
Haruna seolah terhipnotis dan dalam sekali jentikan tangannya, sekejam mata. Mereka telah berada di atas ranjang yang sangat empuk dan lembut seperti sultra.
Satria menyalurkan sesuatu yang ada didalam dirinya begitu saja, tanpa dia sadari. Dampak apa yang akan ditimbulkan, oleh perbuatannya itu.
Buar
Suara petir menyambar dan menyadarkan Haruna, sontak saja dia mendorong tubuh Satria yang berada di atasnya.
"Ada apa?" tanya Satria dengan penasaran. Ketika, melihat perubahan wajah Haruna.
"Dewa tertua!" pekik Haruna panik.
Namun, Satria menenangkan Haruna degan mendekap tubuh Dewi itu yang telah polos. Gara-gara ulahnya, Satria masih belum mengetahui apapun dengan dunia atas.
Tiba-tiba saja, pelukan Satria terasa melonggar. Dia melihat keadaan Haruna. Matanya terbelalak seketika, ketika melihat perut Haruna yang membesar.
"Kamu kenapa?" tanya Satria yang kini menjadi panik.
Tidak mungki, dia bisa membuat Haruna hamil dengan sekali bercinta. Bahkan, dia belum merasa puas. Untuk menikmati tubuh Haruna yang sangat membuatnya terasa hidup.
Namun, tidak ada jawaban dari Haruna. Dewi itu diam seribu bahasa dengan mata yang kosong. Satria menjadi takut, lalu menggoyang tubuh Haruna.
"Uek."
Satria benar-benar terkena serangan jantung, hanya gara-gara menggoyangkan tubuh Haruna. Keluar seorang bayi, kemudian perut Haruna mengempis kembali.
Keadaan ini membuat Satria menjadi gila, terlebih. Dia memeprhatikan bayi yang awalnya kecil, namun lama-lama menjadi besar.
Hingga, bentuk dan rupanya sama seperti Hunter. Bertubuh besar dengan rambut yang panjang, menutupi seluruh tubuhnya.
"Aaagggrrrr!"
Makluk itu mengerang ke arah Satria, dan menyadarkannya. Jika, yang bahwa semau ini kenayataan.
"Dia anakmu!"
Satria menatap ke arah Haruna yang awalnya diam, keadaan ini benar-benar. Tidak bisa Satria terima bergit saja dengan akal fikir.
"Tidak! Dia bukan anakku!" balas Satria dan meraih kain yang berada di dekat dengannya dan menutupi tubuhnya dengan kain tersebut.
__ADS_1
Satria pergi bergitu saja, dia mencari pakaiannya. Meninggalakn Haruna dan mahkluk yang dia ketahui Hunter tersebut.
Dia tidak bisa menerima, jika makhluk itu adalah anaknya. Di saat Satria menyerlusuri istrana Haruna, kembali suaar pertir mengelegar dan tiba-tiba saja. Satria terjatuh menembus awan, terbang–melayang dengan begitu saja.
"Aaaaa ... tolong!" teriak Satria ketakutan. Dia mengalami keadaan yang mengerikan lagi, entah bisa hidup atau tidak.
Namun, tiba-tiba saja. Tubuhnya turun dengan perlahan, ketika hampir sampai di atas tanah. Satria bernafas lega dan mulai berpijak dengan kakinya.
Hap
Suara kaki Satria yang menyentuh tanah, Satria menatap keadaan sekitar dimana dia sekarang. Matanya terbelalak, ketika menyadari keadaan sekitar yang tidak asing.
"Tidak mungkin!" pekiknya merasa tidak percaya.
Satria kembali ke kastil Profesor Ruden, bukan dia tidak menyukai hal ini. Bahkan, sudah beberapa waktu Satria merencanakan untuk bisa kembali.
Namun, dia menyesal. Karena, harus terpisah dari Haruna begitu saja. Bahkan, dia belum memeprlajari ilmu sihir sama sekali.
Apalagi, percintaannya dengan Haruna yang berlangsung sangat singkat. Satria berteriak keras, merasa kesal dengan keadaan.
Kenapa dia harus hidup laam dengan keluarga Blogger dengan menajdi perliharaan Put, sedangkan ketika bersama dengan Dewi Haruna. Dalam sekejap mata saja, semuanya tidak adil menurut Satria.
Teriakan Satria yang sangat keras, terdengar oleh seseorang dan membutnya menghamiri Satria.
"Kenapa denganmu?"
