Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
mengobati luka


__ADS_3

Setelah mandi, Arum duduk di kursi panjang. Melihat area lututnya yang lecet akibat tergores iapun meringis.


"Ya ampun, pantas saja saat mandi tadi perih. Ternyata ada luka sedikit..." ia beranjak mendekati kotak obat yang tergantung di dinding, tak jauh dari kursi tempatnya duduk.


Arum meraih kapas, pembalut luka, dan obat merah. Kemudian membawanya lagi ke kursi tersebut. Pelan-pelan ia menghempaskan bokongnya, kedua kaki ia luruskan sebelum mengangkat sedikit bagian bawah roknya.


"Sedikit saja, sebaiknya ku lakukan dengan cepat sebelum Tuan Arga pulang." Baru saja Arum mengatakan itu, pintu sudah terbuka.


Grataaak... Beberapa barang yang dipegangnya mendadak jatuh. Bahkan obat merah itu sampai menggelinding ke depan.


"S–sayang? Kau sudah kembali?" tanyanya, sembari menurunkan kedua kakinya. Arga langsung menutup pintu dan berjalan kearahnya. Sebelum itu langkahnya terhenti tepat di dekat obat merah yang hendak di pakai Arumi barusan.


Duuuh... gumamnya dalam hati saat Arga meraih botol obat merah tersebut.


"Kau menggunakan ini untuk apa? Apa kau terluka?" tanyanya. Arum pun melebarkan senyum.


"Sedikit sayang," jawabnya.


"Sedikit?" Buru-buru Arga mendekatinya. "Di bagian mana?"


"Ha–hanya lutut, Sayang. Dan itu tidak?" Arum menghentikan ucapannya saat Arga berjongkok demi memeriksa lutut sang istri. Tangannya mengangkat sedikit rok Arumi.


Haduh, semoga ini tidak menjadi masalah besar... batin Arumi, khawatir.


Arga mengangkat kepalanya. "Kedua lututmu terluka, kau bilang sedikit?"


"Bagiku itu hanya lecet sedikit," jawab Arum. Arga mengepalkan tangannya, lalu beranjak dari posisinya.


"Dimana Kau mendapatkan luka ini?"


"Di–ditaman," jawab Arum lirih.


"Taman mana?!"


"Taman?"


"Ck! Bodyguard itu kerjanya apa saja, sih?" Buru-buru Arga mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Sekretarisnya.


"Sayang, Kau mau apa?" Arumi berusaha menahannya.


"Tomi harus mengganti bodyguard-mu lagi."


"Apa? ja–jangan sayang. Aku jatuh di taman rumah ini, kok."


"Disini?" Arga semakin naik pitam. Ia merenggangkan dasinya terlihat gusar. Arum pun semakin panik di buatnya. "Para pelayan itu benar-benar tidak berguna–" hendaknya ia keluar kamar, namun buru-buru di tahan Arum yang segera memegang lengannya.

__ADS_1


"Sayang jangan apa-apakan Mereka. Sungguh aku itu jatuh sendiri, sebab?" Arum berpikir keras untuk mencari alasannya agar tidak semakin panjang urusannya. Karena bisa jadi semua pelayan di rumah di pecat oleh suaminya itu sekarang juga hanya karena lecet sedikit saja.


"Sebab apa?"


"Sebab?" Arum menggigit ujung bibirnya, ayolah otakku berpikir... Arum terus berusaha untuk berpikir guna mencari alasan. Hingga sebuah lampu di atas kepalanya menyala. Tiiiiiiing!


"Aaaaah, begini Suamiku. Jadi tadi, aku melihat ada kupu-kupu cantik di taman. Dan, aku tertarik. Saking senangnya aku mengejar dengan kaki kecilku ini, salah satu kakiku sampai terjegal kaki satunya saat berlari. Hehehe..." Arum tertawa garing. Ia menggosok-gosok dada bidang Arga yang masih menatapnya datar. "Tentunya Kau paham, Sayang. Kadang aku seceroboh itu. Hingga akhirnya aku terjatuh, dengan kedua lututku yang mendarat lebih dulu. Seperti itulah kira-kira kronologinya."


"Jadi yang salah adalah kaki mu ini?" tanya Arga.


