Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 110


__ADS_3

"Alice! Tunggu kau!" batin Satria.


Satria tidak perduli akan hari yang sebentar lagi akan pagi, di dalam benaknya hanya satu. Menemukan Alice dan keberadaan Put, jika bisa secara bersamaan.


Namun, langkah Satria terhenti. Di saat dirinya baru menyadari bahwa portal ke dunia Albiru yang berada di kastil dan tepi pantai, jaraknya lumayan jauh dari sini.


Sepertinya Satria harus menunda dulu niatnya dan memilih berjalan dengan gontai ke rumah seraya menunggu esok hari saja.


"Aku tidak ingin mati cepat," gumam Satria dan menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan seraya memejamkan matanya.


***


Matahari menampakan wujudnya dan cahaya yang terang menerpa wajah Satria yang tak kurung bangun. Sampai suara ricuh terdengar mengusik pendengarannya yang baru saja terlelap.


"Ayo berangkat!"


"Jangan sampai mereka menembus pertahanan kita!"


Satria segera bangun dan menatap keadaan sekitar yang sudah ramai dengan para prajurit yang kini hanya hitungan jari saja temngah sibuk ke sana dan kemari.


Hingga Satria menghentikan langah Victoria yang telah siap dengan senjata miliknya, "Ada apa, Bu?"


Victoria menatap ke arah Satria dan menjelaskan bahwa mereka telah diserang, semua orang tengah bersiap untuk menghadapi musuh yang sudah berada di depan.


Satria yang mendengar hal itu segera bangun dan ikut membantu yang lainnya, untung dirinya tidak pergi malam tadi. Kemungkinan besar keluarga Cooper akan mengalami kekalahan telak.


Satria menjadi garda terdepan, ia melihat beberapa Hunter datang dan bersiap untuk bertempur. Namun, tidak membuat Satria merasa takut atau mundur sama sekali. malahan dirinya semakin ingin menghabisi para Hunter tersebut.


"Serang!"


Genambu perang pun telah dimulai, mereka berperang dengan brutal. Entah dari mana energi yang di dapatkan, tapi Satria masih mampu untuk mengimbangi serangan lawan dan sudah berhasil menumbangkan beberapa orang.


Dengan kekuatan baru yang ia miliki, Satria merasa percaya diri untuk menang. Namun, senyum di wajahnya sirna seketika di saat matanya bertemu dengan sosok sang putra.

__ADS_1


Hunter H maju dan menyerang Satria di saat teman-temanya telah kalah, datangnya H tidak memebrikan keuntungan kepada Satria.


"Apa yang kalian inginkan?" teriak Satria seraya menghentikan serangan H dengan senjatanya.


Mata mereka saling bertemu dan menatap penuh dengan arogan, ini bukan perkara hunungan anak dan orang tua yang mereka miliki.


Namun, peperangan yang terjadi merupakan waktu untuk adu gensi. Di mana para Hunter harus mengalahkan Satria yang merupakan bagian dari Blogger musuh abadi mereka.


Sedangkan Satria tidak akan mungkin memerikan kesempatan untuk para Hunter menang dengan mudah, sebab ia ingin melindungi para manusia dan keluarga Copper.


"Mengalahkanmu, Yah!" balas H dan mendorong Satria dengan kuat hingga terpental.


Satria tidak menyangka kalau H benar-benar ingin melawannya, terlihat dari serangan yang baru saja putranya itu lakukan membuat Satria tiudak memiliki pilihan lain.


Padahal, dirinya telah berjanji. Tidak akan menyakiti putranya lagi, tapi dengan keadaan seperti ini membuat Satria tidak memiliki pilihan lain.


"Andaikan Alice atau Put ada di sini," batin Satria berharap.


Satria ingin kedua wanita itu datang dan membantunya, sebab Satria tidka ingin melenyapkan H. Mungjkin dirinya bisa menghentikan serangan H Dengan kemampuan yang ia miliki. Tapi, Satria belum yakin mampu untuk menghabisi putranya itu.


"Aaaa ... !" Suara teriakan H terdengar hingga jarak sekitar satu kilometer seking nyaringnya.


