
"Perang telah usai, Dewa Ketua telah tiada."
Haruna mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Satria, kemudian menatap ke sekeliling. Mengedarkan matanya yang telah disambut, banyaknya mayat yang terlempar di tanah.
"Apa kamu yakin?" tanyanya dengan ragu.
Satria mengangguk kecil sebagai jawaban, atas pertanyaan Haruna. Tangan mereka yang masih bertaut, membuat Satria mengalirkan energi yang dimilikinya kepada Haruna.
"Izinkan aku, untuk mendampingimu."
Haruna agak terkejut dengan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh Satria, mata mereka bertemu cukup lama. Sampai Alice berdehem dan membuat mereka tersadar, jika ada orang lain.
"Ehem ... masih banyak yang akan kita lakukan."
Alice sengaja mengatakan hal itu, dia tidak bisa menahan diri lagi. Ternyata cemburu lebih menyakitkan daripada terkena luka pedang, perih tanpa berdarah.
Karena perang telah usai, mereka mulai berbenah. Mengumpulkan tubuh-tubuh yang masih bisa diselamatkan, sedangkan yang lainnya akan di kuburkan secara masal.
Haruna menatap kearah tubuh H, putranya tidak bisa tertolong dan akan dikuburkan bersama dengan yang lain. Keadaan sungguh mengiris hati, bentuknya tidak lagi sedap untuk dipandang mata.
"Ayo bangun," ajak Satria dan membantu Haruna untuk berdiri.
Mereka berdua sama-sama menatap kearah tubuh H yang mulai di angkat oleh para prajurit keluarga Cooper. Alice dan A sangat sibuk, ibu dan anak itu melakukan penyembuhan bersama meninggalkan Satria dan Haruna yang masih berpegang tangan.
Perang merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dihilangkan dari sebuah peradaban, jika sudah terjadi akan sangat sulit untuk menghentikannya dan akan meninggalkan luka yang mendalam.
"Dewa Satria, izinkan aku untuk menemani hidupmu."
Satria terlonjak kaget, mendengar ucapan Haruna yang tiba-tiba. Padahal, kata itu yang sedari tadi ingin dia dengar. Namun, seakan ada sesuatu yang menghalangi keinginannya dan dia tidak mengetahui hal itu dengan pasti.
Hingga Haruna kembali bertanya, "Dewa Ketua telah tiada, maka ... kamu akan menggantikannya."
__ADS_1
"Itu tidak akan pernah terjadi!"
Semua mata tertuju ke arah suara yang berteriak, tubuh semua orang membeku di tempat. Begitu pun dengan Satria, dia tidak menyangka dengan apa yang terjadi.
"Dewa Ketua!" pekik Satria. Kemudian dia menarik Haruna untuk berada di belakangnya, entah bagaimana Dewa Ketua bisa hidup lagi.
Tubuh Dewa Ketua mulai pulih dan kini dia berdiri dengan perlahan, tatapan matanya sangat tajam. Dipenuhi oleh amarah yang tidak bisa di bendung lagi, dengan sekelibatan mata. Dewa Ketua langsung menyerang Satria.
"Aaaa ... ."
Satria belum sempat mengelak, serangan Dewa Ketua begitu cepat. Sampai Haruna ikut tekena, karena berada di belakang Satria. Semua orang langsung bergerak, dan menyerang Dewa Ketua. Antonio dan Antonius menghadang Dewa Ketua bersama dengan Brongsi, mereka tidak akan memberikan kesempatan kepada Dewa Ketua.
Sedangkan Dewa Ketua yang sudah bangkit dari kematiannya, memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan kepercayaan penuh, dia bisa mengalahkan siapapun yang akan menjadi lawannya.
"Serang!" perintah Antonius.
Disaat semua orang menyerang Dewa Ketua, Alice segera menghampiri Satria yang berada di dalam dekapan Haruna. Dia ingin menyelamatkan tibuh Satria yang mungkin saja masih bisa disembuhkan dari serangan telah yang Dewa Ketua lakukan sebelumnya.
A langung membantu mengobati Satria, setelah mengobati yang lain. Dia melihat ayahnya yang terluka sangat parah dibagian, padahal bocah itu telah berusaha untuk mengalirkan energinya. Namun, seakan-akan apa yang dilakukannya sia-sia.
