
Dalam kamar mandi, Arga menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Pria itu meremas keningnya dengan satu tangan. Seolah penyesalan dalam hati kembali menguasai. Walau ia sendiri memulai itu bukan karena ingin Arumi berperan sebagai Alicia.
"Padahal dua jam yang lalu, aku bertekad akan menghentikan semuanya. Tapi mengapa aku melakukannya lagi dengan wanita itu. Semakin besar pula pengkhianatan ku pada Alieee."
Arga membatin, semakin kesini ia seolah menyadari. Adanya pernikahan ini, dan menjadikan wanita itu sebagai pengganti Alicia adalah perbuatan yang tidak benar. Sama saja seperti Dia mengkhianati kekasihnya itu. Juga melukai wanita yang sejatinya tidak tahu apa-apa.
Namun, melepaskannya begitu saja Kenapa sangat berat?
Benar, seolah saat ini tangan kanannya tengah menggenggam erat Alicia, namun di belakang ia juga mempertahankan Arumi dengan tangan kirinya. Itulah yang ia rasakan.
Arga menyeret kakinya. Membawa diri hingga wastafel. Tangannya menekan kran keatas, hingga airnya mengalir cukup deras.
Menengadah, menampung air tersebut sebelum di gunakan untuk membasuh mukanya sebayak tiga kali.
Di depan cermin, Arga memandangi pantulan wajahnya yang basah setelah di basuh air.
Tak bisa ku pungkiri, aku menikmatinya... karena memang hanya dengan wanita itu aku berhubungan suami-istri.
"Ck!" Kembali ia membasuh wajahnya sebanyak tiga kali sebelum melepaskan jubahnya dan berjalan masuk kedalam bilik kaca. Menekan kran itu full, dimana air langsung menyiram tubuhnya dari atas kepala hingga kaki.
Kedua tangannya bertopang pada dinding. Berpikir antara Alicia dan Arumi adalah wanita yang berbeda.
Aku akan berusaha untuk mencintai Anda, seperti apa yang Anda inginkan... (ucapan Arumi beberapa menit sebelum hubungan keduanya berlangsung di atas ranjang.)
Buru-buru ia mematikan keran airnya. Mencoba memastikan sesuatu yang tiba-tiba muncul.
Deg... deg...
Arga menyentuh dada bidangnya. Ketika merasakan jantungnya berdebar-debar saat ini.
"Arumi, kau?" gumamnya. Secepat itu pula ia menggeleng lalu menyalakan lagi kerannya.
Zraaaaaaaaasssshhh.... Semburan air menyiram kepala Arga yang sudah basah tadi.
Tidak...! bukan seperti itu. Ini tidak benar, sudah pasti salah!
Kedua tangannya menggosok rambutnya dengan kasar. Mencoba menolak fakta yang sebenarnya, bahwa Arga mulai merasakan berdebar pada sosok Arumi. Bahkan sepanjang melakukan hubungan itu tadi. Tak henti-hentinya mata emerald itu menatap wajah Arumi tanpa berpikir Alicia seperti yang sudah-sudah.
🍂🍂🍂🍂
Mentari pagi kembali datang...
Arum mengerjapkan matanya. Menoleh ke sisi samping sebab sebuah pelukan hangat yang ia rasakan.
__ADS_1
Dia memelukku?
Arum membatin. Namun sejurus kemudian tersenyum, membuatnya enggan untuk bangkit. Lebih baik menikmati wajah polos didepannya saja untuk sesaat sebelum terjaga.
Dia sangat tampan saat di lihat dari dekat. Lebih tampan daripada saat terjaga.
Ragu-ragu jari telunjuknya menjurus pada sang suami. Menyentuh dengan hati-hati pipinya yang bersih itu.
Waaaah, kulit wajahnya benar-benar halus.
Tak lama mata Arga terbuka secara tiba-tiba. Yang tentunya membuat Arum terkejut. Buru-buru ia menjauhkan tangannya lagi walau keduluan di tahan Arga.
