
"Ini tidak mungkin!" pekik Satria diiringi dengan isak tangis, kenapa dirinya begitu lemah? Ada apa sebenarnya?
Namun, di saat Satria tengah meratapi nasibnya yang begitu malang. Hunter yang ada di hadapannya itu melakukan sebuah serangan dan berhasi menumbangkan Satria seketika.
Para prajurit yang sedari memerhatikan pertarungan Satria akhirnya turun membantu, tapi tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Sebab, Hunter itu terlalu kuat dan membuat mereka memilih untuk mundur dari pertarungan.
"Ternyata, kau telah menjadi seorang Blogger?" Nada penuh akan ejekan yang begitu menyedihkan membuat telinga Satria memekik, merasakan kemarahan yang amat besar.
Dengan semangat yang memburu, Satria bangun dan berusaha untuk berdiri. Menatap tajam seorang Hunter yang dulu pernah ia kalahkan, sekarangpun ia yakin bisa mengalahkan Hunter tersebut.
Satria mengarahkan tombaknya dan melakukan serangan dengan begitu cepat, namun kenyataannya Satria malahan dikalahkan.
"Aw!" pekik Satria yang kembali terbanting ke tanah dengan cukup keras, bahkan tubuhnya kini semakin dipenuhi oleh luka-luka yang cukup serius.
Hunter itu semakin mendekati Satria dengan perlahan yang kini terlihat amat lemah tidak berdaya lagi, ini merupakan kesempatan yang amat bagus untuk melenyapkannya.
Hunter itu mulai mengarahkan senjatanya ke Satria dan bersiap menyerang, tiba-tiba saja ada sebuah serangan yang mengehntikan aksinya.
"Selama aku masih ada di dunia yang sama, maka ... aku tidak akan pernah membiarkan Dewa S terluka," balas Put yang menyelamatkan Satria.
Apa yang Put lakukan dan katakan membuat Satria merasa begitu terkejut, sebab ia mengira Put benar-benar pergi menjauhinya.
"Hahaha ... Dewa?" gelak Hunter itu seraya menatap jegah ke arah Put.
Hingga, seorang Hunter lain datang dan membisikkan sesuatu kepada Hunter tersebut sampai wajahnya berubah menjadi memerah padam.
"Kembalilah, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat," jelas Hunter tersebut dan bersiap untuk menyerang kedua orang tersebut sekaligus.
Put bersiap-siap dengan senjata yang sudah ada di tangnnya, apapun yang terjadi ia akan melindungi Satria sebagai bintang harapan.
Sat.
__ADS_1
Set.
Pertarungan keduanya begitu sengit, serangn Hunter itu lebih tajam dari sebelumnya dan membuat Satria merasa khawatir dengan keadaan Put yang semakin tersudutkan.
Satria berusaha untuk menolong Put, tapi serangannya tidak berpengaruh besar terhadap Hunter tersebut yang semakin kuat.
Sebuah serangan telak yang tidak bisa Put hindari dan mengakibatkan Put terpental sampai tidak sadarkan diri, kini hanya tinggal Satria seroang diri menghadapi Hunter tersebut.
"H! Hentikan!" teriak Satria yang melihat Hunter itu menghunuskan senjatanya ke arah Put yang sudah tidak berdaya.
Namun, Satria tidak bisa menghentikan tindakan Hunter itu yang sudah melenyapkan Put untuk selamanya dengan cara menusuk tubuh Put dengan senjatanya.
Tangis Satria pecah, ia tidak menyangka akan melihat kejadian ini secara langsung. Tanpa sengaja Satria mengaktifkan energi yang terpendam di dalam tubuhnya.
"Cih! Apa yang akan dia lakukan?" gumam Hunter H melihat keadaan Satria saat ini.
Tubuh Satria dipenuhi oleh cahaya yang terang dengan warna kebiruan, bahkan cahaya itu sampai mengangkat tubuhnya beberapa jengkal dari tanah.
