Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Ke Danau


__ADS_3

Mobil mewah Arga berhenti di depan danau buatan milik keluarga Narendra. Terdiam sejenak memandangi permukaan air yang tenang. Sembari sesekali mencium tangan istrinya yang ia genggam.


"Suamiku, kau membawaku kesini apa karena sedang rindu dengannya?" Tanya Arum. Arga pun menoleh. Pria itu langsung memutar posisi duduknya mengarah pada sang istri.


"Kenapa langsung berpikir demikian?"


"Ya, aku hanya sudah hafal. Karena setiap kali kau mengajak ku ke sini pasti alasannya hanya satu? Rindu Nona Alicia. Biasanya, kau akan menciumku dengan waktu yang lama."


Arga tersenyum kecut. "Kau cemburu? Ketika aku membawamu lagi ke sini setelah sekian lama?"


"Tidak."


"Benarkah, tidak?" Mengusap pipi istrinya.


"Ya, sedikit. Tapi aku memahami. Aku juga tahu dari awal kalau dia itu cinta masa lalu mu. Dan sekarang cintamu adalah aku," jawab Arumi. Arga pun tersenyum.


"Arumi..."


"Ya?"


"Kau harus tahu, aku mengajakmu kesini, bukan karena aku merindukannya. Hanya saja, aku ingin membuang traumaku tentang Danau ini. Dengan caraku membawamu. Tanpa memikirkan Dia," jelas Arga. Arumi pun tertegun memandangi wajah Suaminya. "Lihat, aku tak lagi menangisinya? Dan mungkin kau tidak akan percaya jika sepanjang kita duduk di sini, tak terbesit sedikitpun wajahnya."


Wanita itu tersenyum tipis, ia bisa melihat wajah berseri-seri yang di tunjukkan Suaminya. Sepertinya ia jujur. Arga meraih kedua tangan sang istri lalu menciumnya.


"Jujur saja aku heran, kenapa dulu aku bisa melihatmu seperti Alicia. Sementara sekarang, semakin aku melihatmu. Rupanya kau tidaklah mirip," tuturnya.


aku senang ketika kau tak lagi menyebutnya Alieee... panggilan sayang itu sudah seperti sembilu.


"Iya kah? Lebih cantik dia, ya?"


"Bukan itu."


"Lalu apa?" Arumi penasaran. Walaupun hatinya tercubit ketika membahas mantan kekasih dari suaminya itu. Tapi ia tak boleh menunjukkan perasaan itu di depan Arga.


"Ya, kau adalah kau. Sementara Dia adalah Dia. Kau tidak sama sekali menyerupainya." Arga mengecup kening Arumi lembut lalu menempelkan keningnya sendiri. "Maaf ya..."


"Kenapa minta maaf? Jangan minta maaf terus."

__ADS_1


"Tapi aku selalu mengingat saat awal kita menikah. Tidak ada kenangan baik yang ku lakukan untukmu. Bahkan hingga detik ini. Kau pasti terluka karena ku bawa kesini, lalu membahasnya lagi?"


"Suamiku, aku tidak mau membahas yang telah berlalu. Aku sudah bahagia dengan yang sekarang. Dan ketika kau membahas sesekali tidak apa-apa, kok."


"Tapi, bukankah banyak orang bilang jika luka hati tidak akan pernah terhapus dalam benak siapapun yang merasakannya?"


"Itu benar... luka fisik bisa hilang, namun luka di hati akan sesekali muncul dalam ingatan. Dan itu abadi tersimpan hingga mati."


Arga bergeming, menatap mata hazel Istrinya. Bibir Arumi tersenyum, ia lantas mengecup tiga kali bibir suaminya.


"Berusahalah untuk melebur semuanya, sayang."


"Aku sedang mengusahakan. Tapi dengan cara apa?"


"Dengan cinta... apa lagi?"


"Sesederhana itu? Apa cukup cintaku membayar lukamu yang sudah terlalu dalam?"


"Kalau kau bisa memegang janji kesetiaan hingga menua. Tentu sangat setimpal." Arumi melebarkan senyumnya.


"Ku pegang janjimu. Jangan khianati aku."


"Emmm..." mendekati bibir Arumi sebelum mendaratkan ciuman lembut disana.


Dalam keheningan bibir mereka menyatu


Di temani sorot mentari senjata yang mulai meredup.


Ini kesayanganku. Dia memang terlihat kuat dan berbahaya, namun sejatinya rapuh.


Deg! Arum membuka matanya, saat sang suami masih bermain dengan bibirnya. Arum pun mendorong pelan melepas ciuman itu. Tarikan lembut dari sang suami mengakhiri.


Kedua pipi mereka memerah sesaat. Kedua mata Arga masih memandangi bibir manis sang istri.


"Kaktus..." gumamnya. Dengan nafas yang naik turun terlihat dari gerakan dadanya.


"Kaktus?" Arga mengerutkan kening.

__ADS_1


Sekarang Arum baru ingat tentang kaktus tersebut. Arum menoleh ke sekeliling sembari bangkit dari tempatnya duduk. "Tempat ini..." Berjalan beberapa langkah semakin mendekati danau.


"Sayang, apa yang sedang kau lakukan? Kau mau kemana?" Arga buru-buru bangkit dan menyusul istrinya.


Wanita itu berdiri di tepi danau. Berada di sisi pohon besar.


"Wanita itu, dan kaktusnya..."


"Ada apa dengan kaktus?" Arga merasa bingung. Arumi pun menoleh kebelakang.


"Dulu aku pernah bermimpi, berada di tepi danau ini. Aku ingat jelas itulah kenapa aku merasa djavu dengan tempat ini."


"Yakinkah?"


"Iya... aku yakin sekali. Pohon ini, suasana danauny ketika senja... sama persis." Arum mengingat lagi. "Wanita itu berambut agak pirang, memiliki senyum bulan sabit yang indah. Dia sangat cantik. Lalu tiba-tiba menyerahkan kaktus yang ia sebut kesayangannya padaku, tak lama aku melihat pria tak jauh dari sudutku berdiri." Arumi terus mengoceh, sementara Arga hanya menatapnya dengan senyum tipis.


"Jangan tersenyum seolah kau sedang meremehkan mimpiku itu. Aku sungguh-sungguh bermimpi bertemu dengan wanita yang kalau di ingat-ingat ciri-cirinya seperti Nona Alicia."


Arga terkekeh tanpa suara. Tidak menanggapi dengan serius.


"Sayang, kau percaya, 'kan?"


"Entahlah..."


"Kok entahlah? Aku benar-benar pernah bermimpi seperti itu. Demi Tuhan, satu hari sebelum aku di culik orang-orang suruhan Sekretaris Tomi." Arumi terus saja bersikeras. Walau Arga sendiri hanya menanggapi itu dengan tawa, namun matanya berkaca-kaca memeluk Arumi kemudian. "Sayang..."


"Sudah jangan di lanjutkan?" Arga mempererat pelukannya.


"Tapi aku serius tidak bohong."


"Iya aku percaya. Sudah, ya..." Arga mengusap kedua matanya yang basah diam-diam saat sedang memeluk tubuh istrinya.


Benarkah kau datang ke mimpinya? Lalu menyerahkanku pada Arumi? Seperti kau datang pada mimpiku, Alicia?


Arga memandangi danau tersebut. Dengan sesekali mencium bahu istrinya.


Berarti kau benar-benar merestuiku untuk mencintainya sejak awal?

__ADS_1


__ADS_2