
"Semuanya telah terlambat!" balas Lilly dengan sorot mata penuh akan amarah.
Lilly melepaskan semakin banyak energi dan membuat Satria dan Put harus menghindari, mereka tidak bisa mendekati Lilly yang semakin tidak terkendali.
Satria berusaha berfikir dan mencari cara untuk menghentikan Lilly, tapi ia tidak bisa menemukan titik lemah Lilly. Apalagi serangan langung yang sebelumnya dilakukan oleh Put tidak berpengaruh sama sekali terhadap Lillt, lalu apa yang bisa mereka lakukan.
Di saat Satria tengah berfikir, Put memiliki ide dan meminta bantuan Satria. Mereka mendiskusikan keadaan dan informasi tentang Lilly bersama-sama seraya berlindung di balik batu.
"Dia tidak mempan dengan serangan langsung, melihat dari caranya melakukan serangan? Dia merupakan tipe pengguna mantra atau sihir," jelas Put dengan nafas yang naik–turun. Baginya keadaan seperti ini tidak menyenangkan, terlebih ia takut tubuh barunya akan tergores.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Satria dengan polos membuat Put memukul bahunya cukup keras.
Betapa geramnya Put dengan Satria yang tidak bisa menggunakan otaknya untuk menganalisa keadaan, ataupun serangan yang mampu melumpuhkan LIlly.
Put melupakan sesuatu yang melekat kepada Satria, yaitu hanya bisa merayu wanita dan tidak bisa melakukan hal yang benar.
"Gunakan mantera!" teriak Put dengan keras dan membuat Lilly menemukan tempat mereka.
"Hahaha ... ternyata kalian ada di sana? Kalian pikir bisa bersembunyi dariku?"
Satria dan put bergitu terkejut dengan kedatangan Lilly yang begitu saja, terlebih serangan wanita itu bukan main-main membuat keduanya terpental.
Satria merasakan ada cairan yang keluar dari kepalnya akibat terkena serangan dari Lilly dan terpental cukup jauh, seraya memegangi kepalanya ia melihat Lilly yang berjalan perlahan menghampiri tubuh Put yang sama terluka sepertinya.
Lilly ingin menyerang Put lagi dan membuat Put mencoba untuk menghindari Lilly dengan cara bergerak mundur, kakinya terasa sakit dan tidak bisa digerakkan.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Put dengan suara bergetar ketakutan.
Seringai namapak mengerikan di wajah Lilly yang semakin mendekatinya, di saat Put memejamkan matanya pasra akan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja suara teriakan Satria terdengar begitu nyaring.
"Evalius!"
__ADS_1
Satria menggunakan mantra dan ditunjukannya ke arah Lilly, membuat tubuh Lilly berubah seketika. Awalnya Lilly menjadi siluman ular dan perlahan berubah menjadi Manusia biasa yang Satria kenal.
Dengan susah–payah Satria menghampiri tubuh Lilly yang tergeletak begitu saja setelah menerima serangannya tadi.
Sejujurnya Satria tidak tega untuk menyerang Lilly, tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Kalau Lilly tidak dihentikan, maka akan membuat kerusakan di mana-mana dan akan mengancam dirinya juga.
"Lilly," panggil Satria dengan lirih seraya mengangkat tubuh Lilly yang lemah dengan satu tangannya.
Put merlihat raut kesedihan di wajah Satria merasa cemburu, untuk apa Satria bersedih demi seroang mahkluk yang menjijikan itu.
Dengan keadaan yang masih merasa kesakitan, Put berusaha untuk bangun. Namun, usahanya sia-sia. Tubuh Put telah dipenuhi oleh luka, terlebih di dalam hatinya.
Sampai sebuah tangan yang kekar membuatnya tersenyum kecut, Satria menawarkan sebuah bantuan kepadanya. Entah kenapa, perasaan Put merasa enggan untuk menerimanya.
"Aku bisa sendiri!" balas Put dan mengabaikan tangan Satria.
Namun, apapun yang Put lakukan hanya membuatnya semakin kesaktian. Karena tidak memiliki pilihan lain, Put mereima bantuan dari Satria.
