
Disaat mereka tengah terdiam sesaat, karena Penus yang masih memberikan jawaban. Atas apa yang baru saja Satria katakan. Tiba-tiba saja, mendarat sebuah binantang besar dengan tubuh yang dipenuhi oleh sisik keras. Ditambah, binatang itu menyemburkan nafas panas yang berapi.
Blurrr
Api yang disemburkan, membuat mereka bisa melihat dengan jelas. Binatang tersebut, Penus yang juga melihatnya mengambil langkah mundur. Merasa, tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya saat ini.
"Tidak mungkin!" gumam Penus pelan.
"Kamu, terlalu lama!"
"Maafkan aku, Bu! Ayah, terlalu berbelit," terang Satria.
Sedangkan ayahnya yang masih membatu di tempat, masih menatap dengan tidak percaya dengan Victoria yang telah berubah menjadi naga. Kini, berada dihadapannya.
Satria, segera mendekati ibunya. Lalu, ingin segera naik ketubuh sang ibu yang sudah merunduk ke tanah.
"Apa yang kamu lakukan, Sat!" teriak Penus dan segera mengejar Satria dan menariknya.
"Evalus!" teriak Penus dengan keras.
Tiba-tiba saja, tubuh Victoria melemas dan wanita itu terjatuh ke tanah dengan keadaan yang menegnaskan. Terdengar deru nafasnay yang tersenggal, membuat Satria menjadi panik.
"Ibu!" teriak Satria dan mengusap wajah ibunya yang menjadi naga tersebut. Hingga, dipelupuk mata wanita itu mengeluarkan cairan bening dan menandakan. Jika, dirinya tenag kesakitan.
Satria segera berbalik badan dan menatap ke arah ayahnya dengan raut wajah marah. Kemudian, membentak lelaki itu dengan kasar.
"Apa yang sudah Ayah lakukan! Kembalikan keadaan ibuku!"
Plak.
Penus malah menampar wajah Satria dengan keras, tentu saja. Hal itu tidak bisa dipercaya olehnya, kenapa sang ayah melakukan hal setega itu.
Bukan hanya, membuat ibunya merasakan sakit. Dirinya juga ikut, merasakan sakit yang luar bisa. Atas apa yang lelaki itu lakukan, Satria tidak terima dan membalas perbuatan yang ayahanya telah lakukan.
Satria langsung menyerang Penus, dengan gerakan gesit. Dia sudah berhasil. Membuat lelaki itu, tumbang dengan menyerang kuda-kudanya yang ternayata sangat lemah.
Bukan hanya itu saja, Satria juga memutar tangan sang ayah dan menekan kepalanya ke tanah. Agar, lelaki itu tidak bisa bergerak lagi.
__ADS_1
"Ayah harus bertanggung jawab! Apa yang telah Ayah lakukan, kepada ibu!" teriak Satria marah besar. Dia bisa menerima tamparan dia sang ayah, namun dia tidak bisa menerima apa yang ayahnya lakukan kepada ibunya yang membuat wanita itu menjadi seperti sekarang.
"Dia bukan Ibumu, Satria! Coba pakai mata dan otakmu!" balas Penus dengan suara yang keras. Dia tidak percaya dengan apa yang putranya ucapkan, jika binatang yang mengerikan itu adlaah Victoria.
Sekarang, Satria baru mengerti. Kenapa, ayahnya menyerang sang ibu. Kemudian, ia melepaskan kunciannya dari lelaki itu.
Percuma, jika ia menejlaskan. Jika, monster yang ada dihadapan mereka adalah sang ibu. Sebab, sudah bisa dipastikan. Bahwa, ayahnya tidak akan percaya.
Satria memabntu ayahanya untuk berdiri, lalu menatap sang ayah dengan tatapan sendu. Berharap, lelaki itu mau mendengarkan permintaanya.
"Apa yang Ayah lakukan? Tolong! Lepaskan dia!" pinta Satria dengan lirih, seraya menujuk ibunya yang masih terkapar.
"Kamu tidak sedang gila, kan Sat? Binatang itu, bisa membunuhmu!" terang Penus yang tidak menegrti dengan jaaln pikirkan putranya.
Satria hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, dia masih berharap. Kerendahan hati sang ayah, untuk menolong ibunya.
Ditengah-tengah, perasaan dan kebingungan yang tengah terjadi diantara Satria dan Penus. Diam- diam Haruna mendekati Victoria, mata wanita itu melihat sesuatu yang aneh.
Kemudian, Haruna menyentuh tubuh Victoria dengan lemah–lembut, dia juga tidak mengerti. Kenapa bisa seberani ini, padahal. Bisa saja, dirinya diterkam oleh binatang yang bertubuh besar tersebut.
