
Di dalam rumah...
Mereka berdua duduk di atas meja makan. Sementara Ibu Ratih sibuk menuangkan sup ke dalam mangkuk kecil.
"Ini sup kepiting, kesukaan keluarga kami. Anda datang di waktu yang tepat, karena hidangan ini lumayan jarang ada di meja makan. hehehe... silahkan di cicipi." Meletakkan mangkuk kecil itu di dekat sekretaris Tomi.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama. Ayo cicipi." Pintanya sembari menyerahkan sendok ke pada pria tersebut.
Dengan sopan Tomi menerimanya, kemudian menyendokkan sedikit kuahnya untuk di cicipi.
"Duh, orang berkelas itu beda, ya... cara makannya. Hehehe..." gumamnya, sembari melirik kearah Denna yang sudah ogah-ogahan melihat sang ibu yang seperti sedang tebar pesona pada calon menantunya. Eh... "Bagaimana, Tuan?"
"Ini enak sekali..." pujinya jujur.
"Benarkah?"
"Benar. Rasanya pas, dan lezat. Boleh saya lanjutkan makan?"
"Tentu saja. Habiskan, kalau mau lagi, tinggal bilang. Di panci masih banyak."
"Terima kasih, Anda baik sekali." Tomi melanjutkan makannya dengan sopan sesuai Table manner yang sudah beliau kuasai ketika makan.
"Bu, punya ku mana?"
"Ambil saja sendiri, sana. Jangan manja!"
"Dih... dasar pilih kasih." Kesal, Denna pun beranjak dari kursinya mendekati panci berisi sup kepiting yang masih berada di atas kompor. Sementara sang ibu tidak peduli.
Diiing... Doooong...
Bu Ratih reflek menoleh kearah pintu ketika mendengar suara bel. Sama halnya dengan Tomi yang mengangkat kepalanya.
"Mohon maaf, saya keluar sebentar. Mungkin anak bungsu saya sudah kembali."
"Ya, Bu," jawab Tomi sebelum Bu Ratih beranjak dan berjalan keluar dari area makan yang menjadi satu dengan dapur.
Tomi menoleh ke sisi samping. Sebuah pintu sliding kaca yang berada di sebelahnya membuat dia tersenyum sembari menghela nafas.
Taaak! Denna meletakkan mangkuknya di atas meja. Sekretaris Tomi pun menoleh.
"Sepertinya, saat ini Anda banyak tersenyum, ya, Tuan?"
"Memang kenapa? Apakah ada yang salah?"
"Tidak sih. Aneh saja..." gumamnya sembari meraih sambal yang sigap di sentuh Tomi, berniat menggesernya maju untuk Denna. Namun perbuatan spontan itu membuat Tomi menyentuh punggung tangan Denna yang sudah lebih dulu meraih mangkuk kecil berisi sambalnya. Gadis itu pun menaikkan biji matanya tertuju pada Tomi.
Deg... Deg... Keduanya tanpa sadar saling bertatapan tanpa berkedip. Tomi yang sadar lebih dulu langsung melepaskan tangan Denna.
"Maaf, Ku pikir kau tidak sampai meraihnya." Tomi yang terlihat salah tingkah langsung meraih gelas berisi air mineral. Berbeda dengan Denna yang masih tertegun, pelan-pelan menarik maju mangkuk sambalnya sambil menunduk.
Apa ini. Kenapa aku jadi mendadak gugup begini? (Denna)
Sementara itu di luar, terdengar beberapa langkah kaki juga tawa Bu Ratih dan seorang wanita yang tak asing di telinga Tomi.
"Silahkan, Arumi, Tuan..." Bu Ratih mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
"Bluuurmmmp...!" Tomi yang terkejut hampir saja menyemburkan airnya. Untung masih bisa ia tahan dengan cara menggembungkan pipinya menahan air di dalam mulut.
Klaaaaang... Sebuah sendok turut terjatuh saat dirinya reflek berdiri. Arga Sanjaya kini ada di depan mata, tengah menatap tajam kearah Sekretaris pribadinya.
__ADS_1
i'm watching you, Tomi begitulah kira-kira penggambaran yang di tangkap oleh Tomi
Gleeeek air itu seketika ditelanya. "Selamat malam, Tuan"
membungkuk sopan pada bosnya itu. Tomi benar-benar tidak menyangka jika Tuan Arga dan istrinya akan datang ke rumah ini.
seperti tidak ada waktu lain saja, kenapa harus malam ini? (Tomi)
"Arumi, kau tiba-tiba datang?" sapa Denna turut salah tingkah. Sebenarnya tidak ada yang di sembunyikan. Hanya tidak enak hati saja karena ada Tomi di rumahnya
"Ya, aku hanya habis jalan-jalan dan tidak sengaja lewat sini. Jadinya mampir." Menoleh ke arah sekretaris yang sedang menunduk itu. Namun Arumi tidak mau bertanya, ia pun tersenyum jail pada temannya.
"Tomi...! Keluar sebentar." Arga membalik badan sebelum melenggang pergi. Tomi pun mengangguk sekali, pria itu langsung menyusul Tuannya.