"A! Ayo!" pekik Alice dengan perasaan was-was, melihat ekspresi di wajah putranya yang sangat dingin.
"Ayah telah pergi," terang A.
Seketika itu juga tangis Alice pecah, dia memeluk tubuh Satria yang telah tidak bernyawa lagi. Alice tidak menyangka, jika Satria pergi begitui saja. Bahkan sebelum dirinya sempat menyatakan perasaan yang selama ini di pendam kepada lelaki yang begitu mencuri perhatiannya.
Haruna yang terus berada di dekat Satria, tidak bisa berkata apapun. Dia menatap tubuh lelaki yang kini tidak biosa bergerak lagi, hingga ada sebuah tangan menyetuh bahunya dengan pelan.
"Dia pasti kembali."
Ternyata Jennifer yang berusaha menguatkan Haruna, sebab wanita itu meliohat adanya sebuah kemungkinan lain. Daripada sesuatu yang setiap orang pikirkan.
__ADS_1
Di lain tempat, Satria tengah berjalan dengan keadaan kepala yang terasa amat berat sekali. Lelaki itu belum benar-benar mati, sama seperti Dewa Ketua. Satria akan menuju ke alam roh untuk menjalakan misi lain, sesuai dengan perjanjian para Dewa.
Dimana para Dewa harus berada di alam roh dan bertemu dengan penjaga alam roh, untuk memenuhi sebuah perjanjian. Sebelum berekarnasi kembali dan menjadi makhluk yang baru.
Satria terus berjalan dengan langkah yang agak berat, dia kesulitan untuk menyimbangi tubuhnya yang terasa sangat berat dan sakit. Serangan Dewa Kertua yang sangat besar dan toba-tiba, membuatnya tidak bisa mengelak serangan itu.
"Aku ada dimana?" gumam Satria. Hingga dia melihat ada secercah sahaya yang sangat terang dan Satria pun segera menuju cahaya tersebut.
Terlihat seseorang yang berpakaian baju seba hitam yang hampir menuitupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah. Terlihat lelaki itu memegang sebuah sejata tajam yang runcing dengan gagang yang bulat berwarna hitam.
"Apakah kamu malaikat kematian?" tanya Satria ragu-ragu. Melihat dari cara lelaki itu berpakaian, ditambah ingatannya yang terkana serangan Dewa Ketua. Mmebuat Satria berfikir, jika dirinya telah mati dan akan masuk ke alam lain.
Namun, lelaki itu tidak bergeming sama sekali. Satria mencoba mengedarkan penglihatannya, memeprhatikan keadaan sekitar yang sangat asing dan terlihat gelap. Dia pun meraba tubuhnya yang masih utuh, lalu berusaha mengajak lelaki itu untuyk berbicara. Karena, tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain mereka berdua.
"Apakah aku sudah mati?"
Pertanyaan yang Satria ucapkan hanya mendapatkan deheman dari orang tersebut dan kemudian berlalu begitu saja. Satria mengikuti langkah lelaki itu, dia semakin penasaran dengan apa yang tengah terjadi dan dimana dia sekarang. Hingga, Satria bisa melihat dari kejauhan seseorang yang tengah duduk diatas kursi dengan tubuh yangh penuh akan cahaya.
"Apakah kamu Tuhan?"
Satria amat penasaran, sampai lelaki yang sebelumnya menghilang dengan begitu saja. Seeprti ditiup oleh angin tanpa meninggalkan bekas sama sekali.
"Satria, itu namamu bukan?"
Lelaki dengan tubuh yang dipernuhi nolrh cahaya itu bertanya, membuat Satria yang merasa jika pertanyaan itu ditujukan untuknya pun mengangguk kecil.
Kemudan lelaki yang terlihat tua dengan jangut yang panjang dan berwarna putih itu bangun dari posisi duduknya, lalu menghampiri Satria yang masih berdiri di tempatnya.
"Aku adalah Dewa di atas Dewa, aku akan mengabulkan satu permintaanmu, sebagai penebus nyawa yang telah dikorbankan."
Satria mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan apa yang lelaki yang berada dihadapannya itu katakan. Karena, Satria hanya mengetahui bahwa Dewa Ketua sebagai Dewa diatas Dewa.
__ADS_1
"Singkirkan keraguanmu, dan sebutkan permintaan yang kamu inginkan."