"Itu benar, Sayang," Tangan Arumi kembali meraih telapak tangan Arga, menyentuh jari-jarinya. "Jadi tidak perlu di besar-besarkan, ya? Hahaha... aku akan berusaha berhati-hati lagi, agar kakiku ini tidak saling usil..." imbuhnya kemudian sembari menarik satu persatu jari panjang dan berotot milik Arga hingga bunyi ctiiik... ctiiik...


Arum mengangkat kepalanya melirik Arga yang masih menjuruskan pandangan padanya.


"Apa yang kau lakukan dengan jari ku?"


"Ah..." Buru-buru Arum melepaskannya. "Maaf sayang, bunyinya nyaring. Jadi tanpa sadar aku keenakan memetiknya." Nyengir kuda. Arga pun menghela nafas.


"Duduk!" Titahnya.


"Eh?"


"Duduk sana, aku yang akan mengobatimu."


"Sayang, kau kan lelah? Aku bisa sendiri, kok!"


"Bukan begitu..."


"Kau tidak mau ku obati?" Matanya sudah menjurus tajam.


"Mau, Sayang. Mau... mau..." Arum buru-buru duduk di kursi panjang itu.


"Luruskan kakimu," titahnya lagi.


"Iya, Sayang..." Arum meluruskan kedua kakinya. Arga pun kembali berjongkok, mencoba memberikan obat merah di kedua lutut Arumi secara bergantian. Terlihat tangannya amat luwes menempelkan obat itu menggunakan kapas secara pelan-pelan.


"Ssssshh..." Arum mendesis amat pelan, membuat kepala Arga menoleh.


"Sakit?" tanyanya lembut.


"Tidak begitu sayang..."


"Aku akan lebih pelan lagi," kembali Arga berfokus pada lutut yang terluka itu.


Ya ampun, Kenapa Dia mendadak baik begini... Arum mengulas senyum. Merasa senang di perlakukan seperti ini oleh suaminya. Walau sejurus kemudian meredup. Apa yang ku pikirkan? Tentunya ia melakukan ini karena menganggap-ku sebagai Nona Alicia.

__ADS_1


"Bagaimana, apa masih sakit?" tanyanya lagi menoleh secara tiba-tiba membuat Arum sedikit terkesiap kemudian menggeleng.


"Terima kasih, Sayang."


Arga menarik bibirnya tersenyum tipis, dan sangatlah singkat.


Apa itu, Dia tersenyum? (Arum)


Pria itu kembali beranjak, berpindah duduk di sofa itu. Tentunya Arum langsung beranjak duduk juga.


"Ada lagi yang terluka?"


"Tidak ada, hanya lutut..." jawabnya, namun Arga langsung meraih tangannya.


"Ini apa?" Menujuk telapak tangan Arum.


"Ini tidak begitu sakit, kok."


"Ck!" Arga kembali mengobati kedua tangannya itu. "Saat makan nanti, aku yang akan menggantikan tanganmu."


"Apa? Ke–kenapa?"


"Tanganmu sakit, jadi aku yang akan menggantikannya."


"Tidak perlu sayang, lecetnya sedikit sekali. Tidak perlu berlebihan..."


"Jadi Kau berpikir aku ini berlebihan?"


Arum buru-buru menggeleng. "Tidak sayang–"


Cupp.... Arga mencium kening Arumi merasa gemas dengan ekspresinya itu. Arum sendiri tertegun, ketika suaminya langsung beranjak meninggalkannya masuk ke dalam kamar ganti.


Braaakk... pintu itu tertutup, Arum baru menoleh kearahnya. Sepersekian detik kemudian, kembali menggeser pandangannya ke semua lukanya.


"Dia mengobatiku...?" Arum tersenyum senang setelahnya, "tidak peduli dia menganggapku Alicia atau Arumi. Yang terpenting perbuatannya tadi manis sekali..."


.


.


.


Epilog...


Arga melepaskan pakaiannya lalu bercermin. Wajah arogansinya itu sedikit memudar berganti senyum tipis. Tangannya menyentuh dadanya sendiri.

__ADS_1


"Aku harus menemui dokter SpKJ itu, besok. Perlu ku tanyakan gejala senyum-senyum dan jantung yang suka mendadak berdebar lebih kencang dari biasanya ini, kepadanya..." Arga menghela nafas panjang lalu menghembuskannya sama panjang. Bibirnya masih tak henti-hentinya mengembangkan senyum.


__ADS_2