
Gedung simfoni...
Rayyan sedang menyaksikan anak-anak muridnya yang sebagian besar adalah anak-anak SMA itu bermain saksofon.
Ada guratan rasa bangga, ketika mereka bisa bermain dengan bagus. Seolah membuatnya kembali pada saat pertama kali belajar.
Kala itu Rayyan masih duduk di tingkat SMP. Ia memaksa untuk belajar alat musik demi acara kelulusan kakak tingkat di sekolahnya. Karena bagi Rayyan, kala itu adalah momentum pas untuk menunjukkan dirinya adalah seorang pemusik handal di depan gadis berkuncir satu yang ia sukai.
Memang awalanya seperti cinta monyet biasa. Rayyan hanya berani meletakkan susu UHT, atau roti sandwich di atas meja secara diam-diam.
Dan siapa yang menyangka, kalau Dia akan mencintai gadis kecil itu hingga detik ini.
Dalam keseriusannya mendengarkan para murid meniup saksofon. Sebuah pintu terbuka, laki-laki yang tidak dia kenal kini berdiri di depan pintu.
Pemuda yang mengenakan kemeja dengan bagian lengan di tekuk tiga perempat berjalan mendekati pintu.
"Maaf, Anda cari siapa?" tanya Rayyan.
"Keluarlah, dan temui Tuan saya di roof top gedung."
Rayyan bergeming sejenak di tengah riuhnya suara saksofon yang masih terdengar di telinga.
"Anda tidak melihat saya tengah mengajar anak didik saya?" tanyanya.
"Maaf, Pak Rayyan. Mulai hari ini, Anda sudah tidak mengajar lagi disini." Seorang pria bertubuh tambun bersuara. Rayyan pun menoleh, karena ia baru melihatnya dengan satu orang yang sepertinya dari luar Negeri.
"Apa maksudnya, Pak?"
"Itu..." Pria bertubuh gemuk itu menggaruk kepalanya. "Seseorang menginginkan Anda untuk tidak lagi bekerja disini. Beliau juga telah merekomendasikan seorang pelatih saksofon dari Prancis yang akan menggantikan Anda."
Pria itu menghela nafas, matanya tertuju pada pria bule di sisi pria tambun tadi.
"Sungguh sangat konyol. Anda memberhentikan saya di tengah ketika saya sedang mengajar?"
"Maafkan saya..." tidak bisa lagi berkata-kata. Ia sendiri juga sebenarnya tidak enak hati dengan paman dari pemuda itu, namun mau bagaimana lagi. Jika Beliau tidak menuruti, maka gedung ini harus di kosongkan.
"Sekarang Anda saya beri waktu untuk berkemas. Lalu ikut saya ke atap gedung ini." Pinta pria asing pertama yang memintanya untuk keluar. Karena tidak ada pilihan, Rayyan pun mengikutinya.
Namun sebelum itu, tentu ia harus menyempatkan berpamitan dengan para anak didiknya yang terlihat kebingungan dengan alat musik tiup di tangan mereka.
Tiba-tiba Pak Rayyan berhenti mengajar...? Itulah yang ada di pikiran masing-masing. Bisik-bisik dan ajang saling tatap terlihat.
Lalu pria bule yang usianya sekitar empat puluh tujuh tahun itu segera memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggrisnya.
Ada beberapa protes dari mereka yang mengganggap ini terlalu mendadak. Seharusnya Pak Rayyan menyelesaikan lesnya hari ini hingga akhir. Itulah keinginan mereka.
__ADS_1
Tapi nampaknya keputusan itu sudah bulat. Rayyan sendiri tak banyak bicara, semuanya di serahkan pada pria tambun yang lebih banyak menjelaskan situasi yang tentunya sudah difilter.
Rayyan tersenyum tipis saat mereka mendekat serta memeluk guru musik yang amat menyenangkan. Ada beberapa anak murid yang menangis juga tidak ingin berpisah dengan guru mereka. Namun mau bagaimana lagi? Ini semua bukan atas kehendaknya.
Rayyan melambaikan tangan, sebelum keluar dari ruangan itu. Dan, dampak dari berhentinya Rayyan membuat sebagian murid kesal. Hingga tak sedikit pula dari mereka yang lantas mengemas barang-barangnya kemudian ikut keluar.
๐
๐
๐
Di atap gedung simfoni...
Arga berdiri menantang angin yang kencang menerjangnya. Sebuah helikopter juga terparkir di tengah-tengah area helipad yang sudah tersedia.
Rasa geram yang membuncah hingga ke urat nadi, membuat Arga hilang akal. Padahal ia bisa menyelidiki lebih dulu. Bukannya langsung menemui Rayyan begitu saja.
"Tuan, ini Rayyan. Pemuda yang Anda cari."
Langkah Rayyan terhenti di belakangnya. Berhadapan dengan pria yang masih memunggungi mereka berdua. Walaupun sang ajudan sudah memberitahu.
"Kalian bisa meninggal ku dengan bedebah ini...!" Pintanya bernada dingin, yang di turuti beberapa pria berjas hitam yang ada di sekitarnya.
Setelah semuanya keluar, keheningan kembali tercipta. Rayyan yang belum paham, hanya bisa mengepalkan tangan. Memendam kebencian karena surat kontrak itu. Walau dalam benaknya tangan Rayyan sudah sangat gatal untuk menghajarnya.
Bibir Arga tersungging separuh. "Kenapa? Apa kau takut tidak bisa hidup, jika berhenti mengajar?"
"Tujuan saya mengajar di sini bukan berarti saya membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga."
