Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
kedatangan adik kandung Alicia


__ADS_3

Rayyan duduk sendirian di salah satu toserba. Memandangi satu cup kopi yang masih mengepul di hadapannya.


Aku tadi tidak salah lihat, Kan? Arumi menangis?


Rayyan membatin saat mengingat sekilas tetesan air mata yang jatuh kepipinya. Walaupun wanita itu langsung berpaling muka.


Sebenarnya, apa yang terjadi pada Arum? Apa harus aku menemui Denna, lantas menanyakan langsung?


Ia meraih gelasnya menyeruput sedikit isinya. Rayyan memang masih berada di kawasan yang sama. Dari setelah pertemuannya tadi dengan Arumi, hingga menyelesaikan pekerjaannya sebagai pegawai magang. Ia tak langsung pulang, dan memilih untuk duduk-duduk lebih dulu di sana, sembari menikmati kopi di kala senja.


Kawasan itu memang cukup dekat dengan dua kampus. Sehingga banyak muda-mudi juga yang berlalu-lalang atau mungkin turut duduk, memenuhi kursi-kursi kosong.


"Permisi boleh numpang duduk di sini?" ucap seorang gadis meminta izin.


"Silahkan, saya sudah mau selesai, kok," jawab Rayyan tanpa menaikan kepalanya.


"Terima kasih." Gadis itu memutar sedikit, lalu duduk di hadapan Rayyan. "Ya, ampun! Rayyan?"


Kepalanya terangkat. "Maura?"


"Oh... mimpi apa aku semalam bisa seberuntung ini, ketemu cowok beken saat SMA." Buru-buru ia duduk dengan semangat. Walaupun yang di depannya justru menghela nafas malas.


"Tidak perlu berlebihan. Dan duduk saja dengan tenang."


"Tentunya aku akan melakukan itu," ucapnya genit sembari membuka kaleng minuman dingin rasa buah. "Uhh... kok susah, ya?" Melirik kearah Rayyan kemudian.


Sementara yang di lirik tidak peduli. Ia lebih fokus pada ponselnya.


"Duh, susah deh. Mungkin karena kuku ku pendek. Tolong dong, Rayyan..." Mengulurkan kalengnya ke dekat wajah pria tersebut. Biji matanya menggeser naik. Gadis itu pun tersenyum. "Bukain..."


"Ck!" Rayyan meraihnya lalu membukanya untuk Maura.


"Huuwaaaaw. Makasih loh, ya," Maura meminum airnya dengan gaya sok imut nan cerianya. "Haaaaaah, segar."


"Kecilkan suaramu! Atau jika tidak bisa menjauh saja, sana...!"


"Apa sih sensitif sekali?!" Bibir Maura mengerucut.


Dasar, perasaan tidak ada yang memanggilnya. Kenapa tiba-tiba datang, sudah seperti jelangkung, saja! (Rayyan)

__ADS_1


Pria itu kembali terdiam fokus dengan ponselnya. Sementara yang di depan sudah banyak gaya demi tebar pesona pada Pria yang pernah ia sukai saat SMA.


"Emmm... Rayyan? Aku bisa membaca Auramu loh. Biar ku tebak, ya? sepertinya kau nampak sedih. Pasti gara-gara di tinggal nikah Arumi, deh?" Tebaknya membuat pria itu melirik ke arah Maura.


"Apa sih!" gumamnya sinis.


"Tapi benar, 'kan?" Menujuk Rayyan dengan ke-dua jari telunjuknya.


"Sok tahu!"


"Ya ampun ... bener tuh, pasti? Hahahaha..."


"Sumpah, ya! Kau mengacaukan waktu senjaku." Rayyan nampak gusar. Namun sejurus kemudian wanita di depannya mengucap sorry dengan kedua tangan ia telungkupkan di depan dada. Pria itu pun menghela nafas.


"Ray– Untuk apa sih, Kau merana hanya karena di tinggal nikah gadis murahan itu, buang-buang waktu..." Maura menengguk air minumnya.


"Jaga mulutmu, siapa yang kau sebut murahan?"


"Arumi...!" Tegasnya langsung.


"Ckckck, Dia saudara tirimu sendiri. Tapi kau malah menyebutnya dengan julukan itu?"


"Loh, memang kenapa? Kan faktanya memang demikian. Oh iya... mau ku ceritakan, tidak?kenapa Arumi menikah dadakan dengan pria kaya raya itu?"


"Hei– tapi ini menarik! Kau harus tahu, jika Arum memang tipenya seperti itu. Suka laki-laki berduit. Dia bahkan sering main ke hotel-hotel mewah, demi mendapatkan bayaran." pungkasnya memanas-manasi.


"Kalau ngomong jangan suka sembarangan! Kau itu tidak pernah berubah, ya?"


