
Jalan-jalan Arum dan Arga masih berlanjut. Kali ini biar suaminya tidak berbuat hal-hal memalukan lagi, segala pembayaran di handle Arum.
Sedikit demi sedikit pria itu paham. Seperti apa uang dua puluh ribu, sepuluh ribu, lima ribu, dan dua ribu rupiah. Karena Arumi mengajarinya dengan sabar saat setelah membeli sesuatu. Ia juga memberitahukan, jika membayar sesuatu yang lebih murah dari jumlah uang yang kita punya pasti akan di beri kembalian seperti saat ini.
"Sekarang aku bisa menyebutkan tanpa melihat angka yang tertera."
"Oh, ya?"
"Ya, yang hijau itu dua puluh ribu." Arga menunjuk lembaran kertas yang di pegang Arumi dari pedagang takoyaki. Ia pun tersenyum manis pada suaminya.
"Kau benar-benar hebat, suamiku," pujinya.
"Yeaaah... It's me, Arga Sanjaya." Menepuk-nepuk dadanya merasa bangga setelah tahu wujud-wujud uang receh.
Duh, yang bangga bisa menghafal semua warna uang recehan. Arum hanya berani mencibir dalam hati. Mereka pun melanjutkan langkahnya, tangan Arumi mengait di lengan Arga.
"Kau senang sekarang?" Tanya Arga mengusap tangan Arumi dengan tangan satunya.
"Senang sekali. Aku bisa makan berbagai macam jajanan bersamamu."
Arga yang mendengar kalimat itu kontan bersemu. Ia senang ketika Arumi sudah benar-benar menjadikannya sosok yang membuat dia nyaman.
"Syukurlah jika kau senang. Lain kali jalan saja ketempat yang lebih bersih. Jangan ke sini... lihat asap kenalpot dan beberapa debu yang bertebaran. Itu sangat tidak sehat untukmu dan calon anak kita."
"Jangan berlebihan, kau tidak lihat banyak ibu-ibu hamil yang juga jalan-jalan bersama suaminya. Mereka bahkan mengendarai sepeda motor. Ikut macet-macetan? Bahkan lihat itu, ibu pedagang asongan?" Menunjuk wanita yang sedang duduk di samping gerobaknya. "Beliau bahkan sedang hamil tua."
"Jangan samakan mereka denganmu. Kau punya peran penting dalam kehidupanku. Satu goresan luka akan membuatku merasa bersalah. Dan, aku tak mau mengulangi yang telah lalu. Karena kau satu-satunya penyemangat hidupku saat ini."
Arumi melebarkan senyumnya. "Hehehe, suamiku semakin pintar menggombal?"
"Apa itu?"
"Bukan apa-apa sayang..." Arumi menyandarkan kepalanya di lengan sang suami. Ia tidak ingin membahas makna kata gombal yang akan membuatnya stress sendiri. "Sayang?"
"Ya..." Arga mengecup pucuk kepala istrinya.
"Dulu, aku pernah berpikir; jika kelak punya pasangan inginnya jalan-jalan di taman seperti ini. Dan tak kusangka, harapanku terwujud..."
Bahkan, diluar ekspektasi. Sebab aku pikir, suamiku adalah laki-laki sederhana karena aku tahu diri dengan posisiku kala itu. Dan tak pernah terbayangkan, aku akan menikah dengan laki-laki kaya raya seperti Dia.
"Jika punya pasangan? Jadi, benar selama ini kau tidak pernah punya pacar?" Tiba-tiba Arga bertanya. Langkah kaki panjangnya pun terhenti.
__ADS_1
Arum mengangkat wajahnya kearah Arga. "Masihkah kau tidak percaya padaku?"
"Bukan itu... jangan salah paham lagi istriku," jawab Arga buru-buru. Membantah segala pikiran negatif yang mungkin tengah bersarang di kepala istrinya.
"Tidak percaya juga tidak apa?" Arum melontarkan kalimat itu untuk menggoda suaminya.
"Arumi..."
"Hahaha... Tidak ada, sayang. Aku belum pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Dan, hanya kau yang menjadi satu-satunya kekasihku di awal dan ku harap untuk selamanya juga."
"Benarkah?" Kekaguman seolah semakin bertambah pada sang istri. Wanita itu mengangguk pelan.
"Jangankan pacar. Ingin mengagumi seseorang pun aku tidak berani."
"Kenapa?"
"Emmm... aku punya kehidupan yang seperti sedang berada di tengah-tengah sebuah pusaran air. Dan mungkin akan sulit untukku keluar dari sana."
Arga memahaminya. Ia sudah tahu seperti apa kehidupan Arumi sebelumnya. Namun ia lega karena bisa membalaskan semuanya pada ibu tiri dan ke-dua saudara tirinya itu.
