Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
bayang-bayang


__ADS_3

Tomi yang baru masuk ke dalam kamar setelah keluar membeli sesuatu langsung di sambut oleh dering panggilan dari ponsel yang sedang di charge.


Tuan Sanjaya is calling...


"Ya ampun. Beliau sampai menelfon puluhan kali?" Buru-buru Tomi menerimanya. "Ini saya, Tuan."


📞 "Lama sekali menerima panggilanku!!!" Pekik Arga dari sebrang hingga Tomi harus menjauhkan sejenak dari telinganya.


"Maaf tadi saya habis keluar, Tuan. Ponsel tidak di bawa karena daya sudah tinggal lima persen. Jadi saya charger di dalam kamar tanpa saya matikan. Maaf sekali lagi, Tuan. Saya bersalah..."


📞 "Cih!"


"Apa terjadi sesuatu? Apa harus saya datang ke lokasi Tuan saat ini?"


📞 "Tidak usah. Saya hanya ingin tahu, kenapa uang seratus ribu di tukar dengan receh menjadi kembalian namanya?"


"Anu? Saya tidak mengerti maksud Tuan..." Tomi mengerutkan keningnya.


📞 "Dasar! percuma saja aku bertanya padamu kau pun rupanya memang tidak mengerti."


Memang saya terkadang tidak mengerti tentang jalan berpikir Anda Tuan. (Tomi)


📞 "Sudahlah atur saja jadwal ku untuk mengunjungi museum Bank Indonesia."


"Untuk apa, tiba-tiba Tuan mau kesana?"


📞 "Sudah ku bilang aku ingin belajar tentang jenis-jenis nominal uang. Termasuk sistem p penukaran uang seratus ribu menjadi receh yang lusuh... Aku tidak suka di hina seperti pengemis. Dasar tukang es krim sombong, berani sekali dia memberiku uang recehan setelah aku membeli es krim seharga sepuluh ribu."


Apa? Tomi menjauhkan ponselnya dari telinga. Menatap layar ponsel dengan mata melebar. Apa anda sebodoh itu?


Terdengar suara Arumi dari sebrang tengah menenangkan Arga yang masih bersungut-sungut tidak jelas. Laki-laki itu pun menepuk jidatnya.


Nona, Anda bawa Tuan Muda kemana, sih?


"Baiklah Tuan. Besok kita akan ke museum Bank Indonesia." Terdiam sejenak mendengarkan ocehan Arga Sanjaya setelah itu menjawab dengan kata baik, baik, dan baik. Tomi pun menghela nafas setelah panggilan terputus.

__ADS_1


"Bisa gila aku lama-lama..." Tomi meletakkan ponselnya di atas meja ia sedikit memaklumi karena Arga sejak kecil teramat jarang memegang uang cash. Dan lebih sering menunjuk-nunjuk barang apapun yang ia inginkan kemudian membayarnya dengan kartu. Pun apabila hendak jajan ia akan meminta asisten atau pengasuh pribadinya yang membelikan. Jadi wajar saja jika pria itu tak mengenal wujud pecahan uang di Indonesia.


Setelah panggilan telepon terputus Tomi langsung melanjutkan kegiatannya untuk berolahraga.


Ia mengawalinya dengan melakukan warming up/pemanasan lebih dulu. Baru setelah itu mengambil barbel kecil dan menggerakkannya sembari duduk.


Satu tangannya bergerak naik turun, sementara pandangannya menatap kosong ke depan.


Dasar kalian orang kaya angkuh, b*j*ng*n tengik!!


Plaaaak!!! Nyaring suara kulit yang bertemu telapak tangan itu menggema di telinganya. Tomi bahkan sampai melebarkan mata dan menghentikan gerakan tangan yang sedang menggunakan barbel. Kemudian menyentuh tengkuk yang tiba-tiba berdenyut tanpa sebab dengan tangan sebelahnya.


Sejenak ingatan tentang gadis yang sedang mengarahkan dua jari tengahnya melintas di kepala.


Sekretaris Tomi menggeleng cepat. Ia kembali melanjutkan gerakan olahraganya dengan fokus sesuai urutan yang benar.


Kini langit semakin gelap. Tomi memandangi dinding kaca sembari berlari di atas alat treadmill elektrik miliknya.


Sampah! Binatang! Zionis!!! Apa lagi yang pantas untuk menggambarkan kau dan Tuanmu itu.


Wajah bringas gadis itu terlihat lagi dalam kepalanya. Terlihat jelas bibir pink alami Denna yang sedang tersenyum sinis. Ya, fokus bagian itu. Bibir!


