Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Acara makan malam


__ADS_3

Di dalam private room...


Seorang wanita nampak gugup. Ia sedang bingung ingin mengekspresikan dirinya seperti apa di hadapan Presdir Andara Group dan istrinya itu.


Haruskah ia meletakkan semua tangan di bawah meja, atau di atas? Haruskah ia menunduk saat berbicara atau mungkin memandang mereka.


Ah... kenapa menjadi kaku seperti ini. Makan malam yang seharusnya tenang kenapa menjadi tegang. Ini memang kali pertama Dia bertemu dengan orang berkelas seperti Presiden Direktur dari Group company besar. Tentunya segala gerak-geriknya pasti akan menjadi sorotan.


"Sayang?" Aska meremas tangan kiri Akirra yang terasa dingin. Perempuan itu menoleh. "Kenapa?"


"T–tidak apa-apa?" jawabnya. Aska pun meraih satu tangannya yang lain. Menggenggam erat keduanya di atas pangkuan sang istri.


"Kau pasti mengalami anxiety? Mau minum obat?" tanyanya menawarkan. Wanita itu lantas menggeleng.


"Tidak, Kak. Aku hanya gugup saja."


"Sungguh?"


"Iya, tidak perlu khawatir. Aku hanya bingung, bagaimana caranya bersikap di depan Tuan Arga Sanjaya dan istrinya. Mereka orang-orang berkelas. Pasti hanya aku yang akan terlihat wanita kelas rendahan," lirihnya sambil menunduk.


"Ya Tuhan." Aska terkekeh. Ia menyentuh dagu sang istri lalu menaikkannya. "Jangan menunduk pada siapapun. Mereka tetap manusia biasa sama seperti kita."


"Iya sih, aku paham. Di mata Tuhan kita semuanya sama. Tapi tetap saja, kalau aku salah bicara bagaimana?"


"Tidak perlu banyak bicara. Jawab saja seperlunya jika istri Presdir Arga itu bertanya lebih dulu."


Wanita itu tersenyum, ia mengangguk ceria pada suaminya. Aska sendiri langsung menarik hidungnya gemas.


"Kak, apakah Kakak pernah bertemu dengan istri Tuan Presdir itu sebelumnya?"


"Emmm, belum."


"Wanita itu seperti apa, ya? Dia akan ramah tidak, ya?"


"Aku tidak tahu sayang. Namun sepertinya Dia baik. Karena suaminya saja banyak berubah. Entahlah... kita lihat nanti."


"Iya, Kak."


"Ya sudah, minum dulu." Aska melepaskan tangannya, meraih mineral water di dekat Akirra. Lalu menyerahkannya. "Minumlah, agar suasana hatimu lebih tenang."


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama, sayang."


Beberapa detik kemudian, pintu di buka oleh dua orang pelayan yang memegangi sisi kana dan kirinya. Mereka yang duduk pun, kontan berdiri.


"Tenang, saja..." bisik Aska pada istrinya sembari menepuk pelan bagian pinggang yang langsing itu.


"Dokter Aska, maaf saya terlambat sepuluh menit." Arga langsung menjabat tangannya dan memeluk pria itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kami juga baru datang kok. Bahkan, kami sudah mencicipi makanan pembukanya."


"Hahaha, tidak masalah..."


Di saat mereka sedang bertegur sapa. Satu sisi yang lain juga terlihat tengah saling berkenalan.


Arumi menyalami wanita di depannya.


"Hallo, selamat malam."


"Se–se–selamat, ma–malam... Nyonya." Tangan yang dingin dan gemetaran itu menyambut tangan Arumi yang terulur lebih dulu.


"Anda, Nona Akirra?"


"Emmm, i–iya." Tersenyum kaku.


"Aku Arumi, senang bertemu denganmu. Anda sangat cantik dan manis."


"Ah, terima kasih." Akirra tersanjung mendengar pujian itu. "Sa–saya juga, merasa senang bisa bertemu dengan Nyonya Arumi. Anda benar-benar cantik dan anggun."


Mendengar logatnya, sepertinya gadis ini dari Jawa Timur. (Arum) "Terima kasih atas pujiannya..."


Arumi tersenyum membentuk lengkungan bibir yang indah. Sama halnya dengan Akirra yang menunjukkan garis bulan sabitnya.


Kekakuan itu sebenarnya di rasakan jelas oleh Arum. Namun ia memahami, dan berusaha untuk terlihat lebih hangat walaupun sejatinya ia juga gugup saat ini.


"Ini Istri saya." Arga memperkenalkan Arumi. Pria di hadapan mereka pun langsung mengangguk sopan sekali.


"Saya pun, Tuan Dokter," jawab Arum.


"Oh, ini istriku Tuan. Akirra namanya..."


"Ya," Arga mengangguk ramah pada Akirra yang kembali menunduk itu, lalu menoleh kearah Aska. "Kau benar-benar Dokter yang tidak tahu aturan."


"Eh?" Aska terhenyak.