Setelah itu suasana dapur menjadi hening sejenak. Arumi menoel Denna dengan sikunya.
"Denna, kau ini diam-diam, ya?"
"Apa sih? Kau salah faham."
"Tapi, tadi memang Denna pulang dengannya." Sambung Bu Ratih seolah menambah bukti tebakan Arumi kalau Denna ada hubungan diam-diam dengan Sekretaris Tomi.
"Ibu jangan menebar gosip. Sumpah, ini tidak benar Arumi."
"Mau benar atau tidak. Tapi kau telah mengambil hati si pria kaku itu," goda Arumi sembari tertawa lirih.
"kau ini bicara apa?"
"ya ampun, Dennaaaa..."
"Sudahlah jangan menggodaku. Bagaimana nasib sekretaris Tomi? Apa Tuan Arga akan memarahinya?"
"Cieeee, yang khawatir?"
"Hahaha, tenang saja. Suamiku sudah bukan pria pemarah lagi kok."
Ku harap begitu. Aku melihat wajahnya pucat sekali saat melihat Tuan Arga di sini. (Denna)
.
.
.
Beralih ke ruang tamu...
"Sudah berapa lama?"
"Emmm?"
"Jawab saja?!"
"Saya, saya benar-benar tidak ada hubungan apapun dengannya, Tuan."
"Kau suka padanya?"
Tomi menunduk. Tidak tahu harus menjawab apa ia pun memilih diam saja.
Tidak mungkin saya menjawab itu di sini, Tuan.
"Kenapa diam? kau suka padanya?"
__ADS_1
"Saya?" Tomi melonggarkan sedikit dasinya.
"Tomi!"
"Ya saya tertarik padanya." Sial, ku harap tidak ada yang mendengarnya.
Arga menarik separuh bibirnya tersenyum. "Kenapa susah sekali mengakuinya, sih?"
Anda pikir semudah itu apa? lagipula saya belum terlalu jauh. (Tomi)
"Ya, ya... kalau di lihat-lihat memang sudah seharusnya kau punya pasangan. Aku sering mendengarmu yang gagal kencan buta berkali-kali. Miris sekali hidupmu." Suara Arga terdengar mengejek.
Memang Anda pikir karena siapa saya sering gagal kencan buta? Iiissshhh!
"Baiklah... baiklah." Arga menepuk-nepuk pundak Tomi. "Kau sudah dewasa rupanya. Waktu berputar begitu cepat."
Hei, umur saya tidak jauh berbeda dengan Anda, Tuan. Jangan membuatku semakin malu. Yang benar saja.
"Emmm, Ibu pemilik rumah ini mengajak kita makan malam. Ayo sebaiknya kita sambung acara makan-makannya"
"Sepertinya saya akan pulang saja, Tuan."
"Jangan seperti itu. Ini rumah calon mertuamu."
"Mmmmm..." Bisakah Anda kecilkan suaramu, Tuan. Tomi yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menurutnya. Kembali masuk ke area dapur.
Hingga suasana kikuk tercipta antara Denna dan Tomi yang duduk bersebelahan.
Situasi macam apa ini? Kenapa malah jadi begini, sih? (Denna)
"Ayo tambah lagi, Tuan." Bu Ratih terlihat senang sekali melihat pemandangan ini.
Mungkin seperti ini jika aku punya dua anak perempuan sementara dua menantuku turut kemari dan makan malam. Hehehe... (Pikiran ibu-ibu)
"Saya sudah cukup kenyang." Arga yang hanya mengkonsumsi sup kepiting saja sudah menyelesaikan makannya.
"Sayang, ku dengar temanmu ini habis mendapatkan rezeki besar. Setelah Novelnya di borong orang tak di kenal?"
"Emmmppp!" Tomi mendadak sedikit terdesak.
"Iya, Suamiku. Benar begitu, 'kan, Denna?" Tanya balik pada Denna yang menjawabnya dengan anggukan kepala penuh semangat.
Arga yang tersenyum jail langsung menggeser pandangannya pada Tomi.
"Tomi?"
"Ya, Tuan?" tolonglah jangan berbicara yang aneh-aneh, Tuan.
"Bukankah beberapa waktu belakangan kau nampak sibuk dengan penerbit Lavender?"
Gleeeek... "A–apa maksudnya?" Apa yang sedang Anda lakukan. Berhentilah disini, Tuan?
"Ya aku tahu kau juga habis memborong buku, 'kan?"
"Itu?"
Traaakkk... Denna tiba-tiba menjatuhkan sendoknya, sebelum menoleh kearah Sekretaris Tomi.
"Aku tahu kau penyuka Novel dan komik. Tapi aku tak pernah mengira kau akan memborong banyak novel online itu agar bisa diterbitkan."
"Tunggu, Tuan Sekretaris?" Gadis itu terkejut bukan kepalang.
__ADS_1
Sementara yang ada di sebelahnya hanya membisu. Tomi menurunkan kedua tangannya yang mendadak dingin dan gemetaran. Keringat sebesar biji jagung mulai nampak di keningnya. Dan kalau bisa ia benar-benar ingin kabur saja dari tempat ini.