Bruuuukk... "Aaaaaaarrggggg..." Dia yang tidak bisa mengimbangi kecepatan dari alat tersebut akhirnya terjatuh kemudian.


"Sial!" Duduk dengan satu kaki di tekuk dan satunya di luruskan. "Apa yang sedang ku pikirkan? Mungkinkah dendam? Gadis itu benar-benar, ya..."


Tomi memilih untuk melakukan gerakan pendinginan sebelum mandi.


Selang beberapa menit kemudian pria itu keluar berjalan menuju dapur demi membuat kopi untuk dirinya sendiri.


Ke-dua matanya menekuri gelombang kecil yang berbentuk lingkaran di cangkirnya. Samar-samar gambaran wajah gadis itu muncul di sana.


Tuan Sekretaris? mau ku bubuhi Sian*da di kopimu? Suara genit gadis itu terdengar di telinga.


"Iiiiisssshhhh!!!" Mengaduk brutal hingga beberapa cairan kecoklatan dari dalam gelas itu tumpah kemana-mana. Tomi membanting sendoknya ke atas meja lalu memilih untuk keluar saja tidak jadi meminum kopinya.

__ADS_1


–––


Di luar udara terasa sejuk, pria yang kini sedang menikmati suasana malam yang sunyi dari balkon gedung apartemennya memandang langit bertabur bintang.


Hal yang biasa ia lakukan ketika sudah terlepas dari beban pekerjaannya. Walau ia tahu, besok pagi akan kembali merasakan stress. Lebih-lebih Tuannya sedang kembali berbunga-bunga.


"Heran, kenapa orang-orang bisa segila itu dengan cinta?" gerutunya. Tomi yang belum pernah pacaran hanya bisa menggambarkan kebodohan bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta.


Sejenak mengingat sesuatu. Tomi bergegas mengeluarkan ponsel dari saku celana training nya dan membuka aplikasi membaca.


Senyum bahagia pun muncul. Author favorit telah mengupdate lima episode baru sekaligus. Dengan perasaan senang, pria itu langsung membuka dan membacanya.


Dalam lima episode baru itu, sang peran utama wanita belum menyadari jika sosok CEO yang ia kagumi itu adalah sesosok mahkluk legendaris yang kini menjelma menjadi manusia untuk mencari pengantinnya yang telah mati ribuan tahun yang lalu.


Biji matanya terus bergerak-gerak mengikuti setiap kata yang di tulis dengan rapi oleh penulisnya. Tomi pun terpaku ketika di bab terakhir sosok pria itu menyadari jika karyawan bar-barnya adalah sosok pengantin manusianya yang telah bereinkarnasi dan hidup di jaman ini.


Bersambung...


"Mana tombol next-nya? Kenapa bersambung... hei?! Ck!" Tomi kesal sendiri di saat-saat menegangkan justru Author menggantungkan cerita. "Ini yang tidak ku suka dari novel elektronik. Apa tidak ada novel cetaknya?" Emosi sendiri.


Sesaat ia menoleh kearah pot panjang berisi tanaman hias. Ia pun mengingat noda yang ada di jas dan kemejanya adalah noda tanah yang basah.


"Nona lumpur?" gumamnya sejenis sebelum masuk guna mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaiannya.


Tak lama ia kembali sembari membawa kemeja putih yang masih tergantung di hanger. Ya, kemeja yang sempat kotor karena ulah gadis itu.


Aku tidak tahu, apakah kelakuanku bisa di sebut kekanak-kanakan?


Terdiam sejenak sembari memikirkan sesuatu. Namun seulas senyum jahat langsung muncul dari bibirnya. Tomi mengambil segenggam tanah yang sedikit basah itu.


"Tidak! Ini hanya sebuah pelajaran untuk gadis tidak beretika seperti Dia." Tangannya yang kotor langsung menyentuh kemeja putih tersebut dan melumurinya dengan tanah. "Nona Denna, Anda harus tanggung jawab atas rasa malu ku ini...." Tertawa kemudian.


Di sisi lain.


Gadis yang sedang menulis episode terbaru untuk Novelnya mendadak merinding. Ia menyentuh tengkuknya.

__ADS_1


"A–apa ini? Kenapa tiba-tiba ada hawa negatif di sekitarku?" Menoleh ke kanan dan kiri hingga ke belakang pula, bahkan kolong meja. "Hiks, beberapa hari tidur dengan Arum. Sekarang tidur sendirian jadi takut. A–aku harus memutar sesuatu yang bisa menyingkirkan roh halus di kamar ini."


Gadis itu pun meraih ponselnya dan membunyikan sesuatu sebagai pereda rasa takutnya yang muncul tiba-tiba.


__ADS_2