Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Kaktus yang berbunga


__ADS_3

Di dalam lift...


"Dasar Sekretaris sialan! Kau akan mendapatkan balasannya saat Kak Arga sudah ku miliki. Akan ku pastikan, kau akan di berhentikan secara tidak hormat saat itu juga! brengsek!!"


Gadis itu terus mengumpat geram. Ia memandangi dinding transparan pada lift tersebut. Melihat gedung-gedung di depan.


Pelan-pelan ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Baiklah, tenangkan dirimu Veronica. Kau harus bermain cantik. Kau sudah melangkah sejauh ini setelah aku membayar supir truk makanan itu untuk menabrak Kakak perempuan ku satu-satunya."


Vero mengusap keningnya keatas hingga ke belakang kepala. Menyibak rambut yang tergerai indah itu dari depan ke belakang.


"Aku tahu, aku memang sudah gila karena cintaku terhadapnya. Hingga mengorbankan Kakak ku sendiri."


Di awal, dia memang sempat merasakan penyesalan karena keputusannya untuk mencelakai Alicia. Bahkan Dia sendiri hampir membatalkan itu, yang sayangnya sudah terlambat. Karena sang sopir truk sudah jalan dan memasuki vila mereka.


Vero masih ingat. Wajah pucat yang beku itu di dalam peti mati sebelum di Makamkan. Gadis itu menangis tersedu-sedu, bercampur tawa. Di depan peti jenazah Kakaknya.


Antara senang namun menyesal. Veronica tidak pernah menyangka, ketika akhirnya ia berhasil memisahkan dua insan itu untuk selama-lamanya.


"Aaaah..." Vero menampar diri sendiri. "Apa yang ku pikirkan. Kenapa wajah pucat dan kaku itu melintas lagi. Tidak! Aku tidak perlu merasa bersalah. Bukankah itu pantas Dia dapatkan? toh selama ini Kakak sudah banyak mendapatkan pujian dan kebahagian. Sekarang adalah giliranku..."


Dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Berulang kali ia lakukan itu.


"Sekarang, aku berhadapan dengan ikan kecil yang biasa hidup di selokan. Tidaklah sulit bagiku untuk menyingkirkannya. Ya, Arumi... dia harus ku singkirkan. Tapi, bukan dengan cara membunuhnya. Dia harus tetap hidup, dalam kebencian Kak Arga padanya." Gadis itu menggigit ujung kuku ibu jarinya.


"Ayolah cari cara..."


Ting....!!!


"Ck!" Vero mengeluarkan ponselnya lalu membaca pesan singkat itu.


📲 Unknown number: Nona, aku ingin melapor. Bahwa hari ini, Istri Presdir Arga Sanjaya mengatur pertemuan pribadi dengan Dokter Kasih. Ada sesuatu yang mereka bicarakan. Terdengar sangat privasi dan penting hingga tidak ada yang boleh mendengarkan. Dan Nona perlu tahu, sesuatu yang penting itu sudah ku rekam diam-diam. Aku telah mengirim bukti rekaman percakapan itu. Silahkan dengarkan sendiri.


Buru-buru Vero menekan tanda unduh di layarnya. Setelah selesai ia pun tak langsung mendengarkan karena melihat pintu lift terbuka. Sehingga memutuskan untuk kembali memasukkan ponselnya lagi ke dalam tas.


Di lantai dasar, ia melangkah dengan cepat menuju basemen. Kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Aku tidak sabar, sebenarnya percakapan apa?" Vero pun menekan tanda play dan mulai mendengarkannya.

__ADS_1


Awalnya terdengar membosankan, hingga ia percepat. Lalu bergeming saat sampai pada inti dari pembicaraan itu. Pelan-pelan, bibirnya mengulas.


"Apa ini? Berita besar, yang Arga sendiri tidak tahu...?" Gumamnya masih terus mendengarkan hingga akhir. "Ya Tuhan, semesta mendukung semua rencanaku. Dia, akan tersingkir karena kebodohannya sendiri... hahahaha!!! Arumi bodoh!"


Gelak tawa masih terdengar di dalam mobil. Veronica merasa senang saat mendapati semua itu. Ia pun jadi memiliki ide, untuk menyingkirkan semua yang bisa di jadikan pembelaan untuk Arum ketika ia sudah terpojok di ujung jurang nantinya.


🍂


🍂


🍂


Malam datang...


Mobil yang membawa Arga dan Arum berhenti di depan lobby gedung Luxurious Restaurant. Seorang pria dengan usia yang hanya berbeda beberapa bulan dari Arga yang tak lain adalah owner restoran ini dan beberapa pelayan menyambutnya di depan.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Sanjaya." Sapa pria berjas putih.


