
Arum membuka mata. Samar-samar ruangan itu semakin jelas tertangkap oleh pupilnya. Setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya yang beberapa jam lalu terbang dalam dunia mimpi.
"Uugh..." Arum mengeluhkan sekujur tubuh yang terasa lelah. Entah sampai jam berapa mereka bermain panas di atas ranjang. Bahkan Arum sampai tidak sadar, ketiduran di tengah permainan yang belum selesai.
"Jam berapa sekarang?" Bergumam, dan menoleh ke sisi samping. Keningnya sedikit berkerut saat melihat adanya secarik kertas yang di letakkan di atas meja. Sementara ujung dari kertas tersebut tertindih ponsel Arum sendiri.
"Apa ini?" Arum meraihnya dan membaca.
Kau sudah bangun?
Maaf jika aku meninggalkanmu. Sekretaris menyebalkan itu memaksaku untuk pergi meeting tanpa mengizinkan ku untuk menunggu sampai kau bangun.
Bibir manis Arum tersenyum. "Memang siapa yang memintamu untuk menungguku sampai bangun?" Arum kembali membaca tulisan selanjutnya.
Sekarang aku ada meeting dengan salah satu pejabat daerah. Jika kau bosan, kau bisa melakukan apapun. Asal jangan terlalu jauh. Aku juga menyewa orang-orang untuk mendampingimu.
Bersenang-senanglah hingga siang hari. Karena senja aku sudah kembali. –Begitu lah kira-kira tulisannya.
Arum meletakkan lagi kertas itu di atas meja. Lalu membuka laci di bagian depan meja tersebut. Di sana ada beberapa tumpuk piyama handuk. Meraih salah satunya, lalu memasang itu di tubuh yang polos tersebut.
Beberapa menit kemudian, ia sudah keluar dengan rasa yang lebih segar. Berdandan seperlunya dan memakai busana sederhana namun tetap anggun terlihat.
Kruuuukkk... Arum menyentuh perutnya sendiri.
"Oh ya ampun, aku lapar?" Arum menoleh ke arah jam. Terlihat di dinding, jarum pendek menujuk angka delapan, sementara jarum panjang menunjuk angka tujuh.
"Ya, walaupun sudah terlalu siang, namun aku masih kebagian waktu baik untuk menyantap sarapan pagi-ku."
Buru-buru Arum meraih ponsel dan memasukkannya ke dalam tas kecil. Ia tak berniat untuk memesan makanan. Karena Arum lebih suka berjalan langsung ke restorannya. Jadilah sekarang dia keluar dengan penuh semangat.
Cklaaakkk...
"Selamat pagi, Nona." Tiga orang pengawal pria, dan dua pelayan wanita berdiri di dekat pintu. Menyapanya yang baru saja membuka pintu.
"Eh... pagi," balasnya sambil mengelus dada. Aku terkejut karena tiba-tiba ada orang di sini.
"Maaf, kami mau antar makanan pagi untuk, Nona Arumi," kata salah satu dari pelayan wanita itu.
"Terima kasih. Aku pikir, aku akan langsung ke restorannya saja."
__ADS_1
"Kami sudah menyiapkan khusus, sesuai pesanan Tuan Arga. Nona bisa menyantapnya di dalam. Saya akan menyiapkannya."
"Baiklah..." Arum menyingkir, membiarkan mereka berdua masuk sembari membawa troli makanan.
Padahal aku ingin jalan-jalan sebentar. –Batinnya sembari melangkah masuk. Yang di susul tiga pengawalnya.
Sejenak Arumi duduk di kursi. Memandangi dua pelayan itu meletakkan beberapa makanan di atas meja. Sedikit terdengar riuh ketika piring-piring itu di letakan di atas meja kaca. Dan yang terakhir salah satu dari mereka memberikan pisau dan garpu untuk Arumi.
"Silahkan, Nona."
"Terima kasih..." Arum menerimanya. Ia pun kembali menatap ke meja. Semua yang ada di hadapannya adalah makanan lezat yang tidak murah. Namun, entah mengapa tidak ada satupun yang menggugah selera.
Aku mau gado-gado... Arum membatin. Karena memang sudah hampir sepekan ini ia sangat merindukan sarapan paginya dulu di toserba.
"Nona, kenapa Anda belum menyentuh makanannya? Apa ada yang salah?"
"Emmmm?" Arum menoleh dan menggeleng. "Tidak, Bu. Tapi, aku hanya menginginkan makanan lain. Bukan ini."
"Sebutkan saja, apa yang Anda inginkan? Biar Chef kami yang menyiapkan."
"Aku mau gado-gado, sama teh tawar hangat!" jawabnya spontan saat di tawari.
"Ya..." Arum menggigit ujung garpunya, kemudian mengangguk. "Aku mau makan itu. Bisa tolong sediakan?"
"Emmm, baik akan saya hubungi Chef kami."
"Kalau begitu tolong singkirkan ini semua. Karena jujur saja, aku mual melihatnya." Arum mendorong pelan piring yang ada di depannya setelah itu beranjak dari tempatnya duduk.
Dua pelayan tadi saling tatap penuh keheranan. Namun salah satunya langsung mengkomando untuk segera membereskan kembali yang ada.
Beberapa waktu kemudian...
"Silahkan, Nona." Wanita lain yang menjabat sebagai manajer itu meletakkan makanan yang di pesan Arum tadi.
"Waaaah..." Ia pun meraih sendok dan garpunya. Mencoba sedikit saus kacang yang membalut segala komponen rebusan yang ada di atas piring tersebut.
Terlihat keningnya berkerut, bibirnya nampak mengecap-kecap.
"Ada yang salah, Nona?"
__ADS_1
"Ini terlalu asin."
"Hah?" Wanita itu terkejut. "Bo–boleh saya coba?"
"Ya, coba saja." Arum mendorong pelan piringnya. Sang manager itu mengambil sendok baru.
"Permisi, Nona," ucapnya sebelum menyendokkan sedikit bumbu kacang tersebut. Ia lantas mencoba dengan satu tangan yang lain menengadah di dekat dagu. "Ma–maaf. Saya rasa ini pas, Nona."
"Tapi, lidahku merasa kalau ini asin," kilah Arumi kemudian.
"Kami akan memperbaikinya."
"Ya, aku suka bumbu yang lebih terasa lebih manis."
"Baik, Nona."
Lewat beberapa menit kemudian, gado-gado yang baru sudah terhidang di hadapannya.
"Bagaimana?" Tanya pelayan tersebut, bahkan sang koki resort sampai turut serta berdiri di dekat meja makan Arumi.
"Aku tidak suka rasa ini. Bawangnya terlalu menyengat."
"Astaga!" Sang koki pun mengusap keringat di tengkuknya. Mati aku!
Graaaaaaak... suara kursi yang terdorong saat Arumi berdiri.
"Aku mau ke dapurnya."
"A-apa?" Mereka bertanya hampir bersamaan.
"Aku mau buat gado-gado ini sendiri. Bisa, 'kan?"
"Emmmm," koki itu melirik ke arah manager resort.
Yang di lirik pun menghela nafas. "Tapi, Nona. Dapur sangatlah kotor."
"Tidak masalah. Aku mau makan gado-gado dengan hasil buatanku sendiri."
"Ya baiklah, Nona."
__ADS_1
"Yes!" Arum melangkah lebih dulu keluar dari dalam resort mewahnya, yang di ikuti lainnya juga.