
Setiba di rumah Arga tak langsung berlari untuk memaki istrinya. Ia justru bergeming di depan pintu, tidak sanggup untuk memandang wajah wanitanya apabila yang di katakan Veronica itu benar.
Namun dari hatinya, ia terus menepis segala pikiran buruk mengenai tuduhan itu. Arum tidak akan mungkin mengkhianati-ku. Begitulah isi hatinya mendinginkan suasana.
"Tuan Muda–" Pak Ragil menegur ramah pada pria yang sedari tadi mematung tanpa ekspresi di depan pintu utama sejak turun dari mobilnya.
Ada sedikit keheranan, manakala Arga datang dengan mobil listrik yang Beliau kendarai sendiri.
Mobil Tesla Roadster Founder Series ini bisa di bilang amat jarang Beliau gunakan semenjak menikah. Karena memang sudah menjadi pekerjaan sekertarisnya untuk membawa mobil kantornya kemanapun selain supir pribadi yang bertugas mengantarkan Dia dan Arumi di luar jam kerja.
Tuan benar-benar khawatir dengan Nona Arumi, sepertinya... (Pak Ragil)
"Bagaimana keadaannya, dan apa kata dokter?" Arga bertanya dengan nada biasa. Tidak mengandung kecemasan sedikitpun.
"Dokter bilang, Nona mengalami anemia. Dan harus banyak istirahat," jawabnya sesuai apa yang ia dengar dari dokter wanita itu. Tanpa menambah apalagi menguranginya.
"Ku harap istriku memang mengalami anemia." gumamnya, yang masih terdengar lirih di telinga pak Ragil.
Veronica, kalau saja aku tak mendapatkan bukti seperti yang kau ucapkan itu, maka kau akan menerima ganjaranmu! (Arga)
"Pak, bisa tolong siapkan kamar lain untuk istriku?"
"Emmm, baik Tuan. Akan segera saya siapkan." Walaupun Pak Ragil bingung dengan keinginan Tuannya, namun Beliau tetap mengiyakan tanpa banyak bertanya.
Sementara itu Arga langsung melenggang masuk ke dalam rumah melewati Pak Ragil dan beberapa pelayan yang sedang membungkuk sedikit.
–––
Di dalam kamar yang luas, Arga masuk dengan hati-hati. Melewati sedikit lorong pembatas dari pintu itu hingga sampai pada ranjangnya.
Seorang perawat pribadi yang menemani Arum di dalam mengangguk sekali.
"Kau bisa keluar dulu!" Perintahnya. Gadis perawat itu pun mengangguk sebelum melangkah keluar kamar.
Kembali pandangan Arga tertuju pada Arum yang tengah tertidur pulas. Wajahnya yang sedikit pucat menandakan dia memang sedang tidak sehat.
Pelan-pelan mendekati lalu duduk di sisinya. Arga terdiam untuk waktu yang lama, menekuri wajah tenang Arumi dalam balutan selimut yang menutupi sebagian dari tubuhnya.
Arum, apa benar kau berselingkuh? Ku harap, semuanya tidak benar.
Tangannya terangkat, menyentuh wajah halus sang istri.
Katakan jika itu bohong. Kau tidak mungkin berani melakukan hal kotor itu di belakangku. Kau wanita beradab. Aku percaya padamu.
Sentuhan tangan yang berpindah ke bibir membuat Arum terjaga. Kelopak matanya terangkat lemah. Tangannya meranggai tangan Arga yang sedang mengusap bagian bibirnya.
"Sayang?" Lirih Arum bersuara. Ia melihat Arga di sisinya. "Kau sudah pulang?"
Arga tak menjawab, tatapan matanya masih mengarah nanar kearah sang istri. Wanita itu pun bangkit, ia duduk dan tersenyum tipis di hadapan suaminya.
"Ah, aku lupa..." Arum memberikan kecupan di pipi. "Selamat datang Suamiku."
Salah satu tangan Arga terkepal kuat. Ia bahkan tak membalas kecupan itu seperti biasa. Tak lama, Pak Ragil mengetuk pintu kamar dan masuk setelah menunggu beberapa saat.
"Tuan, kamarnya sudah siap," kata beliau, yang membuat Arga menoleh kebelakang sedikit.
"Kamar?" Arum merasa bingung saat mendengar itu. Dimana sang suami kembali menggeser pandangannya ke depan.
"Kita pindah kamar untuk sementara waktu," pintanya bernada dingin.
__ADS_1
"Emmm, pindah kamar? Kenapa tiba-tiba?"
Arga menghela nafas, ia sedang berusaha keras menahan hawa nafsu yang ingin meledak-ledak.
"Pak, mana kursi rodanya?" pinta Arga tanpa menjawab pertanyaan Arum sebelumnya.
"Ini Tuan," jawab Pak Ragil sembari memerintahkan salah seorang pelayan untuk mendekatkan kursi roda itu ke sisi ranjang.
"Kita beneran pindah?"
"Ya, hanya satu malam saja. Karena aku ingin pelayan menata ulang kamar ini."
"Oh, baiklah..." Arum menyibak selimutnya lalu turun dari ranjang itu berpindah ke kursi roda yang sudah di siapkan. Sementara seorang suster meraih kantung infus yang menggantung di tiang.
Kenapa tiba-tiba sekali, Tuan Arga mau menata ulang kamar ini? Padahal kamarnya rapi. –Arum masih kebingungan. Hingga pelayan tersebut mendorong kursinya keluar kamar. Yang diikuti seorang perawat pribadi di belakang mereka.