Arga dan Arum hanya tersenyum menerima sambutan hangat itu dari owner-nya.


"Apa Anda selalu menyambut tamu di depan seperti ini?" Tanya Arga tertawa.


"Anda pikir, saya punya banyak waktu untuk itu, Tuan?" Balasnya sembari tertawa juga.


Rese! Mulutnya masih sama seperti saat kuliah dulu... (Sang Owner)


"Hehehe... Ketika saya membaca nama Presdir Arga Sanjaya dari Andara Group. Saya langsung antusias sekali. Saya rasa hampir semua owner restoran akan melakukan itu jika kedatangan tamu VVIP."


"Benarkah…?" Arga melingkari pinggang istrinya, ketika tatapan pria di depannya terus tertuju pada Arumi. Kau lihat apa? Dia istriku, sialan!


"Tentu, Tuan. Bagi saya, ini adalah suatu kehormatan karena Anda mau datang ke resto kecil saya."


"Haha, Anda terlalu merendah Tuan Frederic. Luxurious Restauran adalah resto bintang lima saat ini. Anda bilang ini hanya restoran kecil? Apa Anda tengah menghina ku yang tak memiliki restoran?"


"Hahaha, tidak seperti itu, Tuan. Walaupun Anda tidak punya? tapi Restoran saya ini berdiri di atas lahan real estate milik Andara Group."


Puas! Itu kan yang ingin Anda dengar? Dasar!


Keduanya kembali tertawa. Membahas sesuatu yang tidak di mengerti Arumi saat ini. Sejenak fokus Arum teralihkan, pada kaktus bulat yang berada di atas meja resepsionis.

__ADS_1


Kaktus yang berbunga? –Arum membatin. Ia pun melangkahkan kakinya lebih dulu mendekati meja itu.


Sang pegawai yang berdiri di sana kontan membungkukkan badannya sebentar.


"Emmm, mari Tuan saya antar ke private room. Tamu Anda juga sudah tiba lima menit yang lalu."


"Begitu ya?" Arga menoleh kearah sang istri yang sedang memandangi kaktus tersebut.


Ini kaktus jenis Gymnocalycium, dia bisa berbunga loh, Kak. Bunganya juga cantik. –Arga mengingat kata-kata Alicia yang memang menyukai bunga dan berbagai tanaman hias. Salah satunya kaktus itu yang menjadi favoritnya.


Ia pun melangkahkan kaki mendekat Arumi. "Apa yang kau lihat, Sayang?"


"Kaktusnya cantik. Aku pikir dia tidak akan bisa berbunga. Ternyata bisa..."


"Apa kau suka kaktus?" Tanya Arga. Wanita itu pun menggeleng sembari tersenyum.


"Tidak juga. Tapi saat melihat kaktus ini, aku langsung merasa tidak asing. Dan setelah ku ingat-ingat, dulu aku pernah bermimpi. Ada seorang wanita cantik yang menyerahkan pot berisi kaktus seperti ini padaku. Aku lupa kata-kata apa saja yang ia ucapkan. Intinya ia ingin aku menjaganya..."


Arga tersenyum. "Bagus lah jika kau tidak menyukainya. Karena Aku tidak mau kau menyukai kaktus ini."


"Eh, kenapa?"


"Aku tidak mau kau terlalu menyerupai Dia."


Mendengar itu Arumi langsung menangkapnya– Jadi Nona Alicia suka kaktus?


"Baiklah, Sayang."


"Jangan cemburu. Aku tidak bermaksud mengingatnya."


"Tidak, aku tidak cemburu, kok." Arum memindahkan tangan Arga ke perutnya. "Aku percaya cintamu sudah berpindah kepadaku."


"Aneh, sejak pulang tadi. Kau memintaku untuk menyentuh perutmu terus?" Tanya Arga sembari mengerutkan kening. Arum lantas tertawa.


"Memang apa salahnya saat aku ingin suamiku menyentuh perutku?" Bertanya balik sembari menggelayut manja.


"Kau harus tahu, aku punya area favorit di tubuhmu untuk ku sentuh," bisiknya membuat Arum melebarkan matanya.


"Sayang–" memukul dada Arga kemudian. Pria itu tertawa lantas mengecup pipi istrinya gemas.

__ADS_1


"Ayo jalan." Menekuk sikunya yang tentu saja langsung di sambut baik oleh sang istri. Mengaitkan tangannya di lengan itu dan berjalan bersama.


Hal itu lantas membuat para staf yang melihat kemesraan mereka menjadi iri pada istri Presdir Andara Group tersebut. Seolah semuanya langsung berandai-andai, berharap jiwa mereka bisa bertukar walau hanya dua puluh empat jam.


__ADS_2