Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 9


__ADS_3

Setelah kepergian Haruna, satria memperhatikan Istana itu dengan seksama. Ukuranya, hampir sama besarnya dengan kastil yang dimiliki oleh Profesor Ruden. Hanya saja, berbeda di bagian polesannya saja.


"Apa kamu mau tinggal di sini?"


Satria menatap Haruna yang bertanya tiba-tiba dan membuatnya berpikir sejenak, karena takut tinggal; di atas ketinggian.


Haruna yang melihat keraguan tersebut, mendekati


Satria dan menyentuh dada lelaki itu. Dia merasakan denyut yang bergemuruh di bagian tersebut.


"Aku akan mengajarimu, sihir!" terang Haruna.


"Sihir?"


Satria amat terkejut dengan tawaran yang diberikan oleh Haruna, dia tidak menyangka saja. Jika, bisa bermain sihir. Sebab, baginya hal itu sangat mustrahil.


Haruna melihat dengan kemampuannya, akan keraguan yang terpancar di wajah Satria dan mulai menunjukan kemampuan yang dimiliki olehnya.


Haruna memainkan, tongkat sihirnya dan membuat awan menjadi hitam. Suara gemuruh petir, mulai terdengar. Satria tidak menyangka dengan ke mampuan yang dimiliki oleh Haruna. Padahal, mereka masih berada di dalam ruangan.


Namun, Haruna bisa memainkan sihirnya dengan baik. Tanpa perlu ke luar sama sekali, tentu saja. Satria menjadi bersemangat dan penasaran, bagaimana Haruna bisa melakukan hal itu.


"Bagimana, kamu melakukannya?" tanya Satria dnegan antusias. bahkan, matanya yang berwaran biru nampak sangat bulat.


Haruna melihat hal itu, ditambah jarak mereka yang sangat dekat. Membuat Haruna merasakan esuatu yang aneh dan wajahnya memerah, dia menepuk pipinya.


Agar, perasaan aneh ini berhenti. Tetapi, maalahan kini. Jantungnya yang berdetak dengan cepat dan membuat Haruna harus menekan dadanya. Agar, dadanya tidak bergetar terus.


Satria melihat keadaan Haruna yang sedikit aneh dan menyetuh dada Dewi tersebut dan bertanya, "Kamu punya jantung?"


Pertanyaan polos dari Satria membuat Haruna mencibir, "Aku juga makhluk hidup! Tentu saja memiliki jantunh!"


Satria malah terkekeh dengan nada mengejek, dia membalas ucapan Haruna.


"Tumbuhan juga makhluk hidup! Tapi, mereka tidak memiliki jantung," terang Satria merasa bangga. Karena, yakin sekali. Kalau, Haruna telah berhasil dia pojokkan.


"Kata, siapa?" tanya Haruna dengan senyum yang manis speetri gulali.


"Semua orang juga tau! Kalau, tumbuhan. Tidak memiliki jantung!" balas Satria cepat. Dia ingin melihat, seperti apa tanggapan Haruna. Karena, tumbuhan bisa hidup melalui fotosintesis.


"Ada, tumbuhan yang memiliki jantung," terang Haruna dan mulai melangkahkan kaki jenjangnya. Menuju keruanga, dimana dia biasa menghabiskan separuh waktunya.


Satria yang mengira, jika Haruna ingin menghindar. Segera menyusul Dewi itu dan kembali bertanya, "Tumbuhan apa?"

__ADS_1


"Pisang!"


Apa yang dikatakan oleh Haruna sontak saja mmebuat Satria tertegun dan menghentikan langkahnya, dia melupakan tanaman itu dan menjadi penasaran.


Apakah, didunia Albiru. Ada tumbuhan pisang, apa sama dengan yang pernah dia dihat di dunianya. Hal itu membuatnya, tersadar dan segera menyusul Haruna.


Ketika, Satria memasuki ruangan yang di mana ada Haruna. Dia berdecak kagum melihat, apa yanga da di sana.


Satria semakin melebarkan penglihatannya, dan menatap sudut demi sudut. Benda yang ada di sana, kemudian menatap Haruna yang tengah duduk dengan santai. Sambil mengesap minuman yang mengeluarkan uap hangat.


"Tempat apa, ini?" tanya Satria dan duduk di hadapan Haruna. Dewi itu hanya menatap sekilas ke arahnya, kemudian melanjutkan aktivitasnya kembali.


"Ayolah, jangan diam saja," ajak Satria yang semakin penasaran.


"Perkenalkan nama dan asalmu dulu! Setelah itu? Aku akan menjelaskan, semua yang ingin kamu ketahui."


Haruna memberikan sebuah persyaratan yang sangat sulit untuk Satria, sebab lelaki itu bingung. Harus dari mana menjelaskan, tentang dirinya.


"Apa kamu, mau mendengar kisah sedihku?" tanya Satria dengan mata sendu. Mata yang berwarna biru, mulai menampakan cairan bening. Entah mengapa, dia merindukan ibunya.


Haruna merasakan, apa yang Satria rasakan dan mendekati lelaki itu. Lalu, duduk di samping Satria dan memengangi lengan Satria.


