
Sebelumnya...
Arum tengah asik menikmati es krim. Sementara Denna tengah menerima telepon dari seberang.
"Siapa?" Tanya Arum sesaat setelah Denna selesai menerima panggilan telepon.
"Rayyan..." jawabnya kemudian, memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya.
Arum terdiam, memasukkan suapan kecil es krim rasa vanilla choco chips.
"Dia bilang, kita harus pulang. Karena ada sesuatu yang ingin ia lakukan bersama-sama," imbuhnya.
"Apa dia datang ke rumahmu?"
"Ya..." jawabnya sembari menikmati smoothies miliknya.
Arum menghela nafas. "Aku agak canggung bertemu dengan-nya sekarang, lebih-lebih setelah kejadian waktu itu."
"Memang ada Kejadian apa?"
"Waktu itu, dia sempat kena pukul oleh bodyguard ku."
"Oh, ya? Kok bisa?"
"Entahlah, karena aku memang di larang terlalu dekat dengan teman laki-laki. Pada saat itu, kami tidak sengaja mengobrol di lobby gedung simfoni, dan tiba-tiba saja Rayyan dipukul."
"Berlebihan juga, ya. Apa suamimu se-posesif itu?" tanya Denna penasaran.
Arum mengedikan kedua bahunya. "Bisa di bilang ... iya, tapi tidak juga."
"Bisa jadi dia terlalu cinta. Hihihi... jadi penasaran. Bagaimana sih, menjalani hubungan dengan pria yang posesif. Oh... jiwa haluku mulai meronta-ronta, nih."
"Yang pasti tidak seenak yang ada pada pikiran kotormu itu, Denna!"
"masa sih?"
Kau tidak akan mengerti kehidupan sesungguhnya, ketika menikah dengan orang yang memiliki kekuasaan... Arumi membatin sembari memasukkan suapan es krimnya lagi.
"Hmmmm... aku jadi penasaran. Bagaimana ya, rasanya menikah dengan laki-laki tajir namun posesif. Pasti kesel-kesel gemes." Denna mengatup ke-dua pipinya sendiri, membayangkan sosok pria kekar dengan perut sixpack-nya. Menggebrak pintu kamar sembari mengungkungnya di depan. Ekspresi cemburu yang berujung aksi erotisme. "Kyaaaa!" Jeritnya tiba-tiba membuat Arum langsung memukul bahunya akibat terkejut.
"Kau mau di kira kesurupan, ya? Tiba-tiba menjerit seperti itu!"
"Hahahaha... maaf-maaf. Aku terlalu banyak baca komik Negeri ginseng juga novel dewasa. Di tambah lagi ceritamu, membuatku membayangkan satu hal yang... beeeeh!" Denna tak mampu mendeskripsikannya secara gamblang. Membuat Arumi geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kenapa tidak kau coba saja, kalau begitu?"
"Kau bercanda, ya? Aku kan jomblo." Mendengus.
"Ajak saja Yayan!" ledek Arum yang memunculkan reaksi tak mengenakan. Gadis itu mendelik tajam. "Hahaha, serius sekali. Aku hanya bercanda."
"Huuuh... ku anggap dia itu sudah mati. Kau tahu, gara-gara kasus uang itu. Aku jadi bekerja mati-matian demi bisa mengganti uang Ibuku."
"Lalu, apa hutangmu lunas?"
"Tidak... untungnya ibuku baik hati. Cukup bekerja semampuku dan menyerahkan seluruh hasil gajiku. Ibu sudah menganggapnya lunas."
"Kau bekerja berapa bulan? Ada satu tahunan?"
"Emmmmm, lebih dari itu."
"Waaaah..." Arum menujukkan ekspresi kagum.
"Hahaha, kau percaya aku bisa bertahan selama itu?"
"Sepertinya tidak? Kau berbohong, ya?"
Gelak tawa masih keluar dari bibir Denna. "Sungguh, ekspresimu membuatku ingin terus tertawa."
"Kau tahu? aku hanya bekerja tak lebih dari dua bulan. Itupun di restoran ayam siap saji yang dimanejeri oleh pamanku sendiri. Dan lagi, aku berhenti karena di pecat."
"Di pecat? Sebabnya?"
"Ya ... karena aku banyak main ponsel di jam kerja. Padahal bukannya main ponsel untuk mabar, tapi ketik naskah demi bisa tetap update Novel online-ku. Paman ku saja berlebihan..."
"Hadeeeh... pantas saja. Lagian, sebagai karyawan kan memang harus memiliki tanggung jawab. Kalau seperti itu, namanya kau tidak niat!" Arum sudah bisa menebak, Denna yang tak bisa lepas dari ponselnya sudah pasti akan sulit untuk bekerja di luar.