Arga terdiam sejenak hingga Arum benar-benar tidak terlihat lagi. Sekarang, di kamar itu hanya ada dirinya bersamaan dengan Pak Ragil yang sedang menunggu perintah selanjutnya.
"Geledah kamar ini, cari apapun jenis obat yang ada." Perintahnya pada dua pelayan pria di belakang Pak Ragil.
"Baik, Tuan." Mereka menjawab dengan tegas sembari menjalankan perintah Tuannya itu.
"Pak Ragil, sekarang panggil Pak Rizal untuk menghadap ku di ruang kerja!"
"Baik, Tuan." Pria paruh baya itu mengangguk sekali, sementara Arga langsung pergi begitu saja. Sebenarnya ada apa ini? Membatin kemudian.
–––
Di ruangan kerja...
Arga menunggu dengan tatapan dinginnya. Hingga pintu ruangan itu diketuk.
"Selamat siang, Tuan." Menyapa dengan takzim. Pria itu kini sudah berdiri di hadapannya.
"Pak Rizal, selama ini kaulah yang paling lama sebagai kepala pengawal untuk istriku. Kau juga yang lebih banyak menemani Arumi, bahkan duduk dalam mobil yang sama."
"Benar, Tuan." Pria itu menunduk.
"Sekarang, kau lihat aku sebagai siapa?"
"Emmmm?" Pelan-pelan mengangkat netra hitamnya melirik Arga. Kenapa Beliau begitu mengerikan. Apa aku melakukan kesalahan besar?
"Jawab!" Hentaknya hingga Pak Rizal terhenyak.
"An–Anda Tuan Muda yang menggaji-ku. Saya bekerja pada Tuan saat ini."
"Jadi apakah kau akan mengatakan dengan jujur. Perihal apapun yang akan ku tanyakan padamu?"
"Iya, Tuan," jawabnya hati-hati.
Arga pun menghela nafas, tangannya mengusap sisi samping rambutnya kebelakang.
"Kau kenal pemuda bernama Rayyan?"
"Ya, saya tahu Tuan. Dia pemuda yang bekerja sebagai guru magang di gedung simfoni."
Arga kembali diam dengan rasa kesal yang sudah meluap di kepalanya.
"Apa ada hal yang aneh darinya?" tanya Dia kemudian setelah mampu menetralkan sedikit.
__ADS_1
"Emmm, pria itu. Selalu ada di depan pintu ruangan violin, setiap kali Nona ada jadwal latihan."
"Apa yang Dia lakukan?"
"Tidak ada. Hanya diam saja, Tuan."
"Yakin hanya itu, apa mereka pernah berdialog?"
"Emmm?"
"Jawab dengan jujur! Tidak perlu kau menyembunyikan apapun dariku."
"Ya, Tuan. Beberapa kali saya melihat mereka mengobrol, dan yang terakhir–" Pak Rizal menggantungkan kalimatnya saat mengingat janji yang ia ucapkan pada Arumi.
"Yang terakhir?"
"Emmm... sa–saya hanya mendengar dari pelatih wanita itu. Jika Nona muda di bawa pergi olehnya selama beberapa menit. Lalu saat saya menemukan nona berjalan di sekitar pintu tangga darurat. Saya berpikir, Nona Arum habis dari sana. Walaupun jujur, hanya Nona muda yang saya lihat. Saya yakin pria itu ada di dalam."
"Kenapa kau tidak memeriksanya?"
"Itu karena Nona Arumi melarang saya, Tuan."
"Dan kau tidak melaporkan ini pada Sekretaris Tomi? Atau kau sudah melapor namun dia tidak mengatakannya padaku?"
"Saya memang tidak melapor, Tuan. Karena memang, Nona Arumi meminta saya untuk tutup mulut."
Arga semakin berang, ia bahkan menggebrak meja dengan sangat keras. Satu tangannya terkepal kuat, satu tangan lainnya Menujuk Pak rizal dengan nafas terdengar naik-turun.
"Kau, mulai hari ini. Sudah tidak lagi bekerja denganku."
"A–apa? Tapi Tuan?"
"Pergi dari hadapanku sekarang. Dan ambil gaji terakhirmu!"
"Tuan, saya mohon ampun. Tolong jangan pecat saya. Saya benar-benar menggantungkan hidup keluarga saya di sini."
"Aku tidak peduli itu, pengkhianat!! Enyah kau...!" Sergahnya tanpa ampun. Pria bertubuh tinggi besar itu pun menghela nafas pasrah dan pergi dari ruangan itu dengan ekspresi lunglai.
Tak berselang lama, seorang pelayan pria masuk membawa sesuatu yang di cari Tuannya itu.
"Permisi, Tuan."
Arga yang tengah memijat keningnya melirik. "Apa kau menemukannya?"
"Ada beberapa obat termasuk vitamin yang biasa di konsumsi Nona Arumi. Namun ada salah satu botol kapsul yang saya temukan tersembunyi dalam laci lemari pakaian, Nona Arum."
"Obat apa itu?"
"Emmm, sejenis suplemen ibu hamil."
Deg!
Tangan Arga gemetar, meraih obat itu dari tangan pelayannya.
Brengsek! Mungkinkah dia berani melakukan ini? Dia beneran hamil...?
"Kau, keluar sana!"
"Baik Tuan." Pelayan itu melenggang pergi.
__ADS_1
"Aku tidak akan bicara sampai kau mau buka suara. Apakah kau bisa mengatakan kabar kehamilanmu dengan jujur, Arumi?!" Tangannya mengepal kuat, botol kapsul yang ada di genggamannya.