Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
pertemuan setelah menikah


__ADS_3

"Intinya Saya ingin Anda menjelaskan, perasaan seperti apa ini?" tanya Arga setelah menceritakan inti-inti dari semua yang ia rasakan.


"Baik, dari pembicaraan ini saya mulai menangkapnya, Tuan. Jika kesedihan yang berlarut-larut seperti Anda ini bisa jadi adalah pertanda dari prolonged grief disorder."


"Apa itu bisa di sebut dengan gangguan mental?" Tanya Arga. Dokter Aska pun mengangguk.


"Iya, Tuan."


"Tapi, bukankah itu harusnya wajar saja bagi seseorang yang di tinggal pergi oleh kekasihnya?"


"Ya, Anda benar. Rasa sedih sejatinya adalah hal yang wajar terjadi ketika kita kehilangan orang tercinta. Namun, kesedihan tersebut biasanya diekspresikan secara fisik, emosional, dan psikologis. Sementara Anda sendiri lebih banyak menunjukkan ekspresi psikologi. Contoh nyatanya dengan cara menginginkan wanita lain dengan wujud yang sama seperti wanita yang telah tiada. Lalu Anda berimajinasi bahwa wanita yang tidur bersama Anda adalah Dia. Bukan begitu?"


Arga tercenung, karena memang itu yang ia lakukan pada Arumi. Ia mencium, ia menggaulinya dengan angan-angan Alicia lah yang sedang bersamanya. Walaupun saat normal dia bisa menyadari wanita itu adalah orang yang berbeda membuatnya bisa berlaku seenaknya tanpa memedulikan perasaan wanita tersebut.


"Yang Perlu Anda ketahui tentang Prolonged grief disorder. Seseorang yang mengalami sindrom tersebut biasanya mengalami kesedihan mendalam secara intesif selama lebih dari 12 bulan usai kematian orang yang dicintainya. Pada kasus yang sama, sebagian orang lebih banyak untuk berusaha menghindari ingatan atau kegiatan yang mengingatkan mereka akan peristiwa kehilangan tersebut. Tapi pada kenyataannya, Anda justru menggunakan tubuh wanita lain untuk di jadikan penggantinya. Dari situlah Anda akan semakin terpenjara dalam bayang-bayang mendiang kekasih Anda."


"Anda tidak mengerti, Dok. Bahwasanya saya punya alasan kuat untuk itu. Saya mencari wanita baru hanya untuk melupakan. Juga di jadikan obat untuk melawan luka hati saya." Arga menunjuk dadanya sendiri.


"Jika Anda ingin menyembuhkan luka kehilangan? seharusnya yang Anda butuhkan bukan hanya visual dari mendiang wanita yang Anda cintai. Melainkan hatinya. Anda tidak akan bisa menyembuhkan kehampaan pada diri Anda sendiri jika tidak memunculkan perasaan pada pasangan Anda yang sekarang."


"Cinta? Perasaan?"


"Benar, Tuan. Anda harus berusaha menghadirkan cinta pada diri Anda untuk pasangan yang sekarang. Dan juga sebaliknya... maka rasa tidak bahagia itu akan hilang seiring berjalannya waktu."


Arga terkekeh. Dokter Aska sendiri menanggapi itu dengan senyuman tipis sembari mencatat sesuatu.


"Aku menganggap dia tak lebih dari wanita rendahan yang sudi ku bayar demi membangkitkan fantasi ku."


"Tapi Anda sempat bilang jika ada hubungan yang lebih dari sekedar memerankan sosok Almarhumah. Seperti melayani di atas ranjang?"


"Wajar jika saya memakai tubuhnya untuk memuaskan hasrat. Saya laki-laki normal, Dok. Lagipula untuk apa saya membayarnya mahal, bahkan memberikan Dia status Istri sah namun tidak menggunakannya? Bukankah sangat rugi?" Tanpa sadar Arga mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya.


Sekretaris Tomi yang masih berdiri di sana baru memahami itu, bahwa ada sedikit sugesti yang membuat Arga jadi bisa mengeluarkan semua yang tertahan di pikirannya.

__ADS_1


"Berapa kali dalam seminggu Anda berhubungan dengannya?" Tanya Aska kemudian. Membuat Tomi menoleh kearahnya.


"Maaf, Dok. Sepertinya Anda terlalu lancang jika bertanya seperti itu," potong Tomi yang merasa kurang suka dengan caranya.


"Mohon maaf, namun ini adalah prosedurnya. Dan Beliau pasien saya."


"Namun hal seperti itu terlalu pribadi."


"Jika Anda tidak nyaman, mungkin bisa keluar saja. Karena ini juga termasuk privasi saya dengan Tuan Arga selaku pasien."


"Tapi?"