"Gadis masih di bawah umur seperti ini, Kau nikahi?"


"Astaga!" Aska kembali tersentak, namun sejurus kemudian menutup mulutnya tertawa.


"Hei, Nona? Selama ini hidupmu pasti berat karena di kurung pedofil ini, 'kan?" Arga menunjuk kearah Aska.


"Emmmm...?" Akirra bingung sendiri, berbeda dengan Aska yang hanya geleng-geleng kepala.


Ya Tuhan... Dia bilang aku pedofil katanya? Sendirinya apa? Menikahi wanita hanya untuk menghidupkan kembali sesuatu yang sudah tidak ada? (Aska)


"Anu, Suamiku. Kenapa kau bicara seperti itu?" bisik Arumi merasa tidak enak. Bagaimanapun juga ia masih belum terbiasa dengan ucapan arogan yang sering di lontarkan oleh suaminya itu untuk orang lain.


"Biarkan, aku ingin membebaskan tawanan ini. Jika memang hidupnya tersiksa."

__ADS_1


Ckckck... kau tidak sadar sebelum ini kau lah yang sudah memaksa ku menikah wahai Tuan yang sedang menganggap dirimu malaikat?


"Tidak apa-apa Nyonya." Aska terkekeh, tidak tahan menahan geli atas tuduhan itu. "Saya biasa di tuduh menikahi anak SMA karena memang istri Saya memiliki wajah seperti remaja. Usianya sudah masuk angka dua puluh enam tahun, kok," jelasnya. Akirra sendiri tersenyum dan mengangguk.


Wah, sungguh? Wanita di depan ku lebih tua dari ku? Padahal aku pikir usianya masih belasan tahun. Baby face sekali... (Arumi)


"Benarkah? Coba tunjukkan KTP-mu. Aku tidak percaya dengan bedebah ini."


"Sayang. Hentikan! Jangan bicara seperti itu." Bisik Arum semakin tidak enak hati. "Maafkan suami Saya Tuan Dokter."


"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sudah hafal, dengan Tuan yang memiliki liur berbisa ini."


"Hahahaha... sungguh aku ingin menendangmu sekarang, Dokter."


"Lakukan saja, jika Anda mau!" Mereka berbicara dengan bibir tersungging senyum hingga gigi-giginya nampak. Sementara dada mereka saling menempel seperti hendak duel.


Arum dan Akirra sama sama-sama menarik lengan mereka agar saling menjauh. Satu hal yang ada di kepala istri masing-masing. Sebenarnya mereka akrab atau tidak, sih?


Ya, begitulah... Arga memang menyukai karakter orang-orang seperti Aska. Begitu juga Aska yang lebih menghargai karakter pria blak-blakan walaupun kadang menjengkelkan. Jadilah keduanya menjalin pertemanan tanpa di sadari saat ini.


Acara makan malam berjalan baik, padahal di awal para istri itu sudah merasa khawatir. Akan menjadi berantakan setelah aksi saling ejek.


Terlihat mereka memperhatikan makanan masing-masing pasangannya. Sehingga beberapa pelayan yang mendampingi terlihat geleng-geleng kepala dan takjub melihat pemandangan romantis di hadapan mereka.


–––


Selesai makan mereka kembali berbincang ringan. Terlihat Akirra ataupun Arumi amat menikmati pembicaraan ini. Hingga tanpa sadar keduanya telah memangkas pembatas yang sebelumnya membuat mereka saling canggung.


"Anu– Nyonya, tadinya Saya hampir membatalkan niatan untuk menyerahkan bingkisan ini pada, Anda. Tapi setelah berbincang, saya rasa Anda tak akan keberatan." Akirra menyerahkan paper bag berukuran besar pada wanita di depannya. "Tolong terima ini, Nyonya."


"Wah... ini apa?" Arum merasa senang, hingga tas itu kini sudah berpindah tangan.


"Itu gerabah yang ku buat sendiri."


"Sungguh? Boleh saya buka?"


"Iya, Nyonya. Silahkan..."


Arumi segera membukanya. Di dalamnya terdapat satu teko keramik yang cantik beserta dua gelas berukuran mini. Tertata rapi dalam kotaknya.


"Ya ampun, cantik sekali. Benarkah semuanya di buat dengan tangan halus ini?"


"Hehehe, Iya Nyonya. Saya memang kursus membuat gerabah seperti ini selama dua tahun lebih."


"Waaah... sayang lihat ini." Arum menunjukkannya pada Arga. "Ini luar biasa. Bagus sekali, kan?"


"Kau menyukainya?" Arga mengusap kepala Arumi.


"Tentu saja, sayang. Ini indah sekali, detailnya juga... walaupun aku tidak begitu menyukai seni, tapi mendiang ayahku dulunya pengkoleksi gerabah antik. Bagiku ini luar biasa tidak kalah dari yang pernah di koleksi Ayahku."

__ADS_1


Arga tersenyum. Lantas kembali menoleh ke arah Aska dan Akirra. Sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.


__ADS_2