Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
kejutan


__ADS_3

Denna menghentakkan kemeja putih tersebut lalu menggantungkannya ke tiang jemuran sesaat sudah di pasang hanger.


Setelah berjibaku dengan noda tanah yang mengering dan cukup sulit untuk di singkirkan akhirnya tugas mencuci telah selesai. Kini dia telah bebas dari hutang yang menjeratnya. Membawa keyakinan, jika dia tidak akan berurusan lagi dengan sekretaris Tomi.


"Yeaaaah! Aku bisa pulang sekarang, kan?" Menepuk ke-dua tangannya lalu mengusap peluh di keningnya.


Ia pun menendang pelan ember di hadapannya hingga benda yang terbuat dari plastik itu sedikit terpental dan berhenti di pojok ruangan. Denna langsung melenggang pergi dari tempat tersebut.


–––


Berjalan dari gerbang masuk gedung apartemen mewah. Gadis itu melangkah lunglai menyusuri jalan trotoar berniat untuk naik kendaraan umum dari halte khusus yang tak jauh dari lokasinya saat ini. Namun sebelum itu, ia menyentuh perutnya yang sedikit keroncongan.


"Yaaah, lapar pula. Tadi makan siang ku tidak maksimal gara-gara kanebo kering." Mengusap perutnya yang kembali bergemuruh minta di isi.


"Pengen makan yang tidak terlalu berat di jam tanggung ini, apa ya?" Berpikir sejenak. "Nasi Padang kayanya enak." gumamnya kemudian kala mengingat gulai cumi dan rendang yang nikmat dengan kuah orange plus sambal jika menyiram nasinya.


Denna bergegas mencari warung makan Padang yang berada tak jauh dari sana sebelum menuju halte busway.


Triiiiiiiiing...


Panggilan telepon seluler membuatnya buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.


"Nomor siapa ini?" Sedikit ragu-ragu namun Denna tetap menerimanya. "Hallo?" sapanya masih dalam posisi melangkahkan kakinya.


"Halo, selamat sore. Ini benar saya sedang berbicara dengan Dhe_nha? Penulis buku Ahool of love?"


"Iya benar, maaf ini dari mana?"

__ADS_1


"Kami dari penerbit Lavender yang sudah mendapatkan izin dari pihak NovelXX untuk menerbitkan Novel Anda yang berjudul Ahool of love untuk dijadikan Novel cetak."


Denna menghentikan langkahnya saat mendengar kabar itu. "Penerbit Lavender? Benarkah, ini dari tempat produksi buku terbaik di negara ini?"


"Benar, Nona. Kalau Anda tidak percaya bisa mendatangi kantor kami di alamat yang akan kami kirim nantinya."


Gadis itu tersenyum lebar. "Saya percaya Pak, sangat percaya. Hehehe..."


"Baiklah, berhubung Novel tersebut belum tamat. Bisakah Anda langsung melanjutkan hingga tamat ceritanya?"


"Bi–bisa pak. Emmm, berapa lama batas waktu pengumpulan naskah?" Denna bersemangat.


"Satu bulan Nona. Satu lagi, bisa kirim alamat email Anda? Via chat tidak apa. Nanti pihak kami akan mengirim beberapa bahan revisi bab yang sudah Anda publis..."


"Baik, Pak. Saya akan kirim. Tapi, yang saya tahu. Ketika novel di cetak saya juga di kasih target untuk menjual buku saya, 'kan? Pertanyaan, jika saya hanya mampu menjual tak lebih dari sepuluh bagaimana?"


"Tidak masalah, Nona. Ada seseorang yang sudah memesan buku Anda sebanyak seribu pcs."


"Benar, seribu pcs untuk cetakan pertama."


"Tunggu, cetakan pertama. Apa kemungkinan akan di cetak ulang lagi?"


"Tentu Nona. Client yang memesan buku justru meminta sekitar lima ribu buku. Tapi kami minta bertahap."


"Li-li-li-lima ribu?" Denna tidak percaya. Berapa ya kira-kira royalti yang ku dapat? Kalau sampai pembelian buku ku sebanyak itu. Hehehe... uang, uang, uang, uang...


Andai dalam kisah animasi warga bawah laut. Mungkin kedua matanya sudah berubah hijau seperti tokoh kepiting dalam animasi tersebut.

__ADS_1


"Iya Nona. Dengan begitu Anda jadi tidak perlu pusing untuk promosi buku Anda sendiri setelahnya. Dan masalah pembagian royalti, Anda akan mendapatkan bagian yang tak sedikit sekitar 25% dari hasil penjualan buku. Kami juga akan membayar DP-nya setelah tanda tangan kontrak kerja Anda dengan kami."


"Woaaah..." Uang, uang, uang, uang, uang... Gadis itu sudah tidak bisa berbicara apapun selain melebarkan senyumnya seperti orang tidak waras.


"Adakah lagi yang ingin di tanyakan, Nona?"


Uang, uang, uang, uang, uang... Kepala gadis itu menggeleng pelan. "Tidak, pak! Saya tidak akan bertanya apapun lagi. Hehehe..."


"Baiklah saya tunggu alamat emailnya. Setelah ini tim editor pribadi Anda juga akan menghubungi nomor Anda. Untuk pembahasan selanjutnya."


"Ya, ya..." Uang, uang, uang, uang... Suara Mr. Crabs masih berputar-putar di kepalanya.


"Kalau begitu saya tutup, selamat sore, Nona."


"Sore, sore, sore! Hahahaha..." Mencium-cium ponselnya beberapa kali. Gadis itu kontan jejingkrakan. "Yes, yes, yes... aku akan punya banyak uang. Aku bisa beli ini dan itu, dan... Ibuuuu, anakmu akan mengganti uang mu yang dulu!"


"Eh tunggu!! omong-omong. Siapa ya, yang sudah borong buku ku sampai sebanyak itu?" .


Denna baru sadar, kenapa ia tidak bertanya tadi?


"Ah, sudah lah. Siapapun dirimu... Kau adalah orang baik. Hahaha." Gadis itu melanjutkan langkahnya sembari bersenandung ria menyusuri trotoar. Beberapa orang yang melewatinya memandang aneh, namun hanya di balas dengan gerakan kiss bye dari gadis berusia dua puluh lima tahun tersebut.


–––


Di sisi lain, Tomi mendapat kabar jika sang penerbit sudah menghubungi Denna. Gadis itu pun menyanggupi untuk segera menyusun rapi tulisannya sebelum karya tersebut memiliki fisik yang dapat ia pegang.


Orang-orang yang di suruh pun sudah menghubungi ribuan perpustakaan dalam negeri atau bahkan kawasan Asean sebagai penerima buku gratis dari beliau untuk di pajang di perpustakaan mereka.

__ADS_1


"Okay. Berati aku harus bersabar sampai novel itu jadi. Cukup lama sih, tapi itu lebih baik. Setidaknya aku tidak penasaran lagi." Tomi bergeming sejenak. Ketika sosok gadis yang memakai pakaiannya dengan rambut tergerai panjang itu berdiri di dekatnya. Bibir Tomi mendadak senyum. "Mungkin dia harus sering-sering menggerai rambutnya..."


Tomi geleng-geleng kepala menutup map di hadapannya dan membereskan semua sebelum keluar memeriksa para bawahannya di luar.


__ADS_2