asal menafsirkan." Denna sudah bisa menebak ketika salah satu jari telunjuk ibunya mengarah padanya.


"Tapi?" Ibu Denna tersenyum sejenak pada Sekretaris Tomi lalu menarik lengan putrinya menjauh. "Kau kencan dengannya?"


"Sudah ku duga..."


"Hei...!"


"Tidak, Bu. Seperti yang ku bilang tadi, apa yang ibu pikirkan itu tidak benar."


"Tapi, ini apa?" Menunjuk jas di pinggang Denna.


"Panjang ceritanya," menjawab dengan malas.


"Pffftt...." Sang ibu tertawa sembari membungkam mulutnya sendiri membuat anaknya melirik sebal.


"Jangan mulai deh, Bu." Mendesah malas.


"Terserah apa katamu." Sang ibu langsung berbalik mendekati Sekretaris Tomi. Pria itu pun mengangguk sekali. "Tuan, masuklah lebih dulu. Kebetulan saya baru selesai masak hidangan makan malam."


"Apa?!" Denna mendekati mereka dan menarik lengan sang ibu pelan. "Ibu menyuruhnya makan malam? Untuk apa?"


"Kan Dia sudah berbaik hati mengantarmu. Bukan begitu, Tuan?" Bu Ratih sengaja bersuara keras hingga menimbulkan garis senyum di bibir Sekretaris Tomi.


"Ibu! Ibu ini apaan, sih? Beliau orang sibuk..."


"Terima kasih. Saya akan menerima tawaran Anda, Bu."


"Eh... apa?!" Gadis itu terkejut saat mendengar jawaban sekretaris Tomi yang tanpa pertimbangan langsung menerima ajakan makan malam.


"Hari ini adalah hari off, Saya. Tentunya saya tidak ada pekerjaan." Tersenyum manis.


"Oh, begitu rupanya. Baguslah... ayo silahkan masuk." Ibu Ratih yang terlihat senang langsung kembali menawarkan.


"Terima kasih, Bu."


"Bu, Ibu!" Denna kembali menahan ibunya dengan mimik wajah memohon.


"Sudahlah, tidak ada salahnya, 'kan? Dia bukan orang asing, Denna." Terkekeh tanpa suara. Sebelum melepaskan tangan putrinya dan kembali melanjutkan langkahnya. "Mari Tuan, jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri."

__ADS_1


"Idih! Apa-apaan ibu ini." Gadis itu menghentak satu kakinya pasrah saja mengikuti mereka yang sudah masuk lebih dulu.


__ADS_2