"Mau bagaimana lagi. Itu pekerjaan yang paling aku cintai. Walaupun harus berhadapan dengan realita, dimana aku harus bekerja dan mendapatkan penghasilan tetap. Tapi aku tidak akan menyerah. Karena aku sedang menunggu, naskahku pasti bakal banyak pembaca. Dari sanalah aku bisa membuktikan ke semua orang." Semangat berapi-api tengah di tunjukkan gadis yang usainya berbeda tiga bulan lebih muda dari Arumi. Sementara yang menonton hanya bisa mendoakan agar dia bisa hidup lebih baik lagi.
***
Di rumah...
Keluarga Denna sudah berkumpul di taman belakang. Ada Rayyan, dan Senna adik kandung Denna yang masih berusia enam belas tahun, tengah menyiapkan perapian untuk pesta barbeque sederhana di rumah itu.
Ibu menyiapkan perbumbuan, di atas matras yang digelar. Sementara Ayah memasang tenda yang di hiasi lampu-lampu kecil berwarna-warni.
"Woooaaah..." Denna membuka mulutnya lebar-lebar. Merasa takjub dengan taman belakang rumah yang mendadak berubah dari kesan biasa.
__ADS_1
"Akhirnya kalian pulang juga, sini..." seru Bu Ratih pada Arum dan Denna yang masih berdiri di depan pintu sliding kaca.
Rayyan yang mendengarnya langsung menoleh. Tatapannya tertuju pada Arumi. Wanita yang walaupun penampilannya sudah berubah, namun kesan kalem masih melekat di dirinya.
Pemuda itu mengulas senyum, dengan tangan sibuk mengipasi bara api yang sedang membakar beberapa bonggol jagung manis.
"Hei, kau sudah di sini?" Sapa Denna menepuk bahu Rayyan.
"Sudah dari senja tadi," jawabnya sebelum menoleh pada Arum. "Hai, Arum... apa kabar?"
"Aku baik. Seperti yang kau lihat..." jawabnya ramah. Ia pun segera mendekati ibunya Denna. Membantu mengoleskan bumbu pada ikan nila yang siap di bakar.
"Kenapa tiba-tiba, kau mengajak kami pesta barbeque, Ray?" Tanya Denna.
"hanya ingin saja..." jawabnya yang menimbulkan kesan tidak puas di wajah Denna saat menerima jawaban itu.
"Rayyan bilang ingin melakukan kegiatan yang seharusnya akan di lakukan di puncak. Karena dia tahu Arum tidak ikut, Nak," tutur Bu Ratih menambahkan.
Arum pun tergugu. Perasaan, dia belum bilang apa-apa pada ibunya Denna. Dan baru mengatakan itu tadi saat perjalanan ke mall. Pasti gadis yang saat ini tengah manggut-manggut itu sudah memberitahukannya pada Rayyan.
"Denna juga bilang tidak ikut. Dia menghormatimu yang jarang menginap. Jadilah kami menunda kepuncaknya," sambung Pak Helmi sembari terkekeh.
"Haduh, kenapa jadi gagal pergi begini? Padahal tidak apa loh, kalau besok aku pulang. Sungguh! Nikmati saja momen keluarga kalian..." Arum merasa tidak enak hati.
"Tidak-tidak... kami sudah memutuskan untuk bersenang-senang di rumah seperti ini. Kalaupun harus keluar, bisa kan ke tempat wisata yang ada di Jakarta saja?" ujar Ibu Ratih.
"Oh... bagaimana kalau kita ke Dunia fantasi? kan memang ada niatan untuk mengunjungi taman hiburan yang ada di Bogor?" sambung Pak Helmi.
"Ide bagus Ayah... yang penting kita tetap jadi ke rumah hantu!" Seru Senna bersemangat.
"Ya ampun... aku jadi terharu." Arum berbinar.
"Kau lihat sendiri? Saat kau datang ke rumah kami, sudah pasti kami akan memperlakukanmu selayaknya anggota keluarga," timpal Denna yang semakin membuat kedua netra peri itu berkaca-kaca.
"Terima kasih semua..." gumamnya, tak bisa berkata-kata lagi. Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Arum dan Denna kini tengah memanggang daging tipis di atas hotplate. Ayah dengan tubuh tambunnya juga tengah bernyanyi riang sembari memetik gitar, bersama ibu Ratih di sisi Beliau bertepuk tangan turut bersenandung.
Momen kehangatan keluarga yang tidak pernah Arum nikmati lagi semenjak ayahnya berpulang, kini bisa ia rasakan kembali di keluarga Denna.
Drrrrrrttt... Drrrrrrttt... Drrrrrrttt...
"Oh... aku permisi sebentar, ya." Di sela-sela keasikannya menikmati makanan. Arum harus menjauh sejenak sebab adanya panggilan telepon. Rayyan pun meliriknya, memandangi Arum yang berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1