"Iiissshhh, kalau tidak percaya ya sudah. Memang faktanya seperti itu, kok. Dia suka laki-laki berduit seperti suaminya yang sekarang. Buktinya, lamarannya langsung di terima, saat sekretaris pribadi pria kaya itu datang sembari membawa satu koper berisi berlian...."


Rayyan nampak terdiam namun Maura percaya pria itu pasti telah termakan ucapannya.


"Ray, coba bayangkan? Kalau Arumi tidak suka uang, sudah jelas Dia mau menerimamu dulu. Kamu sih pakaiannya roda dua, coba roda empat pasti Arum mau nerima kamu langsung,"


Maura tertawa cukup keras. Membuat Rayyan geleng-geleng kepala ia pun beranjak dari tempatnya. Lebih baik menghindarinya dari pada harus duduk mengobrol dengan gadis dengan mulut lemes sepertinya.


"Eh... buru-buru sekali, sih? kan kita sudah lama tidak berjumpa, kopi mu bahkan masih lumayan banyak loh..." Menahan lengan Rayyan. Pria itu pun melirik tajam, tampak tidak suka. Membuat Maura melepaskannya lagi. "Uuupppsss, sorry...!"


Rayyan kembali memutuskan untuk melenggang pergi. Sementara Maura tersenyum puas. Walaupun sepersekian detik ia merasakan gusar saat sang ibu menghubunginya.

__ADS_1


––


Rayyan sudah duduk di atas motor. Sembari memasang gesper helm, ia melamun. Tatapannya menjurus pada gadis yang sedang menerima panggilan telponnya.


Kau sih, pakainya roda dua. Coba roda empat. Di jamin Arum tidak akan menolaknya. Karena Dia suka uang hahaha. (Maura)


"Cih! Kenapa pula aku jadi sedikit terpengaruh? Aku yakin, yang di ucapkan gadis itu tidak benar. Aku melihat sendiri dia menangis tadi pasti ada hal lain." Buru-buru ia menepis seluruh ucapan berbisa dari Maura sembari menyalakan mesin motornya meninggalkan kawasan tersebut


πŸ‚


πŸ‚


πŸ‚


Mobil yang di tunggangi Arumi baru saja tiba, dengan membawa rasa lelahnya ia langsung masuk kedalam.


Di lihat Mama Nessie sedang mengobrol dengan seseorang. Wanita blasteran yang cantik, dengan postur tubuh tingginya.


"Oh, Alic..." Mama Nessie melirik kearah gadis di sebelahnya, buru-buru membungkam mulutnya sendiri. Ia pun cengengesan. "Maksudnya, Arum."


Gadis itu pun menoleh kearah Arumi yang berjalan mendekati mereka. Terlihat sorot mata penuh selidik nampak tajam menjurus kearah Arum dari atas ke bawah.


Sialan! Dia benar-benar di buat mirip seperti Kak Alicia. Batin gadis itu.


"Rum, perkenalkan. Dia Veronica. Adik kandung dari Alicia..."


"A–apa?" Wanita itu terhenyak. Menoleh sejenak pada gadis yang masih menatap amat tajam kearahnya. Ia pun tersenyum, tangannya nampak gemetar terulur kepadanya.


"Kenapa Kak Arga memilihnya?" Tanyanya dingin, tanpa sedikitpun bangkit dari posisi duduknya yang angkuh itu. Bahkan tangannya pun sama sekali tidak bergerak untuk menjabat tangan wanita di hadapannya. Pelan-pelan Arum menurunkan tangan itu lagi.


"Begini sayang? Kau tahu, mantan calon Kakak ipar mu itu sangat mencintai Alicia. Dia bahkan tidak bisa hidup secara normal semenjak kepergiannya."


"Tapi, Tante juga harusnya menentang ini. Karena bagaimanapun juga, keluarga Sanjaya kan termasuk keluarga terhormat? Masa Presiden Direktur Andara menikah dengan sembarang wanita?"


Arum hanya bisa menunduk. Ia tidak bisa menyalahkan gadis muda di depannya. Karena mau bagaimanapun posisinya juga salah. Ketika harus mengambil peran sang kakak tanpa izin.


"Ummmm... menurut Tante itu tidak begitu berarti. Yang penting gadis ini baik, dan Arga sudah mulai bisa normal lagi bekerjanya. Apa salahnya? Dulu saja Aku menikahi sekretaris pribadi Ayahku sendiri." jawabnya polos. Karena Seperti itulah Nessie.


"Iiissshhh.... Tante tidak paham! Aku tetap tidak terima dengan keputusan Kak Arga yang menghadirkan wanita kampungan ini sebagai pengganti Kakakku!"

__ADS_1


"Siapa yang kau sebut wanita kampungan?" Suara laki-laki renta tiba-tiba berseru dari arah pintu masuk keruang tengah. Vero buru-buru beranjak.


"Kakek Komisaris, apa kabar." Suaranya mendadak melunak. Lebih-lebih saat melihat pria tua yang membawa tongkat itu berjalan mendekatinya.


__ADS_2