Satria yang sebelumnya menadahkan kepalanya ke atas langit, kini mencari asal suara yang tengah berbicara rersebut.
Dia melihat gadis yang sanagt dikenalinya dan segera menghampiri gadis itu dan memeluknya erat.
"Alice! Tolong aku!" teriak Satria dnegan memohon, bahkan air matanya menetes dengan deras.
Andaikan saja, dia tiedak meningglakan Haruna. Mungkin, mereka masih bisa bersama. Satria hanya panik, karena melihat Haruna yang awalnya perutnya membesar. Lalu, dia menggoyangkan tubuh Dewi itu dan keluar seorang bayi yang berubah menjadi Hunter.
"Lepaskan!" bentak Alice dan mendorong tubuh Satria dengan kuat. Mata gadis itu menatap nyalang ke arah Satria, dia mengira. Jika, Satria telah mati. Setelah dikejar oleh Bulgon, peliharaannya.
Satria tidak menyerah, dia bersujud di bawah kaki Alice dan terus memohon. Namun, apa yang Satria lakukan membuat Alice semakin merasa kesal. Ditambah keadaan Satria yang tidak menggunakan pakaian, benar-benar. Membuatnya muak.
"Oke! Aku akan menolongmu! Pertama! Kita masuk ke kastil Profesor Ruden! kamu perlu pakaian lelaki itu!"
__ADS_1
Satria tertegun dengan apa yang di katakan oleh Alice dan dia menatap tubuhnya yang ternyata polos, perasaannya menajdi malu seketika.
Satria, menatap Alice yang juga membalas tatapannya dengan wajah yang terlihat jijik.
"Tolong aku."
Hanya itu yang bisa Satria ucapkan, dia kehabisan kata-kata. Sampai, Alice melemparkan seuntai kalin sultra yang sanagt lembut ke arah Satria dengan kasar.
"Pakai kain itu! Untuk menutupi tubuhmu! Aku tidak ingin di kira, telah memperkosamu!"
Kata-kaat yang sanagt penas yang Alice keluarkan, tidak berarti apa-apa untuk Satria. Dia seegra membalut tubuhnya dengan kain yang diberikan oleh gadsi itu dan segea menyusul langkah Alice yang telah menuju ke arah kastil.
Satria tidak menyangka sama sekali, jika akan kembali ke kastil. Dia teringat akan kejadian demi kejadian di dunia Albiru dan sekarang dia beru menaydari sesuatu.
Jika, cara Alice ke dunia Albiru. Pasti sama dengan dirinya, yaitu memasuki sebuah lemari besar yanga da di kastil Profesor Ruden.
Satria yang awalnya berputus asa, kini seolah memiliki harapan hidup kembali. Dia cukup meyimpan rahasia ini, dan Alice tidak boleh tahu. Jika, dirinya pernah ke dunia Albiru.
Kemudian, diam-diam dia akan menyelinap masuk ke kembali dan mencari keberadaan Dewi Haruna yang sudah dia ketahui. Jika, akan turun ke sungai.
"Hey! Kamu hanya akan diam, saja? Atau ... mau dimakan oleg Bulgon!"
Teriakan Alice membuat Satria tersadar dari lamunannya, rencana demi rencana telah dia susun di dalam otaknya.
Lalu, Satria segera mengejar Alice yang ternyata telah jauh dengan setengah berlari. Satria tidak takut dengan ancaman gadis itu, tentang Bulgon.
Sebab, Put telah mengajarinya banyak hal. Membuat Satria sudah mengetahui, kelemahan Bulgon. Jika, mereka nanti bertemu lagi.
Bahkan, Satria akan memasukan Bulgon sebagai daftar baals dendamnya. Karena, binatang yang seperti kadal itu. hampir saja membuatnya mati.
Ketika, Satria masuk ke kastil dan terus berjalan. Seraya mencari keberadaan Alice, dia dikejutkan oleh pertemuan tidak sengajanya dengan wanita yang sangat dikenalnya.
"Apa kamu sudah puas berjalan-jalan? Ataukah, masih ingin mencari suasana baru?"
Satria hanya tersenyum kecil, dia segera menghampiri wanita itu dan memeluknya dengan sangat erat. Rasa rindu yang memucah, tidak bisa di bendungan lagi.
Beberapa waktu tinggal di dunia Albiru, membuat Satria seolah melupakan dunianya sendiri.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alice tiba-tiba, mengagetkan mereka berdua. Bahkan, sorot mata gadis itu. Menyiratkan, ketidak sukaan.
__ADS_1
"Alice!" pekik Satria.