
Setelah mengucapkan itu, tentu jantung Arumi memompa lebih kencang dari biasanya. Mungkin jika Arga langsung merespon ia akan merasa paham situasi yang terjadi saat ini.
Entah dengan kemarahan yang bersambung pada sebuah penghinaan. Atau mungkin kalimat pertanda setuju. Walau sedetik kemudian Arum membuang kalimat terakhir dalam otaknya. Tuan Arga tidak mungkin menyetujui itu. Ya, demikianlah yang ada dalam pikiran Arum. Membayangkan bagaimana reaksi pria di hadapannya.
Namun, pria itu justru diam seribu bahasa. Seperti tengah memikirkan sesuatu, namun dengan sorot mata mengiris-iris tertuju kepadanya.
"Kau!"
Setelah menunggu dalam posisi tak nyaman. Pria itu akhirnya membuka suara. Arum sudah siap jika akhirnya ia akan tertimpa masalah atau dalam harapan besarnya Arga setuju walau hatinya pula belum mampu untuk merubah rasa tunduk menjadi cinta.
"Apakah Kau mengatakan itu dengan sadar?" tanyanya kemudian, bernada dingin yang menusuk. Memajukan wajahnya, sementara wanita dihadapannya berusaha menghindari.
Arum merasakan dorongan yang semakin berat, sampai-sampai membuat sebagian tubuhnya menempel ke kaca. Tangan kanannya menahan Tuannya di bagian dada. Ya, mendadak keberaniannya menjadi ciut saat ini.
Padahal level tertinggi dari puncak keberaniannya sudah ia capai barusan. Dan hanya dengan sekali melihat tatapan dingin nan tajam dari pria itu, bersamaan dengan ucapan datarnya barusan. Menyebabkan tingkatan level itu terjun bebas seketika.
"A–aku?"
"Kau mau benih yang ku tabur itu berkembang menjadi anak?"
Arum mengangguk pelan dua kali. Mungkin memang harus seperti ini. Setidaknya ia punya pengakuan lebih dari hanya sebatas istri bayangan. Toh jika Arga menginginkan hatinya untuk benar-benar mencintai, bukankah ia juga ingin di cintai juga. Hingga terlintas keinginan fatal yaitu meminta untuk menumbuhkan benih laki-laki arogan di depannya.
Mungkin dengan hadirnya anak, kau bisa juga mencintaiku. (Arum)
"Kau harus tahu? Mungkin hal mudah untuk aku menuruti itu. Namun, siapkah jika kau menjadi ibu tunggal setelahnya?"
Deg!
Arum melebarkan bola matanya. Netra hazelnya bergerak-gerak. Menjurus pada pria bertubuh kekar di hadapannya.
"Kau tahu alasannya kenapa suntik penunda kehamilan itu harus ada dalam catatan surat kontrak yang kau tandatangani sendiri. Kau tidak menangkapnya, kah?"
Arum mematung. Sementara senyum angkuh Arga terbit.
"Tidak mungkin aku sudi menumbuhkan benihku di lahan seorang wanita kelas rendahan seperti dirimu," tandasnya, menancapkan sembilu lebih dalam hingga menembus jantung Arumi. "Lagipula jika kau tetap memaksa. Aku bisa memberikan izin. Tapi camkan ini, aku tetap tidak akan peduli dengan anak itu. Dan, tidak akan pernah ku akui kehadirannya. Justru sebelum ia terlahir kedunia ini aku akan menyudahi kontraknya, lantas anak itu akan menjadi tidak bernasab. Apa kau siap menerima seluruh konsekuensi itu? Hidupmu akan semakin sulit."
Arum menitikkan air matanya. Membayangkan hal yang akan menjadi semakin menyedihkan jika ia bercerai dengan suaminya. Sementara ada janin dalam kandungannya. Kesulitan yang bisa saja akan dirasakan juga oleh anaknya? Bukankah itu jahat sekali. Tidak! siapapun anaknya kelak. Dia harus memiliki nasib yang berbeda, jauh dari nasib ibunya saat ini.
Tangannya yang sedari tadi menahan dada Arga terhempas. Tubuhnya melemah.
"Sekarang mengerti, kan? Maka tetaplah menjadi apa yang aku inginkan. Tanpa perlu menuntut lebih dari semua yang sudah ku berikan padamu. Karena aku sudah memudahkanmu, sehingga saat kontrak itu ku sudahi, kau tidak akan membawa kerugian apapun setelahnya. Cukup Fair, kan?" Arga kembali berdiri tegak. Terdengar nafasnya menghembus kasar sebelum keluar dari kamar ganti itu.
__ADS_1
Arum lantas menurunkan tubuhnya saat mendengar pintu itu di tutup. Berpindah posisi duduk di kursi. Ia memandang bayangannya sendiri di cermin.
Apa yang ku lakukan? Kenapa sepertinya aku semakin merendahkan diriku sendiri? Bukan seperti itu yang ku harapkan. Bukan...