Tidak ada pembicaraan di atara mereka, seolah Haruna sengaja melakukan hal itu. Dia mentransfer energi yang dimiliki olehnya, kepada Satria dan membuat lelaki itu merasakan kekuatan yang sangat luar biasa.


Haruna mulai menjelaskan tentang dirinya, hal itu membuat Satria menatap Dewi tersbeut dengan nanar dan ingin mengetahui kelanjutannya.


"Dewa dan Dewi merupakan pemimpin di dunia, berbagi kami. Semua ada di dalam gengaman tangan, bahkan kami memiliki tugas-tuigas yang berbeda."


Haruna menceritakan tugas-tugas yang di lakukan oleh Dewa dan Dewi, dimana ada yang mengatur di langit dan di dunia bawah.


Haruna merupakan Dewi yang ditugaskan untuk menjaga keselarasan alam, dia sering berada di dunia atas dan bawah.


Oleh sebab itu, Haruna seidkit banyaknya mengerti dan melijhat bagaimana sikap para mahkluk di dunia bawah.


Haruna merupakan Dewi yang memiliki kekuatan, hamir sepertiga dunia atas. Walaupun dia kuat dan memiliki kedudukan yang tinggi, dia tetap harus patuh kepada Dewa tertua yang menduduki serajat yang lebih tinggi.


Bahkan, Haruna juga memiliki kewajiban untuk melayani Dewa teratas. Sebagai bentuk, penghormatan.


Satria yang sedari memperhatikan cerita yang Haruna kisahnya, merasa tertarik pada tugas lain Haruna kepada Dewa tertua.


"Haruna. Itu namamu, bukan?"


"Iya, darimana kamu mengetahuinya?" tanya Haruna dengan tersenyum menatap ke arah Satria.

__ADS_1


"Dari Put," jelas Satria.


Haruna mengerutkan dahinya, dia tidak mengenal nama tersebut. Karena, Haruna hanya mengetahui nama-nama mahkluk yang hidup. Bukan nama perorangan.


"Siapa Put?" tanya Haruna pemasaran.


"Dia Blogger yang merawatku, yang tadi di sungai," jelas Satria.


Haruna baru mengerti, setelah mendengar penejlasan dari Sartia.


"Lalu, kenapa kamu lari darinya?" tanya Haruna lagi.


"Aku di jadikan peliharaan oleh Put. Aku tahu, kalau dia zing denganku. Tapi, aku tidak bisa melayaninya. Bahkan, aku sempat berjani. Jika bisa bertemu dengan Dewi Haruna? Aku ingin meminta sesuatu ... ."


"Apa itu?" tanya Haruna dnegan cepat. Bhakan, raut wajahnya berubah menjadi gelap. Ketika, melihat ekspresi Satria yang menjelaskan tentang Put. Seolah dia sedang cemburu, namun tidak mengerti Dengan ke adanya.


"Rubah aku, menjadi Blogger," terang Satria dan menaatp mata Haruna. Dia ingin tahu, apakah seorang Dewi bisa zing dengannya.


Mata mereka saling mengunci, dengan perbedaan yang snaagt kontras. Dimana Satria berwarna biru dan Haruna berwarna emas.


Satria dengan segaja, terus mendekatkan wajahanya ke Haruna. Ada dorongan yang sangat kuat dari dalam dirinya, ketika bersama Haruna.


Jiwa lelakinya meronta-ronta, bagaiaman tidak. Seorangh Dewi yang sanagt cantik dengan kulit bersih seperti salju. Mata yang sangat indah, apalagi bibirnya yang munggil dengan warna pink pich.


Siapa yang bisa menolak godaan yang di tampilkan dari Haruna, terlebih satria telah melihat sisi di dalamnya. Walapun tidak lama, geloranya memuncah.


Satria mencium bibir Haruna dan mengesapnya dengan nikmat. Sedanghkan Haruna hanya diam, dia tidak menegrti dengan apa yang Satria lakukan.


Namun, tidak menolak sama sekali. Diamnya Haruna, dianggap Satria sebagai bentuk persetujuan. Hingga, Satria melakukanya lebih jauh.


Ditengah deru nafas yang naik–turun seperti pelanak kuda, Satria melepaskan tautannya dan mengusap bibir Haruna yang sangat manis dan berbisik, "Apakah, kamu bersedia? Mengajakku, ke atas ranjangmu?"


Haruna seolah terhipnotis dan dalam sekali jentikan tangannya, sekejam mata. Mereka telah berada di atas ranjang yang sangat empuk dan lembut seperti sultra.


Satria menyalurkan sesuatu yang ada didalam dirinya begitu saja, tanpa dia sadari. Dampak apa yang akan ditimbulkan, oleh perbuatannya itu.


Buar


Suara petir menyambar dan menyadarkan Haruna, sontak saja dia mendorong tubuh Satria yang berada di atasnya.


"Ada apa?" tanya Satria dengan penasaran. Ketika, melihat perubahan wajah Haruna.


"Dewa tertua!" pekik Haruna panik.

__ADS_1


__ADS_2