Satria mulai mendaki jurang yang terjal dengan dua Mahkluk yang berada ditubuhnya saat ini. Memang terasa berat dna melelahkan, sampai Satria berhasil mencapai tepi jurang.
"Butuh bantuan?"
Sebuah tangan mengulur, membuat Satria melihat siapa pemiliknya yang tidak lain adalah Key. Ternyata pemuda itu mencari mereka dan datang di saat yang tepat.
Satria meraih tangan Key dan bisa melewati jurang yang terjal itu, mereka berjalan beriringan sampai di sebuah pohon yang berukuran besar untuk beristirahat. Sebab, Satria telah merasa lelah.
"Hari akan gelap, kita istirahat di sini dulu," jerlas Satria seraya meletakan Put secara perlahan. Kemudian Satria menjelaskan kepada Key, bahwa ada Lilly di atas kepalanya.
Mata Key berbinar mendengar hal itu dan segera meraih tubuh sang adik yang masih belum sadarkan diri, Key merasa begitu bersyukur dan berniat untuk bergabung dengan Satria.
Key ingin melindungi Lilly, apapun yang terjadi. Oleh sebab itu, dirinya harus lebih kuat. Hanya bersama dengan Satria, Key biasa mendapatkan kekuatan yang luar biasa.
__ADS_1
"Aku akan mencari kayu bakar dan beberapa buah untuk kita, Sat ... tolong jaga Lilly untukku," jelas Key dengan penuh harap dan mendapatkan anggukan dari Satria.
Put merasa cemburu, bahakan sampai terbakar ke uluh hatinya melihat perhatian Key dan Satria yang hanya tertuju kepada mahkluk menjijikkan itu. Sedangkan dirinya juga ingin perhatikan, terlebih semua ini gara-gara Lilly pikirnya.
Setelah kepergian Key, Satria meletakan Lilly kembali di atas kepalanya. Menurut Satria rambutnya yang halus dan wangi begitu nyaman untuk di jadikan tempat rehat Lilly.
"Sejak kapan kamu menegnalnya?" tanya Put tiba-tiba dan membuat Satria melirik Put sekilas.
Satria enggan menanggapi apa yang ditanykan oleh Put ataupun menejelaskan, ia lebih memilih mencari tempat yang naman untuk bersandar seraya menunggu Key kembali.
Melihat sikap Satria membuat Put berniat untuk menghabisi Lilly yang beginya telah mengalihkan perhatian Satria darinya dan merbut semua perhatian.
"Mau ke mana kau, Put?" tanya Satria ketika melihat Put yang ingin beranjak, terlebih kaki Put yang masih terluka membuat Satria merasa khawatir.
"Aku mau pipis," balas Put dengan malas dan memaksakan tubuhnya untuk bergerak, tapi sayang. Put merasakan sakit yang amat di bagian kaki dan menjerit, membuat Satria panik.
Satria segera menghampiri Put dan melihat keadaan kaki Put yang ternyata terluka cukup dalam, dengan cekatan Satria membalut luka Put dengan merobek pakaian yang ia kenakan.
Put memperhatikan Satria dengan nanar, bahkan matanya tidak mau terlaihkan sama sekali dari wajah tampan Satria yang selama ini ia inginkan.
Perasaan Zingnya semakin memuncah dan ingin di salurkan, sampai Put menarik baju Satria dan membuat tubuh Satria terjatuh di atasnya.
Tatapan mereka saling bertemu, Satria meraskan sensasi aneh dan berusaha untuk menghindari keintiman yang terjadi.
Namun, Put menghalangi niatnya yang ingin bagun. Put mengelengkan kepadanya pelan, seolah tidak mau Satria jauh sedikitpun.
Sampai Satria teringat kepada Lilly yang amsih berada di atas kepalanya, ia takut Lilly sampai terjatuh atau kenapa-kenapa. Sebab, ia telah berjanji kepada Key.
"Lepaskan aku, Put. Nanti Lilly terbangun," jelas Satria berharap Put mau mengerti. Namun, apa yang Satria katakan hanya menambah harsat di diri Put semakin liar.
"Aku menginginkanmu!"
__ADS_1