Arum menjatuhkan kepalanya ke meja, bahunya berguncang hebat akibat tangisnya yang pecah.
–––
Arum keluar dengan penampilan yang sempurna. Tak lagi memperlihatkan kesedihan, bahkan ia bersikap normal seolah tak terjadi apa-apa di dalam ruang ganti tadi.
Menghampiri mereka yang sudah berada di meja makan. Tanpa terkecuali Arga dan Veronica.
"Maaf saya terlambat bergabung–" ucapnya sopan sembari menebar senyum. Arga hanya melirik sekilas, ia pun meletakkan sendoknya lalu meraih gelas berisi air putih di dekatnya.
Mengamati wanita yang mulai duduk di sisinya. Dengan santai menunggu si pelayan mengambilkan nasi. Arum yang merasa tengah di awasi menoleh kearah Arga. Pria itu buru-buru memalingkan wajahnya sembari meletakkan gelasnya lagi.
"Vero, kau mau menginap di sini?" Tanya Nessie.
"Bolehkah, Tante?"
"Tentu saja..." jawab Nessie ceria.
"Apa-apa dengan jawaban itu? Memangnya kau tidak punya rumah. Sehingga harus menginap disini?" Hunus Kakek. Membuat Vero mendengus.
"Sudah pasti, Tante..."
"Kyaaaa ... pasti sangat menyenangkan."
"Cih! Kau ingat umurmu sudah berapa? Jangan yang aneh-aneh. Aku ingin dia tetap pulang ke rumahnya sendiri malam ini juga...!" Tegas Kakek kemudian.
"Setega itu kah Ayah menyuruhnya pulang?"
"Aku memang harus tega. Demi adanya sebuah ketenangan. Veronica, harus pulang. Tidak ada acara menginap segala!"
Sraaaaaaag... Kakek segera beranjak dari kursinya. Ia menyudahi makan malam ini walau hidangan di piringnya belum habis ia lahap.
"Iiissshhh..." Bersungut-sungut. Arum menoleh kearah Arga. Pria itu sama sekali tak merespon, walaupun keributan terdengar di dekatnya. Ia tetap makan dengan tenang tanpa mengurangi sedikitpun tampang angkuhnya itu.
.
.
__ADS_1
.
Acara makan malam telah usai. Pria itu belum masuk kedalam kamarnya. Ia hanya duduk sendirian di meja kerja.
Tak lama pintu ruangannya di ketuk. Pak Ragil masuk sembari membawa teh hangat untuk Tuannya.
"Silahkan, Tuan," ucap Beliau sembari meletakkan cangkir dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara. Sekilas pria itu menangkap sesuatu di layar tab milik Tuannya.
Aku tidak salah lihat, kan? Tuan Arga membaca artikel tentang wanita melahirkan? Apa Nona Muda mengandung? Tapi tidak mungkin, mereka menikah belum ada satu bulan. Pun kalau benar demikian, aku pasti sudah mengetahui kabar itu lebih dulu.
"Saya permisi, Tuan."
"Hemmm..." jawabnya tanpa menoleh. Matanya masih fokus membaca setiap kata pada tulisan tersebut. Hingga Pak Ragil membuka pintu. "Oh... tunggu sebentar!"
"Iya, Tuan?"
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Silahkan, Tuan."
Pria itu berdeham. Nampak ragu-ragu untuk bertanya. "Ku dengar, Istri Pak Ragil sudah meninggal dunia lama?"
"Iya, itu benar Tuan."
"Apa penyebabnya?"
"Pada saat itu, istri saya sedang hamil tujuh bulan. Karena ada kelainan pada proses kehamilannya. Nyawa bayi kami di dalam kandungannya tidak terselamatkan. Tak berselang lama, tepatnya beberapa menit saat operasi sesar berjalan. Istri saya pun menyusulnya..."
Arga terpaku kala mendengar itu. Tangan kanannya mendadak gemetar tanpa sepengetahuan Pak Ragil.
"Dan?"
"Sudah cukup. Jangan lanjutkan..."
"Eh..."
"Maaf, tanpa sadar saya pasti sudah membuat Anda sedih."
Pak Ragil tertawa kecil. "Tidak, Tuan. Semua sudah berlalu cukup lama. Saya sudah tak sesedih dulu," jawabnya membuat Arga tersenyum tipis. "Emmm, apa ada yang di butuhkan lagi, Tuan?"
"Tidak! Kau boleh pergi..."
__ADS_1
"Baik, Tuan." Pria paruh baya itu setengah membungkuk sekali, sebelum akhirnya keluar dari ruang tersebut.
Arga menghela nafas. "Hamil, melahirkan... semua sama saja, seperti aku membunuh Alieee untuk kedua kalinya. Tidak! Aku tidak akan menuruti keinginan wanita itu, mau seperti apapun dia memohon. Aku tidak akan menghentikan program penunda kehamilan ini."