Ketika Satria telah menguasai energinya dan membuka mata secara perlahan, ia bisa melihat semua keadaan dengan begitu jelas. Walaupun sinar matahari tidak ada.
"Kamu sudah kelewatan, H! Kenapa? Kenapa, kau melakukan semua ini?" teriak Satria marah besar.
Ya, Hunter itu merupakan Hunter H anaknya Satria dan Haruna yang sebenarnya telah dikalahkan oleh Satria. Namun, tubuh Hunter H telah di bawa kabur oleh Dewa Ketua di saat peperangan itu.
Kini Satria mulai mengerti, kenapa Dewa Ketua membawa H. Ternyata Dewa Ketua ingin menghidupkan H kembali.
"Apa? Kelewatan katamu?" ejek H dengan meletakan telapak tangannya di dekat telinga seolah tidak mendengar ucapan Satria.
Namun, ada hal yang harus H selesaikan. Sebab, ritual akan segera di mulai dan tidak boleh ada yang menggangunya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi H langsung menyerang Satria, tapi berbeda dengan sebelumnya. Serangannya kali ini bisa Satria tangkis dan tahan dengan begitu mudahnya.
__ADS_1
H mulai kewalahan, karena energinya banyak terjuras akibat menyerang Put. Kalau seperti ini terus, ia akan kehilangan banyak energi dan kalah tanpa berhasil menghadang Satria.
"Hentikan H! Aku tidak ingin menyakitimu!" teriak Satria yang tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
Satria hanya ingin mengajak H berbicara dan menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi, serta siapa yang menjadi dalang atas serangan para Hunter saat ini.
Namun, H tidak mau mendengarkan ucapan Satria dan terus menyerang tanpa jeda sampai Satria yang merasa lelah mengehntikan H dengan serangan telak hingga H terpenggal.
"Aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu, H," jelas Satria seraya mendekati tubuh H yang telah berlumuran dengan cairan merah pekat.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup! Kau harus—" ucapan H tehenti di saat Satria mengusap kepalanya dengan lembut, hal yang tidak pernah ia rasakan selama ini.
H bagaikan anak yang dibuang, ia hanya diberitahu tentang orang tuanya. Tanpa sekalipun bertemu, namun ketika dirinya bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Hanya ada luka dan rasa sakit yang dirasakan olehnya.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu," jelas Satria dengan suara pelan. Di dalam hatinya tidak ada niat untuk menyakiti anaknya lagi, sejak kehilangan Alex dan Lubis yang semakin menajuhinya membuat hati Satria menjadi rapuh.
Hanya Alex yang hidup lama denganya, tapi harus lenyap di tangannya sendiri. Satria tidak ingin kehilangan anak-anaknya lagi dengan alasan perdamaian dan perperangan yang tercipta tanpa disengaja.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya H mulai melunak.
"Tentang ibumu, Dewi Haruna," jelas Satria melakukan siasat agar H tidak mengetahui maksudnya yang sesungguhnya.
H menatap nanar ke arah Satria yang kini berukuran sama besarnya dengan dirinya, berbeda dengan dulu. Ketika H melihat Satria untuk pertama kalinya dengan tubuh seroang Manusia biasa.
"Kenapa dengan Dewi Haruna?" tanya H penasaran.
Satria tersenyum dan menanyakan di mana ke beradaan Dewi Haruna kepada H, namun H menjawab tidak tahu. Sebab, dirinya berada di dunia nyata bukan di dunia Albiru.
Apa yang dijelaskan oleh H membuat Satria bisa mengambil satu kesimpulan, bahwa H tidak mudah untuk dibujuk ataupun membocorkan suatu informasi. Terlebih H sangat pandai dalam berkedit dan memberikan jawaban yang masuk akal.
"Baiklah, aku hanya ingin mencari Haruna," jelas Satria seraya beranjak hendak meninggalkan H. Namun, langkahnya berhenti di saat H menanyakan sesuatu yang membuatnya tersenyum puas.
__ADS_1
"Apakah hanya itu? Bukankah, kau ingin mengetahui sesuatu tentang para Hunter?"