Pria itu berjalan mendekati Arum yang sudah berjalan lebih dulu dan duduk di salah satu bangku yang kosong. Wanita itu kini tengah membuka kotak yang terbuat dari karton tipis berwarna putih.
"Sayang, aku mau kau mencobanya."
"Karena aku suka melihatmu makan dari tanganku." Arum menusuk satu butir takoyakinya sebelum mengulurkan pada Arga. Pria itu pun membuka mulut tanpa di suruh. "Lebih lebar sayang."
"Kau ingin aku membuka mulutku selebar apa lagi?" Protes walau tetap mengikuti kemauan istrinya yang langsung memasukkan sekaligus kedalam mulut suaminya.
Sebenarnya aku tidak mau makan makanan kaki lima seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ibu negara tengah hamil muda.
Mengunyah sambil melirik sebal ke arah istrinya yang terlihat senang.
"Enak, kan?"
"Emmm, lumayan. Tapi aku tak mau menghabiskan semuanya. Aku sudah terlalu kenyang." Arga memang sudah makan banyak sejak tadi. Seperti siomay, batagor, curros, fish cake berbagai bentuk dan saat ini takoyaki.
"Lagi, ya..."
"Tidak. Aku sudah benar-benar kenyang."
"Ya ampun. Maaf aku terlalu memaksamu."
__ADS_1
"Tidak kok. Aku hanya ingin menuruti apapun yang kau mau. Demi dia..." Itu kan yang selalu menjadi jurus andalan.
Arum tersenyum, merasa senang ketika suaminya mau melakukan apapun yang ia mau.
"Eh, Noda saus. Sini ku bersihkan bibirmu." Arum mengeluarkan secarik tissue lalu mengarahkannya ke ujung bibir suaminya yang terkena saus takoyaki.
Tap... Tap... Arum bergeming memandangi wajah tampan nan sempurna suaminya. Yang pasrah saja ketika tengah di bersihkan.
Aku tidak pernah menduga, setiap lara yang ku alami selama ini akan mampu ku jalani. Hingga tanpa sadar aku telah bertemu hari ini...
Arum masih mengusap bibir suaminya dengan gerakan pelan.
Menikahlah denganku Aliee...
Aku mencintaimu Alieee...
Aliee, sebut namaku.
Arum tersenyum tatkala kedua netranya mulai mengembun saat ini. Ya, masa lalu yang pahit memang harus di kubur dalam-dalam. Karena orang-orang bijak berkata. Masalalu layaknya kaca spion yang di lihat sesekali, dan lebih banyaklah untuk melihat masa depan agar laju-mu terus mengarah kedepan.
"Kau baik-baik saja?"
"Hemmm?" Arum mengangkat wajahnya. Arga bisa menangkap mata yang berkaca-kaca itu.
"Kenapa jadi wajahmu terlihat sedih?"
"Tidak kok." Arum menggeser posisi duduknya. Yang tadinya serong ke arah Arga kini kembali lurus menghadap depan. "Aku hanya sedang berpikir. Saat awal aku memutuskan untuk menikah denganmu, mungkin tidak akan pernah hadir hal-hal seperti ini."
Arga nampak mengangkat satu alisnya. Mendengarkan sang istri.
"Setiap harinya. Aku harus mensugesti diriku sendiri untuk tidak jatuh cinta padamu. Namun, malam itu entah mengapa dengan percaya dirinya, aku justru berucap akan mencintaimu agar kau bisa melupakan masa lalumu."
"Aku terus menyesali perbuatanku Arumi. Kau pasti sedang mengingat betapa kejamnya aku, kan?" Menatap lesu.
"Tidak sayang, inilah takdirku." Menoleh ke arah suaminya. "Mungkinkah aku harus bersyukur karena di beri kemiripan wajah dengan almarhumah? Dengan ini aku jadi bisa merasakan cinta seorang raja di negeri ini."
Arga tersenyum, mengusap pipi Arumi. "Kau memanggilku raja?"
"Ya, raja yang membuat si Upik abu ini jatuh cinta. Kau pernah mendengar kisah Cinderella?"
"of course..." Mengecup kening Arumi.
__ADS_1
"Saat remaja, aku selalu suka dengan dongeng itu. Bahkan tak jarang membayangkan di dunia ini benar-benar ada seorang pangeran yang akan menolongku dari ketidakadilan yang ku alami. Dan aku menemukan itu. Dialah Suamiku sekarang, dia yang lebih dari seorang raja di hatiku. Kau, dan segala kebaikan yang kau berikan. Aku benar-benar bahagia suamiku."
Arga tersenyum sebelum memberikan kecupan kilat di bibir sang istri. Tentu perbuatannya menuai kekesalan pada diri Arumi yang memang tidak terbiasa di cium di depan umum. sementara Arga hanya tertawa mengusap lembut kepala istrinya.