Tiba-tiba saja, tubuh Victoria mengeluarkan cahaya dan dia bisa kembali terbang dengan vbebas. Haruna yang melihat hal itu menjadi senang seketika dan berteriak.
Penus dan Satria menatap ke arah wnaita itu yang tenagh berteriak kegirangan, dan melihat kelangit. Dimana Victortia yang tengah terbang dengan tubuh yang bersinar terang.
"Tidak mungkin!" gumam Penus yang tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sedangkan Satria, lelaki itu tersenyum bahagia dan segera berteriak. Memanggil sang ibu, karena sudah waktunya untuk mereka segera pulang ke negara X.
"Ibu! Ayo! Kita pulang!"
Satria melambai-lambaikan tangannya, memberikan kode pada sang ibu. Membuat wanita itu, terbang perlahan dan mulai memijakkan kakinya ketanah. Namun, dengan hati-hati. Bahkan, menjaga jarak dari Penus.
"Ibu takut! Ayo, kita pulang!" kata Victoria dengan cepat. Dia juga membuang wajah, enggan untuk menatap Penus.
Sedangkan lelaki itu, hanya melongo. Dengan mulut yang terbuka lebar, setelah mendnegar. Apa yang diucapkan oleh naga besar itu. Sauaranya yang sama persis dengan Victoria, membuatnya seolah terhipnotis.
Satria yang paham akan apa yang diktakutkan oleh snag ibu, segera menghampiri wnaita itu dan naik ke atas punggung ibunya.
__ADS_1
Kemudian, Victoria membawa tubuhnya dan Satria terang. Meninggalkan Haruna dan Penus, Satria melambaikan tangannya.
"Aku yakin sekali, jika dia Dewi Haruna. Entah apa yang terjadi? Aku harus menyelidiki, semuanya," batin Satria seraya menatap Haruna nanar. Hingga, mereka terbang semakin tinggi. Menembus malam yang indah dengan taburan bintang, mereka terbang beberapa jam. Hingga, Victoria bertanya pelan kepada Satria.
"Kamu sudah mendapatkan, jawaban yang kamu inginkan?"
Satria tersenyum kecil, mendengar. Apa yang ibunya tanyakan, dia menatap langit malam yang indah. Walaupun, agak terasa dingin.
"Satria!" pekik Victoria yang kesal. Karena, Satria hanya diam.
"Entahlah, Bu. Ayah tidak mengatakan apapun!" balas Satria.
Hingga, mereka bisa melihat dari kejauhan. Kastil Profesor Ruden yang terlihat sangat indah dengan pantulan cahaya laut yang menerpa banguann itu.
Bintang yang bersinar dan laut yang seperti cermin, memantulkan caya bintang. Membuat bagunan yang berdiri di tepi laut dengan karang sebagai pondasinya. Terlihat sangat menawan dan menyejukan hati.
Ternyata, Profesor Ruden tengah menunggu kedatangan mereka. Terlihat, lelaki paruh baya itu. Tengah berdiri di atas kastil.
Victoria mendarat dengan perlahan, sebab dia tahu. Kalau, telah membuat Profesor Ruden sedikit kesal dengan penerabangan pertamanya yang penuh dramatis sebelumnya.
"Bagiamana? Apa sudah puas jalan-jalannya?" tanya Profesor Ruden. Seraya mendekati Satria dan Victoria.
"Kalau kalian tidak pulang cepat? Mungkin, aku akan tertimpa masalah yang besar," ledeknya. Lelaki itu membawa selembar kain yang berukuran besar dan sebotol ramuan berwarna hijau.
Satria yang penasaran, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi dan bertanya, "Apa yang Profesor bawa?"
Lelaki itu hanya menatap kearah Satria sekilas dan menyelimuti hampir seluruh tubuh Victoria, lalu menyodorkan ramuan yang sudah disiapkan sebelumnya dan menuangkan ramuan tersebut ke mulut Victoria.
Tiba-tiba saja, tubuh Victoria berubah secara perlahan dan kembali normal. Tubuhnya yang tadi memiliki sayap dan bersisik, sekarang telah kembali.
Satria yang melihat proses tersebut secara langsung, sangat terkagum-kagum dengan kemampuan Profesor Ruden dalam membuat ramuan ajaib.
"Prof! Ajari aku membuat ramuan dan belajar sihir!" pinta Satria dengan mata yang berbinar penuh pengharapan.
Namun, lelaki paruh baya itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Satria tersebut dan beralih menatap ke Victoria. Seolah, sedang meminta pendapat wanita tersebut.
"Apa boleh?" tanya Victoria pelan.
__ADS_1
"Tergantung!"