Setelah H tumbang, Satria mulai melakukan serangan demi serangan kepada Hunter yang lainnya. Tanpa ada pelawanan yang berarti untuk Satria, ia bisa menghentikan dan membuat para Hunter lari terbirit-birit.


Kini hanya tinggal H yang tertinggal, sebab teman-temannya telah kabur meninggalkannya yang terluka dengan cairan merah yang terus mengalir.


Satria melangkah dengan pelan menghampiri H, ada guratan penyesalan di wajah Satria. Namun, dirinya harus menghentikan H sebelum masuk semakin dalam ke rumah keluarga Cooper.


"Aku minta maaf," kata Satria pelan seraya mengulurkan tangannya. Namun, bantuanya di tolak dengan cara kasar oleh H.


Satria menatap nanar H yang merintih kesakitan, jika tidak segera mendapatkan pertolongan. Maka, H akan kebaisan darah dan tewas.


"Pergi!" teriak H dengan sisa tenaganya sampai keadaan sekitar terlihat gelap. H pingsan seketika dan membuat Satria memiliki kesempatan untuk menolong putranya.

__ADS_1


Satria merobek baju yang H kenakan dan menjadikannya beberapa lembar kain, lalu ia balutkan kebagian kaki H untuk menghentikan pendarahan yang terjadi.


Kemudian Satria mengangkat tubuh H dan membawanya ke bagaian halaman rumah, semua orang menatap heran dengan apa yang Satria lakukan.


Bahkan mereka berfikir apa yang Satria lakukan amat salah, sebab telah membawa musuh ke tempat mereka. Hal itu sama saja ingin bunuh diri, sampai Victoria menghadang Satria.


"Mau ke mana kau, Sat?"


Satria tidak mengubris apa yang ibunya katakan dan terus melangkah, sampai Victoria menghunuskan pedangnya untuk melukai jari kaki Satria.


"Aw! Apa yang Ibu lakukan?" pekik Satria merasa sakit dan kesal dalam waktu yang bersaman seraya menatap tajam sang ibu yang nmpak begitu santai seolah tidak terjadi apa-apa.


Bahkan Victoria berjalan dengan berlenggak-lenggok, seakan mengejek Satria dan membuat perasan Satria semakin kesal dengan kelakuan snag ibu.


"Ibu!" panggil Satria dengan nada yang meninggi.


"Oh, Satria. Kamu mengajak Ibu berbicara?" ejek Victoria bertolak pinggang. Dia ingin membalas sikap Satria yang berani mengabaikannya.


Satria membuang naafs panjang, kemudian kembali meneruskan langkahnya. Hal itu membuat Victoria kesal dan berteriak nyaring.


"Satria! Apa yang kamu lakukan!"


Victoria tidak habis pikir dengan apa yang Satria lakukan dan berusaha menghentikan apapun yang ingin Satria lakukan itu.


"Aku ingin menolong H, Bu," balas Satria. Jika dirinya hanya diam saja, maka selama itu ibunya akan menghalanginya. Bisa-bisa H benar-benar bisa mati.


Victoria menggeleng cepat, menolak apa yang Satria lakukan. Namun, seakan tidak peduli. Satria masih melangkah dan mengabaikan Victoria yang kembali menghadangnya.


"Ibu, aku tidak akan menahan diri. Kalau Ibu ... akan menggalangiku," kata Satria dengan nada serius membuat Victoria menelan silvernya kasar melihat perubahan wajah Satria yang mengelap.


"Tapi, Ibu tidak ingin kamu menolong Hunter itu! Kamu tahu, bukan? Mereka jahat dan akan membunuh kita!" balas Victoria berharap Satria mau mengerti dengan keadaan yang telah terjadi.


Namun, Satria masih dengan pendirinya yang ingin menolong H. Entah H mau ia ajak untuk berkonfrontasi melawan para Hunter lain, atau kembali menyerangnya.

__ADS_1


Satria hanya ingin menyelamatkan keturunannya, jika pun H harus dilenyapkan. Setidkanya bukan dengan tangan Satria, oleh sebab itu ia ingin ada Put atau Alice ada di sini.


__ADS_2