"Tomi, biarkanlah..." Arga menyela, karena dari pembicaraan ini perlahan-lahan hatinya mulai terbuka. Ia juga merasakan bebannya sedikit berkurang. "Kau bisa keluar dulu, biar saya bicara empat mata dengan Dokter ini," titahnya kemudian. Sekretaris Tomi pun mengangguk sekali sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


***


Di tempat lain, Arumi baru keluar dari gedung latihan. Wajahnya yang lelah tengah berjalan menyusuri lobby, melewati pintu putar kaca sembari memegangi tas berisi biola.


Lantas berhenti di pelataran lobby menunggu sopirnya datang bersama mobil yang membawanya.


Ya, sehabis makan malam jika tidak ada hal yang di bicarakan lagi dengan Sekretarisnya, Arga akan minta di temani menonton video daily-nya dengan Alicia.


Melihat kemesraan mereka beradu kasih di bawah menara Eiffel atau mungkin arena ice skating. Tawa manjanya membuat Arumi semakin dilingkupi perasaan lain dalam hatinya.


Kadang ia merasa miris dengan dirinya sendiri yang sama sekali tak berharga di sisi pria yang senyum-senyum melihat visual Alicia dalam layar lebar di ruangan home teathernya. Belum lagi saat pria itu meraih wajahnya sebelum mencium bibirnya dalam waktu yang tak sebentar.


Arum yang hanya bisa diam saja merasakan sentuhan yang membuatnya semakin di cambuki, tentunya jauh dari kata menikmati.


Belum lagi saat tubuhnya di gunakan untuk memuaskan hasrat pria itu di atas ranjang. Sebagai pelampiasan rindu yang dirasakan Tuan muda itu.


Sampai kapan akan seperti ini?


Arum mengusap lengannya sendiri. Rasanya semakin tidak mudah saja. Walaupun awalnya ia tidak peduli. Namun sepertinya ia mulai merasa, jika di siksa oleh Mama Linda dan anak-anaknya itu jauh lebih baik dari pada hidup dalam bayang-bayang orang lain.

__ADS_1


Setitik air matanya menetes. Buru-buru ia mengusapnya. Saat seorang pria melaluinya.


"Arum!" Pria itu sampai berbalik padahal sudah melewatinya beberapa langkah. "Benar, Kau Arumi?"


"Ra–Rayyan?" Setengah mati Arumi terkejut. Saking terkejutnya ia sampai ingin memeluknya. Sebab perasaan sakit yang ia rasakan saat ini mendadak teduh saat mendapati sosok orang terkasih di depannya.


"Aku sampai tidak mengenali. Tapi hatiku seperti menyakinkan itu, Kau?" Senyum Rayyan membuat hati Arumi merasa sejuk, namun sekejap kemudian kembali sesak.


Wanita itu tersenyum, berbarengan dengan setetes air mata yang dengan bandelnya mengalir di pipi. Buru-buru Arumi memalingkan wajah sembari menyekanya. Senyum Rayyan meredup seketika saat melihat itu.


"Hei– Kau baik-baik saja?"


"Aku, Baik-baik saja." Masih membelakangi Rayyan, karena air mata yang tak kunjung berhenti menetes. Ah, sial. Bagaimana ini?


"Arumi..." Rayyan hendak menyentuh bahunya. Namun ia tahan karena status Arumi yang sudah bersuami. "Rum, maaf ya. Saat kau menikah aku tidak hadir. Kau harus tahu perasaanku pada saat itu."


Semakin deras pula air mata itu mengalir. Ia pun hanya mengangguk saja.


"Untuk sekarang aku sudah ikhlas. Tapi janji, ya? Kau harus bahagia..."


Arum tak tahan, lagi. Benar-benar ingin tumpah semuanya di hadapan Rayyan. Jika saja ia bisa melakukan itu, meminta Rayyan untuk menolongnya keluar dari masalah ini mungkinkah kehidupannya akan lebih baik?


Tidak! Rayyan tidak boleh terlibat dalam setiap masalahku.


Arum menyeka air matanya untuk kesekian kali saat mobilnya tiba. Ia pun menoleh hanya untuk mengangguk singkat, sekali.


"Aku permisi dulu, Ray–" ucapnya, lalu buru-buru masuk kedalam mobil berjenis Alphard.


Wajahnya masih belum menoleh kearah Rayyan yang tetap berdiri menghadapnya. Hingga pintu itu tertutup rapat. Arum baru menoleh memandangi wajah sedihnya yang membuatnya semakin merasa bersalah di balik kaca mobil yang gelap.


Maafkan aku Rayyan... padahal di hatiku ingin sekali berkata bahwa aku tidaklah bahagia sekarang.


Mobil mulai melaju, namun Rayyan masih bertahan di sana hingga benar-benar tidak nampak dari pandangannya.

__ADS_1


Pria itu menunduk, sembari mengusap ke-dua matanya yang basah karena kesedihan yang masih ada. Ia menahan perasaannya pada wanita lain demi mempertahankan Arumi di hatinya. Nyatanya, hingga detik ini. Laki-laki yang hanya menggunakan kemeja berwarna Nevy dengan celana bahan itu tetap tidak bisa memiliki Arumi seutuhnya.


__ADS_2