"S–Suamiku? Anda sudah bangun?"
"Emmm..." jawabnya. Sembari menempelkan tangan Arumi ke bibirnya. Wanita itu terkejut, hal yang tak pernah di lakukan suaminya. Yaitu menempelkan tangan ke bibir cukup lama.
"Sayang, kau mau minum?"
"Tidak," jawabnya tak begitu jelas karena tangan Arum yang terus menempel di bibirnya. Dan kini justru semakin naik, sebelum berpindah ke pundak.
Ada apa dengannya? –batin Arum merasa bingung dengan tingkah suaminya pagi ini.
Tangan Arga mencengkeram pelan dagunya, lalu mendekati wajah itu hendak mencium bibirnya.
"Eh, aku?"
"Kau bilang akan berusaha mencintaiku? Lalu kenapa kau menolak saat hendak ku cium?"
"Ah, Hahaha... itu karena aku? Aku, belum sikat gigi sayang. Aku baru bangun."
"Aku juga sama, apa kau tengah berpikir aku bau mulut?"
"Tidak, bukan begitu."
"Sudahlah, kau memang pintar berbohong." Arga melepaskan pelukannya, lalu mendorong pelan tubuh Arum. "Aku tahu semalam kau menggodaku hanya untuk pengalihan atas kesalahanku kemarin siang, kan?"
"Ti–tidak sayang. Bukan begitu, aku tulus mengatakan akan berusaha mencintaimu."
"Aku tidak percaya padamu. Nyatanya di cium saja tidak mau!"
"Aku mau, sangat mau. Sungguh Suamiku..." Arum mendekati suaminya.
"Kau mau? tapi aku sudah tidak bernafsu lagi. Ketika aku di tolak, sama saja kau menghinaku."
__ADS_1
"Aku tidak menghinamu. Justru aku khawatir kau akan merasa tidak nyaman..."
"Ck!" Arga mendorong tubuh Arumi. "Pergi sana."
Hisssssshhhhh, usianya memang lebih tua sepuluh tahun dariku. Tapi sikapmu benar-benar seperti anak-anak di bawah umur!
Arum menggeleng, bibirnya tersenyum manis.
"Tidak akan, sayang." Mencium pipi Arga satu kali. "Maafkan aku sayang, dan ku mohon ciumlah aku. Aku berjanji tidak akan menolaknya."
"Ku bilang, aku sudah tidak bernafsu!"
"Tapi aku bernafsu."
"Kau?" Arga mendelik.
Sudah pasti Dia menatap hina padaku, hiks. (Arum)
"Kau yang memaksa ya, jadi jangan salahkan aku jika aku meminta lebih sekarang."
"Ha–hanya cium, kan?"
"Ku bilang tadi lebih..." Arga menarik separuh bibirnya. Tangannya mulai menyentuh area-area sensitif milik Arumi.
Tidak mungkin ia mau lagi. Tuan Arga tidak pernah meminta jatah pagi sebelum.
Sedikit merinding namun ia tidak bisa menolak, alhasil wanita itu harus pasrah ketika Arga mulai melecuti pakaiannya.
.
.
.
epilog...
Pak Ragil membaca pesan chat dari Arga di dalam kamar, Beliau pun turun menghampiri Sekretaris Tomi di ruang kerja.
"Tuan, Anda bisa selesaikan ini sendiri?" tanyanya, Tomi pun menurunkan sedikit kacamata miliknya. Melirik Pak Ragil dari atas kacamatanya.
"ada apa?"
"Tuan Arga mungkin akan sedikit terlambat. Beliau mengirim pesan untuk tidak diganggu selama satu jam kedepan."
__ADS_1
"aiiiissshhh!" Tomi terdengar sedikit gusar. melepaskan kacamatanya kemudian. Ya karena seharusnya setelah ini ada meeting penting. Namun harus di undur sampai dua jam. Semu sebab satu hal yang bisa ia cerna menggunakan otak orang dewasa.