"Lalu kenapa kau protes saat di pecat? Apakah karena ada sesuatu di gedung ini, yang membuatmu tidak bisa angkat kaki dari sini?" Arga menoleh kebelakang.
Terlihat tatapan menantang dari pemuda bernama Rayyan itu. Terkesan datar tanpa adanya rasa tertekan.
"Saya punya cinta disini..." pungkasnya lugas. Yang membuat Arga langsung mengepalkan tangannya kuat. Seolah siap untuk meluncurkan bogem mentah.
"Cinta?" Bertanya sembari mendekat beberapa langkah. "Siapa yang kau maksud dengan cintamu itu? Apakah seorang wanita yang memiliki suami?"
Rayyan bergeming, ia belum sama sekali merubah ekspresi wajahnya. Padahal yang ia maksud adalah anak didiknya. Dan, ya... mungkin Arum menjadi salah satu faktor dia betah di sini.
"Kau terdiam karena mengiyakan? Kau tahu sisi rendah seorang pria, yaitu ketika dia berselingkuh dengan istri orang lain."
Satu alis Rayyan terangkat, "berselingkuh?"
Greeeepp! Arga mencengkeram kuat kedua kerah kemejanya.
__ADS_1
"Ku pikir, saat pertemuan pertama kita di hotel itu. Kata-katamu adalah berupa isapan jempol belaka. Rupanya, kau benar-benar mengincarnya?"
Rayyan bergeming. Membalas tatapan tajam pria bermata emerald itu.
"Kau bedebah sialan, berani-beraninya melakukan tindakan menjijikkan demi mendapatkan wanita. Kau pikir setelah meniduri istri orang lain hingga hamil, aku akan membiarkannya untukmu begitu saja?"
Kontan, mata Rayyan membulat sempurna. "apa maksudnya Anda?"
"Katakan padaku. Sudah berapa kali kau melakukannya dengan istriku, dan di mana?"
"Heiโ apakah Anda sedang mabuk, saat ini? Anda sedang menuduhku menghamili Arumi?"
"KATAKAN SAJA, SIALAN!!" Buaaaaaaaccckkk..!! Arga menghajar wajah Rayyan hingga tersungkur.
Seketika bau anyir tercium, Rayyan meringis merasakan perihnya sobekan kecil di ujung bibirnya.
Buru-buru Arga kembali mencengkeram kuat kedua kerah itu, memaksa tubuh Rayyan untuk bangkit lalu menyandarkan di ujung gedung tersebut.
"Pria miskin tidak tahu diri...! Kenapa kau lakukan ini padanya. Harusnya kau binasa!"
"Aaarhhh... AโAnda benar-benar konyol. Tiba-tiba datang, lalu melakukan ini?" sebagian badannya sudah melewati pembatas. Jika saja Arga terus mendorongnya mungkin tubuh Rayyan bisa jatuh dari atap gedung tersebut.
"Aku sebenarnya sudah curiga. Karena semanis-manisnya kucing. Insting untuk mencurinya pasti akan muncul...!"
"Anda benar-benar ingin melakukan ini padaku? Seorang presiden direktur Group company besar di negara ini, akan membunuh seseorang sebab rasa cemburunya?" Rayyan terkekeh. Walaupun tubuhnya sedikit gemetar, namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Kau pikir aku tidak berani?" Arga semakin mendorongnya. Rayyan sendiri kontan memejamkan mata. "Dengarkan aku bocah tengik! Aku punya kekuasaan untuk membersihkan ini semua. Yang terpenting aku bisa membinasakan, pria yang sudah menghamili istriku."
"Cih!" Rayyan kembali menarik separuh bibirnya. "Istrimu hamil, dan Anda menuduhku yang menghamilinya? apa serendah itu Arumi di mata Anda, Tuan Arga?"
"Bedebah sialan!"
"Jatuhkan saja aku. Walaupun aku mati semua tidak akan merubah apapun."
"Aku akan membunuh janin dalam rahimnya juga." Arga benar-benar gelap mata. Hingga tanpa sadar ia berucap demikian.
"Kau yakin? sungguh demi apapun, Anda sendirilah yang akan menyesal." suasana mencekam sekaligus pasrah tengah di rasakan Rayyan saat ini. Namun ia masih berusaha untuk tenang.
"Tuan Arga, aku tahu kau lulusan Colombia university, dan juga Harvard. Kau terkenal bos dengan otak brilian dalam ide-idemu. Tapi, rupanya kau memiliki kelemahannya. Otakmu terlalu cetek dalam urusan cinta. Padahal seharusnya kau memahami, karakter istrimu. Apakah ada dari sisinya yang terlihat meyakinkan sebagai pelaku perselingkuhan?"
"Bedebah!" Arga kembali mendorongnya, Rayyan pula kembali memejamkan matanya. Kini hampir separuh badan melayang, hanya dengan pria di hadapannya melepaskan cengkraman itu, tubuh Rayyan pasti akan terjatuh dan hancur.
Pria itu sama sekali tak berteriak, selain pasrah saja. Hingga pada akhirnya, Arga menariknya dan menjatuhkan Dia di dekat kakinya.
Pria itu langsung melenggang pergi, menaiki Helikopter miliknya karena pilot memang sudah standby di dalam.
__ADS_1
Rayyan sendiri nampak membeku, jantungnya benar-benar berdegup kencang. Perlahan-lahan baling-baling heli berputar hingga memunculkan tiupan angin yang kencang. Arga sudah menjauh, Pria itu pun menghela nafas.
"Arum, aku tidak menyangka. Suamimu sekejam ini. Semoga kau baik-baik saja. karena jika dia melakukan sesuatu padamu, maka aku tidak akan takut mati di tangannya." Rayyan bergumam. Hatinya benar-benar berang.